
Vivid sudah menunggu Amora di rumasakit sekitar dua hari, Di hari itu pula dia memakai baju yang sama karena belum sempat mengantinya. Billy dengan setianya mengantarkan baju dan makanan.
"Ini untuk mu honey! Pakailah dan makanlah" ucap Billy sembari menyerahkan dua paper bag berwarna mocca.
"Terimakasih mas Bill. Sini makan sama aku" ucap Vivid.
Billy pun dengan senang hati duduk di sampingnya.
"Kamu lelah?"tanya Billy.
" Sebenarnya aku lelah mas Bill tapi ini kewajibanku menjaga nyonya" jawabnya lirih.
"Ya aku tahu dari gurat wajah mu"ucap Billy.
" Kalau tahu kenapa nanya!" ketus Vivid.
"Yaampun kau galak sekali nona. Aku hanya ingin mencairkan suasana saja" ucap Billy terkekeh.
Vivid hanya membuang muka sembari menyuapkan burger di mulutnya.
"Enak sekali! Jadi ini yang namanya burger" gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Billy.
"Kamu belum pernah makan ini?"tanya Billy.
"Belum mas" ucap Vivid sedikit malu dengan tawa kecilnya.
"Aku akan membelikan burger padamu setiap hari" ucap Billy.
"Tidak usah tiap hari juga dong mas nanti saya bosan" timpal Vivid.
Di tengah obrolan random itu, Seorang dokter menghampiri Vivid.
"Apa anda yang bernama nona Vivid?" tanya dokter itu.
"Ya betul! Ada apa kiranya?" tanya Vivid.
"Saya memberitahukan bahwa nyonya Amora sudah bisa pulang hari ini" ucap nya.
Mendengar itu, Vivid sangat senang dia segera menghampiri Amora.
Di dalam mobil, Amora hanya diam termenung. Tak ada ungkapan apapun yang dia lontarkan. Mata nya sayu seperti tak ada kehidupan pada dirinya.
"Mbak, antarkan saya ke makam ibu dan kedua anak saya" ucap Amora.
"Baik nyonya!" jawab Vivid.
Mobil Alpard itu berhenti di jalan pinggiran sebuah tempat pemakaman umum! Ketiga nya langsung turun dan berjalan menuju ke sebuah kuburan yang masih baru. Terlihat masih ada taburan mawar disana.
Amora seketika langsung berhambur dan bersimpuh di atas kuburan sang ibu. Dia menangis meraung dan meronta.
"Ibu, maafkan aku! Aku sendiri sekarang tak ada siapapun tempat ku bercerita. Ibu tahu aku sangat terpukul seakan dunia ini runtuh" tangis Amora sembari mencium batu nisan Diana.
Kemudian dia beranjak ke kuburan kecil yang bertuliskan Naraya dan Narendra.
"Ini kah anak mami? Bahkan mami belum sempat melihat kalian berdua nak. I love so muach! Mami sangat mencintai kalian" Amora menciumi nisan itu dengan tangisan.
Sesaat Amora terdiam lalu tiba-tiba di tertawa. Vivid yang melihat itu merasa ngeri-ngeri sedap takut Amora kesurupan.
"Mas Bill, Nyonya kenapa?" tanya Vivid.
"Entahlah. Tapi dia tidak kemasukan apapun aku bisa jamin itu" ucap Billy yang seorang anak indihome eh indigo.
"Anaku masih ada dalam perut ku! Hehehee!" ucap Amora seraya terkekeh.
__ADS_1
"Nyonya anda kenapa?" tanya Vivid yang segera menghampiri Amora.
"Mbak, Kok kita di sini? Saya kan sudah bilang pagi ini kita periksa si kembar ke dokter kan? Hayo lupa ya?" ucap Amora sembari tersenyum.
"Gawat ini dia sepertinya depresi!" gumam Billy.
"Tapi nyonya, Ini anak anda sudah meninggal dan ini makam ibu anda!" seru Vivid.
Amora tampak tidak suka dengan apa yang vivid katakan.
"Jangan ngaco kamu ya mbak! Ibu saya ada di rumah sedang mengurusi florist milik kami" ucap Amora dengan tatapan jengah.
Vivid menangis melihat Amora seperti ini.
"Saya mohon nyonya terimalah dengan ikhlas semua ini agar yang meninggal bisa ikhlas" ucap Vivid.
"Saya harus ikhlas apa mbak? Tak ada yang meninggal! Bayi saya masih ada kok" ucapnya sembari mengelus perut ratanya.
"Loh kok perut saya rata?" tanya Amora kembali.
Amora pun kembali sadar dan menangis lagi sampai pingsan dan Billy segera mengotong tubuhnya ke dalam mobil.
¥
Di apartemen, Martin tak menemukan susan. Dia hanya menemukan secarik kertas yang bertuliskan: JANGAN MENCARI KU. ANAK YANG SEDANG KU KANDUNG AKAN SEPENUHNYA MENJADI MILIKU.
Martin semakin kalut dengan situasi ini. Pikirannya buntu dan mengawang. Untuk menghilangkan rasa kalutnya dia sengaja memesan wanita malam untuk menuntaskan hasratnya. Dia pun mendownload aplikasi hijau yang bernama Dating Time. Dengan cekatan dia memilih wanita sesuai dengan poto yang ada! Kemudian dia tertarik dengan satu poto seorang gadis yang bernama Bianca. Dengan tarif tiga juta permalam, Martin pun segera memboking nya.
"Gadis ini akan jadi pelepasan malam ku" seringai Martin.
Tak berapa lama, wanita yang di maksud pun mengetuk pintu apartemen nya dan Martin segera membukanya.
Pandangannya langsung tertuju pada gadis sexy tinggi semampai, berkulit putih khas wanita Thailand.
"Selamat malam om" ucap gadis itu mendayu.
"Perkenalkan namamu karena aku tidak mau salah dalam meniduri wanita" ucapnya.
Jujur ini adalah pengalam pertama bagi dia membeli wanita malam. Terlihat sedikit gugup dari raut wajah Martin.
"Sepertinya kamu gugup sekali om" ucap gadis itu.
"Jujur ini pengalaman pertamaku membeli wanita malam" jawabnya.
"Relax saja! Aku akan memuaskan mu baby" ucapnya sembari menggerayangi dada kokoh Martin.
"Tunggu dulu nona, Sepertinya kau sangat terburu-buru sekali? Apa kau sudah di tunggu oleh client mu yang lain? Dan kau juga belum memperkenalkan identitas mu bukan?" tanya Martin.
"Aku tak mungkin melewatkan malam berhasrat ini hanya dengan saling berdialog saja om, Memangnya aku ini calon legislatif! Dan untuk identitas ku, kau cukup panggil aku Bianca saja. Aku di sewa oleh om untuk memuaskan mu bukan untuk membeberkan biodata ku" ucap Bianca.
"Kau sangat privat sekali nona! ucap Martin sembari menciumi leher Bianca"
"Eumhhhh"suara laknat Bianca keluar.
Ada yang aneh ketika Martin menciumi leher Bianca, ada tonjolan seperti jakun
" Kau punya jakun?" tanya Martin menghentikan aksinya.
Bianca hanya diam saja dan Martin pun tak bertanya lagi karena sedang terhanyut dengan g@|π@h yang sangat bergelora.
"Puaskan aku" ucap Martin.
"Baiklah" ucap Bianca.
__ADS_1
Bianca dengan brutal menjalah setiap lekuk tubuh Martin. Di c√mb√nya, di ses@pnya sampai Martin melenguh dan melolong seperti serigala.
"Och yeahhhhh nona" ucap Martin.
Dia baru merasakan di perlakukan seperti raja, seakan wanita ini bersikap seperti alfa beda dengan kedua istrinya yang pasrah dan Martin lah yang memegang kendali.
Karena dia sudah berada di ujung tanduk, dia menggiring Bianca untuk masuk ke dalam selimut.
"You are ready nona?"tanya Martin di ujung teling Bianca.
" Oke i'am ready om" lirih Bianca.
Di dalam selimut kedua insan itu lagi-lagi berkasak-kusuk ria, Kedua nya sudah menanggalkan pakaian nya masing-masing yang di lempar ke segala arah sampai berceceran.
Dengan nakalnya tangan Martin mengusap-usap apapun, dan tunggu!
"Batang siapa ini? Apa batang ku?" tanya nya dalam hati.
Sejenak dia terdiam, menyisakan Bianca dengan wajah yang di selimuti gairah yang menggelora.
"Kenapa om?" tanya nya polos.
"Aku meraba sesuatu yang mengeras tapi bukan punya ku" ucap Martin dengan wajah syok.
"Hihihi!! itu punya saya om" ucap Bianca terkekeh malu.
"Maksudnya apa?" tanya Martin polos.
Bianca terdiam, Martin dengan kencangnya membuka selimut dan Wakwawwwww..
Terlihat satu tungkai batang pohon toge sedang menegang membuat Martin syok bukan kepalang.
"Ukurannya lebih besar dari pada miliku! Siapa sebenarnya kau? Kau seorang laki-laki?" tanya Martin dengan tatapan jijik.
"Memang saya lady boy om, Kan situ yang pesan!" jawab Bianca.
"Kresek kau ya! aku booking wanita bukan bangsa kau bodoh" ucap Martin yang tubuhnya sudah bergelung selimut seperti kepompong.
"Memang nya kau tak melihat semua profil ku om? Kau masuk menu lady boy" ucap Bianca.
"Argghhhhh sial kau ya! Pantasan sedotan mu seperti vacum cleaner ternyata kau~~Arggghhhhhhhh" Martin tampak prustasi.
"Kau sudah membookingku, dan aku sudah melayani anda! Tolong bayar jasa saya om" ucap Bianca sedikit kesal.
"Mana no rekening mu! Sial niat hati ingin bersenang-senang malah dapat penunggu pohon waru" ucapnya sembari menyugar rambutnya.
Bianca menyebutkan no rekeningnya dan Martin segera mengirimkan uang. Bianca melihat nominalnya di ponsel miliknya dan alangkah terkejutnya karena Martin memberikan uang sebesar lima puluh juta rupiah pada Bianca.
"Om ini banyak sekali?" tanya Bianca.
"Itu untuk mu! Cepat pergi dari hadapan ku dasar manusia setengah matang" ucap Martin.
"Terimakasih ya om! Saya mau langsung pulang ke kampung dan buka usaha tambal ban" ucapnya.
Sebelum Bianca pergi, dia menghampiri Martin dan mencium pipinya.
Cupppppp!!!
"Bonus untuk om" ucap Bianca sembari terkekeh geli lalu pergi meninggalkan Martin yang merasa jijik di apartemen nya seorang diri.
"Arghhhhhh sialllll.. Aplikasi sialan dapat gadis berbatang" gerutunya.
Martin pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah ternoda oleh lady boy jahanam itu. Dia merasa kotor kala mengingat tangan itu meremas keperkasaannya.
__ADS_1
"Bolehkan aku trauma?" rutuknya dalam hati.
"Aku ini masih normal! Tapi sedotannya boleh juga" Gumam Martin dalam kucuran air shower...