SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Ceraikan Martin


__ADS_3

Di kediaman Martin, Kedua orang tuanya sangat merindukan Amora dan sang anak.


"Pah, Mama ingin dekali Amora segera mengandung. Mama sudah ingin menimbang cucu" ucap Yuni.


"Apalagi aku mah. Bosan tiap hari gendong Sakura terus" ucap Sang suami.


"Gimana sebaiknya kita ke apartemen nya dulu baru kita ke rumah mereka. Mama akan memasak di sana lalu kita makan malam bersama! Bagaimana pah?" tanya Yuni pada sang suami.


"Ide bagus itu ma" jawab sang suami.


¥


Di kediaman Amora, Seseorang mengetuk pintu kemudian Vivid melangkah kan kakinya untuk membukanya.


"Kamu?" ucap Vivid ternganga.


"Hai. Mulai sekarang aku akan bekerja disini" ucap Billy.


"Apa sudah bilang pada tuan Martin bahwa kamu hari ini kemari?" tanya Vivid.


"Yes honey, aku sudah teken kontrak dengan bos mu" jawab Billy.


"Honay honyey ikhhh ngeri" ucap Vivid sembari nyelonong ke dalam rumah.


"Duh bahkan pinggul nya saja bikin aku horny" gumam Billy kala melihat Vivid berjalan menjauh.


Vivid pun segera melaporkan pada Amora jika Billy sudah datang kemari.


"Nyonya saya ingin melaporkan bahwa mas Billy sudah ada di rumah ini" ucap Vivid.


"Yasudah mbak tunggu sebentar saya cuci muka dulu" jawab Amora dari dalam kamar.


Billy pun melihat-lihat seisi rumah Amora, hal itu membuat Vivid heran namun dia tidak menegur Billy, dia hanya diam saja.


Tak lama Amora pun datang menghampiri Billy di ruang tamu.


"Selamat malam pak Billy" ucap Amora ramah.


"Malam nona Amora. Maaf saya datang nya malam karena ada suatu hal! Saya sudah bicara dengan suami anda mengenai kedatangan saya kemari dan beliau mengizinkan saya datang malam ini" tutur billy dengan nada sopan.


"Tak apa. Malam ini anda istirahat saja di kamar belakang"ucap Amora.


"Baiklah" jawab Billy.


"Mbak, bisa bereskan kamar pak Billy dulu?" tanya Amora pada Vivid.


"Baiklah Nyonya" ucap Vivid.


"Sekalian tolong masak untuk kita makan malam bertiga ya. Jika sudah selesai panggil saya di kamar" ucap Amora.


"Baik nyonya" jawab Vivid.


Vivid pun dengan cekatan membersihkan dan merapihkan kamar bekas Pelix untuk di tempati Billy.


"Mas Bill, kamar sampean sudah beres silahkan jika kamu mau istirahat dulu. Nanti kalau sudah siap makan malam aku panggil kembali" ucap Vivid.


"Baiklah honey terimaksih" ucap Billy.


"Ikh najis"balas Vivid sembari berlalu menuju dapur sembari memonyongkan bibirnya.


Billy yang melihat itu hanya tersenyum gemas saja.


Waktu makan malam pun tiba, Amora merasa heran Vivid dan Billy tidak ikut makan. Dia pun segera mencari mereka ke dapur. Tak di sangka Vivid dan Billy sedang makan lesehan berdua dengan menduduki karpet.


"Tambah lagi nasi nya mas Bill"ucap Vivid pada Billy yang lahap sekali makan.


"Mas Bill doyan masakan aku?" tanya Vivid lagi.


"Jujur ini masakan terenak yang pernah aku makan. Makasih ya honey" ucap Billy.


"Hey honey kalian kenapa makan disini?" tanya Amora.


Mendengar Sang majikan memanggil dengan sebutan yang Billy ucapkan membuat Vivid malu sendiri.


"Opo toh nyonya ini saya jadi malu. Lagian mas Bill honay honey kan aku malu mas" kesal Vivid.


Amora pun hanya terkekeh mendengar kekesalan Vivid. Dia pun berjalan ke arah Vivid dan Billy lalu duduk di antara mereka.


"Saya juga ingin makan lesehan atuh" ucap Amora sembari mengambil ikan asin, sambal, dan kerupuk tak lupa goreng jengkol.


"Tapi nyonya ini makanan kampung. Nyonya sudah saya masakan di meja makan" ucap Vivid


"Saya mau makan ini mbak bolehkan?" tanya Amora.


"Boleh dong nyonya. Ini juga mas Bill makannya sama ini. Dia di masakin yang lebih enak malah tak mau" ucap Vivid.


"Ini pengalaman pertama saya makan ikan asin" ucap Billy.


"Saya juga sama" kekeh Amora.

__ADS_1


Mereka pun makan dengan lahapnya sembari lesehan di dapur beralaskan karpet. Hingga tak di sangka air mata Billy menetes di sela-sela kunyahan terakhirnya.


"Loh pak Billy kenapa menangis?" tanya Amora.


"Ya kenapa mas Bill menangis? Apa ada duri ikan asin yang tertancap di lidah mu?" tanya Vivid.


"Saya merasa mempunyai keluarga. Dan ini masakannya enak banget" jawab Billy.


"Memangnya pak Billy tak punya keluarga?" tanya Amora.


"Keluarga saya di bantai oleh adik kandung papah saya sewaktu saya kuliah di London" jawab Billy.


"Ya ampun mas Bill, aku turut prihatin atas apa yang menimpa mu. Yang sabar ya" ucap Vivid.


"Yes honey" jawab Billy sembari mengunyah kepala ikan peda.


"Honey honey gundul mu" cebik Vivid.


"Honey gak tuh" timpal Amora sembari terkekeh.


Mereka pun menyudahi makan malamnya dan Vivid segera membersekan semua piring kotor lalu dia cuci.


Di kamar, Billy menelepon Pelix guna memberitahukan dirinya. Pelix sengaja menyuruh Billy untuk berpura-pura menjadi supir di rumah Amora untuk memata-matai Amora dan Martin.


"Hallo dimana posisi mu?" tanya Pelix.


"Aku sudah di rumahnya Amora. Kami sudah selesai makan dan aku sepertinya akan betah di rumah ini" ucap Billy.


"Jangan bilang kau suka dengan keksihku? Awas saja akan ku bunuh kau Billy Ziandra Orlando" tegas Pelix.


"Hei bung mafia, kau sepertinya berambisi sekali memiliki istri orang lain ya? Tenang saja target ku si hitam manis bukan kekasimu" ucap Billy.


"Kau suka pada Vivid?" tanya Pelix.


"Yes i suka Vivid! Kenapa masalah buat mu?" tanya Billy.


"Gila kau ya sekarang turun kelas. Selama ini kau banyak meniduri wanita-wanita kelas atas tapi sekarang kau pilih ART" ledek Pelix.


"Pria punya selera broooooo" timpal Billy.


"Awas jangan kau rusak dia bodoh. Dia masih polos" ucap Pelix.


"Larangan adalah perintah" jawab Billy tergelak.


Mereka pun menyudahi panggilan telepon itu lalu Billy pun merebahkan dirinya di ranjang kamarnya. Billy mengambil lagi ponselnya untuk menelepon seseorang.


"Hallo Pranz, kau urus perusahaan ku selama tiga bulan. Aku sedang berada di Boston untuk suatu pekerjaan. Awasi peredaran saham kita jangan sampai anjlok. Aku percayakan tugas ini padamu" ucap Billy kepada asisten pribadinya sekaligus orang kepercayaan nya.


Billy pun segera tertidur karena dirasa badannya lelah.


¥


Di apartemen Martin, Dia sedari tadi hanya rebahan di kursi karena sedang sakit kepala. Susan pun prihatin dan segera mengambil minyak angin untuk mengobati pegal nya sang suami. Meski pun hanya suami di atas kertas tapi Martin tetap lah seorang suaminya yang sudah mengijab di hadapan penghulu dan di hadapan tuhan.


'Aku pijit ya?" tanya Susan.


"Boleh!" jawab Martin.


Susan pun duduk di dekat Martin, tak di sangkat dia tiba-tiba melabuhkan kepalanya di paha Susan seperti bantal.


"Kepala ku pusing. Terlalu banyak pekerjaan untuk hari ini sampai pekan depan" ucap Martin.


"Hmmm" ucap Susan singkat sembari memijat kepala.sang suami.


"Kenapa tidak datang pada Amora?" tanya Susan sembari memijat kepala Martin.


"Aku tak mau menemuinya dalam kondisi kusut seperti ini" jawab Martin.


"Oh jadi aku yang bagian kusut mu?" tanya Susan.


"Bukan seperti itu" timpal Martin.


"Sudahlah tak apa. Diam saja aku belum selesai memaijatmu" ucap Susan.


Susan pun dengan telaten memijat inci demi inci tubuh Martin. Dia memang wanita yang perhatian. Bahkan ketika dulu Martin pasca kecelakaan hanya Susan lah yang sanggup merawat nya sampai membaik.


"Sus!" ucap Martin.


"Ya" jawabnya.


"kenapa kita bisa putus waktu itu?" tanya Martin.


"Kenapa kau tanya aku? Yang memutuskan waktu itu kan dirimu. Aku mengurusmu dsri kau sembuh koma sampai kau bisa bicara dan mengatai ku seenaknya. Kau memang lelaki payah saat itu" ketus Susan.


"Dan kamu menikah dengan lelaki pecundang saat itu" timpal Martin.


"Ya aku menikah dengan dia karena ingin melupakan mu" ucap Amora.


"Tapi kau datang lagi padaku waktu itu dengan keadaan yang menyedihkan" timpal Martin.

__ADS_1


"Hei bung lawyer dengar ya anda, Jika waktu itu aku datang ke kantor pengacara yang lain aku tak punya uang. Makannya ku datang ke kantor mu saja supaya aku bisa di bela dan itu gratis" kekeh Susan.


"Oh jadi ada udang di balik piring rupanya ya" ucap Martin sembari menggelitiki perut Susan sampai Susan terpingkal.


"Ampun sudah Tin sudah" ucap Amora


Martin pun menyudahi menggelitik Amora🤣


"Sus kita dansa malam ini bagaimana?" tanya Martin.


"Oke" jawab Amora.


Martin pun menyalakan musik klasik romantis dan segers meraih tangan Susan.


Di luar apartemen, Yuni dan sang suami berjalan dengan cepat sembari membawa belanjaan karena rencananya Yuni ingin memasak di sana untuk memberi kejutan makan malam keluarga.


"Mama jangan cepat-cepat dong jalannya. Papa cape" ucap sang suami.


"Waktuny mepet pah nanti keburu malam kan gak enak" ucap Yuni.


Sesampainya depan unit Martin, Yuni segera membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya Yuni mendapati pemandangan yang di suguhkan Martin dan Susan.


"Kalian?"


Martin dan Susan pun seketika melepas tautan bibir mereka dan berhenti berdansa.


"Mama, tanteu Yuni" ucap mereka berdua.


"Ada yang bisa jelaskan pemandangan apa barusan yang aku lihat?" tanya papa nya Martin sembari melotot murka.


"Pah, mah aku bisa jelaskan tolong kita duduk dulu" ucap Martin takut.


"Kamu kan Susan mantan Martin yang meninggalkannyan sewaktu dia sakit?"tanya Yuni dengan pandangan tajam seperti elang.


"Betul tante. Tapi saya bisa jelaskan!" ucap Susan dengan mata sembab.


"Kami sudah menikah mah" ucap Martin dengan nada yang tegas.


Kedua orang tuanya sontak merasa syok dengan apa yang barusan Martin ucapkan. Perkataan itu bak petir yang menyambar di siang bolong.


Sontak Yuni pun seketika jatuh pingsan membuat semuanya menjadi keos.


"Mama bangun mah bangun" ucap Martin sembari mengguncang guncangkan tubuh sang mama.


"Ayo bantu aku gotong mama mu ke kamar" ucap sang papa.


Martin pun menggotong mama nya ke kamar.


Susan segera membalurkan minyak angin ke leher dan hidung mertuanya. Tak lama Yuni oun sadar. Kalimat yang pertama kali dia ucapkan adalah.


"Kamu sudah buat ku kecewa Martin" lirih Yuni.


"Ma maafin aku ma. Ini semata mata karena aku menolong Susan dalam keadaan genting. Tolong mah percaya padaku. Kami menikah sudah ada surat perjanjian. Kami akan bercerai jika keadaan Susan sudah aman" ucap Martin memohon.


"Jadi kalian menganggap pernikahan itu sebuah main-main hah? Apa Amora mengetahui semua langkah konyol mu Martin?" tanya Sang papa.


"Tolong pah jangan beritahukan Amora" ucap Martin.


"Bagaimana bisa seorang wanita ideal kamu sakiti sedemikian rupa hah dasar anak tolol" geram Yuni.


"Mana surat perjanjian nikah kalian berikan padaku" ucap sang papa.


"Tapi pah" timpal Martin.


"Berikan pada kami sekarang! Bagaimana jika sampai Amora dan Diana tahu bahwa kau sudah berpoligami? Mau di taruh di mana muka dan harga diri ku?" tanya Yuni dengan sorot mata yang tajam.


"Aku akan meminta cerai dengan Martin sekarang tanteu! Ayo Tin talak aku sekarang ayo" lirih Susan.


"Aku takan menalak mu Sus. Kamu masih bahaya" jawab Martin.


"Tinggalkan Martin. Dia sudah menikah" tegas Yuni.


"Baiklah jika itu mau kalian. Aku akan menalaknya tetapi beri aku waktu satu bulan agar semua keadaannya stabil" tegas Martin.


"No. Talak sekarang karena untuk masa depan rumah tangga mu Martin" tegas Yuni.


"Tolong mah tolong beri waktu aku satu bulan. Dan aku mohon jangan beritahukan masalah ini pada Amora karena aku tidak mau dia menceraikan ku mah" ucap Martin mengiba.


"Baiklah hanya satu bulan kau bermain gila Martin. Selebihnya kalian harus bercerai. Mana surat perjanjian itu? Hahhh jangan-jangan kau menikah dengan Amora juga ada surat jahanam seperti itu kan? Jawab anak siapan?" tanya Yuni murka.


"iya, aku dan Amora juga mempunyai itu" jawab Martin.


Yuni seketika langsung menampar wajah Martin dengan kerasnya sampai dia mengaduh kesakitan.


"Bawa Surat jahanam itu padaku dan aku oun akan meminta itu dari Amora" ucap Yuni.


Susan segera mengambil surat itu lalu di berikan lah pada Yuni. Yuni dengan seksama membaca poin-poin isi perjanjian itu.


"Aku akan membawa surat laknat ini. Ayo pah kita pulang tak ada gunanya kita disini. Kita sudah tidak mengenal anak kita satu-satunya ini. Yang ada di hadapan kita hanyalah seorang lelaki bajingan" geram Yuni.

__ADS_1


"Papa kecewa padamu Martin" ucap sang papa.


Kedua orang tua itu pun pergi dengan kecewa membawa satu lembar surat perjanjian itu.


__ADS_2