
Malam itu Pelix telah sampai di mansion sang kakek. Pelix langsung berjalan ke arah kamar Leon tanpa mendengarkan ocehan Ken yang seperti Burung Beo kala menanyakan dari mana saja dia.
"Hei anak bodoh ku belum selesai berbicara" Kesal Ken yang tak di indahkan oleh sang keponakan.
Di dalam kamar, terlihat Leon dengan kondisi yang memperihatinkan dengan badan terlunglai, mata melotot, dan air liur terus menetes dari celah mulutnya. Jika dalam sietron Leon ini bisa di kategorikan sebagai sinetron azab indosiram. dia terus saja berbicara memaki dan mengumpat siapa saja yang membuatnya dendam.
"Arghhhh dasar menantu jahanam, kenapa kau datang lagi dan memperlihatkan anak gadismu yang menjijikan itu. Gadis kurang ajar awas kau ya berani-beraninya menginjak kakiku. Akan ku pastikan anak buah ku akan mencari dan membunuh kalian. Kaisyah dasar kau bedebah, kedatangan mu pasti ingin merebut Pelix kan dari ku? Takan ku biarkan"racau Leon.
Hening sejenak, tak lama Leon meracau lagi.
"Aku ingin bercinta dengan wanita bin@l"
"Ayolah puaskan aku para lady's ayolah"
"Vodka mana vodka? Aku ingin minum vodka"
"Hahahahaha~Hei kau Jack mcLemon kau kalah judi slot dengan ku. Serahkan wanitamu atau ku tembaki kepalamu"
"Aku sang naga, Aku sang nagaHahahahha" racau Leon
Pelix yang sudah terduduk di dekat Leon hanya bisa menatap iba pada kakek nya.
"Kau harus sehat jagoan" ucap Pelix dengan tangan mengelus kepala sang kakek.
"Apa kau seekor tikus?" tanya Leon.
Pelix yang mendengar itu langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Jika aku seorang Malaikat maut kau mau apa?" goda Pelix.
"Kau akan ku bunuh" racau Leon..
"Apa di akhirat ada Vodka?" tanya Leon random.
"Aku tak tahu" jawab Pelix sekenanya.
"Kakek, kau kan masih bisa bernafas, sebaiknya kau tobat karena kesalahan dan dosa mu terlalu banyak apalagi di masa muda mu" ucap Pelix.
Leon hanya tersenyum meremehkan ucapan sang cucu.
"Aku tidak peduli dengan dosa, aku hanya peduli dengan kekuasaan dan harta"jawab Leon.
"Jangan jumawa kau kek, kau ini manusia biasa cepat atau lambat kau akan mati"Pelix menceramahi ala-ala mafia. kepada sang kakek.
" Aku seorang Leonore Dragon Fernandez, takan mati. Aku akan kekal abadi~~uhukkkkk uhukkkk!"ucap Leon dengan jumawa sembari terbatuk-batuk.
"Terserah kau saja" kesal Pelix.
Di tengah keheningan, Ken datang ke kamar sang ayah. Dari gurat wajah Ken dia sama sekali tidak merasakan iba kepada sang ayah yang tengah terbaring lemah di ranjang.
"Ini semua gara-gara wanita kep@rat itu. Ayah ku jadi seperti ini" ucap Ken dengan kata-kata tertuju pada Kaisyah.
Mendengar itu, Amarah Pelix seketika memuncak kala sang bunda di hina. Pelix merangsek kerah baju Ken lalu memukul dan menonjoknya secara membabi buta. Ken pun tak mau kalah dia balik memukul dan menendang Pelix hingga perang senjata pun terjadi di depan mata Leon yang terbaring.
__ADS_1
Alhasil Ken pun tertembak di area samping perut dan Pelix pun tertembak di tangannya namun peluru itu menyamping tak mengenai bagian dalam tangannya.
Tak cukup sampai disitu, Pelix merebut pistol Ken dan melemparkan sampai pistol itu masuk ke kolong lemari. Dia mending mati daripada harus mendengar seseorang menghina sang bunda.
"Kep@rat berani-beraninya kau mengatai bundaku wanitaku. Pengecut sepertimu tak ubahnya seperti Kambing tua yang tak berdaya kala melihat ayahmu membunuh ibumu sekaligus nenek ku di depan matamu. Kau hanya diam tak bergeming" geram Pelix.
Ken yang sudah babak belur langsung di amankan oleh anak buah Leon ke kamar nya.
Pelix seketika langsung pergi dari mansion itu.
¥
Siang itu Amora mengajak Pelix untuk bertemu. Dia bilang tak usah di jemput karena akan di antar oleh Billy.
The Retro Hotel And Resort, tempat yang di pilih Amora untuk bertemu Pelix. Dia pun sudah mereservasi kamar terlebih dahulu agar pertemuan dengan Martin tak ada gangguan.
Di dalam kamar hotel itu, Pelix sudah berada di dalam kamar terlebih dahulu. Pelix berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah pantai.
Amora pun tak lama masuk ke dalam kamar itu dan langsung menghadap Pelix.
"Ada apa Amor kau ingin bertemu dengan ku? Apa kau merindukanku?" tanya Pelix sembari merengkuh pinggang mungil Amora.
Amora hanya diam tak menjawab pertanyaan yang Pelix tanya.
"Jawab Sayang kenapa membisu?" tanya Pelix lagi.
"Pel, aku mengajakmu bertemu ingin mengatakan mulai saat ini kita sudahi hubungan kita. Anggap saya kita tidak pernah saling mengenal. Aku sekarang tengah kamil" ucap Amora.
"Ya aku tahu kau sedang hamil. Tapi kau yakin itu anak suamimu?" tanya Pelix seakan meremehkan Amora.
"Ku harap kau kembali menjalin kehangatan bersama Marini" ucap Amora yang sudah tak bisa membendung tangisan nya. Dia tergugu di pelukan Pelix.
Pelix tahu jika keputusan yang Amora buat sangat menyakiti hatinya tetapi Pelix menghormati keputusan itu.
"Sana pergi! Tetapi jika Martin menyakitimu datang lah padaku" ucap Pelix.
Amora menangis dalam dekapan Pelix. Meraung. Pelix pun menyentuh perut Amora yang sudah sedikit membuncit dan menciumnya.
"Aku tak suka melihat wanita menangis. Hapus air matamu dan cepat pergi sebelum ku berubah pikiran" ucap Pelix.
Amora pun langsung mencium bibir Pelix dengan sangat dalam sesudah itu dia pergi seraya berkata.
"Maafkan aku sayang" ucap Amora seraya melangkahkan kaki pergi dari kamar itu.
Pelix hanya mengangguk. Beda di wajah beda di dalam hati. Saat ini perasaan Pelix bak di hujam beribu sembilu. Sakit tapi tak bedarah, luka tapi tak terlihat.
¥
"Bagaimana apakah kau akan menceraikan ku bulan depan?" tanya Susan pada Martin yang baru saja datang.
"Kenapa kau selalu bertanya hal itu? Kau tahu aku baru saja pulang dari kantor dan tas kerjaku saya baru ku letakan! Setidak bahagiakah kau ku nikahi hah?" bentak Martin kesal.
Susan seketika diam ketika mendapat bentakan secara tiba-tiba oleh Martin. Dia sadar jika dia sudah salah pada sang suami karena selalu meminta cerai tiap bertemu. Susan mulai menurunkan egonya dan menghadap Martin dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Maafkan aku karena selalu meminta cerai darimu" lirih Susan.
Martin hanya melirik sekilas lalu berjalan ke arah balkon yang posisinya menghadap ke laut lepas. Susan langsung menyusulnya dan berdiri di samping Martin.
"Aku salah dan mohon maafkan aku" ucap Susan.
Martin tak menjawab, dia malah memeluk tubuh susan dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri kedua. Tak ada percakapan disana, mereka hanyalah merasakan desiran aneh pada tubuh masing-masing masing. Angin laut behembus menerpa kedua insan itu.
Martin membalikan tubuh Susan hingga mereka saling berhadapan kedua mata saling memandang.
"Kenapa kau selalu meminta cerai dariku? Apa di hatimu sudah ada pria lain?"tanya Martin lekat memandang manik maa Susan.
"Tidak!" jawab Susan singkat sembari memalingkan wajahnya karena tak kuasa memandang wajah sang suami.
Martin memeluk tubuh Susan dan Susan pun langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Martin. Tatapan dan Pelukan itu masih sama seperti enam tahun yang lalu sebelum Martin mengalami kecelakaan hingga dia merubah dunia dan sifat nya 180°.
"Masih sama" ucap Martin Dengan tangan membelai rambut Susan.
"Apanya yang sama?" tanya Susan mendongakan wajahnya.
"Rasanya seperti enam tahun yang lalu" jawab nya.
"Seperti sebelum kecelakaan yang membuat kau berada dalam titik terendah bukan? Sampai kau setiap hari memaki diriku seperti layaknya Anjing gila. Kau bahkan selalu menyakitiku secara verbal. Dan bodohnya aku masih mau saja merawat mu" Susan bercerita dengan air mata yang menganak.
Martin maraih wajah Susan lalu mendongakan agar menatapnya.
"Saat itu aku begitu terguncang. Maafkan aku" kelu Martin seakan tercekat kala mengingat kejadian masalalunya.
Susan hanya senyum melihat gurat Penyesalan di wajah sang suami.
"Tin!" seru Susan.
"Ya" jawab Martin masih tertunduk di pelukan sang istri keduanya.
"Sampai kapan kita berdiri terus di tempat ini?" kekeh Susan.
Martin pun merunduk menatap wajah ayu Susan.
"Kau cantik sekali. Bahkan berjuta-juta cantik dari yang dulu" lirih Martin.
"Tak usah memujiku. Tak ada uang receh untuk membayarnya" Susan tergelak.
"Kau tak perlu membayarku sepeserpun atas pujian ku barusan. Kau hanya boleh membayarku dengan ini, ini, dan ini" ucap Martin kala menunjuk Bibir Susan yang sedikit tebal tapi seksi, dada nya dan berhenti di selah paha Susan.
Susan yang bukan gadis kemarin sore paham apa yang Martin mau.
"Itu tidak tertulis di dalam surat perjanjian" ucap Susan.
"Aku menginginkannya malam ini" bisik Martin dengan sorot mata sayu.
Susan hendak menolak tetapi dia tahunitu akan berdosa jika menolak ajakan suami.
Susan pun mengiyakan ajakan itu.
__ADS_1
Malam itu mereka melakukannnya dengan durasi yang lama dan saling memuaskan.