
Malam itu, Marini dengan Elizabeth sedang asik berbincang sembari menonton sinetron yang berjudul suara hati suami. Tiba-tiba dari luar seseorang mengetuk pintu dengan sangat kerasnya.
Dor dor dor!! Suara ketukan pintu itu.
"Siapa sih Rin malam-malam begini ketuk pintu kencang sekali mama jadi takut" ucap Elizabeth.
"Gak sopan banget siapa sih. Biar aku saja yang membukanya" ucap Marini sembari melangkah pergi menuju arah pintu.
Pintu pun di buka, dan betapa terkejutnya ternyata sosok Ricky yang muncul dengan wajah babak belur langsung pingsan menubruk badan Marini.
Seketika Marini menjerit ketakutan.
"Argghhhhhhhhhh Ricky kenapa kamu? Bi Jumi, bi Jumi cepat kemari tolong saya" ucap Marini memanggil nama ART nya.
Bi jumi pun dengan tergopoh berlari menghampiri Marini.
"Ada apa non?" tanya bi Jumi dengan nafas terengah.
"Bi tolong bantu dia masuk ke rumah" ucap Marini.
Dia pun di bantu bi Jumi menggotong badan Ricky yang lumayan berat dan kekar itu masuk kedalam kamar Marini.
Elizabeth pun sampai shok melihat keadaan Ricky yang babak belur. Di baringkan lah tubuh Ricky di atas ranjang Marini. Dia segera mengambil kota P3K untuk mengobati luka-lukanya.
"Apa yang terjadi dengan anak ini?" Tanya Elizabeth.
"Entah lah ma, aku pun tak tahu dengan kejadian ini. Apa sebaiknya kita bawa saja ke rumasakit ya?" tanya Marini pada sang ibu.
"Jangan nanti urusannya ribet. Kamu harusnya berpikir kenapa dia malah kemari bukannya pulang ke rumah orang tuanya atau langsung saja ke rumasakit itu artinya dia percaya kepada kita Rin" tutur sang mama
"Iya juga sih, tapi kenapa ke kita ya ma. Argghh ada saja pekerjaan" ucap Marini sedikit kesal.
"Husss jangan begitu Rin, dia sedang terluka. Sebaiknya kamu ambilkan teh hangat, biarlah mama yang menjaga dia disini" ucap Elizabeth.
Marini pun menuruti perintah sang mama untuk membuatkan segelas teh hangat untuk Ricky.
Di kamar, Elizabeth memandang lekat wajah Ricky dan tiba-tiba bulir bening menetes dari netra nya.
"Andai anaku Dustin masih hidup di dunia, mungkin usianya akan sama seperti anak ini" lirih Elizabeth.
Marini pun datang membawa dua gelas teh manis hangat dan melihat sang mama memandang Ricky dengan tatapan sedih.
"Ma, kenapa mama menangis?" tanya Marini.
"Mama hanya ingat dengan Alm adikmu Dustin. Kalau masih hidup pasti seusia dia" ucap Elizabeth. Tiba-tiba Ricky bangun dan langsung terbatuk.
"Ohok ohok!! Aduh kepalaku sakit" lirih Ricky.
Marini pun segera memberikan teh hangat kepada Ricky.
"Kamu kenapa bisa seperti ini?" tanya Marini.
__ADS_1
Ricky hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Marini.
"Rin, jangan dulu di tanya biarkan dia tenang dulu" ucap Elizabeth.
Ricky pun ingin duduk dan langsung di bantu oleh Marini.
"Kamu sudah lebih baik sekarang? Bisa ceritakan apa yabg sebenarnya terjadi?" tanya Amora.
"Aku di pukuli oleh James" ucap Ricky terbata.
"James? James itu siapa?" Marini.
"Dia mantan kekasih pria ku. Dia memaksa untuk belikan kembali dan aku menolaknya alhasil aku jadi seperti ini" ucap Ricky.
POV Ricky.
Semua urusan kantor ku selesai hari ini lebih cepat. Dokter cantik ku kau lah mood booster buatku. Hanya dengan memandang wajahmu saja semangat ku langsung bangkit.
Aku pun segera meninggalkan kantor itu untuk mampir ke rumah Marini. Tak di sangka banyak mata sedang memperhatikan ku di beberapa sudut. Ketika ku sedang dalam perjalanan dan melewati jalanan yang sepi, tiba-tiba segerombolan orang menghadangku dan memaksaku untuk ke luar, lalu mereka membawaku.
“Kalian mau bawa ku kemana hah?" ucap ku.
"Diam kau atau aku bunuh" ucap Pria berbadan tegap itu.
Tibalah di sebuah apartemen mewah dan mereka membawaku dan betapa kagetnya seseorang yang menculiku ternyata lelaki bagian masalalu ku.
"James kenapa kau menculiku bedebah?" tanya ku.
"Sayang kenapa kau jadi buas seperti itu? Apa kau tidak merindukan kekasih pria mu ini?" tanya james homosapiens psikopat.
"Najis!! Bukannya kita sudah mengakhiri hubungan menjijikan ini hah? Kenapa kau masih ganggu aku?" tanya ku dengan nada yang ketus.
"Kau yang mengakhiri, tetapi tidak dengan ku. Hei aku sangat mencintaimu siapapun tak boleh memilikimu kecuali aku" ucap James dengan mengecup leher Ricky.
Saat James menciumi leherku, sensasi nya bukannya nafsu seperti kemarin-kemarin, tetapi rasa jijik langsung menjalar di tubuhku.
Aku pun seketika meludah tepat di wajahnya membuat James memekik dengan kesal.
"Brengsek kau Ricky! Kenapa kau meludahiku anj**g?" tanya James dengan sorot mata menusuk.
"Lepaskan aku! Aku ingin hidup normal“ ucapku dengan terus meronta agar tali yang membelit tubuhku terlepas.
" Oh no. Tak semudah itu Ferguso! Aku takan melepaskanmu sayang. Kau hanya miliku. Apa kau sekarang sudah mempunyai kekasih wanita? Bilang padaku akan ku hancurkan hidupnya"ucap James.
Aku teringat akan Marini yang mempunyai sifat keras kepala dan galak itu.
"Tentu saja aku sudah mempunyai kekasih. Dia cantik dan pemberani" ucap ku.
Mendengar itu, membuat James menjadi murka padaku dan kekasih yang ku ceritakan.
__ADS_1
"Tinggalkan wanita itu atau ku akan menghancurkan wajah tampan mu itu sayang!" ucap James.
"Jangan berani sentuh aku Binantang. Aku sekarang sudah kembali ke jalan yang benar jika kau ingin jadi homo jadilah homo mandiri jangan mengajak ku lagi" ucap ku dengan geram.
Tetapi seketika ide brilian muncul dari kepalaku. Aku mencoba menggoda lagi james supaya dia mau melepaskan ikatanku.
"Bundy ( Panggilan sayang ku dulu pada james)“ ucap ku dengan nada mendayu.
Mendengar ku mengucapkan nada sensual padanya, seketika dia merasa senang.
" Ya Curlly ( panggilan sayang james padaku). Kamu mau kembali kepadaku?" tanya james.
Aku hanya menganggukan kepala.
"Tolong lepaskan ikatan ini dulu Bundy. Aku sesak nafas gara-gara tambang ini" ucap ku!
"Robby cepat lepaskan ikatan kekasihku" ucap James.
Robby pun melepaskan ikatan ku dan terbebaslah aku di dalam ikatan tambang jahanam itu. Aku mulai merancang strategi untuk kabur dan aku mulai menggoda james kembali. Ku raih tubuhnya dan ku ciumi james sampai dia melenguh. Seluruh orang yang ada di dalam apartemen itu menyaksikan bagaimana aku dengan ganasnya mencumbui James. Dalam hati aku berpuluh kali meminta maaf kepada Tuhan, orang tuaku dan cintaku Marini tapi ini lah satu-satunya cara agar ku terbebas dari cengkraman homo durjana. semua orang yang tadi menculiku menatap kami dengan tatapan jijik dan terlihat ada yang muntah.
"Bunny, apa kita akan di tonton mereka? Aku malu" ucapku.
James segera mengusir mereka pergi dan kini tinggalah kami berdua. James dengan sigap membuka celanaku dan saat nya ku menjalankan misiku. Ku tinju wajahnya dan ku tendang benda pusaka miliknya sampai dia terjungkal dan memekik kesakitan.
Saat itu semua pengawalnya berhamburan menghampiri kami lalu mengeroyok ku sampai aku seperti ini untungnya aku bisa melarikan diri membawa mobilku.
Marini dengan seksama mendengarkan cerita dari Ricky sampai dia terharu dan langsung memeluk Ricky.
"Syukurlah kamu bisa kembali. Dan aku sangat bersyukurkamu bisa kembali ke kodratmu" ucap Marini.
Ricky seketika terdiam karena mendapat Pelukan dari Marini hingga suara batuk dari Elizabeth terdengar.
"Hemmmmmmm nanti saja ajang sesi peluk memeluknya. Sekarang biarkan Ricky istirahat dulu.
Marini pun seketika melepaskan pelukannya dan merasa sangat malu.
"Tolong bantu aku Rin untuk membebaskanku" ucap Ricky.
"Hah kenapa harus aku? Aku gak mau ya ikut campur urusan mu aku tak mau terseret dalam urusanmu. Kau ini hanya membuat hari-hariku tak nyaman saja" ketus Marini.
"Tante, tolong bujuk anak anda supaya bersedia menolong saya" ucap Ricky.
"Tante tidak mau Marini terseret dalam kasusmu nak Ricky. Bagaimana jika itu membuat Marini terancam" jawab Elizabeth.
"Aku pastikan Marini akan selalu baik-baik saja. Dia hanya mau bersandiwara dan me gaku bahwa dia kekasihku itu saja" ucap Ricky.
"Owh no. Jangan berbuat yang aneh-aneh ya. Aku tak mau" tolak Marini.
Sesaat kemudian, Ricky bersujud di kaki Marini sembari menangis meminta dia membantunya.
"Baiklah aku akan membantumu" ucap Marini.
__ADS_1