SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Hadiah Untuk Marini


__ADS_3

Amora yang merasa heran atas kesembuhan sang suami langsung menanyakannya. Dia ingin tahu metode pengobatan apa yang dia jalani hingga bisa sembuh dari impoten nya dan siapa dokter yang bisa membantu menyembuhkan impoten sang suami.


"Mas boleh aku tanya siapa yang membantu atas kesembuhan mu?" tanya Amora.


"Baiklah mas akan cerita." jawab Martin..


Flashback tiga hari yang lalu.


Rumasakit siang ini tidak terlalu penuh hingga Martin tidak lama mengantre.


"Atas nama Tuan Martin" ucap salah satu perawat yang bernama Viska.


Martin pun masuk dan langsung menemui Marini di ruang pemeriksaannya.


"Selamat siang Tuan" ucap Marini.


"Selamat siang dok" jawabnya.


"Masih keluhan yang sama?" tanya Marini sembari memakai kaos tangan karetnya.


"Ya betul. Saya mau konsul lagi dok" ucapnya.


"Baiklah silahkan berbaring di sana dan buka celana anda" ucap Marini tanpa basa-basi.


Di periksanya dengan seksama dan hasilnya sangat mengejutkan.


"Selamat anda sudah normal lagi ukuran nya sudah sedikit membesar dan saya periksa untuk saraf nya sudah aktif kembali. Anda bisa langsung mencobanya terhadap istri anda dengan perasaan Relax saja supaya saraf nya tidak terkejut" ucap Amora.


"Serius dok?" tanya Martin berbinar.


"Serius lah. Saya harap ajaklah istri anda mencari suasana baru yang mendukung dan segala upaya kesembuhan yang cepat ini tak lepas dari kemauan anda sendiri dan usaha yang anda jalani dengan metode yang telah saya sarankan" ucap Marini panjang lebar.


"Terimakasih dok sudah menyelamatkan masa depan saya dan rumah tangga saya. Saya berhutang banyak kepada anda" ucap Martin dengan binar.


"Itu sudah tugas seorang dokter Tuan" ucap Marini.


"Jangan panggil saya Tuan. Saya bukan apa-apa. panggil nama saja toh kita pasti usia kita juga tidak beda jauh" ucap Martin.


"Baiklah" kekeh Marini.


“Begitulah ceritanya. Aku akan memberikan Sesuatu kepada dokter itu apa kamu gak keberatan Amor?"tanya Martin.


"Aku takan keberatan. Hebat juga ya dokter Marini. Sudah cantik pintar lagi ukh wanita idaman banget sih" puji Amora.


"Kamu juga hebat bisa sabar menghadapi aku"puji Martin pada sang istri.


Hari teakhir mereka liburan di singapore, Amora membeli oleh-oleh yang sangat banyak untuk di berikan kepada Pelix, Vivid , dan orangtuanya.


" Sudah belanjanya?" kekeh Martin yang melihat Amora sedang kalap memilih souvenir.

__ADS_1


"Hehe~~Mas maaf aku jadi lupa diri" jawab Amora.


"Wanita memang seperti itu Amorx ucap Martin.


Sementara Pelix dan Marini menjelajahi wahana bermain sebelum kepulangannya ke tanah air.


" Rin aku pusing dan mual" ucap Pelix.


"Akh kamu ini kaya anak kecil saja. Yasudah ayo kita pulang ke hotel" ajak Marini sedikit kesal.


Mereka singgah sebentar di salah satu resto makanan cina yang sudah terkenal.


"Sudah tak mual lagi?" tanya Marini.


"Sudah! Maafkan aku ya tapi sumpah demi apapun aku gak terbiasa naik permainan kaya gituan Rin" melas Pelix sembari memijit keningnya.


"Sudah tak apa. Sini aku pijit" ucap Marini sembari memijit dahi Pelix dengan lembut.


Akhirnya makanan yang di pesan sudah datang dan mereka makan dengan lahapnya.


Malam pun tiba Pelix dan Marini yang dari pertama sudah menginap di hotel tidak melakukan apapun karena Pelix tak ingin membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya.


"Pel kenapa diam saja?" tanya Marini.


"Siapa yang diam? Aku hanya sedang memikirkan keajaiban apa yang bisa mempertemukan kita kembali ya" kelakar Pelix yang sebenarnya sedang memikirkan Amora.


Lalu Marini memeluk Pelix dengan erat dan Pelix pun membalasnya.


"Ini sudah takdir dan mungkin ini jawaban dari segala do'a ku Pel" jawab Marini.


"Segitu cintanya kamu ya Rin sama aku yang orang gak punya ini. Untung aku tamvan" kelakar Pelix.


"Narsis 100% deh kamu" ucap Marini sembari mencubit hidung Pelix.


Pelix hanya tertawa dan kemudian mencium Marini.


Cup.


Ciuman singkat yang mendarat di bibir Marini membuat seketika dia terdiam.


"Ikut aku sekarang ya. Ada pekerjaan yang harus ku lakukan disini" ajak Pelix.


"Kuy lah gaskeun" ucap Marini.


Marini seolah tak ingin melepaskan Pelix. Kehilangan waktu dulu membuat dia menjadi ekstra menjaga Pelix seperti seorang ibu menjaga anaknya.


Yellow Orbit Casino tempat semua konglomerat mengadu nasib peruntungan sekaligus membuang uangnya disana. Pelix pun tiba dengan Marini untuk merencanakan membangun casino itu supaya lebih baik dan luas. Marini yang di buat takjup tak berhenti memindai sekeliling bangunan yang di hiasi berbagai ornamen lampu kelap-kelip dan deretan kursi dan meja.


"Kamu mau judi Pel? Aku gak suka sama cowok penjudi" ketus Marini.

__ADS_1


"Aku bukan penjudi Rin tapi aku yang punya tempat judi" kekeh Pelix.


Amora pun di buat terngaga oleh perkataan Pelix. Pelix yang dulunya di pandang rendahan oleh orang tuanya tanpa di duga adalah lelaki yang sangat kaya. Casino sebesar ini adalah miliknya.


"Aku ada pekerjaan disini makannya aku berangkat ke singapore. Tanpa di duga ketemu sang mantan kesasih" Kekeh Pelix sembari mencubit hidung Marini.


"Mantan? Memangnya kamu ada kata putus hah?" tanya Marini sembari memonyongkan bibirnya.


"Gitu aja sih marah. Yaudah kamu ikut aku ke ruangan belakang" ajak Pelix.


Berjalanlah dia di lorong belakang casino itu dan langkah kaki berhenti di ruangan yang minim pencahayaan. Disana audah ada penjaga seorang pria dengan mengunakan jas hitam dan topi.


"Selamat datang Mr Pelix. Senang bertemu dengan anda kembali" ucap lelaki itu.


"Carlos kau selalu ramah kepadaku. Apakah semua sudah berkumpul?“ tanya Pelix kepada lelaki yang di ketahui bernama Carlos Botita.


" Semua sudah menunggu anda di dalam. Tapi maaf untuk anda nyonya anda tidak di ijinkan bergabung ke dalam" ucap Carlos kepada Marini.


"Kamu tunggu di ruangan itu saja aku takan lama" ucap Pelix.


Marini pun me gangguk dan masuklah ke ruangan itu. Tanpa di duga di dalamnya terdapat wanita dan anak-anak sedang bermain. Lalu wanita yang sedang mengendong bayi itu menyapa Marini.


"Ayo kemari jangan bengong disana. Kita baik kok" ucap Wanita itu.


"Ini ruangan apa miss?" tanya Marini.


"Ini ruangan khusus untuk kami para istri yang menunggu suami rapat. Tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan kami pun para istri tak boleh mengetahuinya" ucap wanita yang belakangan ini di ketahui bernama Poppy.


"oh seperti itu. Hmmm~~ Ruangan nya sangat bagusnya miss" ucap Marini.


"Ya sangat lucu. Kami disini tidak peduli akan pekerjaan suami kami karena yang kami pikirkan adalah kebahagiaan anak dan kebutuhan kami walau pekerjaan itu kotor sekalipun" tutur wanita yang bernama Inez.


"Pekerjaan kotor?" tanya Marrini.


"Ya betul. Kau fikir saja nona, mereka bertemu di suatu casino tak mungkin membicarakan siraman rohani bukan? Atau membicarakan masalah keagamaan lainnya. Cuma kita tidak peduli" timpal wanita yang bernama liu Mei Mei itu.


Sementara di dalam ruangan itu Pelix sibuk dengan hal apa saja kah yang di perlukan.


" Untuk dana kalian tak perlu khawatir" ucap Pelix.


"Stok minuman alkohol juga harus segera di tambah" ucap lelaki yang bernama Marcus.


"Perluasan wilayah biar aku tang menghandle" ucap lelaki yang bernama Monglee.


"Dan satu lagi uang keamanan sudah aku yang mengurusnya. Jadi kita tinggal laksanakan saja sesuai porsi masing-masing" ucap lelaki yang bernama Juan.


"Baiklah pertemuan ini sudah selesai mari kita pulang" ucap Pelix.


Pelix pun pulang bersama Marini dan tiba lah di hotel itu.

__ADS_1


__ADS_2