
Dia mengambil satu selebaran yang tak terbawa oleh Camilla.
Dia membaca sebuah nama yang tertera di kertas itu.
"Camilla Stevlana Fernandez owner dari Camilla laundry " Deg seketika jantung nya berdebar dengan kencangnya.
"Nama itu~~"
"Aku harus mencari wanita ini karena nama nya sama dengan nama adiku yang hilang" gumam Pelix.
Di rumah Camilla, Kaisyah sedang memasukan semua baju nya kedalam koper.
"Pastikan tidak ada yang tertinggal nak" ucap Kaisyah sembari membereskan apapun barang yang akan di bawa.
"Baiklah bun. Oh ya bun apa kita akan pergi ke rumah kita yang dulu di kaki gunung Argopuro?" tanya Camilla.
"Jangan nak! Kita pindah ke villa keluarga yang ada di daerah Sumedang saja. Tempat itu satu-satunya yang kakek kamu tidak tahu. Kita akan menyewa truk nya Hendri. Cepat berkemasnya kita pulang sekarang" ucap Kaisyah.
Saat sedang membereskan mesin cuci nya, Tiba-tiba ponsel Camilla berdering tertera no yang tidak dia kenal.
"Hallo Camilla laundry! Ada yang bisa di bantu?" tanya Camilla.
"Saya ingin mencuci baju. Apa bisa?" tanya laki-laki di seberang sana.
"Maaf sekali tuan tetapi sekarang laundry nya sudah tutup. Maaf dengan siapa saya berbicara?" tanya Camilla.
"Dengan Pelix Djovanica Fernandez" ucap Pelix lalu dengan sengaja panggilan telepon itu dia matikan secara sepihak.
"Siapa yang telepon nak?" tanya Kaisyah.
"customer bun dia ingin mencuci baju nya tetapi ku bilang saja laundry nya sudah tutup" jawabnya.
"Siapa nama nya?" tanya Kaisyah.
"Emmmmm siapa ya namanya panjang banget bun" ucap Camilla sembari berpikir.
Lama berpikir akhirnya Camilla ingat.
"Pelix Djovanica Fernandez. Ya namanya itu bun" ucap Camilla.
Deg....! Seketika jantung Kaisyah memburu tak kala mendengar nama itu di sebut. Seketika dia menangis terkulai di lantai. Badannya lemas bak tak bertulang.
"Bunda kenapa menangis?".tanya Camilla bingung.
" Itu nama kakak mu nak. Kakak mu yang selalu bunda rindukan" tangisan Kaisyah Pecah.
"Apa kau anaku? Apa kau putra kecil bunda nak? Bunda sangat merindukan mu nak" ucap Kaisyah dengan tangisan.
"Bunda jika dia kakak ku maka ada hubungannya dengan kejadian sewaktu aku menginjak kaki mafia tua itu. Bagaimana ini bun jika kakak ku menjadi bagian dari mereka dan ingin memburu kita?" tanya Camilla dengan semburat wajah ketakutan tergambar nyata.
"Malam ini kita harus sudah pergi nak. Jangan sampai kita tertangkap oleh gerombolan orang-orang yang dzolim.
Pelix saat ini sangat cemas, Mobilnya mencari-cari alamat yang tertera pada selebaran yang Camilla jatuhkan tadi.
" Aku harus menemukan kalian!" ucap Pelix.
Di depan rumah Kaisyah, tampak terparkir truk puso berwarna hijau untuk membantu mengangkut semua barang-barang pindahan.
__ADS_1
"Sudah siap bunda?"tanya Hendri supir truk.
" Sudah bang. Bantuin untuk mengangkat nya" jawab Kaisyah.
"Baik bun" jawab Hendri.
Hendri pun membantu mengangkat semua barang ke dalam bak truk itu.
"Semua sudah beres. Ayo bunda kita berangkat" ucap Hendri kepada Kaisyah.
Hendri terbiasa menyebut bunda pada Kaisyah karena dia sudah di rawat sejak kecil oleh Kaisyah. Tumbuh bersama dengan Camilla dari umur lima tahun karena orang tua Hendri mengalami kecelakaan.
"Ayo nak kita pergi sudah tak ada waktu lagi" ajak Kaisyah pada Camilla.
Malam itu mereka pun pergi ke Sumedang dan akan memulai hidup baru.
Di perjalanan Hendry berhenti di warung kopi guna membeli kopi untuk melawan rasa kantuknya ketika berkendara. Tak di sangka, tiba-tiba seorang pria berjas hitam menepuk pundak nya dan bertanya.
"Bolehkah saya bertanya padamu?" tanya pria dengan tatapan dingin namun menusuk.
"Silahkan" jawab Hendri.
"Apa anda pernah melihat wanita ini?" tanya si pria sembari menyodorkan selembar poto bergambar seorang wanita cantik berkulit putih dan berambut panjang.
Hendri pun melihat poto yang di bawa oleh pria itu lalu menyelidikinya dengan seksama.
"Seperti poto lama"ucap nya.
" Katakan saja apa kau melihat wanita ini?" tanya pria itu sembari menodongkan senjata api nya.
"Hei bung tenang lah kau seperti serigala saja. Keep Calm men! Aku akan memeriksa dengan seksama" ucap Hendri sembari terus memandang poto wanita itu.
"Oh tuhan, ini kan bunda Kaisyah! Kenapa mereka mencarinya? Bagaimana kalau mereka sampai menemukan nya" gumam Hendri.
"Lihat tidak ?" ucap pria berkawat gigi tapi sangar.
"Sorry bung, aku tak tahu siapa wanita ini. Yasudah aku jalan dulu karena perjalanan ku masih panjang" ucap Hendri sembari melangkah kan kaki hendak menaiki truknya.
Namun seorang pria dari gerombolan itu merasa curiga dengan Hendri yang tersirat wajah ketakutan disana.
"Stop! Aku akan menggeledah isi truknya"
"Hei bung lancang sekali anda ini" ucap Hendri yang di susul oleh pukulan oleh pria kejam itu.
Hendri sangat ketakutan sekali jika Kaisyah dan Camilla tertangkap oleh mereka. Mobil itu langsung di geledah oleh pria-pria sangar tetapi tidak di dapati apapun di dalam sana hanya ada kasur dan tisu Magic.
"Tidak ada apa-apa di sini!"seru pria berbehel kepada kawan-kawan nya.
"Dasar pria mesum. Banyak sekali alat kontrasepsi di dalam mobilnya. Kau suka jajan wanita bin@l sepertinya! Dasar supir gila" umpat pria yang menghurup cerutu nya dengan membawa senapan laras panjang.
"Ya bung aku memang pecandu wanita jalanan. Sudah aku mau lanjut jalan saja. Keburu tengah malam" ucap Hendri sembari masuk kedalam kemudi truknya.
Sesudah jauh dari gerombolan pria kejam itu, Kaisyah dan Camilla muncul dari bawah kasur di belakang Hendri.
"Bang Hendri, apa mereka sudah pergi?"tanya Camilla.
" Aman! Aku takut sekali kalian akan tertangkap" ucap Hendri dengan nafas yang di buang ke udara.
__ADS_1
"Syukurlah kita sudah aman! Nyaris saja kita di sered oleh pengawal kakek mu" lesu Kaisyah bagai tak bertulang.
Sementara Pelix telah sampai di rumah yang Kaisyah tempati. Dia mengetuk pintu tetapi tak ada satupun yang menimpali suaranya dari dalam. Dia pun terus mengetuk tetapi masih sama keadaannya sepi tak bertuan.
Seorang pria tambun kemudian menghampiri dirinya karena dia melihat Pelix yang mengetuk pintu sedari tadi.
"Mas mencari siapa?" tanya pria itu.
"Apa benar ini rumahnya nona Camilla?" tanya Pelix.
"Benar mas, tetapi Camilla sudah pindah belum lama sekitar pukul delapan malam ini" jawab pria yang di ketahui bernama Otong Ferguson sang ketua RT setempat.
"Mereka pindah kemana ya?' tanya Pelix semakin gusar.
" Saya kurang tahu mas. Bunda Kaisyah tidak bicara apapun pada saya karena kepergiannya terlihat buru-buru" jawab Otong.
"Apa mungkin mereka keluarga ku? Karena namanya sangat mirip" gumam Pelix.
"Apakah beliau punya suami?" tanya Pelix.
"Tidak mas. Bunda kaisyah tidak menikah lagi tetapi beliau mengadopsi anak angkat bernama Hendry. Beliau itu selalu bercerita kepada kami tetangga nya kalau beliau mempunyai seorang putra bernama Pelix tetapi sudah lama tidak bertemu" tutur Otong.
Seketika air mata Pelix luruh mengalir deras mengetahui fakta jika sang bunda selalu merindukannya dan rumah kecil ini lah sebagai naungannya.
"Saya Pelix anak nya" lirih Pelix.
"Yang benar mas?"tanya Otong.
" Boleh saya masuk?" tanya nya tanpa menjawab pertanyaan dari Otong sebelumnya.
"Boleh mas karena kuncinya ada di saya"jawab Otong.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah itu. Di dalam sudah tidak ada perabotan lagi hanya ada sebuah lemari tua kecil.
" Anda boleh tinggalkan saya sendiri?" tanya Pelix.
"Ya silahkan" jawab Otong sembari keluar dari rumah itu.
Pelix berkeliling ruangan itu. Rumah yang mempunyai dua kamar tidur kecil satu ruang tamu. Dia berjalan ke arah lemari usang dan membuka laci nya. Terselip poto pernikahan sang bunda. Kaisyah dan Jhonson terlihat bahagia duduk bersanding di pelaminan membuat Air mata kejantanam Pelix seketika meluruh, dia meraung merindukan sang bunda. Lalu Pelix membuka lagi laci lemari itu, terdapat sepucuk surat yang telah sedikit di makan rayap. Pelix pun membaca nya.
(17 Mei Adalah tanggal dimana ku melahirkan seorang putra. Saat itu usia ku baru sembilan belas tahun. Aku sangat mencintai putraku yang bernama Pelix Djovanica Fernandez. Dia pria kecil yang sangat tampan dan lucu. Tepat hari ini dia berusia enam belas tahun dan hari ini juga ulang tahun pertama nya tanpa kehadiran ku dan adik kecil nya Camilla. Kebahagiaan kami harus hancur oleh tangan-tangan Dzolim tak berperasaan. Kami di pisahkan dalam kedukaan. Doa ku pada mu putra kecilku semoga kamu tumbuh menjadi seorang pria bijaksana. Jangan seperti pendahulu mu nak. Jadilah pria yang berguna bagi siapa pun dan jangan jadi penghancur atau pun pemisah kebahagiaan orang lain. Salam kasih dari bunda mu nak. Semoga suatu saat kau bisa bersama bunda).
Sesudah membaca surat itu makin luruh lah air matanya dengan badan merosot ke lantai bagai seonggok makhluk yang tak bertulang.
"Bunda dimana kamu?" lirih Pelix.
Pelix pun segera menelepon Billy.
"Hallo bos ada apa?" tanya Billy di seberang telepon.
"Kau lacak sebuah no handphone dan langsung berikan hasilnya padaku cepat" titah Pelix sembari menutup panggilan teleponnya.
Billy pun mengambil laptopnya kemudian mulai melancarkan aksinya. Tak lama alamat dari no ponsel itu di dapat tetapi lokasinya terus berpindah-pindah membuat dia pusing. Billy pun kemudian menelepon Pelix kembali.
"Yang punya no ini sedang berada di area Jawa-Barat tetapi lokasinya berpindah-pindah. Sepertinya sedang ada di dalam kendaraan" ucap Billy.
"Baiklah selalu pantau pergerakan nya" titah Pelix sembari menutup panggilan teleponnya pada Billy.
__ADS_1
"Bunda aku akan segera menemukan mu" lirih Pelix.