SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Keresahan Hati Vivid.


__ADS_3

Waktu makan malam pun tiba. Pelix tampak terburu-buru memakan makanan di atas mejanya! Hal itu membuat kedua orang tuanya heran di tambah lagi Amora tidak ikut makan malam karena kelelahan sehabis acara akad.


"Kak pelan-pelan makannya" ucap Kaisyah.


"Mau kenama sih Pel?" tanya Jhonson.


"Aku khawatir pada istriku" ucapnya dengan nasi yang memenuhi mulutnya.


"Khawatir apa khawatir?' tanya Jhonson dengan seringai nakal.


" Apasih ayah" Pelix kesal karena di goda terus.


Makan malam pun selesai. Pelix terlebih dahulu masuk ke kamarnya dan langsung di hadapkan dengan Amora yang sudah memakai lingerings warna hitam kontras dengan kulitnya yang putih baik pualam.


Pelix melangkah dengan tatapan seperti singa yang lapar.


"Sudah makan malamnya sayang?" tanya Amora.


"Sudah, tetapi sepertinya aku tak terlalu nafsu makan malam" ucapnya dengan wajah sendu.


Amora menghampiri pria yang sudah menjadi suaminya semenjak siang itu dan meraba keningnya tetapi tidak terasa deman.


"Tidak deman kok apanya yang sakit?" tanya Amora dengan wajah yang sudah khawatir.


"Yang sakit bukan badanku sayang tapi anacondaku minta masuk sarang" ucap Pelix sembari terkekeh dengan wajah tanpa dosa.


Amora menyentil dahi Pelix sembari melengos.


"Dasar suami mesum" ucapnya.


"Amor sayang tunggu dong!" Pelix berjalan menghampiri Amora.


"Apasih mau nipu lagi bilang sakit lah apa lah?" tanya Amora sebal.


"Amor yuk!" tanya Pelix memelas.


"Apasih Pel?" tanya Amora sengaja menggoda Pelix karena dia tahu suaminya itu sudah merajuk sedari selesai akad nikah.


"Pengen itu!" ucapnya.


"Sekarang?" tanya Amora lagi yang sudah ingin tertawa melihat ekspresi wajah Pelix yang sudah kesal.


"Ya sekarang masa tahun depan! Ayolah sayang gak tahan nih" rajuk Pelix seperti anak kecil.


Amora tersenyum kemudian mengangguk.


Pelix segera mengangkat tubuh sang istri dengan sayang dan langsung di rebahkan di atas ranjang. Tubuh kekar nan berotot itu seketika mengungkungnya lalu mengecupnya dengan penuh g@ir@h yang membuncah.


Rasanya lebih nikm@t karena sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri.


Pelix terus saja menciumnya, membilang deretan gigi sang istri dengan lid@h saling m€mbelit. Suara decapan bibir keduanya menjadi irama merdu di kamar itu.


Pelix pun meraih tubuh Amora lalu di baringkan nya di atas ranjang, Pelix dengan g@ir@hnya yang sudah di ubun-ubun merangkak seperti tokek mendekati Amora lalu membuka kaki sang istri secara lebar-lebar. Ketika akan memulai penyatuannya tiba-tiba ranjang yang mereka tiduri runtuh.


Krietttttt


Krietttttt


Krietttt

__ADS_1


Brughhhhhhhh


Seketika Amora menjerit karena terkejut dan kemudian tertawa bersama Pelix sembari menutup wajahnya.


Hasrat yang sudah membumbung tinggi akhirnya hilang begitu saja akibat kasur yang ambruk. Dan hal itu membuat seisi rumah itu menghampiri ke kamar Pelix.


"Kak ada apa kak?" tanya Camilla.


"Siapa yang jatuh kak? Buka pintunya" ucap Kaisyah menggedor-gedor pintu.


Tak ada jawaban karena Pelix dan Amora malu dan terus saja tertawa.


"Pel buka pintunya atau ayah dobrak sekarang?" tanya Jhonson yang sudah di selimuti kecemasan.


Amora dan Pelix pun membenahi bajunya dan langsung keluar menemui orang tua dan adiknya.


"Kakak tidak jatuh?" tanya Kaisyah yang cemas sembari memutar-mutarkan badan kekar Pelix.


"Tidak bunda! Hanya ranjang saja yang rusak" ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yaampun kak, kamu ganas banget sampai runtuh segala" Camilla berbicara sembari tertawa terbahak-bahak.


"Diam kamu dek. Nanti juga kamu merasakan" Pelix menimpali Camilla dengam wajah keki.


Kemudian Jhonson dan Kaisyah masuk kedalam kamar dan mendapati ****** ***** milik Amora dan Pelix sudah berserakan di lantai dengan ranjang yang sudah ambruk terbelah menjadi dua bagian.


"Hahahahaha"


"Hahahahahahahahaha"


"Gkgkgkgkgkgkgkgkggkgkgk" Kaisyah, Jhonson dan Camilla kompak menertawakan Pelix dan Amora.


"Maklum bun, dia sudah kebelet dari kemarin-kemarin. Yasudah kalian tidur di kamar tamu saja. Nanti ayah belikan ranjang yang baru untuk kalian. Ayo bunda kita bobo" ucap Jhonson sembari menggandeng tangan sang istri.


Pelix dan Amora pun akhirnya pindah ke kamar tamu tapi tak melanjutkan kegiatan panas mereka.


Saat sedang mengobrol tiba-tiba ponselnya Amora berdering.


"Siapa yang telepon malam begini" Pelix kesal.


Di raihlah benda pipih itu dan disana tertulis nama mbak Vivid.


"Hallo mbak" sapa Amora.


"Hallo nyonya selamat malam! Bagaimana kabarnya hampir satu bulan ini?" tanya Vivid.


Karena rindu dengan ART yang sudah di anggap adiknya itu, Amora kemudian memindai tombol video call lalu Vivid membukanya. Terlihat wajah gadis itu tampak glowing mungkin selama ini dia melihat Amora dan mengetahui skin care apa saja yang dia kenakan dan Vivid menirunya.


"Hallo nyonya saya rindu!" Seru gadis itu.


"Sama mbak ku juga rindu karo sampean" ucap Amora sembari tertawa.


"Sama aku rindu gak mbak?" Pelix tiba-tiba nimbrung di video call itu.


"Mas Pel aku rindu kamu pasti nyonya marah" ucaonya sembari terbahak.


"Mbak kita mau kasih tau satu hal kalau kita sudah menikah" ucap Amora.


"Kok nyonya gak kasih tau saya. Eimzzz jahat banget saya sedih" Vivid berkata dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Maaf ya! Tapi nikahnya baru tadi kok dan gak meriah hanya keluarga inti saja" jawabnya.


"Oh ya nyonya selamat ya! Oh ya kapan saya bisa kembali bekerja?" tanya Vivid.


"Kamu istirahat saja dulu di kampung. Dan tunggu deh itu seperti bukan rumah kamu? Kamu sedang dimana sekarang?" tanya Amora heran ketika Vivid duduk di ruang tamu rumah yang bisa di bilang mewah untuk ukuran di desa.


"Hehe!! Ini rumah saya mbak! Selama saya kerja dengan nyonya untuk pertama kali sampai terakhir saya pulang dari Malaysia menemani nyonya gaji yang tuan Martin dan mas Pel kasih, saya tabung dan inilah hasilnya saya bisa membangun rumah mewah di kampung dan mendirikan toko sembako untuk membahagikan ibu saya di kampung" tuturnya merasa bangga.


"Pantasan selama kamu bekerja bersama saya, kamu jarang sekali jajan, tidak pernah beli skincare atau membeli baju ternyata kamu gadis yang hemat ya mbak" ucap Amora memuji sang ARTnya.


"Iya nyonya saya ingin membahagiakan ibu saya!" jawab Vivid.


"Billy pasti bangga padamu" Pelix menggoda Vivid dan ternyata gadis itu tersipu malu.


"Mas Pel, kalau mas Billy menanyakan alamat saya tolong jangan di berikan ya saya mohon" Vivid memelas sembari menagkupkan kedua tangannya.


"Kenapa? Bukannya kamu juga suka dengan si brewok itu ya?" tanya Pelix.


"Ndak mas Pel ndak! Aku tak suka sama dia" ucapnya tetapi Pelix dan Amora bisa menangkap kebohongan di mata gadis lugu itu.


"Jangan bohong padaku! Jangan membohongi perasaanmu. Jujur deh kamu suka kan sama Billy?" tanya Pelix.


Vivid malu-malu nyengir kuda dan berkata bahwa dia juga menyukai Billy tapi dia tidak mau karena status sosial dengan Billy sangat jauh berbeda.


"Kenapa mempermasalahkan itu?" tanya Pelix.


"Saya malu dan tidak level dengan dia mas Pel! Dia konglomerat sedangkan saya seorang pembantu. Rasanya jomplang apalagi saya dengar kalau mas Billy itu suka gonta-ganti wanita. Saya takut disakiti"ucap Vivid dengan suara lirih.


"Semua keputusan ada di tanganmu mbak! Tapi kita yakin kalau Billy itu sudah berubah sekarang. Dia sangat mencintaimu" Pelix sengaja mengatakannya dengan jujur pada Vivid karena Billy sudah banyak menceritakan perasannya pada gadis itu ke Pelix.


"Yasudah nyonya dan mas Pel, maaf sudah menganggu waktu bulan madunya, saya tutup ya video call nya. Dadah" ucap Vivid.


Pelix dan Amora pun melanjutkan kegiatan panas mereka yang sempat tertunda.



Vivid tengah melamun di kamarnya! Ingatan tentang wajah Billy terbayang jelas di pikirannnya. Hatinya sangat merindukan pria itu tetapi semenjak kepergiannya ke luar negri, dia tidak pernah sekalipun menghubungi Vivid.


"Pasti dia sekarang sedang tidur dengan banyak wanita bule! Huuuuhhh menyebalkan dasar hyper" ucapnya dongkol.


"Lah kok aku jadi mikirin dia ya aneh banget! Jangan, jangan! Aku jangan mikirin dia. Keenakan dong kalau dia aku pikirkan. Tapi aku merindukan mas Billy" Hatinya terus saja bergumam.


Tiba-tiba sang ibu masuk kedalam kamarnya dengan mengetuk terlebih dahulu.


"Loh nduk kok belum tidur? Kamu cape ya seharian melayani orang yang membeli di toko kita? Maaf ya nduk, ibu belum bisa membantu melayani pembeli karena ibu belum hapal harganya" ucap sang ibu yang bernama Tuginah.


"Ndak bu bdak! Aku senang kok melayani pembeli. Semoga toko laris ya bu! Aku ingin sekali membahagiakan ibu dan adik" ucap Vivid dengan meraih tangan sang ibu.


"kamu sudah memberikan kebahagiaan untuk kami berdua nduk! Semoga bapak mu melihat bagaimana rajinnya anak gadisnya. Oh ya nduk apa kamu sudah punya pacar?" tanya Tuginah.


"Belum bu! Tapi ada seseorang yang aku suka tapi itu tak mungkin bu" ucap Vivid sendu.


"Apanya yang tidak mungkin nduk? Dia pria baik-baik kan?" tanya Tuginah dengan raut wajah yang bertanya-tanya.


"Dia seorang konglomerat bu! Yo bagai pungguk merindukan bulan. Aku yang pembantu ini tidak ada pantas-pantasnya bersanding dengan mas Billy" ucapnya dengan nada lirih.


"Oh jadi nama pria itu Billy ya? Ibu terserah saja padamu nduk! Tetapi kita juga harus mawas diri dan berkaca. Ibu tidak mau kamu dihina dan di rendahkan oleh orang lain karena status sosial yang jomplang. Kamu cari pria yang sepadan saja dengan kita ya nak" tutur Tuginah sembari mengelus punggung sang putri.


"Iya bu aku mengerti" ucapnya.

__ADS_1


Sang ibu pun keluar dari kamarnya, dan kini dia sendiri lagi merenungi hatinya yang rindu pada Billy. Hati Vivid kini sudah terBilly-Billy.


__ADS_2