
Malam ini Billy sudah tiba di Indonesia kembali setelah menghabiskan waktunya di negara sang kakek. Di Brasil dia hanya berdiam diri di rumah tak pergi ke club malam ataupun mengencani wanita bule disana. Tekadnya sudah bulat ingin menikahi sang pujaan hatinya yang tak lain dan tak bukan ialah Vivid seorang. Dia pun segera pulang menuju mansionnya.
Billy menghela nafas berat karena rumah semegah dan semewah itu tidak ada siapa-siapa terkecuali semua ART yang sudah sepuh. Semenjak tragedi pembantaian orang tuanya beberapa tahun silam, tepat di rumah itu menjadikan dia jarang sekali menginjakan kakinya disana. Rumor juga mengatakan bahwa rumah megah itu angker karena menjadi tempat terbunuhnya satu keluarga hingga beberapa kali ingin di jual tak pernah ada yang membelinya, tetapi Billy sama sekali tidak takut jikapun arwah keluarganya datang.
Billy melepaskan nafasnya dengan kasar kala memasuki rumah itu. Dan langsung di sapa oleh semua ART nya.
"Selamat datang kembali di rumah ini tuan Muda!" ucap salah satu ART senior disana.
"Terimaksih mbok. Bagaimana keadaan rumah ini selama aku tidak ada di sini?" tanya Billy pada ART nya yang bernama mbok Dasimah.
"Baik-baik saja tuan muda! Tetapi ya sesekali selalu ada suara-suara aneh dari tempat ~~" ucap mbok Dasimah tak mampu melanjutkan bicaranya karena takut menyinggung Billy.
"Ya aku paham mbok" ucap Billy sembari berjalan menuju kamar bekas TKP dahulu.
Dia membuka ruangan yang sudah lama tidak pernah tersentuh karena ART nya pun takut untuk membersihkannya.
Ruangan sunyi dan sedikit pengap itu membuat air mata Billy tumpah. Dia memandangi lukisan orang tuanya dan adik perempuannya dengan senyum mengembang.
"Papa dan mama, Aku rindu pada kalian! Semoga kalian bisa tenang di alam sana karena aku disini kuat dan ikhlas" Billy menangis dan meraih pigura itu.
Kemudian ekor matanya melihat piano yang dahulu selalu di mainkan oleh mamanya kini sudah tertutup dengan debu.
"Mama selalu bernyanyi dan bermain piano untuk ku dan adikku Marsya! Oh tuhan aku merindukan itu" lirihnya.
Sesudah melihat-lihat piano kemudian dia berjalan ke arah lemari besar dan melihat beberapa tongkat golf tertata rapih disana milik sang papa.
"Aku ingat papa selalu mengajaku olahraga golf ketika papa libur bekerja. Semoga kalian menjadi ahli surga" Billy masih memangis.
Kemudian Billy menatap boneka usang di atas meja milik mendiang sang adik.
"Boneka kesayanganmu adik..Aku jadi rindu saat kau merengek minta di temani bermain boneka" ucapnya sembari memeluk boneka usang itu.
Sesudah puas berdiam cukup lama di ruangan yang katanya angker, Billy pun keluar dan menghampiri semua ARTnya.
"Saya mohon dari mulai hari ini bersihkan ruangan itu ya karena saya mau bersih lagi dan barang-barang peninggalan mendiang orang tua saya di bersihkan. buka pintunya kalau siang dan lampu harus kembali di nyalakan kalau malam. Dan jangan takut karena sejatinya yang sudah meninggal tidak akan hidup kembali. Jika sudah bersih tolong undang pemuka agama untuk membersihkan atau mendoakan keluarga saya" Billy pun segera berlalu dari rumahnya.
Ketika di perjalanan menuju entah kemana karena satu-satunya orang yang dekat dengan Billy adalah Pelix dan saat itu Pelix sedang tidak ada di Jakarta, terpaksa dia hanya berputar-putar tanpa arah dan tujuan.
"Begini rasanya tidak punya keluarga? Sepi dan hampa" gumamnya.
Dia pun membelokan mobilnya menuju perusahaan milik orang tuanya.
Di kantor itu Billy sering tidak masuk dan hanya di percayakan saya pada asisten pribadinya.
"Bagaimana perkembangan perusahaan sekarang?" tanya Billy dengan berpangku pada kursi kebesarannya.
"Sedikit anjlok karena anda tidak ada jadi investor menganggap ini perusahaan abu-abu tanpa jelas siapa pemiliknya" ucap sang asisten pribadinya.
"Kenapa bisa seperti itu? Di dalam data kepemilikan sudah jelas aku lah CEO nya dan sebagai pemilik yang sah" jelasnya dengan nada bicara yang tegas.
"Maka dari itu saya menyarankan supaya anda bisa maksimal berada di perusahaan ini dan mengemban amanah yang di berikan oleh Tuan Eduardo, papa anda!" ucap sang asisten dengan sungguh-sungguh.
Billy tampak menimang-nimang seruan dari sang asisten dan tak lama dia pun menyetujui hal itu. Dia akan fokus memimpin perusahaan peninggalan sang papa.
Dia pun meninggalkan kantor. Sebelum bertemu dengan Vivid, Billy seorang pria yang maniak terhadap para wanita-wanita j@l@ng. Mereka tidak di bayarpun dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk Billy tiduri. Dan ketika dia sedang kesal ataupun jenuh, dia bisa menyewa satu bar semalam suntuk dan minum alkhol di temani para lady's night sampai kadang dia tak sadarkan diri. Kehadiran Vivid membuat seakan menjungkir balikan dunianya terhadap semua kebiasaan buruk itu.
__ADS_1
Billy kadang bersikap layaknya seorang gembel karena ingin merasakan hidup susah. Pernah sekali dia sampai tidur di dalam rumah ibadah atau di emperan pertokoan.
Tangam kekarnya kemudian mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan langsung menghubungi Pelix.
"Hallo! Dimana kau sekarang?" tanya Pelix.
"Di Jakarta! Kau dimana bangsat?" tanya Billy.
"Sedang di rumah bundaku! Kapan kau pulang?" tanya Pelix.
"Tadi ku baru tiba ke Jakarta. Bos kau tahu alamat Vivid dimana?" tanya Billy.
"Tahu, tapi takan kuberitahukan padamu" Pelix menggelegar di seberang panggilan itu.
"Badit kau ya! Cepat berikan alamatnya sekarang aku akan kesana!" tegas Billy.
"Orangnya sudah berpesan padaku, jika kau meminta alamatnya jangan di berikan
" Oh tuhan kau mulai jahat padaku! Mana alamatnya berikan sekarang?" tanya Billy kesal.
"Baiklah nanti kukirim lewat pesan singkat dasar kau tuan pemaksa" ucap Pelix.
Dia pun memberikan alamat rumah Vivid pada Billy.
Billy langsung tancap gas menuju alamat yang di berikan Pelix.
•
Vivid sedang sibuk membantu ibunya melayani pembeli di toko barunya, tiba-tiba notifikasi sebuah pesan mampir ke Whatsapnya.
"Siapa ya kok aku jadi takut begini mana panggil-panggil aku honey segala" gumannya.
Tak lama dia terperanjat kala mengingat siapa yang suka memanggilnya dengan kaya honey.
"Mas Billy? Apa benar ini dia? Tapi apa maksudnya menyuruhku mempersiapkan diri? Lucu sekali mas brewok ini. Tapi dia tidak mungkin datang karena dia tidak tahu alamatku" gumannaya dalam hati.
Vivid pun segera menghampiri Mirna sang adik yang sama-sama membantu melayani pembeli dan kadang membereskan tokonya.
"Mbak kalau cape istirahat saja biar Mirna yang layani pembeli" ucapnya.
"Kamu memang sudah hapal harganya? Kemarin ibu menjual roko perbungkusnya lima ribu jadi kita rugi Mir" ucap Vivid sembari mengurut kakinya.
"Sudah mbak! Semalaman aku ndak tidur ngapalin harga barang-barang ini. Kan kalau mbak kerja lagi aku bisa jualan dan membantu ibu" ucap Mirna dengan tangan membawa catatan harga dagangan.
"Yasudah kalau kamu hapal harga-harga! Mbak kedalam dulu ya pengen istirahat" Vivid berjalan ke dalam rumahnya dengan langkah gontai.
Di dalam ruang tamu, dia terus saja memikirkan chatan yang kemungkinan dari Billy itu.
Malam pun tiba, Saatnya Vivid menutup tokonya. Tetapi suara seorang pria membuatnya syok.
"Mbak saya beli mineral waternya satu botol" ucap pria itu.
Saat itu Vivid tak melihat siapa pria yang di hadapannya karena sedang sibuk menutup tokonya.
"Maaf mas tokonya mau tutup" ucap Vivid dengan badan membelakangi pria itu.
__ADS_1
"Saya mau air sekarang. Berikan cepat" ucap pria itu.
"Maaf kok anda maksa ya mas" ucap Vivid dengan badan masih membelakangi pria itu.
"Honey" ucapnya.
Deg Deg Deg!!!! Seketika jantung Vivid berdebar bertalu-talu dengan kencang. Seketika dia pun membalikan badannya.
Dirinya langsung diam terpaku kala melihat sosok siapa yang datang.
"Mas Bill" ucapnya pelan.
"Ya ini aku honey! Aku sangat merindukanmu" ucapnya sembari memeluk Vivid.
"Tapi mas jangan pelukan disini takut ada orang melihat dan aku tutup toko sebentar ya kamu tunggu di kursi" ucap Vivid dengan terburu-buru menurunkan rollingdor itu.
Setelah selesai, dia pun langsung menghampiri Billy dan memandang pria tampan itu dengan perasaan yang tak menentu.
"Kamu tambah cantik honey! Apa kau tahu kusangat merindukanmu cinta" Billy memandang lamat-lamat wajah pujaan hatinya dari dekat.
Tangan kokohnya menyentuh wajah Vivid dan membelainya dengan sangat lembut.
"Mas Bill kok bisa kemari?" tanya Vivid heran.
"Itu hal mudah bagiku. Apa kau tak ingin mengajak tamumu ini masuk, hem?" tanya Billy.
"Yasudah ayo kita masuk mas" ucap Vivid.
Mereka pun masuk kedalam rumah itu. Disana sudah ada ibu dan Mirna yang sedang menonton sinetron yang sedang viral berjudul: Jangan bercerai nenek.
Melihat Vivid masuk dengan seorang pria tampan membuat snag ibu dan Mirna melongo seperti sapi ompong.
"Bu ini aku bawa seseorang dari Jakarta" ucapnya.
"Ganteng banget seperti gambaran dewa Yunani" ucap Mirna.
"Tampannya cah bagus" ucap sang ibu.
"Ini siapa nduk?" tanya sang ibu lagi.
"Ini mas Billy" ucap Vivid dengan mulut kaku.
"Yasudah ayo ajak dia duduk" ucap sang ibu.
Billy pun duduk di kursi rumah itu, lalu ibunya Vivid menghampirinya.
"Mas ini teman Vivid?" tanyanya dengan logat jawa yang medok.
"Benar sekali ibu! Saya temannya Vivid dari Jakarta" jawab Billy.
"Nduk buatkan temanmu kopi atau teh. Kasian pasti dia lelah sekali" Sang ibu menyuruh Vivid segera kedapur.
Tak lama teh hangat pun tersaji.
"Ada apa mas Billy jauh-jauh menemui aku?" tanya Vivid dengan gugup.
__ADS_1
"Begini honey, aku sengaja ingin menemuimu karena aku ingin melamarmu" ucapnya spontan.