
Di perjalanan pulang, Yuni dan sang suami tidak berbicara satu kata pun. Perasaannya teramat dongkol pada sang anak yang sudah menikahi wanita lain.
"Pah belokan mobilnya ke rumah Amora sekarang. Mama ingin menginap disana" ucap Yuni pada sang suami.
"oke mah" timpal sang suami.
Mobil itu pun akhirnya tiba di depan rumah Amora. Tak berselang lama Vivid pun membuka kan gerbang agar mobil itu masuk.
"Selamat malam nyonya dan tuan besar. Silahkan masuk" ucap Vivid.
"Terimakasih Mbak" jawab Yuni.
Vivid pun langsung memberitahukan bahwa ada orang tua Martin kemari.
"Nyonya maaf menganggu, apa saya boleh masuk?" tanya Vivid dari sebrang pintu kamar Amora.
"Buka saja pintunya mbak" jawab Amora.
Vivid pun masuk dan mengatakan di luar ada mertua Amora.
"Kenapa mereka datang nya malam-malam seperti itu ya? Dan tumben tidak memberitahukan sebelum nya" tanya Amora.
"Entah lah nyonya" jawab Vivid.
"Ya sudah ayo kita temui" ucap Amora seraya bangkit dari ranjangnya.
Di ruang tamu Yuni dan sang suami sedang menunggu Amora.
"Selamat malam papa dan mama" sapa Amora.
"Sayang maaf ya kami menganggu istirahat mu. Kami rindu padamu nak!“ ucap Yuni.
" Sama sekali mama dan papa tidak menganggu saya. Mama dan papa sudah makan?" tanya Amora.
Kedua orang tua itu sama-sama menggeleng. karena tadi rencananaya ingin memasak di apartemen Martin tetapi gagal total alhasil mereka belum sempat makan.
"Yasudah kita makan malam dulu. Mama dan papa tunggu saja biar mbak Vivid yang memasak" ucap Amora.
Kedua orang tua itu menunggu di ruang tamu sembari menonton sinetron.
"Pah, jika aku bandingkan Martin dengan Sakura aku lebih yakin pada Sakura pah. Dia tidak akan menyakiti hati kita" lirih Yuni pada sang suami.
"Sakura itu Binatang mah jangan samakan dengan anak kita. Sudahlah jangan banyak bicara nanti Amora bisa curiga" ucap sang suami.
Mereka pun akhirnya fokus dengan sinetron yang sedang tayang.
Amora saat itu sedang membantu Vivid menyiapkan makan malam. Walau saat itu Amora sudah makan tetapi dia akan makan lagi demi menghormati kedua mertuanya itu.
"Kenapa mama dan papa mertua datang secara tiba-tiba ya?" tanya Amora dalam hati.
Tak lama Amora pum selesai memasak untuk kedua orang tua itu.
"Silahkan makan mama dan papa. Maaf masakan nya sederhana" kekeh Amora yang hanya memasak goreng ayam serundeng, tumis jamur dan sambal matah.
"Ini sangat istimewa buat kami" ucap ayah Martin yang bisa di sebut bernama Hendra Macarena.
__ADS_1
Di sela suapan makan nya, tiba-tiba Yuni menangis sembari menatap Wajah sang menantu. Hal itu membuat Amora merasa heran.
"Mama kenapa menangis?" tanya Amora sembari mengusapkan tisu ke wajah Yuni.
"Mama sangat bahagia mempunyai menantu seperti kamu Amor. Terimakasih sudah menerima anak mama dengan segala kekurangan nya" ucap Yuni sembari membelai wajah ayu sang menantu.
"Saya akan tetap belajar menjadi istri sekaligus Menantu yang baik buat semuanya" Amora berbicara sembari memegang tangan Yuni.
"Terimakasih nak sudah tulus menerima anak kami" timpal Hendra dengan netra berkaca-kaca.
Mereka bertiga pun sudah selesai makan, Yuni dan Hendra langsung mengajak Amora pergi ke kamar Amora.
"Sayang, kami ingin bicara pada mu" ucap Hendra yang di angguki oleh Yuni.
Mereka berdua pun masuk kedalam kamar Amora dan segera duduk di tepian ranjang nya. Amora yang di liputi berjuta pertanyaan yang berkecambuk di hatinya sangat yakin jika ada hal penting atas kedatangan kedua mertuanya itu.
"Silahkan pah bicaralah, saya akan selalu mendengar kan nya" jawab Amora.
"Apakah Martin selalu tidur di ranjang ini setiap malam?" tanya Hendra.
Amora pun tergagap tak mampu menjawab pertanyaan dari sang papa mertua.
"Apakah dia memberikan nafkah lahir dan batin dengan baik padamu Amor?" tanya Hendra lagi.
Amora tak mampu menjawab pertanyaan itu. Mulut nya seperti terkunci rapat serasa ada lem yang mengolesi bibir nya.
"Jawab nak" ucap Yuni yang sudah tak bisa bersabar ingin mendengar bagaimana rumahtangga anak nya itu yang sebenarnya.
"Mas Martin jarang pulang pah. Dia selalu meninggalkan saya dengan alasan pekerjaan. Sampai malam ini pun dia beralasan banyak pekerjaan. Sampai suatu malam saya mempergoki dia sedang berdua dengan seorang wanita yang di ketahui adalah masalalu nya di apartemen milik nya. Saat itu mas Martin berjanji tidak akan menemui wanita itu lagi dan semoga janjinya di tepati" tutur Amora dengan nafas yang berat.
Rumahtangga yang tak ubahnya hanya sebuah sesuatu untuk menyenangkan kedua orang tua masing-masing, kini sudah terbongkar di hadapan sang mertua.
"Apakah kalian sudah berhubungan suami istri?"tanya Yuni dengan spontan tetapi penuh dengan penekanan.
" Sudah mah! Itu pun harus menunggu dia normal"ucap Amora.
"Maksudnya normal apa nak?"tanya Hendra.
" Maaf kan saya pah, saya harus berkata jujur sekarang meski mas Martin mencegah saya untuk jujur pada kalian. Sebenarnya mas Martin seorang lelaki impoten tetapi sekarang dia sudah sembuh. Dia menderita impoten sesudah kecelakaan dahulu. Itu alasannya dia tidak mau menikah karena dia merasa rendah diri jika pasangannya mengetahui" tutur Amora dengan air mata yang sudah mengalir.
Mendengar penuturan Amora membuat kedua paruhbaya itu bak di sambar berjuta-juta volt listrik. Bagaimana tidak selama ini Martin tak mengatakan apapun atas semua derita kelelakiannya kepada Yuni dan Hendra.
"Ya tuhan kenapa kami baru tahu sekarang? Maafkan kami nak, kami tidak tahu jika anak kami seperti itu. Jika kami tahu maka saat itu tak akan menjodohkan kalian" lirih Yuni.
"Sudah lah mah jangan di pikirkan masalah itu. Sekarang mas Martin sudah normal kembali. Dia akan selalu datang pada saya jika ingin menuntaskan hasrat nya sesudah itu pergi lagi dengan alasan pekerjaan" lirih Amora yang sudah tidak menutupi lagi kisah rumit rumahtangganya.
"Maafkan anak kami nak" lirih Yuni sembari memeluk Amora.
Ketika yuni memeluk Amora, dia tak sengaja melihat bekas luka yang berubah menjadi keloid kecil di dada sebelah kiri Amora.
"Nak itu luka bekas apa?" tanya Yuni sembari menunjuk dada Amora.
Amora pun membuka kancing baju nya dan memperlihatkan sebuah bekas luka gigitan yang dulu Martin lakukan padanya.
"Ini bekas mas Martin. Dia selain mengacuhkan saya waktu awal-awal menikah dia pun melakukan KDRT. Saya di tonjok, di tampar, di jambak dan di gigit sampai saat itu saya pingsan. Untung ada Pelix dan Vivid yang menolong dan merawat saya" jelas Amora dengan terisak.
__ADS_1
Hendra yang mendengar penuturan dari sang menantu amatlah murka dengan kelakuan Martin.
"Dasar Binatang kau Martin. Aku tidak pernah mendidikmu menjadi lelaki kasar seperti itu. Aku harus menghajarnya awas kau Binatang" ucap Hendra murka sembari melangkahkan kakinya hendak meraih kunci mobilnya.
"Papa mau kemana pah. Berhenti!" ucap Yuni sembari menangis mengejar sang suami.
"Aku akan menghajarnya. Dia sudah benar-benar keterlaluan" geram Hendra.
Amora mengejar sang mertua dan bersimpuh di kakinya.
"Sudah lah pah. Saya sudah memaafkannya! Masuk lah pah ke rumah jangan seperti ini. Saya sudah memaafkan semua perbuatannya" ucap Amora dengan tangisan yang membuncah..
Hendra pun mengurungkan niatnya untuk menghajar sang anak. Dia merengkuh tubuh Amora dan di peluknya.
"Hatimu sungguh berlian nak. Berjanjilah pada papa dan mama bahwa kamu tidak akan meninggalkan Martin dalam keadaan apapun ya?" ucap Hendra haru.
"Ya pah" jawab Amora.
Mereka pun masuk kedalam kamar Amora lagi.
"Nak bolehkan mama meminta sesuatu darimu?" tanya Yuni.
"Silahkan ma" jawab Amora.
"Berikan surat perjanjian pernikahan itu pada kami" ucap Yuni yang membuat Amora langsung tercengang.
"Tapi ma" lirih Amora menggantung.
"Kami sudah tau semuanya. Ayo berikan pada kami sekarang" perintah Yuni Lembut.
Amora pun kemudian mengambil surat perjanjian pernikahan itu di dalam lemari lalu di berikan lah pada Yuni.
Yuni membaca setiap poin yang tertulis di dalam surat itu lalu menghembuskan nafas berat ke udara.
"Surat laknat ini akan kami simpan nak" ucap Yuni sembari memasukan surat itu kedalam tas nya.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba telepon nya berbunyi. Tertulis nama bi Wati ART di rumah nya.
"Hallo bi Watik ada apa?" tanya Yuni.
"Ini nyonya den Sakura batuk-batuk dari tadi. Sudah saya kasih air minum tapi masih batuk" ucap bi Wati.
"Ya tuhan kok bisa?" tanya Yuni.
"Tadi dia minum air WC terus batuk-batuk" tutur bi Wati cemas.
"Yasudah saya pulang sekarang" ucap Yuni sembari menutup telepon itu.
"Ada apa mah?" tanya Hendra.
"Sakura pah dia batuk. Tadi kata bi Wati dia minum air WC" tutur Yuni cemas.
"Keselek tai mungkin mah" ucap Hendra.
"Amor sayang, kami pulang dulu ya. Si bungsu batuk-batuk" ucap Yuni sembari mengemasi barangnya.
__ADS_1
"Yasudah mah salam buat anak bulu mama dan papa ya" ucap Amora.
Yuni dan Hendra pun pulang dengan tergesa-gesa.