
Selesai sudah acara masak memasak dengan hidangan yang tersaji yaitu Ayam asam manis ala ala dan bakwan goreng manis.
"Walllaaaaaaaaa hidangan karya chef Ricky sudah jadi. Silahkan tuan putri cicipi hidangannya" ucap Ricky dengan membusungkan dada kesombongan.
"Yakin ini enak?" tanya Marini dengan wajah meremehkan.
"Jangan meremehkan hasil adukan rempah-rempah racikan hamba tuan putri" ucap Ricky.
Marini segera mengambil dan memakan masakan yang di hidangkan Ricky.
"Enak juga rasa ayam nya! Bumbunya meresap. Jago juga bocah ini memasak" gumam nya dalam hati.
"Bagaimana enak kan masakanku?' tanya Ricky.
" Enggak enak sama sekali. Semua bumbunya hambar" ketus Marini.
" Ini enak kok menurutku" ucap Ricky dengan wajah sendu.
Marini semakin senang membuat nya sedih dan terus mengejek apapun yang Ricky lakukan walau itu benar.
"Ini tidak enak. Ayamnya overcook jadi alot, nasinya gak pulen, dan bakwan itu warnanya kurang gold" ucap Marini mencela.
"Nasinya apaan? Yang masak kan pembantu kamu bukan aku, terus ayam overcook itu apa maksudnya apa kau suka makan ayam mentah hah?" sungut Ricky.
"Lah kok marah sih kamu? Aku kan bicara fakta" ucap Marini.
Dalam hatinya dia sangat bahagia bisa membuat Ricky cemberut. Marini mengambil bakwannya dan alangkah terkejutnya ternyata rasanya manis seperti kue bolu.
"Puahhh puahhhh ini apaan? Kok bakwan rasanya manis!" ucap Marini.
"Jangan bohong lagi" ucap Ricky sembari cemberut.
Marini tanpa beban menyumpalkan bakwan itu ke dalam mulut Ricky. Ricky pun langsung mengunyahnya dan benar saja rasanya manis seperti kue.
"Kok manis ya?" tanya Ricky pada diri sendiri.
"Manis kan? Kamu salah deh kayanya masukin gula bukan garam" kekeh Marini.
Ricky langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf ya Rin" ucap Ricky lesu.
"Gak apa-apa lagi biasa aja. Bakwannya enak kok sumpah!" ucap Marini sembari menuangkan saus ke atas bakwannya.
Selesai makan, Ricky pun pamit kepada Elizabeth.
"Tante, terimaksih atas semuanya untuk hari ini saya senang sekali saya pamit" ucap Ricky.
"Sama-sama nak Ricky. sering lah maen kemari biar Rini ada temannya" ucap Elizabeth.
"Ikh apa sih mama ini, jangan di suruh untuk sering ke rumah dong ngapain sih. Cukup hari ini ya kamu bikin rusuh di rumah saya" cebik Marini.
"Heh Rin, gak boleh seperti itu. Ayo antarkan nak Ricky kedepan" ucap Elizabeth.
Ricky pun pamit dan mencium tangan Elizabeth.
Di luar Marini mengantarkan Ricky.
"Rin makasih ya untuk hari ini. Aku senang banget bisa akrab sama mama mertua" ucap Ricky.
"Hah mama mertua? Maksud ngana aposeh?" tanya Marini.
"Ya mama kamu itu calon mertuaku" balas Ricky.
"Jangan mimpinya. aku itu sudah mempunyai kekasih" ucap Marini dengan bangganya.
"Aku gak peduli. Om perkasa itu bukan apa-apa bagiku! Lagian mau aja sama cowok tukang selingkuh mana ceweknya cakep lagi"
ucap Ricky.
Mendengar Ricky membanggakan Amora, membuat seketika amarahnya membuncah.
"Jangan sebut-sebut wanita sialan itu di depanku atau kamu akan ku habisi" geram Marini.
"Galak amat sih tanteu sabar dan tarik nafas. Jangan terlalu galak atau ku~~~ Cup muachhhhhhhhh" Sebuah ciuman curian mendarat di bibir Marini membuat dia seketika terdiam sambil menata kewarasannya.
Ricky buru-buru memasuki mobilnya sambil tertawa.
"Bocah sialan. Kurang ajar awas ya kamu" sungut Marini sembari melemparkan sendalnya ke arah mobilnya Ricky.
.
Malam pun tiba, Amora dan Martin berencana untuk makan malam romantis ala-ala di depan peternakan kuda.
__ADS_1
"Mas kok tumben buat acara makan seperti itu?“tanya Amora.
" Aku hanya ingin mencoba suasana baru saja Amora" jawab Martin.
Vivid yang sedari tadi sibuk mendandani tempat makan malam romantis di peternakan seketika mengingat keberadaan Pelix. Dia menatap gudang peternakan yang biasa Pelix tempati kini tak terawat dan banyak kuda yang tak terurus.
"Mas Pel, aku kangen sama kamu mas. Dimana kamu sekarang~~ Hikhikhik" tangis Vivid.
Martin pun datang menghampiri Vivid dan heran kenapa dia sedang menangis.
"Mbak kamu kesurupan ya kok nangis disini?" tanya Martin.
"Ekh tuan disini. Tidak tuan, saya hanya ingat dengan mas Pelix saja. Saya rindu sama tingkah konyolnya~~ hikhikhik" ucap Vivid dalam tangisnya.
"Jangan sedih mbak. Besok kita cari lagi Pelix yang lainnya" ucap Martin sembari melangkah memasuki rumah.
"No no no. Aku tak mau Pelix yang lain" ucap Vivid.
.
Makan malam romantis pun tiba.
"Kamu senang?" tanya Martin pada sang istri.
"Ya aku senang" jawab Amora singkat.
"Tidak ada yang lebih senang di dunia ini kecuali dengan adanya kehadiran mu Pelix" gumam Amora dalam hati.
"Aku harap bisa selamanya romantis dengammu. Quality time setiap waktu dan selalu melihat senyumanmu Amora" ucap Martin dengan senyuman tampannya.
"Akupun berharap begitu mas" ucap Amora.
"Mau wine?" tanya Amora lagi.
"Dengan senang hati" jawab Martin.
Malam itu mereka habiskan untuk bercanda tawa, menceritakan pengalaman masing-masing, saling introspeksi diri dan harapan kedepannya bagaimana dengan di selingi meminum wine dan kue brownies.
"Sayang aku ngantuk" ucap Martin.
"Kita masuk saja istirahat. Biarkan besok mbak yang membereskan ini".
" Drone milik siapa ya mas? Kok nyasar di tempat kita?" tanya Amora bingung.
"Entahlah aku tak tau mungkin bocah iseng saja" jawab Martin sekenanya.
Martin masuk ke kamar terlebih dahulu. Tinggalah Amora seorang diri di ruang tamu dan duduk termenung. Dia berjalan ke kamar Pelix menghirup udara di dalamnya dan masih merasakan aroma tubuh Pelix di atas ranjang itu. Di pandangi lah sebuah sweater milik Pelix yang tertinggal disana lalu Amora mengambilnya dan menciumi sweater itu.
"Aroma tubuh kamu Pel masih terasa. Dimana kamu sekarang aku sangat merindukanmu" lirih Amora dengan netra sudah berkaca-kaca.
Tiba-tiba ponselnya bergetar sebuah notifikasi masuk dan itu dari no yang tidak di kenal.
"Kamu cantik malam ini Amor I love u. Jaga dirimu baik-baik, aku akan segera menemuimu" ucap kalimat pesan itu.
Amora segera menghubungi no itu dan seseorang segera mengangkatnya.
"Holla" ucap seorang dengan suara baritonnya.
"Pel ini kamu?" tanya Amora.
"Iya. Bagaimana makan malam nya enak?" tanya Pelix.
"Maksud mu? Owh jadi yang menerbangkan drone itu kamu?" tanya Amora.
"Heheheheh~~Iya Amor itu aku" jawab Pelix.
"Dimana kamu Pel? Aku sangat merindukanmu! Saat ini aku sedang ada dalam kamarmu mencium aroma sweater yang tergantung" lirih Amora.
"Di dalam saku sweater itu ada sesuatu untukmu. Bukalah" ucap Pelix.
Amora pun membukanya dan terlihatlah sebuah cincin mewah berhiaskan batu ruby yang sangat cantik.
"untuk mu dan pakailah. Belum saatnya kita bertemu. Maafkan aku" ucap Pelix sembari mengakhiri panggilan nya.
Amora menangis dalam diam sembari memandangi cincin pemberian dari Pelix kemudian memakainya.
Amora keluar dari kamar itu dan langsung memasuki kamarnya. Tampak sang suami sudah tertidur dan dia segera berbaring di sebelah Martin.
Pagi pun tiba. Amora dengan cekatan membantu Vivid menyiapkan sarapan.
"Nyonya, apa ada kabar soal keberadaan mas Pel?" tanya Vivid dengan suara pelan.
__ADS_1
"Malam dia telepon saya. Tetapi hanya menanyakan keadaan dan tak memberitahu keberadaannya" jawab Amora lesu.
"Yang sabar ya nyonya" ucap Vivid.
Amora hanya tersenyum mendengar ucapan ART nya itu.
Ketika sedang memasak, Martin datang menemuinya.
"Mas, aku sudah buatkan kamu pancake strawbery. Di makan ya mas" ucap Amora.
"Terimakasih ya" ucap Martin sembari mencium kepala Amora.
Vivid melihat itu hanya diam terpaku.
"Kenapa mbak gak pernah di cium ya sama pria?" tanya Martin tergelak.
"Belum tuan" kekeh Vivid malu-malu.
"Nanti saya carikan jodoh buat kamu. Di kantor saya kepala OB ada yang masih jomblo namanya Bayu Kandaka nanti saya kasih no hp nya kek kamu" ucap Martin.
"Maaf ya tuan, saya tak mau OB saya maunya CEO biar memperbaiki sosial dan ekonomi saya" ucap Vivid.
"Gaya kamu ya" ucap Martin sembari tertawa dan berlalu menuju meja makan.
Amora hanya tersenyum melihat obrolan suami dan ART nya.
Tok tok tok!! Suara ketukan pintu terdengar.
"Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini. Saya bukakan dulu pintunya ya" ucap Vivid pada Amora.
Vivid pun membuka pintu dan di kagetkan dengan kedatangan Leon.
"Paman L? Ada apa sepagi ini kemari?" tanya Vivid.
"Anak pendek dan hitam manis ini pagi-pagi sudah bau dapur saja" ucap Leon.
"Wajar dong paman saya bau dapur, saya kan asisten rumah disini. Silahkan masuk paman" ucap Vivid.
"Ini kan rumah bekas Andreas, kenapa bisa di tempati anak ini" gumam Leon.
Leon tak banyak bicara segera mendudukan dirinya di sofa rumah itu.
"Ada siapa mbak?" tanya Amora pada Vivid.
"Ada paman L bertamu kemari sepagi ini nyonya!" balas Vivid.
"Siapa dia ?" tanya Martin.
"Beliau kakek yang aku temui di taman dan sekarang dia kemari. Ayo mas kita temui gak enak kan ada tamu tidak di temui" ucap Amora.
Mereka pun menemui Leon di ruang tamu.
"Selamat pagi paman L. Ada apa gerangan bertamu pagi-pagi sekali" tanya Amora.
Deg deg deg Mata Martin seketika terbelalak melihat sosok lelaki tua di hadapannya.
"Dia~~ dia seperti seseorang yang tengah ku cari. Wajahnya mirip dengan sketsa wajah buatan Alm. tuan Sin Tae Young sebelum beliau meninggal. Ada hubungan apa mereka? Aku harus segera menanyai istrinya soal itu" guman Martin.
"Ini suamimu?" tanya Leon.
"Betul paman ini suami saya. Perkenalkan mas beliau ini paman L, dan Paman L perkenalkan ini suami saya mas Martin" ucap Amora.
"Senang berkenalan dengan anda" ucap Martin sembari menatap dengan penuh selidik.
"Aku tak bisa berlama-lama aku harus pamit" ucap Leon.
"Loh kok buru-buru paman?" tanya Amora.
"Aku hanya ingin tahu rumahmu saja" balasnya.
"Owh ya untukmu anak muda, jaga istrmu baik-baik karena dia wanita baik dan penyanyang" ucap Leon pada Martin.
"Tentu saya akn menjaganya paman" balas Martin.
Leon pun pulang dan Martin pun berangkat menuju kantornya. Tinggalah Vivid berdua dengan Amora.
"Mbak stok makanan bulanan kita kan sudah habis, hari ini kita belanja" ucap Amora.
"Ayo nyonya" balas nya.
Ketika sedang di mall, dia segera memasukan semua keperluan yang di butuhkan dan seseorang telah berdiri di hadapannya dengan membawa troli belanjaan juga.
"Kamu?“
__ADS_1