SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Memaafkan


__ADS_3

"Kaisyah" ucap Jhonson.


"Kamu??? Berhenti di sana. Jangan kau mendekati kami berhenti" ucap Kaisyah yang tiba-tiba histeris.


"Pergi kamu pergi~~Huhuhuhu" ucap Kaisyah histeris tak kala melihat Jhonson.


"Bunda tenang bunda" ucap Camilla.


Pelix langsung membopong tubuh sang ibunda ke dalam Villa itu.


"Kakak, kenapa ada om Jhoni kemari?" tanya Camilla.


Semua yang ada di sana heran dengan Camilla, kenapa bisa mengenal Jhonson.


"Kamu mengenal dia?" tanya Pelix.


"Aku kenal sewaktu kecil. Om Jhoni ini setiap hari mengantarku sekolah, membelikan apapun yang aku mau, dan membayar uang sekolahku. Ketika umur ku sebelas tahun om Jhoni ini sudah tidak pernah menemuiku lagi" ucap Camilla heran.


"Jadi kau gadis kecil itu anaku? Kau yang selalu ayah antar sekolah setiap hari walau ayah selalu menunggu mu depan gang sempit rumahmu. Oh anaku maafkan aku. Sebenarnya aku lah ayahmu! Ayah kandungmu" ucap Jhonson terharu.


Ketika Jhonson ingin memeluk Camilla, Tiba-tiba Kaisyah bangun dan menghalangi Jhonson.


"Jangan kau mendekati anaku brengs€k. Sudah cukup kau menelantarkan kami. pergi dari hadapanku" tangis Kaisyah semakin menguar.


Kaisyah memeluk kedua anaknya takut akan di rebut oleh Jhonson.


"Kaisyah dengar kan penjelaskan ku dulu. Maafkan aku. Tolong berikan aku kesempatan kedua, aku ingin memperbaiki ini semua. Tolong maafkan pria tidak berguna ini" tangan Jhonson menangkup.


Kaisyah tidak bergeming dia menatap Jhonson dengan tatapan nyalang. Kaisyah kemudian meraih tongkat golf lalu dia arahkan pada Jhonson. Di pukulnya badan mantan suaminya itu secara membabi buta demi untuk meluapkan kekesalan dan amarah yang di pendam selama bertahun-tahun. Badan Jhonson sudah lemas, darah terlihat di mana-mana membuat Pelix merasa iba pada sang ayah yang sedari tadi diam tak melawan. Pelix merebut tongkat golf itu kemudian melemparkannya ke sebarang arah.


"Cukup bunda. Dia bisa mati jika terus kau pukuli! Aku tidak mau kau menjadi pembunuh" seru Pelix.


Kaisyah menangis seluruh badannya bagai tak bertulang. Dia merosot ke lantai.


Jhonson sudah pingsan, pelix segera menggendong tubuh sang ayah ke kamar nya untuk di obati.


"Biar aku saja yang obati" ucap Camilla.


Camila pun dengan telaten mengobati luka-luka sang ayah.


"Jadi om Jhoni ini ayahku?" tanya Camilla.


"Betul dek dia ayahmu! Ada cerita yang tidak enak di kala kau masih umur dua bulan. Kami terpaksa pisah karena ulah kakek kita yang ingin fokus mendidiku sebagai ahli waris bisnis nya" tutur Pelix.


"Bisnis apa sampai kakek kejam seperti itu?" tanya Camilla.


"Kakek kita seorang gangster alias mafia" ucap Pelix pelan.


"Apa kak mafia? Kadi kita keturunan mafia? Apa kaka dan om Jhoni termasuk kedalamnya?" tanya Camilla.


"Ya aku lah pemimpin mafia itu" jawab Pelix.

__ADS_1


Camilla syok dan seketika berlari ke arah sang bunda.


"Benar itu bunda?" tanya Camilla.


"Ya benar. Selama bertahun-tahun bunda mengajakmu berpindah-pindah tempat karena menghindari teror kakek mu. Dia menganggap bunda dan kamu sebagai penghambat dalam hidup ayahmu. Karena ayahmu saat itu sangat memprioritaskan keluarganya ketimbang tugas-tugas yang kakek mu berikan. Lelaki tua itu sangat kejam" tutur Kaisyah.


Camilla nampak syok dengan penuturan sang bunda.


"Terus kamu seberapa dekat dengan ayah?" tanya Pelix.


"Waktu aku masih sekolah dasar, om Jhoni mengaku ingin dekat dengan ku. Setiap hari ku di berikan uang olehnya dan di antar sekolah. Dia bilang aku sangat mirip dengan anaknya waktu itu bunda tidak mengetahui nya. Terakhir sebelum om Jhoni pergi entah kemana dia memberikan ku sebuah kartu ATM" tutur Camilla.


"Itu tanda kasih sayang ku padamu" ucap Jhonson lirih kala sadar dari pingsannya.


"Kembalikan ATM itu. Aku tidak pernah mengetahuinya" ucap Kaisyah masih dengan wajah geramnya.


"Isinya pun tidak pernah aku ketahui bunda. Karena aku tidak pernah memakai uang itu" ucap Camilla.


Jhonson berjalan menghampiri Kaisyah dan seketika berlutut di kakinya memohon ampun.


"Jangan sentuh aku conge! Pergi dari hadapanku" ucap Kaisyah sembari menyingkirkan bahu Jhonson dengan kedua tangannya.


"Harus bagaimana lagi aku agar kau memaafkan ku?" tanya Jhonson mengiba.


"Cukup kau pergi dari hadapanku" jawab Kaisyah.


"Aku tidak akan pergi dari mu lagi. Kau tau, aku tidak menikah dan melirik wanita manapun karena aku masih sangat mencintaimu" ucap Jhonson.


Pelix dan Camilla yang melihat adegan drama Bollywood itu saling pandang. Pelix kemudian mengajak sang adik untuk masuk ke kamar masing-masing.


Camilla pun terkekeh dan meninggalkan kedua orang tuanya berdua.


"Omong kosong apalagi itu jhon?" tanya Kaisyah


"Kay sungguh aku tidak pernah melirik wanita manapun, jika kau percaya aku pun tidak pernah sekalipun bercinta dengan wanita manapun semenjak perceraian kita karena apa? Karena ku tak sanggup menghianatimu. Atau kau sudah menikah sekarang hem? Mana laki-laki nya akan ku pukul dia sampai masuk UGD!" ucap Jhonson.


Kaisyah meraih pundak Jhonson untuk bangun dari simpuhan kakinya.


"Bangun Jhon! Kau tak usah seperti itu. Dosa kau dan ayahmu terlalu banyak untuk kami. Apa kau pantas di maafkan hem?" tanya Kaisyah sembari memandang lekat kedua mata Jhonson.


"Aku tau kay, aku tahu! Tapi apakah tidak ada kesempatan untuk pria durhaka ini? Ayo lah kai maafkan aku kita mulai hidup baru lagi bersama kedua anak kita" ucap Jhonson memelas.


"Aku tidak mau hidup bersama pria pengecut! Kenapa kau baru muncul setelah ayah mu mati hem? Kenapa tidak dari dulu kau menjadi perisai untuk ku dan Camilla. Banyak waktu kepedihan telah ku lewati bersama Camilla dan kau tak tau itu. Mungkin di saat kami lapar dan anakmu menangis ingin menyusu, ASI ku kering karena ku tak makan, kau mungkin sedang pesta dengan para jal@ng dan minum Vodka sembari tertawa. Miris rasanya" tutur Kaisyah sembari menyeka air matanya.


"Asal kau tahu kay, Walau saat itu aku seakan hilang tetapi aku tidak melupakan kalian. Kau tahu rumah yang kau tempati itu aku yang beli dengan alasan itu rumah hibah. Kau tahu aku yang mengantar Camilla setiap hari ke sekolah walau aku harus sembunyi-sembunyi dari pengawasan ayahku. Aku yang memberikan mu pekerjaan di perusahaan, dan kau ingat dengan nyonya Rimar kan? Pengasuh yang dengan sukarela mengasuh Camilla bayi itu adalah orang yang ku bayar sepenuhnya agar kau fokus bekerja. Aku tidak melupakan kalian hanya saja aku menjadi pengecut" ucap Jhonson


Kaisyah terdiam berusaha mencerna apa yang di katakan oleh Jhonson. Jhonson memegang kedua pundak Kaisyah dengan lembut. Pria paruh baya itu masih terlihat aura ketampanan nya walau rambut dan kumisnya sudah beruban.


"Aku mohon terima lah maaf ku ini kay" ucap Jhonson.


Seperti seorang ABG, Jhonson merayu Kaisyah dengan sisi keromantisan. Kaisyah memandang lekat mata Jhonson dia mencari-cari kebohongan disana tapi netra nerwarna biru itu tidak memancarkan dusta di dalamnya, semua yang nampak hanya ketulusan. Dengan segenap hati dan satu tarikan nafas, Kaisyah mengangukan kepalanya.

__ADS_1


"Tandanya kamu memaafkan ku?" tanya Jhonson dengan air mata yang menggenang.


"Ya Jhoni, aku memaafkanmu" jawab Kaisyah.


"Benarkah?" tanya Jhonson lagi memastikan.


"Sungguh" jawab Kaisyah.


"Terimakasih sayang terimakasih" Jhonson memeluk Kaisyah sembari mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada wajah sang mantan istri.


Kaisyah hanya tersenyum dan balas memeluk pria yang masih di cintai hingga sekarang.


Pelix dan Camilla yang melihat dari lantai atas, ikut terharu dan saling berpelukan.


Mereka berdua menghampiri kedua orang tuanya.


"Semoga selalu bahagia untuk kalian" ucap Pelix.


Jhonson melepaskan pelukan pada kaisyah dan menghampiri Pelix dan Camilla.


"Terimakasih kau sudah mempertemukan aku lagi dengan cinta sejati ku" ucap Jhonson sembari memeluk Pelix.


"Semoga kau bahagia ayah" jawab Pelix yang membalas pelukan sang ayah.


Kemudian Jhonson beralih memeluk Camilla.


"Maafkan ayah putriku. Ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untuk mu" lirih Jhonson.


"Aku sudah memaafkan mu ayah. Jangan pergi lagi" ucap Camilla.


"Ayah takan pergi lagi sayang. Ayah akan di sini bersama kalian" haru biru tercipta disana.


Jhonson pun kemudian berjalan ke arah Kaisyah dan seketika berlutut.


"Kay, maukah kau menikah dengan ku lagi. Ya harus mau karena kau masih mencintaiku bukan?" ucap Jhonson bertanya lalu di jawab oleh dirinya sendiri.


"Ya Jhoni aku mau" jawab Kaisyah malu-malu.


Jhonson pun sangat bahagia, seketika langsung mengangkat badan Kaisyah yang mungil namun masih kencang padat berisi. Camilla dengan senangnya langsung kayang jungkir balik dan Pelix berjalan menirukan gaya Simpanse. Mereka pun akhirnya tertawa bersama-sama.


"Pelix aku ingin kenikah" ucap Jhonson tiba-tiba.


"Kapan?" tanya Pelix.


"Sekarang juga aku ingin menikah. Aku sudah tak sabar" jawab Jhonson.


"Kau sangat tergesa-gesa pak tua. Sabar lah tunggu sampai besok pagi. Di daerah puncak begini mana ada penghulu malam-malam" ucap Pelix.


"Tapi aku ingin segera menghalalkan wanita mungilku" ucap Jhonson sembari mencuil dagu lancip Kaisyah.


"Ah sudahlah aku tahu pikiranmu pak tua. Kau sudah lama tidak tidur dengan wanita kan?" tanya Pelix.

__ADS_1


"Itu kau tahu jalan pikiranku" kekeh Jhonson.


Kaisyah merasa malu, dia mencubit pinggang Jhonson hingga mengaduh..


__ADS_2