
Pelix mengajak Marini pergi kesebuah Mall ternama untuk membeli baju, dan teman-temannya. Hingga sampailah pada salah satu brand ternama yang bernama Versace.
"Ambil saja apa yang kamu mau Rin" ucap Pelix.
Marini pun mengambil baju, celana, tas dan parfum.
"Sudah Pel ini saja" ucap Marini.
Kemudian Pelix mengeluarkan Black Card dari dompetnya dan segera membayarnya.
"Pel aku lapar" ucap Marini.
"Kita makan di restoran Jepang saja" balas Pelix sembari menggandeng tangan Marini.
Ketika mereka melewati sebuah butik tempat Brand terkenal, Marini melihat sosok yang di kenalnya sedang berbelanja dengan seorang wanita.
"Pel coba lihat bukannya itu Pak Martin? Wanita itu sepertinya bukan Bu Amora" ucap Marini sembari menunjuk ke arah Martin.
Pelix langsung melihat ke arah seorang yang di maksud Marini. Dan benar saja disana Martin sedang melihat lihat semua koleksi Brand ternama itu. Dia tampak memperhatikan apapun yang Susan pilih.
"Istrinya saja tak pernah di ajak shoping seperti itu. Bagaimana jika Amora tahu ini semua" gumam Pelix dalam hati.
Pelix merogoh ponselnya dalam saku dan segera memotret kebersamaan mereka.
"Rin pakai masker mu sekarang" ucap Pelix yang tidak mau jika Martin mengetahui jati dirinya.
"Loh kenapa harus pakai masker segala sih. Hari gini kan sudah bebas virus corona Pel!" ucap Marini malas.
"Pakai saja Rin jangan banyak protes. Kalau kita ketahuan oleh dia, maka dia akan malu. Kasian kan kalau dia sembunyi-sembunyi dengan selingkuhannya malah kita tahu kan gak lucu" tutur Pelix.
"Iya juga sih" jawab Marini sembari memakai masker.
¥
Sementara Martin tengah sibuk memilihkan baju, tas, sepatu, celana dan aksesoris wanita lainnya termasuk make-up untuk Susan.
"Tin, kurasa ini semua terlalu berlebihan untuk ku. Harganya oun pasti tidak murah kan?" tanya Susan.
"Sudah Sus, ambil saja apa yang kamu butuhkan jangan pikirkan soal harga. Aku mau di hari persidangan nanti keluarga suamimu akan terkejut melihat penampilan baru kamu" tutur Martin.
" Terimakasih Tin kamu memang teman yang sangat baik" ucap Susan sambil menitikan air mata.
"Aku akan bantu kamu sampai urusan mu selesai" ucap Martin.
Sesaat dia teringat Amora yang sudah dia tinggalkan lima hari yang lalu dengan alasan pekerjaan membuat dia merasa bersalah.
"Amora maafkan aku sudah membohongmu. Aku janji kalau ku pulang kita shoping berdua dan apapun yang kamu mau pasti aku belikan" gumam Martin.
Sesudah puas berbelanja, Martin dan Susan berjalan menuju restoran Jepang dan segera memesan ramen. Tak disangka mereka berdua bertemu lagi dengan Pelix dan Marini yang sedang memakan Sushi, tetapi Martin tak melihat keberadaan Pelix.
¥
Sesudah selesai makan, Marini mengambil ponsel dan mengajak Pelix untuk selfie. Pelix dan Marini mengambil pose yang menggemaskan dengan bibir di pajukan kedepan, Pelix yang sedang melet, Marini yang sedang memencet hidung Pelix, hingga berpose dengan lubang hidung yang di mekarkan membuat mereka tertawa dengan tinggkah konyolnya sendiri. Lalu Marini mengupload poto mereka di whatsap milik Pelix.
"Kamu upload semua poto konyol ini? Bikin malu saja" ucap Pelix.
__ADS_1
"Tak masalah" jawab Marini sembari tertawa melihat pose konyol mereka.
Tak lama Amora pun melihat status Whatsap nya Pelix membuat dia kesal.
"Dia bisa sebahagia ini dengan wanita itu" lirih Amora.
Amora pun menangis. Dia meratapi kehampaan hidupnya ini. Kemudian Amora pun melihat semua poto yang di upload Pelix dan sekelebat melihat poto suaminya sedang makan di meja ujung bersama seorang wanita. Jari-jari Amora dengan cekatan langsung zoom poto itu guna memastikan itu suaminya atau bukan dan di lihat semakin dekat benar itu suaminya sedang tersenyum dan membersihkan sisa-sisa makanan di ujung bibir sang wanita. Hal itu membuat Amora seketika menjadi geram lalu menangis tersedu-sedu.
"Brengsek. Jadi ini alasan dia tak pulang hampir satu minggu dengan alasan sibuknya pekerjaan" geram Amora.
Kemudian dia menelpon Pelix dan segera di angkat oleh Pelix.
"Hallo Amor" ucap Pelix.
"Sedang dimana kamu Pel? Apa yang ada di potomu itu suamiku? Lihat di belakangmu sekarang!" tegas Amora.
Pelix pun menoleh ke arah belakang dan benar saja Martin sedang makan disana dengan Susan.
"Mati aku! Kenapa Marini bisa ceroboh dan tidak melihat sekeliling. Amora pun akan marah besar padaku karena tahu aku membohonginya waktu itu" gumam Pelix dalam hati.
"Hmmmmm~~hmmmmmmmm. Masa sih ada suamimu? Kamu salah lihat mungkin. Tak ada Martin disini" ucap Pelix berkelit.
"Aku bukan wanita bodoh ya Pel. Apa kamu sudah bekerjasama dengan mas Martin untuk membohongiku? Aku tidak menyangka kamu bisa seperti itu padaku. Aku salah menilaimu Pel. Kamu sama saja jahatnya" ucap Amora sembari menutup telpon.
Pelix sangat khawatir dengan keadaan Amora saat ini dia pun segera mengajak Marini pulang. Sesudah sampai di rumah Amora, Pelix segera menuju kamar Amora.
saat di ketuk pintu kamar itu, tak ada sahutan dari dalam, seketika Pelix berlari menuju gudang peternakan dan melihat Amora sedang duduk bersimpuh disana.
"Amor maafkan aku bukan maksud ku untuk berbohong" ucap Pelix sembari menguncangkan pelan bahu Amora.
"Aku sudah salah menilaimu Pel. Ku kira kau jujur akan semuanya padaku" balas Amora.
"Di bayar berapa oleh suamiku untuk mengatakan kebohongan?" tanya Amora lagi.
"Aku tak di bayar apapun oleh suamimu. Dia meminta merahasiakan semua itu karena kamu pasti menolaknya jika suamimu senolong wanita itu. Dia mengatakan murni hanya menolong dan tak ada perasaan apapun. Tolong percayalah" tutur Pelix.
"Ck..Omong kosong macam apa itu hah? Jika niatnya hanya menolong kenapa harus merahasiakan itu dari ku dan kenapa dia sampai tak pulang hampir satu minggu?"
"Dia itu mantan pacar Martin dahulu" ucap Pelix.
Mendengar ucapan Pelix yang menyebutkan bahwa Susi adalah mantan pacar suaminya membuat dia semakin marah.
"Antarkan aku ke apartemen suamiku" ucap Amora sembari mengambil tas kemudian berjalan menuju mobil dan Pelix mengikutinya dari belakang.
Di dalam mobil, Amora hanya diam tak berbicara sepatah katapun membuat Pelix sangat cemas. Pelix menggenggam tangan Amora tetapi langsung di tepis kasar oleh Amora seketika Pelix langsung menepikan mobil itu di bahu jalan.
"Amor, apa kamu baik-baik saja?" tanya Pelix sembari menatap lekat wajah Amora yang sedang di selimuti amarah.
"Amora bicaralah padaku jangan diam saja. Kalau kamu tak bisa mengendalikan emosi sebaiknya kita pulang saja" tegas Pelix.
Amora seketika melotot tajam ke arah pelix, hal itu membuat Pelix sedikit ngeri.
"Bisa gak sih kamu diam Pel? Aku pusing sedang tak ingin mendengar apapun darimu" bentak Amora.
"Hei kenapa jadi aku yang jadi sasaran amarahmu? Amor tenang lah sedikit, kita harus mendengar alasan suamimu kenapa bisa seperti itu" balas Pelix.
"Wanita memang susah di mengerti. Hmmmmm" gumam Pelix pelan.
__ADS_1
"Aku masih bisa mendengarmu Pelix" ketus Amora.
Hal itu membuat Pelix menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala. Dia tak menyangka kalau wanita sedang marah akan semenakutkan itu melebihi seramnya kuntilanak.
Tiga puluh menit Pelix mengemudikan mobil membelah jalanan. Kini sampailah dia di sebuah apartemen mewah tempat Martin dan Susan menginap. Amora yang sudah di kuasai Amarah berjalan tergesa mencari unit yang di tempati sang suami.
"Dimana tempatnya Pel?" tanya Amora.
Tak lama sampailah Pelix di unit milik Martin dan segera memencet bell.
Pintu terbuka, seorang wanita yang sudah Pelix kenali membukanya dan tersenyum ramah.
"Dimana suami saya?" tanya Amora berang.
"Ini~ ini istrinya Martin? Silahkan masuk dia ada di dalam" Jawab Susan ramah.
Masuklah Amora dan langsung mengagetkan Martin.
"Amor kok bisa disini?" tanya Martin gugup.
"Heran aku disini? Jadi ini yang di maksud dengan pekerjaan hah? Brengsek kamu Martin".
" Tunggu Amor! Aku bisa jelasin semuanya. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan" tutur Martin.
"Ini yang di maksud pekerjaan hah? kumpul Kucing dengan wanita ini?".
" Dan kamu pelakor, ini suami saya. Gara-gara kamu dia membohongi saya dan tak pulang hampir satu minggu" ucap Amora kesal.
Susan yang tak berdaya hanya bisa menangis dan bersimpuh di atas lantai. Pelix menghampiri Susan dan membangunkannya.
"Bangun Nyonya. Anda sebiknya masuk saja kedalam kamar. Saya tahu anda tidak salah dan istrinya Martin juga tidak salah, dia hanya terbawa emosi saja" ucap Pelix.
"Tapi itu salah saya Mas. gara-gara saya mereka jadi bertengkar" jawab Susan lirih.
"Sudahlah ini bisa di atasi. Anda istirahat saja" ucap Pelix.
Susan pun langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
"Apakah dia yang sudah mengatakan semua ini padamu Amor?" tanya Martin sambil menunjuk Pelix.
"Bukan! Sepupuku yang melihatmu sedang makan di resto. Mau mu apa sekarang hah? Bercerai atau apa?" berang Amora.
"Maafkan aku Amor aku salah telah membohongimu. Aku lakukan ini hanya untuk menolong dia, dia disiksa oleh Alm suaminya dan keluarga suaminya. Aku hanya murni kasihan saja dia sudah tak punya siapa-siapa Amor percayalah. Dia sudah ku anggap adik sendiri. Kamu jangan mengira yang buruk meski aku tinggal seatap tapi aku tak berbuat macam-macam. Aku takan menceraikan mu Amora, kau hanya satu-satunya wanitaku" ucap Martin.
Pandangan Amora tertuju pada belanjaan Martin yang masih tersimpan di atas meja.
Amora mengambil belanjaan itu dan mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam nya. Netra Amora membelalak ketika melihat setumpuk baju baru, celana, dalaman, hingga make-up yang mahal.
"Oh bagus. Ini yang di namakan adik sendiri? Bagus sekali bajunya mahal-mahal ya. Aku saja istrimu tak pernah kau belikan apa-apa. Kenapa wanita lain sangat kau perhatikan. Bedebah memang, sudah ringan tangan, pembagi perhatian pula" sinis Amora sembari pergi dari apartemen itu.
Pelix menghampiri Martin yang sedang tertunduk lemas.
"Broo maaf aku tak bisa mencegah istrimu kemari" ucap Pelix sembari memegang pundak Martin.
"Tak apa lah sudah ketahuan ini" lirih Martin.
Pelix pun berlalu dan menyusul Amora yang sudah diam di dalam mobil.
__ADS_1