SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Vivid Mengetahuinya


__ADS_3

Sementara Pelix sudah kembali ke rumah Amora. Ketika dia melangkahkan kaki hendak masuk kedalam kamar, suara Amora memanggil.


"Bagaimana keadaan suamiku? Apa dia baik-baik saja? Pekerjaan apa yang dia lakukan sampai tak pulang? Apakah suamiku sedang dengan wanita lain? Jawab Pel!" tanya Amora.


Pelix terlihat bingung harus menjawab apa, dia tidak tega harus mengatakan jika Martin sedang bersama wanita dan itu mantan kekasihnya dahulu. Tetapi Pelix tak sampai hati mengatakan kebenarannya karena dia sudah berjanji pada Martin akan merahasiakan itu semua. Lagi pula kata Martin, dia hanya murni menolong saja tidak ada embel-embel apapun.


"Suamimu baik-baik saja. Sebaiknya kamu istirahat saja" ucap Pelix sembari berlalu dari hadapan Amora.


Pelix segera mandi dan merebahkan tubuhnya pada ranjang. Dia ingat sudah lama tidak pergi ke ruang bawah tanah dan akhirnya dia masuk ke ruang bawah tanah tak lupa sebelum pergi dia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang mengetahui.


Di dalam ruangan itu seperti biasa Pelix melihat lihat semua isi dari ruangan antik itu.



Dia mengambil sebotol wine dan meminumnya.


"Ruangan ini sangat nyaman" gumam Pelix.


Di dalam nya juga terdapat ruangan SPA, dan perapian yang indah. Ketika dia melangkahkan kaki menuju tempat rahasia yang belum di buka sebelumnya, kaki Pelix tak sengaja menendang sesuatu membuat Pelix merasa sedikit kesakitan dan di lihatnya sebuah peti berukir kuno. Dibukanya peti itu dan alangkah terkejutnya jika peti itu berisi berlian, mutiara dan intan. Pelix sampai ternganga melihatnya.


"Oh My Good! Apakah aku mimpi? Banyak sekali harta karun disini dan orang-orang tidak mengetahui nya kecuali aku dan Tuhan" ucap Pelix sembari menepuk-nepukan kedua pipinya.


Pelix memang diketahui tidak terlalu tertarik dengan harta pemberian dari keluarganya karena dia tahu jika itu uang yang di dapat dari berjualan barang terlarang tetapi melihat barang-barang berharga di tempat ini, dia sangat berambisi memilikinya.


"Tadinya sesudah misiku berhasil aku akan secepatnya keluar dari rumah ini, tetapi setelah melihat semua ini aku berfikir dua kali untuk keluar. Biarkan aku bekerja disini dan si Martin menganggapku sebagai bawahannya" ucap Pelix bermonolog.


Dia pun membuka pintu yang belum dia buka sebelumnya. Terlihat di dalamnya terdapat koleksi keris dari jaman Kerajaan Singosari, tembikar kuno, dan koleksi kuno lainnya dari seluruh Indonesia. Melihat itu membuat Pelix menjadi lemas.


"Siapa yang dulunya punya rumah ini? Dari mana dia mendapatkan barang-barang seantik dan semewah ini? Di tambah perhiasan yang sangat berharga. Jika di tukar dengan uang maka harganya takan ternilai" ucap Pelix.


Kemudian pandangannya tertuju pada satu laci lemari dan Pelix membukanya. Terlihat sebuah amplop cokelat yang sudah usang dan tertutup debu kemudian Pelix membuka amplop itu dan tertulis:


Nusantara, 5 Januari 1887


"Entah siapa yang akan membaca suratku dan entah siapa yang akan membukanya. Aku menuliskan ini dengan pikiran yang jernih di tengah suasana perang yang berkecambuk.


Aku akan mewariskan semua hal yang terdapat pada ruangan ini kepada seseorang yang pertama kali mengetahui ruang bawah tanah ini. Aku seorang pria renta yang mungkin sebentar lagi akan menghadap tuhan yang maha sempurna. Jaga warisan ini jika suatu saat nanti akan terjadi huru-hara maka bawalah surat ini ke Netherland dan kau akan segera mendapatkannya semua itu"

__ADS_1


Tertanda : Eliot Van Bosch


Pelix yang membaca surat itu sampai gemetar, dia tak menyangka bahwa seseorang dengan sengaja memberikan semua hartanya, dan dialah orang pertama kali yang menemukan surat wasiat itu dan artinya dialah sebagai orang yang sah akan semua harta-harta berharga itu. Ada rasa terharu di dadanya.


"Kenapa di surat ini tertulis nama Eliot Van Bosch? Bukannya yang punya rumah itu adalah Tuan Robert Andreas sahabatnya Kakek Leon“ gumam Pelix.


Kemudian dia segera membawa surat itu dan segera melangkahkan kaki untuk naik ke kamar nya. Pelix kembali merapihkan lantai kamarnya agar tak menimbulkan kecurigaaan. Pelix segera merebahkan tubuhnya di ranjang dan akhirnya matanya pun terpejam.


Pagi pun hadir, Pelix yang masih terpejam merasakan semburat sinar mentari yang menembus celah gordennya dan menyilaukan.


"Hoaaammmmm!! Sudah pagi rupanya. Aku harus segera pergi ke peternakan" ucap Pelix sembari melangkahkan kaki dengan malas keluar kamar.


Di dapur terlihat Vivid sedang membuat sarapan dan Pelix langsung mengambilnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Eummmm, enak kuenya" ucap Pelix.


"Mas Pel ngambil makanan kok gak izin dulu sama aku sih" ucap Vivid kesal.


"Maaf deh mbak gitu aja kok ngambek" ucap Pelix sembari mencubit hidung Vivid.


Pelix hanya berlalu tanpa membalas perkataan Vivid. Pelix berjalan menuju gudang untuk mengambil jerami, tiba di sana betapa kagetnya ternyata Amora sedang duduk termenung dengan tangisan lalu Pelix segera menghampirinya.


"Amor ada apa ini? Sejak kapan kamu disini?" tanya Pelix.


"Dari semalam aku disini. Aku kira kau ada di sini ternyata tak ada, dan kamarmu terkunci rapat" jawabnya.


"Ya ampun Amor kenapa kamu diam disini? Jelaskan ada apa sampai memangis seperti ini? Jujur padaku" ucap Martin.


"Semalam aku tidur lalu mimpi mas Martin dibawa seseorang, dia bilang bahwa suamiku adalah cinta pertamanya dan dia akan rebut kembali. Mimpi itu seperti nyata bagiku. Aku takut Pel, aku takut~~Hikhikhik" ucap Amora sembari menangis.


Pelix memeluk Amora dan mencoba menenangkannya.


"Perasaan wanita memang peka" gumam Pelix dalam hati.


Amora yang masih sesegukan dan akhirnya menumpahkan segala kesedihannya di dada bidang Pelix. Pelix mengelus rambutnya dan mencium pucuk kepala Amora.


"Sudahlah Amor itu hanya mimpi tak usah menjadi beban pikiran. Sekarang kamu istirahat saja" ucap Pelix.

__ADS_1


"Biarkan aku istirahat disini Pel" ucap Amora.


Pelix pun membopong Amora ke ranjang dan membaringkannya dan menyelimuti tubuh Amora.


Seharian Pelix bekerja membersihkan kandang peternakan hingga waktu menunjukan pukul tiga sore. Amora masih berada di ranjang dalam gudang peternakan. Dia melihat Pelix sudah mandi dan rapi.


"Pel kamu mau pergi kemana?" tanya Amora.


"Keluar sebentar" jawabnya singkat.


"Pergi dengan Marini?" tanya Amora.


"Ya. Dia mengajaku ke Mall" jawabnya santai.


Wajah Amora tiba-tiba sendu dan Pelix mengetahui apa yang Amora pikirkan. Dia segera menghampiri Amora dan merengkuhnya.


Tak di duga Vivid berjalan menuju peternakan untuk memberitahukan bahwa ada paket dari Diana untuk Amora. Ketika Vivid berjalan menuju gudang, samar-samar mendengar Amora sedang menangis. Vivid lalu bergegas untuk melihat keadaan majikannya itu dan betapa terkejutnya ketika sudah depan gudang melihat Amora dan Pelix sedang berpelukan dan Pelix mendaratkan beberapa ciuman di wajah Amora. Hal itu membuat Vivid syok, dia mundur beberap langkah agar keberadaannya tidak terlihat oleh Pelix wajahnya seketika memanas dan mulutnya ternganga melihat pemandangan yang dia saksikan dengan mata kepala sendiri.


"Ini beneran kan aku ndak mimpi? Nyonya dengan mas Pel mesra! Tandanya mereka berselingkuh. Yaampun bagaimana jika Tuan Martin tahu? Yaampun mas Pel aku gak nyangka sama kamu ternyata kamu pebinor" gumam Vivid dalam hati.


Vivid cepat-cepat mengambil langkah seribu agar mereka berdua tak mengetahui keberadaanya.


Sesudah Amora merasa lega Pelix pamit dan mengajak Amora pergi dari peternakan.


Saat Amora dan Pelix bertemu Vivid di ruang tamu, Vivid memasang wajah senatural mungkin dan berekting tak terjadi apa-apa.


"Ekh nyonya sudah bangun! Saya sudah siapkan air hangat untuk mandi. Silahkan" ucap Vivid.


"Terimaksih mbak" jawab Amora sembari berlalu memasuki kamar.


Kemudian Vivid melihat wajah Pelix penuh selidik tetapi dia berekting lagi agar Pelix tak curiga.


"Mas gantengnya akuhh mau kemana si" tanya Vivid.


"Kencan dong mbak. Makannya kamu punya pacar biar di apelin" jawab Pelix sembari melangkahkan kaki ke luar rumah.


Vivid hanya diam sambil mengelus dada sambil membayangkan hal yang tadi. Dimana Pelix dan Amora melakulan ciuman yang panas membuatnya merinding disko.

__ADS_1


__ADS_2