SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Bertemu Masalalu


__ADS_3

Amora penggeliat dalam pelukan hangat sang suami. Wajah Pelix yang teduh dikala masih terlelap membuat Amora gemas. Dia mencubit hidung mancungnya dan menciumi seluruh wajah Pelix.


"I love u sayang! Terimaksih kau sudah setia di sisiku disaat aku sedang dalam keadaan suka dan duka. Aku janji selama ragaku masih bernafas, aku akan selalu memanimu dan setia padamu my husband" ucap Amora.


"Akupun begitu mencintaimu istriku" ucap Pelix dengan mata masih terpejam.


Hal itu membuat Amora malu karena ketahuan oleh sang suami.


Dia segera berlari menuju kamar mandi.


Pelix hanya tersenyum melihat tingkah kinyol sang istri.


Skip


Taman kota sangat ramai oleh pengunjung, tak sedikit yang membawa anak ataupun pasangan yang entah sedang berpacaran atau memang sudah menikah tetapi masih belum mempunyai anak.


"Pel!" seru Amora yang sedang jalan santai pagi-pagi.


"Apa sayangku?" tanya Pelix.


"Seandainya aku hamil apa kamu tidak marah?" tanya Amora.


"Hey, kamu kenapa bertanya seperti itu? Aku akan sangat bahagia mempunyai anak-anak yang lucu darimu cinta! Aku bangga bisa menghamili dirimu. Kita bikinnya yang rajin saja supaya kamu bisa cepat hamil" Tutur Pelix dengan semangat sembari mengusap-usap perut rata sang istri.


Tak disangka dari arah belakang sesuatu menabrak kaki Amora.


"Hihihihik!!!! Atit.... Auh.....Momy...mmmmooommmy.. Da....dyyy...atit" ucapnya terbata.


Amora segera menengok kebelakang dan ternyata seorang anak kecil mungkin sedang belajar berjalan dan lepas kontrol dari orang tuanya.


"Yaampun kamu lucu sekali nak! Orang tua kamu kemana? Sakit ya nabrak tanteu? Maaf ya sayang. Sini tanteu gendong" Amora menggendong anak bayi umur satu setengah tahunan itu dalam dekapannya.


"Siapa namamu anak cantik?" tanya Amora.


"Nala....Te..yla" jawabnya terbata.


"Dia ngomong apa sayang?" tanya Pelix yang tidak mengerti bahasa alien anak kecil.


"Kalau gak salah dia namanya Nayla atau Nala" jawab Amora.


Tiba-tiba seorang wanita menghampiri Amora dan Pelix. Hal itu membuat emosi Amora kembali terbakar.


"Amor! Maaf itu anakku" ucap wanita itu yang tak lain dan tak bulan adalah Susan.


Amora langsung menyerahkan Nayla kepada Susan dan segera hendak pergi dari hadapannya.


Rasa benci masih tertanam untuk Martin dan Susan. Kemudian matanya memandang Nayla yang sudah ada dalam pelukan Susan.


"Mungkin jika anaku masih hidup akan sebesar anak itu. Tapi sayang tuhan tak ingin mereka lahir kedunia dengan nasab Martin" Gumamnya.


Amora dan Pelix pun berlalu tetapi tangan Susan menghentikannya.


"Amor tunggu! Bagaimana kabarmu?" tanya Susan dengan senyum canggungnya.


"Baik" jawab Amora singkat.

__ADS_1


"Amor, Martin masih sangat mencintaimu" ucap Susan dengan wajah sendu.


"Lantas?" tanya Amora.


"Aku tidak bisa sepenuhnya masuk dalam hatinya. Namamu masih besar dalam hati Martin" Susan menjelaskan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku sudah tak ingin lagi berurusan dengan suamimu. Dan aku pun sudah tidak peduli apakah Martin masih mencintaiku atau tidak. Dengan penghianatan yang dia lakulan dan kehilangan orang-orang yang aku cintai, itu sudah bisa membuktikan bahwa Martin memang tidak mencintaiku dan aku sudah tak ingin tahu apapun" Amora mulai tersulut emosinya.


Susan memangis.


"Jangan menangis di depan anak yang tidak berdosa" ucap Amora.


Martin pun menghampiri ketiganya.


"Amora! Ini benar kamu?" Martin tampak berkaca-kaca.


"Ya siapa lagi" jawab Amora ketus.


"Amor, maafkan aku" Martin memegang tangan Amora namun Amora segera menepisnya.


"Jangan seperti ini Martin, lihat istrimu sedih dengan sikapmu! Dan suamiku akan marah jika tanganku di pegang oleh pria lain" icap Amora.


"Kalian sudah menikah?" tanya Martin lesu.


"Ya kami sudah menikah" jawab Amora lantang.


Seketika Martin menunduk menitikan air mata, Hatinya hancur manakala dia tahu kalau Amora sudah menikah dengan Pelix.


"Kau seharusnya malu dengan istrimu! Kenapa kau tidak sepenuhnya mencintai istrimu? Andai saja dulu kau tak membuatku kesepian setiap malam, mungkin cintamu yang besar itu padaku takan rusak. Pelix hadir dengan membawa kebahagiaan lain, Ku akui memang aku juga bersalah dalam hal ini. Aku sudah berselingkuh darimu, dan mengotori ikrar suci pernikahan, Nasi sudah menjadi bubur! Lihat anakmu itu? Jika anakku tidak kau bunuh mungkin sudah sebesar itu. Sekarang jangan buang waktumu Martin, setia lah pada istrimu, jangan pernah menaruh namaku lagi di hatimu. Beresi kekacauan rumahtangga kalian" Amora pun pergi dari hadapan Martin dan Susan dengan menggandeng tangan sang suami.


"Nayla sayang, dady akan selalu menjagamu nak!" Martin mencium anaknya dengan sayang.


Amora hanya diam saja membuat Pelix heran.


"Amor!" seru Pelix.


"Hmmmmm" Amora hanya menyahutinya dengan deheman.


"Apa kamu menyesal mengenalku dan masih ingin melanjutkan kisah kasihmu dengan Martin?" tanya Pelix dengan wajah yang sudah di balut emosi.


"Pel kenapa kamu berkata demikian?" tanya Amora.


"Apa aku ini hanya di jadikan persinggahan hatimu saja, hem?" nada bicara Pelix sudah terasa tercekat.


"Tidak Pel tidak!! Aku mencintaimu dan sudah mengubur kisahku dengan Martin!" ucap Amora sembari menangkup wajah Pelix.


"Tapi tadi kau bicara seolah kau masih mencintai Martin dan menjadikanku hanya sebatas obat kesepianmu Amora! Kau tahu aku mencintaimu dengan tulus, aku cemburu, aku marah ,dan aku kesal" Pelix melangkah meinggalkan Amora yang sudah menangis.


"Pelix tunggu aku!" Amora mengejar Pelix.


Pelix terus saja berjalan hingga tanpa sadar sebauh stroller bayi melaju kencang ke arahnya. Pelix pun dengan sigap menangkap benda beroda itu.


"Yaampun bayi siapa ini?" Pelix bertanya-tanya sembari menggendong bayi itu.


Tak lama seorang wanita berseragam dokter berlari ke arahnya.

__ADS_1


"Itu anak saya Tuan! Terimaksih sud~~~~" ucap Wanita itu teak mampu melanjutkan kata-katanya kembali.


"Pelix...?" ucap wanita itu.


"Marini? Ini anakmu Rin?" tanya Pelix.


Namun tiba-tiba marini memeluk Pelix sembari menangis.


"Pel apa kabarmu?" tanya Marini.


Pelix pun membalas pelukan itu yang di saksikan oleh Ricky dan Amora.


"Aku baik Rin! Bagaimana dengan mu, hem?" tanya Pelix dengan memandang lamat netra Marini.


"Aku baik Pel.. Ini anaku" ucapnya sembari menunjukan bayi kecil nan lucu itu.


"Mirip bapaknya" ucap Pelix dengan candaan.


"Apa ini bayi yang di selamatkan Amora waktu itu?" tanya Pelix.


"Iya. Aku ingin bicara dengan Amora! Mana dia sekarang?" tanya Marini.


Di hati Pelix takut terjadi huru-hara, tapi dia menunjukan saja Amora.


"Itu dia" ucap Pelix .


Marini pun menghampiri Amora dan tak di sangka dia memeluk Amora sembari menangis.


"Amor maafkan aku sudah banyak menyakitimu. Terimakasih kau telah membantuku melahirkan waktu itu! Jika tidak ada kamu mungkin aku atau bayiku tidak akan tertolong" Marini memeluk Amora dengan erat.


"Aku sudah memaafkanmu sejak dahulu. Memang aku salah sudah mengambil Pelix dari kamu, aku akui itu Marini. Aku pun minta maaf padamu" Amora pun balas memeluk Marini.


"Aku sekarang sudah hidup bahagia dengan Ricky tak ada lagi bayang-bayang masalalu dihatiku. Aku sudah benar-benar mengikhlaskan Pelix. Semoga kalian bahagia" Ucap Marini dengan keharuan.


"Aku sudah menikah dengan Pelix!" seru Amora.


"Serius? kapan? Kok tidak memberitahukan padaku?" tanya Marini.


"Kita nikahnya dadakan dan hanya nikah siri. Bulan depan kita akan adakan acara meriahnya" ucap Amora.


"Baiklah jika begitu jangan lupa undang kami" ucap Ricky tiba-tiba bergabung.


"Mana hadiah untuk pernikahanku bocah?" ungkap Pelix pada Ricky.


"Kau mau hadiah apa om perkasa?" tanya Ricky.


"Panthouse saja" ucap Pelix.


"Anda mau memeras saya Tuan?" tanya Ricky sebal.


"Hahahaa!! Bagaimana sih Rin suamimu ini pelit sekali. Dia kan konglomerat tapi pelit" ucap Pelix.


"Bagaimana kalau tiket kapal pesiar?" tanya Marini.


"Itu ide bagus" jawab Pelix sembari tertawa.

__ADS_1


__ADS_2