
Kami akan melamar mu untuk anak kami Ricky" ucapnya spontan membuat kedua sejoli itu terpekik dengan terkejutnya.
"Apa, melamar?" mulut Marini ternganga saking terkejutnya.
"Iya kami akan ke rumahmu! Terlepas nanti apapun jawabannya kami akan terima" ucap Daisy.
Malam sudah larut, Marini pun pulang di antarkan oleh Ricky. Sementara mobilnya di simpan di rumah Ricky.
Di dalam mobil, dua insan ini tak ada yang bicara, hening melanda dan Ricky pun yang memulai percakapan kikuk itu.
"Rin, apa benar kau sudah mengunjungi rumahku dua kali sebelum ku pulang dari luar negri?" tanya Ricky.
Marini yang di tanya seperti itu pun mulai gelagapan. Dia merutuki kebodohannya. Dia ketahuan oleh Ricky dan bingung harus menjawab apa.
"Ya aku ingin main saja ke rumahmu" ucapnya singkat.
"Hanya main saja?" tanya Ricky dengan menahan tawa karena merasa lucu melihat mimik wajah Marini yang memerah.
Tiba-tiba, pria tampan itu membelokan Mobilnya di pinggir jalan dan berhenti membuat Marini heran.
"Loh kok berhenti?" tanya Marini sembari mengerutkan keningnya.
"Aku hanya ingin mendengar alasan yang logis kenapa kau dua kali mengunjungi rumahku?" tanyanya sembari memandang lamat wajah cantik itu.
Yang di tanya pun hanya gelagapan, dan tatapan Ricky menajam seperti runcingnya ujung belati.
"Aku merindukanmu" jawaban spontan dari Marini.
"Coba sebutkan sekali lagi aku tidak dengar!" seru Ricky dengan perasaan sudah melambung tinggi.
"Aishhh kau ini menyebalkan! Hmmmmm,, Aku merindukanmu bocah!" tegas Marini.
"Aku tidak percaya" ucap Ricky sengaja menggoda wanita galak itu.
"Terserah" jawabnya malas.
"Buktikan dong kalau kamu merindukan ku!" serunya.
Cup!!!
Marini mengecup sekilas bibir tebal nan seksi milik pemuda itu,namun Ricky segera meraih tengkuk Marini dan memperdalam ciuman itu. Marini pun tak melawan dan malah menikmatinya karena jujur saja di usia yang sudah kepala tiga, dia sangat haus sentuhan seorang pria. Dia pun berjanji akan belajar membuka hatinya untuk Ricky dan tak ingin menyia-nyiakan cinta tulus pemuda itu. Kandasnya cinta bersama Pelix membuat Marini merasakan hatinya seperti fuzzle yang sudah berserakan tetapi dia akan menyusun keping demi keping hatinya agar menyatu untuk pemuda di sampingnya yang sedang menciumi bibirnya dengan liar.
"Eumppphhhh!" suara lakmat itu mendayu dari bibirnya kala Ricky terus saja mencumbunya tampa ampun.
Sebagai pria yang baru siuman menjadi pria normal setelah lama bergulat dengan sesama pria, membuat dia merasakan nikmatnya menyentuh wanita, apalagi menyentuh seseorang yang sangat di cintainya. Marini merupakan cinta pertama nya pada wanita.
"Bibirmu membuatku candu sayang" ucap Ricky dengan suara paraunya.
Marini tak menjawab! Dia sedang menikmati sentuhan jari-jemari kokoh nan berurat milik pemuda tampan itu.
Ricky terus saja mencumbui Marini dan tak lupa meninggalkan jejak kemerahan di leher nya membuat Marini terperanjat.
"Ric, kenapa kau menandai leherku bodoh?" umpatnya kesal.
"Karena kau milimu" jawabnya santai.
Percumbuan panas itu mereka akhiri. Ricky dengan lembutnya membersihkan cairan saliva pada bibir Marini hingga tak terlihat lagi.
"Manis" ucapnya sembari mengelus bibir ranum Marini sekilas.
"Kau liar sekali Ric" ucap Marini dengan tangan merapihkan baju dan rambut yang berantakan.
"Aku tak bisa mengontrol diriku. Rin, I Love you so much" ucapnya tiba-tiba.
Marini hanya diam.
"Di saksikan oleh pekatnya malam, aku memintamu untuk menjadi kekasihku, menjadi ibu dari anak-anaku dan menjadi wanita satu-satunya yang akan menemani masa tua nanti. Apa kau mau menerimaku untuk menjadi pendampingmu? Menikahlah dengan ku agar ku bisa menjaga mu" ucap Ricky memohon dengan wajah yang menyedihkan sembari mengeluarkan bulir aur mata.
Marini pun tak sanggup untuk berkata-kata, dia pun juga sama menangis dalam keharuan dan kebahagiaan. Tangan Marini lalu menyentuh wajah Ricky, lalu menempelkan kening nya pada kening pemuda itu seraya berucap.
"Ya aku mau dan menerimamu Ric" ucapnya.
Kemudian Ricky dengan perasaan bahagia yang membuncah, meraup wajah Marini dengan kedua tangannya.
"Benarkah? Atau aku hanya mimpi, hem?" tanya nya lagi.
Marini hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Dengan bahagia Ricky pun meninjukan tangannya ke udara dan langsung memeluk lalu menciumi wanita yang sudah resmi menjadi kekasihnya dalam beberapa detik itu.
Paginya di rumah Elizabeth sedang sibuk menata rumahnya karena akan kedatangan tamu spesial yaitu keluarga Ricky.
"Rin, bagaimana catering nya sudah siap jam berapa?" tanya Elizabeth.
Ya walaupun wanita itu hanya tertuduk di kursi roda tetapi mulut dan tangannya sangat aktif membantu ART dan terus saja mengomel.
"Jam sembilan mereka akan mengantar makanan nya kemari. Lagipula kenapa harus memesan catering sih ma, ini kan acara lamaran biasa" ucap Marini yang sedang merangkai bunga.
"Kita lihat saja nanti" ucap Elizabeth sembari terkekeh.
__ADS_1
•
Sementara di kediaman Ricky, seluruh keluarganya sudah datang termasuk kakek dan nenek yang biasa di panggil kanjeng eyang putri dan kanjeng eyang romo. Mereka orang tua Tomi karena orang tua Daisy sudah meninggal semua.
"Cie cie manten ya!" Seru sang nenek.
"Ini kan kemauan kalian eyang! Baiklah akan ku laksanakan" ucap Ricky dengan membusungkan dada.
"Semangat banget calon pengantin kita! Om tahu dalam otakmu! Obat yang dari om jangan sampai ketinggalan ya buat kau tempur nanti malam" ucap Frans adik dari Tomi.
"Siap komandan! Padahal tanpa itu pun aku sudah perkasa. Jawab Ricky.
"Semoga pernikahan kalian selalu di berikan kebagaiaan" ucap wanita yang bernama Ambar istri dari Frans.
"Terimakasih Tanteu atas doanya" ucap Ricky sembari memeluk tanteunya.
Di kamar Marini, seorang MUA telah menyulap wajahnya menjadi sangat cantik dan anggun, Marini pun heran, pasalnya ini bukan riasan untuk lamaran, tapi untuk pernikahan.
Dari luar seorang keponakannya menggampiri dirinya.
"Kak Rini cantik sekali. Kak ayo keluar, mempelai nya sudah tiba" ucap keponakan Marini.
Mendengar kata mempelai, membuat dia heran.
"Mempelai apaan, aku kan hanya mengadakan acara lamaran saja dan Ricky pun tidak bicara apapun! Sungguh aneh" ucapnya.
Marini pun keluar dari kamarnya, dan sebuah kejutan, Ricky sudah duduk di sebuah meja yang di depannya ada seorang pria seperti penghulu dan beberapa saksi.
"Silahkan calon pengantin wanita untuk duduk di sebelah calon prianya" ucap saksi.
"Maaf ini ada apa ya? Saya tidak mengerti"
"Ric kok ada penghulu? Kamu datang ke rumahku kan untuk melamar?" tanya nya lagi.
"Ma, ini ada apa ma?" tanya Marini sembari menggoncangkan bahu sang mama.
Elizabeth hanya senyum-senyum dan tangannya mengelus kepala sang putri.
"Rin, mama berubah pikiran, tadinya sekarang hanya akan melaksanakan lamaran tetapi mama lebih ingin melaksanakan pernikahan saja untukmu, apalagi yang kamu ragukan? Terimalah. Kamu sebentar lagi akan menjadi istri nak Ricky" tutur Elizabeth dengan air mata yang sudah mengalir.
"Tapi kenapa mama tidak memberitahukan terlebih dahulu padaku?" tanya Marini.
"Ceritanya panjang nanti mama ceritakan padamu. Ayo sekarang duduk di samping calon suamimu" ucap Elizabeth.
Marini pun duduk di samping Ricky dengan perasaan campur aduk. Ricky yang melihat kebingungan di wajah Marini mencoba menenangkan dengan menggenggam tangannya.
"Baiklah, apa ijab kabul sudah bisa di mulai?" tanya Penghulu.
Ijab kabul pun di laksanakan dengan satu tarikan nafas Ricky yang tegas.
"Bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu.
"Sah"
"Sah"
"Sah"
Ucap para saksi yaitu tomy dan Frans.
Marini pun menyematkan cincin di jari sang suami dan mencium tangannya dengan takzin.
Lalu Ricky pun sama, dia menyematkan cincin berlian di jari sang istri dan ketika hendak mencium bibirnya, Tomi menjewer sang putra.
"Main sosor aja kaya soang! Udah gak kuat rupanya. Di cium kening nya saja dulu" ucap Tomi gemas pada sang putra.
Ricky hanya nyengir kuda antara malu dan ingin tertawa.
"Mas kau bisa saja bicara seperti itu pada anakmu. Dulu saja waktu kau menikah bahkan resepsi nya pun belum kelar kau sudah membawa kakak ipar ke kamar sampai mami dan papi marah-marah karena malu" kelakar Frans pada Tomi sang kakak.
"Diam kau!" pungkas Tomi malu.
Mereka pun sungkem pada orang tua masing-masing dan sesudah itu mereka berdua menerima berbagai petuah dan wejangan kala melaksanakan biduk rumah tangga. apalagi kanjeng eyang putri dengan lantangnya meminta segera hamil agar dia mempunyai buyut.
"Ini hadiah dari eyang putri eyang romo" ucap wanita tua dengan sanggul konde cetar.
"Apa ini eyang?" tanya Ricky.
"Buka saja" jawabnya.
Sebuah kotak berwarna hitam dan Ricky pun membuka nya. Sebuah kunci rumah dan bisa di tebak dong rumah tipe apa jika konglomerat yang menempati.
"Terimakasih eyang" ucap Ricky sembari memeluk kedua manula itu.
"Jagoan om, ini hadiah untukmu sebagai tanda cinta om dan tanteu untuk mu" ucap Frans sembari menyerahkan sebuah kota berwarna cokelat yang langsung di buka oleh Ricky.
Sebuah tiket bulan madu keliling Eropa membuat senyum di wajah pemuda itu merekah.
__ADS_1
"Untuku om?" tanya nya.
"Ya untuk siapa lagi. Semoga bulan madu mu menyenangkan ya! Gas terus lembah istrimu Ric! Biar cepat om punya cucu dari kamu" ucap Frans sembari terwata terbahak..
"Siap komandan" jawab Ricky sembari memberi hormat.
Acara singkat itu akhirnya selesai, semua tamu sudah kembali termasuk kedua orang tua Ricky. Kini tinggalah mereka sudah berdua di dalam kamar. Ricky yang duduk tak mau jauh dari Marini pun selalu merapat seolah enggan kehilangan istrinya.
Marini pun nya diam antara malu dan grogi.
"Rin, pasti kamu butuh penjelasan dengan semua ini kan?" tanya Ricky dengan tangang mengelus kepala sang istri.
Marini hanya mengangguk saja.
Flashback satu malam sebelum lamaran.
Ricky saat itu telah kembali ke rumahnya setelah mengantarkan Marini pulang. Di rumahnya, Tomi dan Daisy sibuk menelepon semua kerabatnya untuk datang di acara besok.
"Kok mendadak sih Kak?" ucap Frans di seberang sana.
"Ya bagaimana lagi, Ricky udah gak tahan tadi saja dia hampir menel@nj@ngi anak orang kalau aku dan istriku tidak sigap" jawab Tomi.
"Bagaimana jika langsung adakan saja pernikahan?" tanya Frans.
"Gila kamu ya, mendadak sekali!" jawab Tomi.
"Sebaiknya kau bicara dulu dengan ibu dan ayah, kak. Aku akan berangkat sekarang ke sana" ucap Frans lalu mematikan panggilan telepon itu.
kemudian Tomi menelepon ibunya.
"Selamat malam ibu? bagaimana kabar ibu dan ayah? Ibu, rencana nya saya dan istri akan melamar seorang gadis untuk Ricky besok! Apa ibu dan ayah berkenan untuk menghadiri lamaran itu?" tanya nya pada sang ibu.
"Ibu dan ayah baik-baik saja. Loh kok mendadak begini acaranya Tom? Apakah si junior mu sudah mencoblos gadis itu?" tanya sang ibu dengan nada tegas.
"Eummmzzz, anu bu, anu" ucap Tomi gelagapan.
"Jawab tom!" ucap wanita tua itu.
"Hampir bu makannya saya resah! Cucu mu loh bu udah gak tahan banget" jawab Tomi dengan nada canggung.
"Yasudah ini keputusan ku tidak bisa di ganggu gugat, Nikahkan mereka besok" ucap sang ibu.
"Tom, ini ayah. Benar apa yang di katakan ibu mu! Ricky itu baru sembuh jadi dia akan agresif pada lawan jenis dan sepertinya tidak bisa di tahan jika hanya lamaran. Besok harus jadi acara pernikahan, bukan lamaran" ucap sang ayah.
Tomi pun mau tidak mau menuruti ucapan kedua orang tuanya.
"Yasudah jika ibu dan ayah menghendaki Ricky untuk menikah, saya akan menuruti kemauan kalian" ucap Tomi.
"Baiklah. Sekarang kami akan siap-siap berangkat ke sana" ucapnya.
Tomi pun berdiskusi dengan Ricky dan Daisy, dan mereka setuju.
"Perintahkan petinggi Mall milik kita untuk tidak tutup malam ini. Saya ingin membeli seserahan untuk menantuku malam ini" ucap Daisy kepada manajer mall miliknya di seberang telepon.
Tomi pun menyuruh Ricky untuk ke rumah Marini mengambil dokumen guna melengkapi data dalam surat pernikahan dan Elizabeth pun setuju dengan hal ini.
"Begitulah ceritanya sayang" ucap Ricky.
Marini pun terharu dan menangis di pelukan Ricky.
"Ric!" ucap Marini.
"Ya!" serunya.
"Aku mencintaimu" ucap Marini tulus dari hati ya.
"Aku lebih mencintaimu sayang" timpal Ricky.
"Sayang, aku boleh minta sekarang?" tanya Ricky dengan alis terangkat sebelah.
"Minta apa?" tanya Marini pura-pura tidak paham.
"Masa tidak mengerti sih? Boleh ya sudah gak tahan ini! Please" ucapnya memohon.
"Aku milikmu malam ini sayang" Balas Marini.
"Tapi kita mandi dulu ya!" ucap Marini.
"Ya tapi mandi berdua" ucap Ricky dengan seringai nakal.
"Mesum deh!"
"Biarin sama istri sendiri"
Mereka pun mandi bersama.
Selamat ya untuk Ricky dan Marini semoga samawa..
othor akan lanjut ke cerita Pelix dan Amora, Martin dan Susan.
__ADS_1
Tetap semangat membaca novel ku ya... I love u all..😍😍😍😍😍