SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Kepergok Dan Bertemu Hantu


__ADS_3

Amora yang sepulang dari acara sudah di tinggal oleh Martin hanya bisa diam sembari menonton tv.


"Mbak Vivid kemari" ucap Amora.


"Ya nyonya ada apa?" tanya Vivid.


"Ke mall yuk? Jenuh banget saya di rumah" jawab Amora.


"Dengan senang hati nyonya" ucap Vivid bahagia.


Mereka berdua pun pergi dengan mengunakan taksi online.


Β₯


Sementara Susan yang sudah memasuki mall mendapat panggilan telepon dari Martin.


"Sus, kamu ada di mana sekarang?"


"Aku ada di mall Cemara" jawab Susan.


"Aku kesana sekarang" ucap Martin.


Tak berapa lama, Martin pun sampai di mall tersebut dan langsung menghampiri Susan.


Terlihat keadaan Martin saat itu yang sangat kacau membuat Susan terheran-heran.


"Are you oke?" tanya Susan.


"Bad" jawab Martin sendu.


"Lantas ada apa?" tanya Susan.


"Ada seseorang yang menghasut semua client ku agar mereka membatalkan perjanjian penanganan kasusnya. Mereka ramai-ramai datang ke kantor ku dan membatalkan surat kuasanya padaku. Aku memang ada musuh tetapi mereka tak sampai melakukan itu semua. Dan kamu tahu dampak nya aku akan mengalami kerugian dan kehilangan uang milyaran" ucap.Martin sembari memijat pangkal hidungnya.


"Kamu tenang dulu kita akan cari solusi. Apa kita menyewa detektif saja agar kau bisa temukan dalang di balik itu semua?" tanya Susan sembari menenangkan Martin.


Ketika Martin dan Susan sedang duduk di kursi Mall itu, Vivid tak sengaja melihat mereka berdua dengan posisi tangan Susan sedang mengusap-usap punggung Martin.


"Itu kan tuan Martin tapi wanita itu siapa ya? Aku tak mungkin memberitahukan nyonya, takutnya malah bertengkar disini" gumam Vivid.


Ketika mata Amora ingin melirik ke arah Martin, Vivid dengan cepat mengalihkan pandangan Amora agar tidak melihat Martin.


"Nyonya lihat gelang nya cantik banget. Kita lihat-lihat kesana saja" ucap Vivid yang kemudian di setujui oleh Amora.


Sesampainya di toko aksesoris, Vivid langsung mengajak Amora untuk menjauhi kawasan dimana Martin berada.


"Nyonya kita ke toko sebelah sana saja atau ke toko sepatu atau ke resto saja" ucap Vivid dengan nada paniknya.


"Loh kok ngajak pindah terus sih mbak. Kamu kenapa sih hari ini kok aneh dan gak jelas banget?" tanya Amora sebal.


"Duh kok perut saya lapar nya nyonya. Ayo kita makan saja" ucap Vivid sembari menarik tangan Amora.


Sesampainya di resto, Vivid meminta izin untuk pergi ke toilet.


"Nyonya saya izin ke toilet dulu ya. Semua makanan sudah saya pesankan sesuai kesukaan nyonya" ucap Vivid.


"Iya mbak" jawab Amora.


Vivid pun langsung berlalu dan berjalan menghampiri keberadaan Martin dan susan. Vivid berjalan dari arah belakang hingga Martin tak mengetahui kedatangannya.


"Aku harus bisa pastikan apa yang tuan bicarakan dengan wanita itu. Aku tidak mau salah menduga. Aku tidak mau nyonya disakiti" gumam Vivid.


Vivid langsung memakai Masker dan pura-pura membaca koran dengan duduk di belakang kursi Martin. Hingga dia mendengar sebuah kalimat yang sangat membuat dia terkejut.


"Tin, apa kita sebaiknya cerai saja? Aku rasanya seperti tawanan yang setiap hari harus merasa ketakutan. Ketakutan di atas bayang-bayang istrimu" ucap Susan.


Degggggg!!! Seketika debaran jantung Vivid meningkat dan bertalu dengan cepatnya.


"Apa? Tuan Martin sudah menikah dengan wanita ini? Apa nyonya tahu atau ini sebuah pernikahan rahasia? Duh gusti kenapa rumah tangga majikanku bisa sekonyol ini? Nyonya selingkuh dengan mas Pel, lalu tuan Martin menikah dengam wanita ini. Semua itu membuat ku pusing" ucapnya dalam hati dengan beribu pertanyaan.


"Aku tidak mau menceraikanmu sebelum kamu merasa aman" ucap Martin pada Susan.


"Menikahi agar merasa aman, maksudnya apa ya?" gumam Vivid dalam hatinya.


Martin dan Susan kemudian hening lalu Vivid segera meninggalkan mereka dan kembali ke resto menemui Amora.


Terlihat Amora yang sudah kesal katena menunggu Vivid yang lama.


"Nyonya maaf saya agak lama" ucap Vivid.


"Mbak dari mana saja sih? Lihat pesanan saya sudah saya makan sampai habis" ucap Amora kesal.


"Maaf nyonya saya tadi sakit perut maaf ya" ucap Vivid sembari menangkupkan tangannya.


Melihat Vivid yang seperti itu Amora pun memaafkannya.


"Yasudah mbak tidak apa-apa. Maafkan saya sudah marah" ucap Amora dengan seberkas senyuman.


Ketika Amora sedang minum, netra Vivid memandanginya hingga air matanya menetes. Menyadari dirinya sedang di perhatikan Vivid, Amora pun mendongak dan Vivid segera memalingkah wajahnya


"Mbak kenapa memandangi saya sampai berkaca-kaca?" tanya Amora.


"Hmmmm~~hmmmmmmm.. tidak nyonya! Saya hanya terharu saja karena mempunyai majikan sebaik nyonya Amor" ucap Vivid.


"Eumzz saya jadi terharu" ucap Amora sembari memeluk Vivid.


"Maafkan saya nyonya, untuk saat ini saya terpaksa berbohong dan tak ingin mengatakan jika tuan Martin sudah menikah lagi itu artinya dia berpoligami" gumam Vivid.

__ADS_1


"Nyonya sudah makannya?" tanya Vivid.


"Sudah. Tapi kan kamu belum makan mbak!" jawab Amora.


"Saya mendadak kenyang nyonya. Kita pulang saja bagaimana? Ini sudah malam saya khawatir pulangnya kita perempuan berdua takut kenapa-kenapa" ucap Amora.


"Baiklah ayo" ucap Amora.


Ketika mereka ingin mencegat taksi di depan mall itu, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di hadapan mereka lalu keluarlah seorang lelaki tampan dengan di penuhi brewok.


"Nona ini mau kemana?" tanya lelaki itu.


Amora dan Vivid sontak merasa terkejut.


"Ayo ikut saya saja" ucap lelaki itu.


"Nyonya, bagaimana ini saya takut nyonya, jangan-jangan dia penculik yang suka menjual organ tubuh atau mafia perdagangan manusia atau tukang hipnotis" gumam Vivid yang masih bisa di dengar oleh lelaki itu.


"Saya pun berfikir begitu. Yasudah mbak dari pada kita mati sia-sia mendingan kita LARIIIIIIIβ€œ teriak Amora sembari berlari di ikuti oleh Vivid.


Lelaki itu masuk ke dalam mobil dan berusaha mengejarnya.


Amora yang kesusahan berlari berhenti sejenak untuk melepas highilnya.


"Huh huh huh nyonya cape banget ya ampun" ucap Vivid.


Sementara lelaki yang berada di dalam mobil menertawakan tingkah kedua wanita itu.


"Kenapa kau tak turun saja menghampiri mereka?" ucap Lelaki itu kepada sahabatnya.


"Aku masih ingin melihat Kelucuan mereka" ucap lelaki itu.


"Kau lihat wanita yang badannya mungil dan hitam manis itu namanya Vivid. Dia asisten di rumah Amora dia masih jomblo" ucap lelaki itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pelix.


Pelix sebenarnya ingin mengajak Amora dan Vivid untuk pulang bersama, tetapi mereka malah ketakutan dab berlari hingga dia mengejarnya.


Sementara Amora terus saja berlari dengan Vivid hingga menemukan sebuah pohon manggu besar di pinggir jalan.


"Nyonya kita naik pohon itu saja agar penculik itu tidak menemukan kita" ucap Vivid.


"Baik mbak saya duluan yang naik" ucap Amora.


Mereka berdua pun naik ke atas pohon manggu, guna menghindari pelix yang dikira penculik.


Di jalan Pelix terus mengejar Amora tetapi dia kehilangan jejaknya rasa khawatir pun seketika datang.


"Sudah ku bilang harusnya kau yang turun saja tadi, bukan menyuruh ku. Mereka mengira aku lah seorang penculik dan sindikat perdagangan organ dalam" ucapnya.


"Hei Billy, mana ku tahu mereka bakal ketakutan seperti itu?β€œ ucap Pelix pada Billy sahabatnya.


Sementara Amora dan Vivid masih bertahan di atas pohon manggu itu mereka enggan turun karena takut mobil itu masih mengikuti mereka, dan benar saja mobil itu melaju ke arah pohon manggu itu.


"Kita harus tenang nyonya jangan sampai mereka mengetahui kita bersembunyi disini" ucap Vivid.


Di dalam mobil, Pelix bersiap-siap untuk turun mencari Amora.


"Pakai masker dan topi Bill" ucap Pelix


"Baiklah" jawab Billy.


Pelix memarkirkan mobil nya di bawah pohon manggu itu dan mereka mulai mencari keberadaan Amora dan Vivid.


"Ini hutan, kita mau cari kemana lagi?" tanya Billy.


"Diam saja kau bodoh. Aku takut mereka nyasar ataupun jatuh ke dalam jurang" ucap Pelix.


Di atas pohon Vivid dan Amora mulai tak nyaman karena kakinya di kerubungi semut.


"Mbak kaki saya gatal dan perih" ucap Amora.


"Sama nyonya. Kaki saya juga banyak semutnya dan itu arggghhhhhh ulat gede banget" ucap Vivid ketakutan.


"Mbak, saya geli banget sama ulat" timpal Amora.


"Kenapa sih malam ini kita sial banget nyonya? Gara-gara penculik itu kita jadi sengsara"omel Vivid.


" Entahlah saya juga heran" jawab Amora.


Mereka kemudian hening dan menikmati pikirannya masing-masing.


Mereka tak sadar ada sepasang mata yang mengawasi mereka dengan senyum menyeringai.


Lama mencari keberadaan Amora dan Vivid yang tak membuahkan hasil, Pelix dan Billy pun kembali ke tempat mereka memarkirkan mobil nya di bawah pohon manggu.


Di atas pohon, Amora mulai merasakan lagi hipotermia dan mengigil.


"Mbak hipotermia saya kambuh lagi" ucap Amora dengan bibir gemeratuk.


"Duh bagaimana ini saya tak bawa Jaket" ucap Vivid.


Tanpa sadar Amora meraih sebuah kain yang menjuntai berwarna putih lusuh, lalu Amora segera membalutkan kain itu ke badannya.


Vivid yang tak memperhatikan diam saja tak menaruh curiga.


"Nyonya anda baik-baik saja?" tanya Vivid.


"Baik kok. Terimakasih ya mbak kainnnya hangat" balas Amora.

__ADS_1


Mendengar kain membuat Vivid terheran pasalnya dia tak memberikan apapun pada Amora.


"Kain apa nyonya?" tanya Vivid heran.


"Ini kainnnya" jawab Amora.


Vivid pun melihat ke arah Amora dan terlihat lah tubuh Amora yang sudah berselimutkan kain putih lusuh.


"Saya tak memberikan apapun pada nyonya" ucap Vivid mulai si selimuti rasa takut.


"Terus ini punya siapa?" tanya Amora.


Kemudian seseorang menimpali pembicaraan mereka.


"Berhenti menarik-narik bajuku" ucap seseorang di atas mereka.


"Siapa dia?" tanya Amora.


"Mungkin dia juga sama seperti kita nyonya sedang bersembunyi dari penculik itu" jawab Vivid yang belum merasa curiga.


"Mbak makasih ya bajunya hangat sekali saya itu kalau kedinginan suka menggigil" ucap Amora dengan polosnya tanpa melihat lawan bicaranya.


"Hihihi.. Aku sedang menunggu pacarku kemari namanya mas slamet" ucap wanita itu.


"Owh pacar mbak namanya slamet? Kenapa menunggu di atas pohon? Bagaimana jika beliau tidak melihat mbak?" tanya Vivid yang masih mode polos nya.


"Aku akan terus nunggu dia disini. Kenapa kalian menganggu tidur anaku? Dan berani bertamu ke rumahku?" tanya suara itu.


Amora dan Vivid seketika langsung saling melemparkan pandangan dan rasa takut mulai menjalar di seluruh tubuhnya.


"Maksud mbak apa ya? Ini kan pohon manggu bukan rumah dan kenapa mbak membawa anak kemari, kasian loh dingin begini bayi bisa sakit!" ucap Vivid bertanya-tanya.


"Ini memang rumahku. Aku disini sudah dua ratus tahun menunggu kedatangan mas Slamet hikhikhik" ucap seseorang itu dengan menangis.


"Mbak perasaan saya kok tidak enak" ucap Amora.


"Saya juga sama nyonya kok bulu kuduk saya berdiri semua"jawab Vivid dengan badan gemetar.


"Jangan takut aku takan mengigit kalian kok" ucap seseorang itu.


Dengan rasa penasaran yang membuncah akhirnya Vivid dan Amora memberanikan diri untuk melihat sumber suara itu dan betapa terkejutnya yang mereka lihat adalah sesosok wanita dengan taring panjang dimulutnya, sorot matanya merah menyala, rambutnya panjang acak-acakan dan berkuku hitam panjang nan runcing sedang menggendong bayi memandang tajam ke arah dua wanita yang sedang ketakutan.


Seketika seluruh badannya lemas tetapi badan mereka tak bisa bergerak sedikitpun.


"Kamu hantu?" tanya Vivid pada sosok itu dengan polosnya


"Hihihihi." suara sosok itu hanya tertawa.


Mendengar itu Amora dan Vivid merasakan bayangan menjadi memudar dan gelap seketika.


Mereka pingsan di atas pohon lalu jatuh hingga terkapar di bawah pohon manggu itu.


Pelix yang sedang berjalan ke arah mobilnya seketika berlari mengetahui ada wanita yang tergeletak di sana.


"Billy sepertinya mereka yang kita cari" ucap Pelix sembari berlari.


Benar saja dugaan Pelix. Wanita yang terkapar itu adalah Amora dan Vivid.


"Apa yang terjadi dengan mereka dan kenapa bisa berada disini" ucap Billy.


Lalu dari atas pohon seseorang menimpali perkataan Billy.


"Mereka bersembunyi di atas rumahku dan pingsan ketika melihat wajah cantiku" ucap nya.


"Siapa itu?" tanya Pelix.


"Mas ganteng, kamu mirip pacarku mas Slamet. Aku loh Marni di atas mu" ucap seseorang itu.


Pelix dan Billy pun seketika melihat ke atas dan melihat sesosok wanita sedang tergantung dengan posisi kepala di bawah kaki di atas.


"Nah kan aku paling males berurusan dengan mereka" ucap Billy.


"Cepat bawa Vivid aku akan bawa Amora ke dalam mobil" ucap Pelix dengan wajah ketakutan tetapi masih bisa mengontrol situasi.


Di dalam mobil Amora dan Vivid masih tak sadarkan diri, lalu mobil utu berhenti di sebuah puskesmas.


"Kita sementara bawa mereka kemari" ucap Pelix.


"Niat hati ingin memberikan kejutan untuk Amora karena besok kau harus pergi ke Mexico, kenapa ujung-ujungnya jadi seperti ini" ucap Billy.


"Entahlah" jawab Pelix bingung.


Β₯


Sementara Martin yang sudah tiba di apartemen nya bersama Susan tiba-tiba mendapatkan panggilan dari Pelix.


"Brooo Martin, istrimu kecelakaan bersama Vivid sekarang mereka di rawat di puskesmas" ucap Pelix di sebrang telepon.


"Amora, Amora yaampun kenapa bisa kecelakaaan? Aku kesana sekarang kirim alamatnya" ucap Martin sembari mengambil kunci mobilnya.


"Tunggu! Ada apa ini?" tanya Susan.


"Amora kecelakaan bersama asistennya. Aku harus kesana" jawab Martin.


"Ya tuhan kenapa bisa. Cepat sekarang kamu pergi temui istrimu cepat" ucap Susan dengan wajah paniknya.


Martin pun bergegas menemui sang istri yang berbaring lemah.

__ADS_1


Hai-hai... Ceritanya sengaja author tambahin unsur horor nya biar pembaca gak bosan.. Tetap dukung karyaku ya dengan cara like terus...Terimakasih...🌳🌳🌳🌼πŸ₯€πŸŒΌπŸ₯€πŸŒΈπŸ₯€πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΉπŸŒΈπŸŒΌπŸ‚πŸ„πŸ‚πŸŒ·πŸ˜˜πŸ˜


__ADS_2