SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Harta Karun


__ADS_3

Pelix dan Amora memutuskan untuk pulang ke Jakarta beserta Billy dan Vivid.


Amora sudah tidak sabar ingin melihat ruang bawah tanah itu secepatnya.


"Billy kau yang nyetir!" seru Pelix.


"Gantian lah Bos, masa aku sendirian sampai Jakarta" ucap Billy kesal.


"Ya bawel" jawab Pelix.


Di dalam mobil, Amora mengobrol dengan Vivid yang sudah dia anggap adiknya itu.


"Mau tinggal dimana kalian?" tanya Amora.


"Aku sih terserah mas Billy saja kak" jawab Vivid.


"Aku akan bawa ke rumah utama, jika dia tidak betah maka akan ku bawa ke rumah kedua atau panthouse saja" sela Billy menimpali.


"kamu sekaya itu rupanya" ucap Amora kagum.


"Aku juga kaya!" Pelix sedikit cemburu.


"Ya aku tahu" Amora menertawai sang suami yang sedang cemberut.


Tibalah dirumah Amora! Mereka di sambut oleh ART dan penjaga peternakan.


"Selamat siang pak Dahlan! Bagaimana kondisi peternakan?" tanya Amora ramah.


"Semua kuda disini sangat sehat Nyonya! Dua kuda betina melahirkan" ucapnya senang.


"Akh saya ingin melihatnya! Untuk pasokan pangan kuda-kuda saya, tolong lebih di tingkatkan kualitasnya" ucap Amora yang tidak menyangka dia bisa memiliki peternakan kuda warisan dari suami terdahulunya Martin.


Perceraian membawa hikmah bukan?.


Kini Pelix dan Amora sudah berada di dalam kamar yang dahulu Pelix tempati. Pelix terlebih dahulu mengunci pintu kamar itu agar Mbok Minah tidak melihat apa yang mereka berdua lakukan.


Pelix segera membuka satu ubin yang memperlihatkan sebuah pintu rahasia.


"Ini pintunya" ucap Pelix.


"Pel, kita harus bawa senter!" ucap Amora yang mengira bahwa di dalam sana adapah ruang pengap dan gelap.


"Untuk apa? Tidak perlu sayang. Ayo kita masuk, kamu ikuti aku ya" Pelix membuka pintu itu, dia langsung masuk kedalamnya di ikuti Amora.


Mereka meniti tangga demi tangga didalam ruangan itu. Pelix lalu menyalakan lampu dan terlihatlah ruang bawah tanah yang sangat mewah. Amora sampai ternganga melihatnya.


"Sayang, aku tidak mimpi kan?" tanya Amora sembari menepuk-nepuk pipinya.


"Tidak sayang! Ayo ikut aku" ucap Pelix sembari menuntun tangan Amora.

__ADS_1


Dia berjalan menuju tempat penyimpanan Wine! Amora mengambil minuman mahal itu dan melihat tanggal.pembuatannya membuat seketika matanya berbinar.


"Sayang, ini Wine jenis langka. OMG jika di jual ini sangat mahal" pekik Amora senang.


"Tapi kita tidak akan menjualnya" ucap Pelix.


"Aku hanya bercanda!" ucap Amora sembari terkekeh.


Kemudian Pelix mengajak Amora untuk membuka peti besi. Awalnya Amora takut, tapi Pelix membujuknya dan menyakinkannya.


Amora dengan sedikit tenaga membukanya tanpa bantuan Pelix.


Mata Amora melotot dengan mulut ternganga melihat emas batangan tersusun rapih di dalam peti.


"Ya Tuhan ini apa?" tangan Amora gemetar saat mengangkat emas batangan yang beratnya satu kilo.


Pelix hanya tertawa.


"Sayang ini milik siapa?" tanya Amora kembali saking terkejutnya.


"Ini milik kita!" ucap Pelix santai.


"Kok bisa?" tanya Amora.


"Karena aku yang menemukan ini pertama kali" jawab Pelix.


Tangan Pelix lalu menggandeng Amora ke sebuah lemari kaca yang sedikit tertutup debu. Pelix membukanya membuat Amora semakin ternganga.


"Benar sekali sayang! Aku sudah cek pada alat pengukur kadar berlian, memang ini asli berlian dari Africa" ucap Pelix.


"Pel bagaimana jika ini di usus pemerintah?" tanya Amora panik.


"Tidak akan sayang! Karena rumah ini di bangun sepertinya sejak jaman VOC, kamu lihat kan emasnya juga ada lambang VOCnya! Harta ini ada sebelum negara ini merdeka jadi kita aman. Hanya saja kita tidak boleh membocorkan apapun pada siapapun karena manusia terkadang terlalu antusias lalu menceritakannya kepada semua orang" tutur Pelix.


Lalu Amora memindai lukisan yang tergantung dibeberapa dinding.


"Pel lukisan itu sepertinya aku pernah melihat di internet, Ya itu lukisan karya seniman asal Jepang Shigeo Tokuda yang berjudul cucu kakek yang kesepian, menampilkan potret wanita muda dengan raut wajah sedih" Amora sangat senang melihat itu.


"Semua lukisan dunia yang hilang, hampir semuanya ada di dalam ruangan ini. Aku mencari tahu siapa pemilik rumah ini dahulu, tetapi aku tidak menemukannya. Ketika ku bertanya pada Kakek, dia juga tak memberitahukanku" ucap Pelix prustasi.


"Pel, jika ini sudah sah menjadi miliku, apa buktinya?" Amora takut jika nanti akan menjadi huru-hara!.


"Ikut aku" ucapnya.


Pelix menuntun tangan Amora keruangan yang di penuhi arsip-arsip jaman dahulu yang tak ternilai harganya.


Pelix menyerahkan sebuah surat dari lemari berukir kembang teratai. Amora membacanya tulisan jaman dahulu dengan terjemahan bahasa Belanda.


"Kamu kaya sayang" ucap Amora lemas.

__ADS_1


"Tapi aku harus menyerahkan bukti ini ke Belanda tepatnya ke musieum Leiden. Jika datanya cocok maka harta itu resmi akan menjadi miliku sah secara hukum" tutur Pelix.


"Baiklah, kapan kamu mau ke Belanda?" tanya Amora.


"Minggu depan karena aku harus segera mengurus ini" ucap Pelix.


Setelah lama di alam ruangan itu, mereka berdua pun keluar dan segera menutup pintu masuk ruangan itu dengam sangat rapi.


Vivid dan Billy sudah sampai dirumah besarnya. Vivid sangat takjub melihat bagaimana megahnya rumah utaman Billy.


"Selamat datang Tuan muda dan Nyonya muda!" ucap semua ART rumah itu.


Hawa dingin langsung terasa menusuk pundak Vivid.


"Mas rumahmu besar sekali" ucap Vivid sembari mata memindai sekelilingnya.


"Ini rumah orang tuaku honey! Aku hanya menerima warisan saja dari mereka" jawab Billy tenang.


"Mari Tuan, untuk makan siang sudah kami siapkan" ucap Bik Narsih ART disana.


Vivid melihat hal yang aneh dirumah itu, pasalnya ke dua belas ART itu sudah tidak muda lagi, apa Billy sang suami memilih kriteria yang sudah berumur? Akh entahlah hal itu membuat Vivid pusing.


"Ayo honey kita makan" ucap Billy.


Merekapun makan dengan lahapnya.


Sementara diruang pantry, semua ART itu bergosip!


"Semoga saja Tuan muda dan istrinya mau tinggal dirumah ini ya! Biar kita sedikit terhibur tidak tegang-tegang mulu setiap malam" ucap Bik Indah.


"Ya benar! Ampun gusti wingit banget rumah ini! Jika tidak ingat anakku yang kuliah dan masih butuh banget biaya, aku sudah keluar dari rumah ini" timpal Bik Tina.


"Apalagi kalau malam, beuhh berasa banget hawanya" ucap Mang ujang selaku penjaga rumah itu.


"Begini saja, nanti malam kita adakan pengajian dirumah ini, biar adem hawanya!" timpal Bik Desi.


"Ya benar! Adakan kegiatan keagamaan saja supaya nyaman dan do'akan pemilik rumah ini agar tenang dialam saja" ucap Mang Ujang.


Vivid dan Billy sudah selesai makan, mereka berjalan menuju kamar Billy dilantai atas. Ketika itu keduanya melewati ruangan yang selalu tidak terjamah orang lain.


"Mas, ruangan apa ini kok beda auranya" ucap Vivid menatap ngeri.


"Hehe!! Itu cuma ruangan biasa saja, hanya jarang ada yang masuk, hanya membersihkan saja" ucap Billy menutupi fakta yang sebenarnya.


"Oh begitu" ucap Vivid.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pelix menaiki kuda bersama Amora. perasaan ini seakan dejavu mengingat semasa pacaran dahulu dia sering melakukan ini dengan Amora walau saat itu Amora masih menjadi istri Martin.

__ADS_1


"Amora" ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu membuat Amora terperanjat.


__ADS_2