
Amora langsung berlari ke dalam kamarnya. Dia segera merapihkan semua baju-baju nya ke dalam koper. Sambil terisak, dia mengambil apapun barang miliknya termasuk sertifikat rumah nya pemberian dari sang suami.
"Aku tak boleh bodoh. Sertifikat ini harus ku ambil. Ya tuhan, pernikahan apa ini!" lirih Amora dengan deraian air mata.
Dia pun menelpon Pelix untuk menemuinya di dalam kamarnya.
Tak butuh waktu lama, Pelix pun menghampiri nya.
"Ada apa Amor?" tanya Pelix sembari melihat koper yang sudah penuh dengan isinya.
"Antarkan aku pulang Pel. Rumah ini seperti neraka bagiku" ucap Amora.
Di raihlah tangannya oleh Pelix, hingga terbenam dalam dekapannya. Amora seketika menangis seakan menumpahkan semua rasa hancurnya dalam dekapan sang supir.
"Aku tersiksa Pel~~hikhikhik" tangis Amora mengema di seluruh kamar itu.
"Hei, kamu jangan merasa sendiri. Ada aku yang siap menjaga mu! Memang hubungan kita bukan sepasang kekasih, tetapi aku menyayangimu Amor. Maaf jika rasa sayang ini salah dan bukan pada tempatnya" ucap Pelix sembari mengelus kepala Amora.
Deg!!! Jantung Amora berdetak tak karuan saat mendengar perkataan dari sang supirnya.
"Tapi ku sudah bersuami" jawab Amora lirih.
"Itu lah batasannya" ucap Pelix dengan nada tenang.
Amora memandang lekat wajah Pelix dengan seksama. Ada sorot mata cinta dari seorang lelaki. Dan dia pun merasakan hal yang sama, namun urung di ungkapkan. Mengingat dia sudah bersuami.
"Maaf" lirih Amora.
"Jangan seperti itu"
__ADS_1
"Cepat hapus air matamu Amora" ucap Pelix lagi sembari menghapus butir air mata pada pipi nya. Amora yang di perlakukan dengan sangat lembut oleh Pelix merasakan bahagia dalam hatinya.
Cup!!! Pelix mengecup bibir Amora sekilas
"Sudah jangan sedih. Ayo kita pulang ke rumah ibu mu sekarang" ucap Pelix.
Ketika mereka hendak meninggalkan kamar itu. Tangan Amora menarik tubuh Pelix dan memeluk nya.
"Jangan pernah tinggalkan aku dalam kondisi seperti ini" ucap Amora dengan tangan melingkar di perut Pelix.
"Tak akan sayang" jawab Pelix.
Seketika Amora mendongak dan mencium bibir Pelix dengan gemasnya. Mereka saling bertukar saliva hingga susah untuk bernafas. Akhir ya ciuman itu di hentikan saat Amora merasa sesak. Dia pun langsung mengambil udara sebanyak-banyaknya.
Sementara Martin yang berdiam diri di taman komplek rumahnya, sedang merenung. Di temani suara jangkrik, hembusan angin, beserta temaram nya lampu. Ada rembesan di pelupuk matanya. Menyesal sudah pasti, tapi apa boleh buat semuanya sudah terjadi. Prasangka buruk yang dia lontarkan kepada sang istri akan membawa petaka nya sendiri.
"Bagaimana jika dia pulang ke rumah ibunya dan menceritakan semuanya! bisa mati aku" kesal Martin.
Dia terus saja merutuki dirinya sendiri atas kesalahan yang baru saja di buat.
Sementara di dalam mobil yang Pelix kemudikan, Amora terus saja menangis.
"Amora, kamu baik-baik saja?" tanya Pelix.
"Aku baik" jawabnya dengan senyum getir.
Sesaat Pelix langsung memberhentikan Mobilnya dan menepi di sisi jalan.
"Sudah, jangan terlalu menangisi bungkusan kosong" ucap Pelix.
__ADS_1
"Aku masih tidak menyangka dengan tindakan suamiku sendiri" Lirihnya.
"Suamimu ada benarnya juga sih! kita kan tadi sedang bermesraan di gudang peternakan" ucap Pelix sembari tertawa kecil.
"Jadi kamu senang melihatku di perlakukan seperti itu Pel?" tanya Amora kesal.
"No baby! Ku hanya berfikir seperti itu saja. Sudah jangan menangis. Apa kamu ingin mengatakan semuanya kepada ibu mu?"
"Tidak Pel. Aku tak sampai hati mengatakan semuanya kepada ibu, beliau pasti syok" jawab Amora.
Di sentuhnya tangan Amora dan di genggamnya dengan erat lalu di tempelkan di dada Pelix.
"Aku akan selalu ada di pihakmu walau suamimu tak mengizinkannya" ucap Pelix.
"Janji?" tanya Amora seperti anak kecil.
"Janji" Jawab Pelix sembari mengangkat tubuh Amora hingga duduk di pangkuan Pelix.
Kini mereka duduk seperti induk koala menggendong anaknya. Kini wajah mereka sangat dekat hingga hembusan nafas terasa saling beradu.
"Aku nyaman dengan mu Pel" ucap Amora sembari meremas rambut Pelix.
"Aku pun sama sangat nyaman berada dekat dengan istri orang" jawab Pelix seraya terkekeh dengan tawa renyahnya menambah ketampanan nya.
Amora hanya senyum mendengar ucapan dari Pelix.
Amora pun telah turun dari pangkuan Pelix dan duduk kembali di samping Pelix untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah ibu Amora.
__ADS_1