SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Kepergain Pelix ke Mexico


__ADS_3

Martin dengan raut wajah panik menemui Amora yang masih pingsan di puskesmas itu. Dia melihat kepala dan kaki sang istri di perban yang masih tak sadarkan diri. Kemudian Martin melihat Vivid yang sama kondisinya dengan Amora.


"Yaampun kenapa kalian jadi seperti ini?" gumam Martin.


Pelix yang geram melihat Martin langsung menyeret Martin keluar ruangan pasien.


"Aku sudah tau semuanya" ucap Pelix.


"Maksudmu apa?" tanya Martin heran.


"Kau sudah berpoligami kan?" tanya Pelix.


Mendengar perkataan Pelix, membuat seketika Martin menjadi gugup. Tentunya di segera berbohong dan berkilah agar Pelix tidak mencurigainya.


"Hahaha jangan ngaco kau Pelix, mana ada aku berpoligami. Aku setia kepada Amora" ucap Martin.


Pelix hanya mengeluarkan percakapan dirinya bersama Susan dan poto-poto ketika Martin melangsungkan akad nikah beserta secarik kertas bertuliskan pernikan yang sah di kantor catatan sipil. Hal itu membuat Martin tak bisa berkata apapun juga dan mencelos. Wajahnya menyiratkan kepanikan.


"Dapat dari mana semua bukti itu?" ucap Martin sembari merangsek kerah baju Pelix.


Billy yang melihat itu siap-siap menyerang balik Martin, tetapi Pelix mengibaskan tangannya pertanda tak usah melakukan apapun.


"Slow respon broo tak usah ngegas begitu aku hanya bertanya" ucap Pelix sembari mengibaskan tangan Martin dari kerah bajunya.


"Jangan sampai Amora tahu" ucap Martin.


Pelix kemudian tertawa mendengar ucapan Martin yang seakan ketakutan. Ya takutlah jika sebuah kebohongam besar terbongkar.


"Bahkan Vivid pun tahu kau sudah menikah dengan mantan pacar mu dahulu dan istri kedua mu sudah bicara sendiri padaku" ucap Pelix dengan nada kemenangan.


"Vivid? ART di rumah ku? Sejak kapan dia tahu?" tanya Martin.


"Sejak tadi malam. Kau ingat ada seorang wanita memakai masker dan pura-pura membaca koran itu adalah ART mu dan pria yang duduk di dekat istrimu memakai jaket hitam dan masker dengan topi koboi itu adalah aku" ucap Pelix.


Seketika badan Martin melorot bagai tak bertulang dan tembok puskesmas menjadi tumpuan tubuhnya saat ini.


"Vivid melihatmu ketika dia bersama Amora pergi ke Mall dan kau tahu dia wanita yang cerdik. Ya ART mu itu cerdik dan pintar menyimpan rahasia ku akui itu. Dia sepertinya tidak memberitahukan itu kepada Amora karena takut Amora akan sedih" ucap Pelix


"Jangan membuka rahasia ini pada Amora!" titah Martin.


"Jangan takut broo. Aku takan membuka rahasia itu. Jika akhirnya istrimu tahu maka aku pastikan bukan aku yang mengatakannya" ucap Pelix.


Sesudah berbicara empat mata tersebut, Pelix dan Martin kembali ke ruangaan rawat pasien. Saat itu terlihat Amora masihdalam keadaan pingsan dan Vivid sudah tersadar lebih dahulu terduduk di ranjang pasien.


"Mbak, bagaimana keadaan mu?" tanya Martin.


"Sudah merasa lebih baik tuan" jawab Vivid.


Sikap Vivid saat ini menunjukan ke tidak sukaannya pada sang majikan. Tersirat rasa kecewa di wajahnya dan Martin paham akan hal itu.


"Kamu sudah kuat berjalan?" tanya Martin.


"Kuat tuan" jawab Vivid.


"Bisa ikut saya sebentar? Saya ingin bicara padamu" ucap Martin.


Vivid hanya mengangguk. Lalu Martin segera membantu nya berdiri dan memapahnya menjauhi ruang rawat agar Amora tak mendengar apapun jika sudah siuman.


Mereka pun duduk di bangku kantin puskesmas itu.


"Apa yang terjadi sampai kamu dan Amora seperti ini?" tanya Martin.


"Sewaktu malam itu, saya dan nyonya pergi ke mall, sewaktu jalan pulang saya di cegat oleh seorang lelaki mengajak untuk pulang bersama. Jelas kami menolaknya karena takut kami pun berlari dan saat itu kami menukan pohon manggu besar pinggir jalan. Saat itu mobil yang di ketahui mas Pelix dengan temannya mengejar kami. Kami lalu naik ke atas pohon bambu itu dan duduk di salah satu dahannya. Malam itu nyonya kambuh lagi hipotermia nya tanpa di duga dia meraih sebuah kain lalu di balutkannya ke tubuh nya sendiri tanpa tahu kain itu apa dan milik siapa. Kami tanpa sadar mengobrol dengan seseorang yang posisinya di atas kami. Waktu itu kami pikir dia juga sama sedang bersembunyi di atas pohon manggu, tetapi kami curiga kalau seseorang itu berbicara semakin tidak nyambung dan tertawa cekikikan lalu kami berdua pun memberanikan diri melihat lawan bicara kami dan apa yang terjadi, kami melihat satu sosok wanita menyeramkan dengan taring panjang, sorot mata merah menyala, rambut acak-acakan, kuku hitam panjang dan sedang menggendong bayinya. Hal itu membuat kita tak sadarkan diri lalu jatuh dari pohon itu" tutur Vivid.


Mendengar penuturan Vivid membuat seketika bulu kuduknya meremang. Tetapi ada hal yang lebih penting yang ingin dia tanyakan oada ART nya itu.


"Saya merasa bersalah sekali dengan kalian berdua. Maafkan saya karena tidak bisa menolong kalian. Ada satu lagi yang ingin saya tanyakan ke kamu! Tolong jawab dengan jujur!" ucap Martin.


"Pertanyaan apa tuan?"


"Kamu mengetahui sesuatu tentang saya?" tanya Martin.


"Maksud anda?" tanya Vivid bingung.


"Jujurlah, saya sudah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu sudah memegang rahasia rumah tangga saya! Kamu tahu kan saya sudah berpoligami?" tanya Martin.


"Saya tahu tuan" jawab Vivid.


Hal itu membuat Martin bertambah prustasi dan takut jika Vivid akan membongkar semuanya.


"Tolong jangan katakan apapun pada Amora. Saya takut jika dia mengetahui nya saya akan di tinggalkan oleh nya" ucap Martin.

__ADS_1


"Jika anda takut di tinggalkan oleh beliau, kenapa anda memutuskan untuk menikahi wanita lain? Begini ya tuan, maaf sekali saya berbicara sedikit berani kepada anda karena saya sayang kepada nyonya. Beliau wanita yang baik dan lembut. Boleh saya bertanya satu hal?" tanya Vivid.


"Silahkan!" jawab Martin.


"Motivasi apa sampai anda berani membagi cinta nyonya Amora?" tanya Vivid.


"Saya hanya menolong wanita itu dari ancaman, jika sudah keadaannya aman saya akan menceraikan dia" ucap Martin.


"Bahkan yang anda lakukan akan menambah masalah baru tuan. Maaf jika itu terdengar pahit tetapi saya yakin apa yang saya katakan akan terbukti di kemudian hari. Apalagi jika suatu saat istri kedua anda hamil maka itu akan menjadi musibah di keluarga anda" ucap Vivid.


"Saya sudah berjanji takan menyentuhnya" ucap Martin.


"Apakah kata-kata anda bisa menjadi pegangan tuan? Bagaimana suami istri tidak akan melakukan apapun? Bukannya anda juga begitu awalnya dengan nyonya tetapi akhirnya anda juga melakukannya kan?" tanya Vivid.


Martin tidak menyangka bahwa ART nya ini sangat pandai bicara dalam mode serius dan seakan dapat menghipnotis terhadap lawan bicaranya membuat Martin pusing sendiri.


"Akan ku kirim uang ke rekening mu asal kau tutup mulut akan hal ini dari Amora" ucap Martin.


Vivid hanya terkekeh mendengar kata yang bisa di definisikan sebagai suatu sogokan dan penyuapan itu.


"Simpan saja uang anda tuan, anda hanya bisa memberikan uang kepada saya setiap bulannya dalam bentuk gaji saja tak lebih. Saya akan simpan rahasia itu, tetapi jika nyonya mengetahui itu semua pastikan hal itu bukan dari mulut saya" ucap Vivid sembari melangkah dengan langkah terpincang.


Tinggalah Martin seorang diri dengan mulut ternganga.


Vivid berjalan terseok mengingat kaki nya yang masih terasa ngilu.


"Bisa saya bantu?"suara bariton menghentikan langkah pincang Vivid.


Seketika Vivid menjadi geram dengan pria yang ada di hadapannya.


" Tak usah so baik anda. Karena anda dan mas Pelix saya dan majikan saya menjadi celaka seperti ini" ucap Vivid di selimuti rasa emosi kepada Billy.


"Maafkan saya ya cantik. Salah kalian kenapa pergi begitu saja" ucap Billy sembari menangkupkan kedua tangannya.


Vivid yang melihat wajah Billy yang di tumbuhi brewok membuat dia semakin takut.


Billy pun ingin membantu dan meraih tangan Vivid namun seketika dia mengempaskan tangan Billy.


"Jangan sentuh saya. Bahkan melihat wajah anda pun membuat saya takut" seru Vivid dengan bergidik.


"Hei saya ini manusia biasa bukan hantu" balas Billy sedikit marah.


"Melihat anda marah saya serasa melihat sun go kong sedang marah kepada dewa ketika memperebutkan kitab suci" ucap Vivid dengan sedikit terkekeh.


"Turunkan aku hei" ucap Vivid meronta.


"Diam kau nona atau aku akan merusak keperawanan mu" ucap Billy.


"Dasar monyet cabul. Turunkan aku gila" ucap Vivid.


Billy menurunkan Vivid di ranjang pasiennya. Terlihat Amora sudah sadar dan di tunggui oleh Pelix hingga tak lama Martin pun menyusulnya.


"Martin, apa kau masih membutuhkan supir dan penjaga peternakan?" tanya Pelix.


"Masih" jawab Martin sedikit lesu.


"Kebetulan teman ku ini sedang membutuhkam pekerjaan! Betul kan sodara Billy Anderson?" tanya Pelix.


Billy yang seorang anak konglomerat sekaligus bawahan Pelix merasa sangat terkejut.


"Apa-apaan kau, kenapa menyuruhku bangsat?" bisik Billy.


"Sudah kau nurut saya dan setujui perkataanku" ucap Pelix.


"Gaji yang kuberikan kecil" ucap Martin.


"Tak apa-apa dia senang dengan uang kecil" ucap Pelix.


Hal itu membuat Billy tambah emosi.


"Baiklah sodara Billy saya menerima anda untuk bekerja di rumah saya sebagai supir pribadi" ucap Martin.


Billy pun mengangguki nya dengan tersenyum seolah di paksakan.


"Semoga kamu betah ya" ucap Amora kepada Billy.


Billy hanya menganggukan kepala nya saja tetapi pandangannya tak lepas dari Vivid yang sedang terbaring sembari mengamati perbincangan Pelix dan Martin.


Di tengah keheningan, tiba-tiba ponsel nya berdering.


"Hallo dengan Martin Antonio Candelaz" ucap Martin.

__ADS_1


"Apa? Di rumasakit mana?“


" Baiklah saya segera kesana" percakapan Martin dengan seseorang di balik telepon.


"Siapa itu mas?"tanya Amora lemah.


" Oh bukan siapa-siapa. Ini hanya karyawan ku saja. Yasudah aku pergi dulu nanti ku kemari lagi" ucap Martin sembari mencium pucuk kepala sang istri.


"Amor aku juga ingin pamit. Sore nanti aku akan pergi ke Mexico ada tugas. Disini ada Billy yang akan mengantar mu kemana saja" ucap Pelix sembari mencium kening Amora


Amora pun spontan menangis sesegukan mengingat hanya Pelix lah yang menjadi tumpuannya.


"Kamu akan meninggalkan ku Pel?" tanya Amora lirih.


"No sayang! Ini hanya sementara. Paling lama satu tahun" ucap Pelix.


"Satu tahun itu waktu yang lama Pel. Terus aku ini bagaimana?" tanya Amora sembari memeluk tubuh Pelix.


"Hei pandang aku Amora! Semua ini akan baik-baik saja sayang. Masih ada suamimu bukan?" tanya Pelix.


"Dia memang suamiku, tapi tidak ada untuku Pel" ucap Amora dengan tangisnya.


Pelix kemudian duduk di samping Amora dan mencium bibir Amora dengan gemasnya hingga Billy dan Vivid sampai melongo.


Amora yang merasakan teramat rindu dengan Pelix pun membalas ciuman dengan tak kalah ganasnya. Seakan tak melihat bahwa ada manusia lain di hadapannya. Pelix dengan rakus terus menciumi inci demi inci wajah Amora sampai menjilati kuping dan leher Amora.


"Hei kalian mau bercinta disini? Ingat ada mahluk polos yang menjadi ternoda karena melihat kalian" ucap Billy sembari menutupi mata Vivid yang masih ternganga.


Pelix dan Amora hanya senyum malu sambil mengatur ritme nafas yang tersenggal akibat ulah singkat mereka yang memabukan.


"Nyonya berciuman seperti itu apa tidak jijik?" Tanya Vivid polos.


Amora hanya tersenyum malu dan memalingkan wajahnya.


"kenapa harus jijik sih mbak. Ini enak tahu sensasinya. Kalau kamu mau, coba aja dengan Billy pasti geli-geli gimana gitu kan punya brewok" goda Pelix.


Seketika Vivid merasakan mual ketika melihat wajah Billy yang penuh dengan brewok itu.


"Maaf mas Bill, kok saya jadi mual melihat wajah anda ya?" ucap Vivid.


Spontan Billy pun meraih tangan Vivid dan mengusap-usap pada wajahnya membuat Vivid takut tetapi tertawa geli.


"Kalau kamu body shaming lagi saya akan panggil hantu yang semalam di atas pohon itu karena dia semalam ada kemari ingin melihat keadaan kalian cuma saya mengusirnya" ancam Billy.


"Membayangkan nya saja sudah membuat saya ngeri. Lagian ada-ada saja masa yang kaya gitu bisa di panggil" ucap Vivid.


"Billy ini anak indihome bisa melihat yang seperti itu" ucap Pelix menimpali.


"Indigo bodoh" ucap Billy.


"Iya itu" ucap Pelix.


"Tapi aku terimakasih dengan dia, berkat bajunya aku tak jadi hipotermia" ucap Amora.


¥


Sementara di rumasakit, Susan tengah di suapi makan oleh Martin dengan keadaan perban di kepala.


"Kenapa bisa terjatuh di kamar mandi?“ tanya Martin.


"Tak tahu lah Tin, aku mendadak pusing saat ingin buang air kecil. Untungnya orang yang suka bersih-bersih di apartemen datang dan menemukanku pingsan" tutur Susan.


"Syukurlah kamu tidak sampai geger otak" ucap Martin.


Di rumasakit yang sama, Marini tak fokus untuk bekerja sampai ada beberapa pasien yang protes atas kinerjanya.


"Arggghh kenapa aku bisa gak fokus begini soh?" kesal Marini.


Sesudah jam istirahat, demi menghilangkan rasa jenuhnya Marini pun berjalan-jalan di area rumasakit hingga dia tertuju pada kamar no 152 yang terdapat Martin sedang mengobrol dengan seorang wanita.


Jiwa keponya sangat tinggi dia pun berpura-pura duduk di sebrang pintu dengan memakai masker.


Marini pun dengan seksama memperhatikan wanita itu.


"Itu bukan Amora. Lantas dia siapa?" gumam Marini.


Terdengarlah suara Mereka berdua yang membuat Marini terlonjak.


"Tin, sudahlah jangan memberikan aku perhatian yang banyak. Perhatikanlah Amora dia istri sah mu" ucap Susan.


"Amora dan kamu sama-sama istriku Sus! Takan ku beda-beda dalam semua perlakuanku" jawab Martin.

__ADS_1


Degdegdeg!!! Tiba-tiba Marini seakan di sengat oleh ribuan volt listrik dan seakan bisa menebak alasan Amora selingkuh karena dia sebenarnya wanita kesepian hingga akhirnya menggoda Pelix.


"Ckkkhhhh~~Wanita kesepian ternyata kau Amora pantas saja menggoda kekasihku" gumam Marini yang langsung meninggalkan ruangan itu dan pergi menuju kantin.


__ADS_2