
Amora dan Pelix pagi itu berjalan-jalan di area taman kota. Suasana sejuk dan sinar mentari pagi seolah beradu, Pelix yang tak lelah untuk berlari pagi berbanding terbalik dengan Amora yang sudah lelah dan tak bisa berlari lagi.
"Pel tunggu pel hah hah hah" ucap Amora dengan nafas tersenggal.
"Lari lah Amor biar kamu sehat" ucap Pelix yang sudah lari menjauh dari Amora.
"Pel Tunggu" ucap Amora yang terduduk di bahu jalan.
Pelix pun menghampiri Amora dan langsung menggendongnya.
"Akh payah sekali kamu Amor. Ayo naiklah ke punggungku" ucap Pelix sembari berjongkok memberikan punggungny.
Amora pun naik ke punggung Pelix dan Pelix menggendongnya seraya berjalan menyusuri jalanan taman kota.
"Berat juga kamu ya!" ucap Pelix.
"Aku tidak berat hanya berisi" balas Amora sambil tertawa.
Berduaan dengan Pelix membuat Amora sangat bahagia dan merasa bahwa dunia milik berdua yang lainnya hanya ngontrak.
Amora melihat ketika sedang berjalan ada yang menjual harumanis dan langsung menghampiri penjualnya.
"Bang ini satunya berapa?" tanya Amora.
"Satunya Sepuluh ribu neng" jawab penjualnya.
Dia pun membeli satu dan langsung memakannya. Pelix yang melihat Amora memakan harumanis seperti anak kecil hanya bisa tertawa gemas.
"Senang sekali kayanya" ucap Pelix.
"Ya aku senang banget Pel" jawab Amora.
¥
Di tempat yang sama, Marini pun sedang melakukan olahraga pagi sendirian seperti biasanya. Dari kejauhan samar-samar melihat seseorang yang di cintainya sedang asik mengobrol dengan wanita lain hal itu membuat Marini kesal dan langsung berlari menghampiri Pelix.
"Pelix" panggil Marini dari seberang.
Pelix dan Amora yang terkejut ketika melihat kedatangan Marini menjadi salah tingkah.
"Anda sedang apa dengan pacar saya bu Amor?" tanya Marini penuh selidik.
Amora yang bingung harus menjawab apa akhirnya bicara dengan terbata-bata.
"Hmmmmm~~ saya, saya" ucap Amora yang langsung di potong oleh Pelix.
"Aku sedang olahraga Rin, lalu tak sengaja bertemu dengan nona ini tadi di belakang. Aku cuma berbincang sebentar ekh keburu ada kamu" kekeh Pelix.
"Owh jadi aku ganggu kalian?" tanya Marini ketus.
"Sama sekali tidak" ucap Pelix sembari merengkuh pundak Marini.
"Yasudah bu Amor kami duluan ya" ucap Marini sembari menarik tangan Pelix kencang.
Pelix pun pergi menjauh bersama Marini dan tinggalah Amora sendiri di taman kota itu.
__ADS_1
"Ngeri juga khodamnya si Pelix" gumam Amora sembari menghembuskan nafas kasar ke udara.
Sementara Marini hanya cemberut tak bicara apa-apa. Dia kurang yakin akan alasan Pelix yang mengatakan jika Amora dan Pelix hanya kebetulan berpapasan di taman kota itu.
"Kenapa sih cemberut terus bu dokter ini?" goda Pelix sembari mencubit hidung Marini.
"Apasih" ucap Marini kesal.
"Masih marah soal yang tadi?" tanya Pelix.
"Au akh gelap" ucap Marini sembari melengos dan Pelix mengejarnya.
Cup.
Sebuah ciuman kecil mendarat di bibir Marini membuat dia terdiam.
"Marahnya awet ya" ucap Pelix.
"Iya deh aku gak marah lagi" ucap Marini sembari memeluk manjalita tubuh Pelix.
kemudian Pelix menggendong Marini di barengi dengan lari-lari kecil. Amora yang melihat itu di kejauhan hanya bisa terdiam sambil sesekali mengelap matanya yang basah oleh air mata.
"Kenapa hidupku harus seperti ini?" lirih Amora.
Dia pun pulang sendiri ke rumahnya dan segera pergi ke kamar untuk merebahkan diri dan mengunci pintu.
Sore pun tiba, Pelix pun sudah tiba di rumahnya Amora. Di dapur hanya ada Vivid yang sedang memasak untuk makan malam.
"Mbak, nyonya kemana" tanya Pelix.
Pelix pun berlalu dan masuk ke kamarnya. Dia mengintip lewat celah tembok dan melihat Amora sedang menangis.
"Maafkan aku Amor. Aku saat ini berada dalam situasi sulit" lirih Pelix.
Dalam diamnya Pelix, dia melihat ponselnya berdering dan tertera nama Bos Martin menghubungi.
"Hallo Tin!" sapa Pelix.
"Pel tolong antarkan baju ke apartemen ku, Alamatnya ku kirimkan lewat chat. Sekarang!" ucap Martin sembari menutup panggilannya.
Pelix pun bergegas ke kamar Amora untuk mengambil baju Martin.
Tok Tok Tok.
suara ketukan pintu dan Amora langsung membukannya. Terlihat mata Amora sembab dan wajah yang merah.
"Ada apa ?" tanya Amora lirih.
"Aku di telp suamimu untuk mengantarkan baju ke apartemennya. Tolong siapkan sekarang" ucap Pelix.
Mendengar Martin tidak pulang lagi membuat hati Amora terasa nyeri lagi. Suaminya sudah hampir tiga hari tak pulang ke runah dengan alasan pekerjaan. Dia bergumam sepenting apa sih pekerjaan nya sampai harus tinggal di apartemen miliknya. Amora pun bergegas mengambil baju-baju sang suami dan memasukannya kedalam koper.
"Aku ikut" ucap Amora pada Pelix.
"Tak usah kamu istirahat saja. Aku pergi dulu" ucap Pelix sembari berlalu meninggalkan Amora.
__ADS_1
Tiga puluh menit sudah Pelix mengemudikan mobil menuju alamat yang di berikan Martin hingga tibalah dia di sebuah apartemen mewah. Pelix berjalan mencari unit yang di tempati Martin dan tak lama dia menemukannya dan segera memencet bell lalu tak lama seseorang membukanya.
Seorang wanita dengan wajah yang penuh lebam tersenyum kepada Pelix.
"Maaf nona apa ini benar apartemennya saudara Martin" tanya Pelix penuh selidik.
"Betul! Silahkan masuk" jawab wanita itu.
Pelix hanya diam tetapi pandangannya tertuju terus menerus kepada wanita itu. Dalam benak Pelix bertanya-tanya siapa wanita itu dan kenapa dia ada di unit apartemen milik Martin. Pelix berjalan menuju ruang tamu dan Martin sudah menunggu.
"Hai Pel. Ku kira kau tak akan menemukan alamatku" ucap Martin.
"Aku tak buta maps" jawab Pelix.
"Siapa wanita itu?" tanya Pelix.
"Dia Susan teman ku" jawabnya singkat.
"Apa karena dia kau tak pulang kepada Amora?" tanya Pelix.
"Ya itu salah satunya. Dia sebenarnya mantan pacarku dahulu" ucap Pelix.
"Terus apa yang akan kau lakukan?" tanya Pelix.
"Aku hanya ingin membantunya untuk mendapat keadilan. Dia di siksa oleh Alm suaminya dan keluarga suaminya sampai kau tahu lah keadaannya seperti itu. Aku tak meninggalkannya karena dia masih trauma dia butuh seseorang yang mendampingi. Aku hanya murni menolong dia dan tidak ada perasaan apapun lagi" ucapnya.
"Lantas bagaimana dengan Amora?" tanya Pelix.
"Jangan sampai Amora tahu, jika dia tahu berarti itu dari engkau" jawab Martin.
"Dia gadis baik dan aku tak mau meyakitinya walau aku tak mencintai Amora, tetapi aku tak sampai hati untuk menduakannya dan akupun tak ingin meninggalkannya. Begitupun dengan Susan dia hanya masalaluku tetapi tak sampai hati untuk mengabaikannya" tutur Martin.
"Aku takan mengatakan apapun pada Amora! Yasudah aku pulang dulu jaga dirimu" ucap Pelix.
"Terimakasih broo kau memang suadaraku" balas Martin.
Pelix pun segera meninggalkan apartemen itu dan pupang kerumah Amora.
Di dalam apartemen Susan mendengar percakapan antara Pelix dan Martin, dia sangat kaget mengetahui jika Martin sudah menikah membuat dia sungguh tak enak hati apalagi sekarang Martin rela menemaninya dan tak pulang ke rumah istrinya.
"Pulanglah Tin, aku tak apa sendiri. Kasian istrimu"ucap Susan.
" No Sus, Aku akan disini. Aku takut kamu akan seperti kemarin kembali histeris dan menjerit-jerit lalu pingsan. Aku sudah bicara dengan Istriku dan dia mengizinkan aku" ucap Martin.
"Apa istrimu tahu kalau kamu menemani seorang wanita?" tanya Susan.
"Tidak" jawabnya singkat.
"kalau seperti itu kamu pulanglah" perintah Susan.
"Sepertinya kamu lelah. Istirahatlah besok kita visum ke rumasakit" ucap Martin.
¥
Sementara Pelix sudah kembali ke rumah Amora. Ketika dia melangkahkan kaki hendak masuk kedalam kamar, suara Amora memanggil.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan suamiku? Apa dia baik-baik saja? Pekerjaan apa yang dia lakukan sampai tak pulang? Apakah suamiku sedang dengan wanita lain? Jawab Pel!" tanya Amora.