SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Psikiater


__ADS_3

Pelix sudah membuat janji dengan seorang dokter untuk berkonsultasi masalah yang di derita Amora. Jam 10:15 WIB adalah jadwal untuk Amora.


Seorang dokter wanita yang berwajah sangat teduh memakai hijab berwarna dusty duduk tenang di hadapan Amora yang nampak gelisah.


"Selamat siang ibu Amor!" ucap dokter itu.


"Perkenalkan saya dokter Dinara, saya yang akan menjadi teman setia ketika anda bercerita! apakah Anda sudah bisa di ajak komunikasi?" tanya dokter Dinara.


Amora hanya mengangguk lesu.


"Apakah anda nyaman dengan kehidupan anda?" tanya Dinara.


"Entah lah dok! Hidup saya terasa hampa. Saya kesepian dan kebahagiaan seperti tidak berpihak pada saya" ucap Amora sendu.


"Untuk masalah ini saya mempunyai solusi, apakah anda ingin mendengarkan solusi dari saya?" tanya Dinara.


Amora hanya mengangguk.


"Sebenarnya jika ibu Amora ingin sepenuhnya kehidupan anda bahagia, maka anda harus bisa mengenali siapa diri anda sebenarnya, apa potensi anda dan anda harus siap meninggalkan apapun yang membuat hidup anda tidak bahagia" saran Dinara.


"Saya tak mungkin semudah itu meninggalkan hal yang tidak membuat saya bahagia dok" lirih Amora.


"Memang apa yang membuat anda tidak bahagia?" tanya Dinara.


"Pernikahan dan suami saya~~Huhuhuhu" Amora menangis di hadapan Dinara.


Dinara tahu sekali bahwa wanita yang ada di hadapannya sedang terganggu mentalnya. Sebisa mungkin untuk menyembuhkan luka hati dan pikirannya yaitu harus selalu relax dan butuh suport system dari orang-orang sekitarnya.


"Menangislah bu Amora.Lepaskan semua beban yang ada di hati dan pikiran anda" ucap Dinara sembari mengelus punggung Amora.


Tak lama Amora pun tertawa lalu menangis lagi dan marah-marah tak jelas menyebutkan nama Martin dan Susan dengan geram.


Di ruang yang sama, Dinara berbicara dengan Pelix.


"Jadi ini kekasihmu Pel?" ucap Dinara yang ternyata teman kuliah Pelix dahulu.


"Ya benar dia kekasih ku" jawabnya.


"Mana mungkin kau menjalin hubungan dengan wanita yang sudah bersuami" tanya Dinara seakan tak percaya.


"Ceritanya panjang! Dia tidak bisa menerima keadaan sampai depresi seperti ini" lirih Pelix.


"Aku turut perihatin dengan semua yang di alami bu Amora. Dan apa kau akan terus mencintainya Pel dengan keadaan yang seperti ini?" tanya Dinara dengan menautkan kedua tangannya.


"Ya, aku akan tetap mencintainya dan apapun akan ku lakukan agar wanitaku bisa sembuh kembali" ucapnya.

__ADS_1


"Itu terserah padamu! Aku sebagai teman mu hanya mendoakan yang terbaik saja" ucap Dinara.


Sesudah pulang dari psikiater, Amora ingin mampir ke florist sang ibu. Dia pun mengajak Pelix untuk singgah sebentar.


Di dalam ingatan Amora, sang ibu pasti sedang merangkai bunga untuk di antarkan kepada beberapa rumah mewah milik pejabat dan sosaialita.


"Pel, itu florist ku. Ibu pasti sedang merangkai bunga di dalam" ucapnya.


Pelix hanya diam tak bergeming dan langsung membelokan mobilnya memasuki pelataran florist milik Diana.


"Ada pemandangan aneh disana, Tempat yang sudah kosong selama dua bulan, hanya menyisakan bunga-bunga yang sudah kering beserta sarang laba-laba yang menempel di mana-mana dan jangan lupakan debu yang swdikit tebal membuat Amora tiba-tiba merasakan sesak.


" Ibu, kok florist kita jadi seperti ini? Ibu di mana sih?“ tanya Amora sembari memanggil-manggil sang ibu.


"Ibu, apa hari ini membuat brownis? Aku sedikit lapar, anak ku juga belum aku kasih makan"


"Hello ibu dimana sih?" tanya Amora terus saja memanggil sang ibu.


Pelix begitu sesak di dalam dadanya melihat Amora yang tak bisa menerima takdir.


"Sudahlah Amor, ibu sidah tidak ada! Terimalah takdir tuhan jangan terus seperti ini" ucap Martin.


"Kamu ngomong apa sih, Jelas-jelas ibu masih ada kok, dia pasti sedang mengantarkan pesanan" ucap Amora.


Terlihat wanita paruhbaya dengan menenteng tas mahalnya bermerek KREMES!


"Selamat pagi!" ucap Amora yang sudah kenal dengan wanita itu.


Dia langganan dari Florist Diana yang bernama nyonya Lambreta Armand.


"Pagi nona! Saya sudah kemari hampir lima kali karena florist mendiang ibu Diana selalu tutup! sampai saya putus asa. Tapi syukurlah sekarang sudah buka kembali" ucap nyonya Lambreta.


Kening Amora berkerut tak kala mendengar kata mendiang sang ibu.


"Maksud nyonya apa ya? Kok bilang ibu saya mendiang? Asal nyonya tahu, Ibu saya sedang mengantarkan pesanan bunga ke perumahan Aglonema" ketus Amora.


Tampak nyonya Lambreta terkejut dengan omongan Amora yang pertama kali membentak nya.


"Loh bukannya bu Diana sudah dua bulan meninggal dunia ya? Ini buktinya florist miliknya tampak kosong dan berdebu" jawab nyonya Lambreta sedikit kesal.


"Jangan asal bicara anda ya nyonya. Ibu saya masih hidup" bentaknya.


Tak mau situasi semakin memanas, akhirnya Pelix mengajak nyonya Lambreta ke depan florist itu.


"Anda bisa ikut saya sebentar?" pinta Pelix pada wanita paruhbaya itu.

__ADS_1


Dia pun mengikuti Pelix ke depan.


"Sebelumnya saya atas nama Amora meminta maaf atas sikapnya. Sekarang dia sedang depresi karena belum sanggup kehilangan ibu dan kedua janin kembarnya. Dia terus saya menganggap ibunya masih hidup dan dia masih menganggap dia sedang hamil" ucap Pelix sendu.


"Ya ampun saya baru tahu. Maafkan saya juga sempat terbawa emosi. Saya turut prihatin dengan apa yang sedang amora alami semoga cepat sembuh" ucap nyonya Lambreta.


"Semoga saja cepat normal kembali. Oh ya anda kemari ada perlu apa nyonya?" tanya Pelix.


"Oh ya, ini saya ingin menyerahkan uang duka cita dari semua pelanggan florist nya bu Diana. Mereka menitipkan ini pada saya karena saya cukup kenal baik dengan Almarhumah. Tolong terimalah sebagai perwakilan keluarganya Amora. Ini yang amplop cokelat dari saya dan semua penghuni perumahan Aglonema Resident dan ini amplop yang Maroon dari ibu-ibu penghuni Tulip Regency" ucap nyonya Lambreta sembari menyerahkan Amplop itu.


Pelix menerimanya dengan senyum tulus. Sementara nyonya Lambreta menghampiri Amora di dalam ruangan itu. Terlihat dia sedang merenung sedih.


"Nona, maafkan saya ya? Ternyata yang meninggal itu, ibu diana yang rumahnya di ujung gang sana. Yasudah saya pamit dulu ya salam untuk ibu Diana, lain kali saya mau pesan bunganya lagi" ucap nyonya lambreta sembari berlalu yang di balas anggukan dari Amora.


Hari sudah sore, Amora pun pergi dari Florist itu, sebelum pulang dia meninggalkan satu kotak kue donat kesukaan sang ibu.


"Ibu, aku pulang dulu ya" ucapnya.


Di dalam mobil, Pelix berinisiatif mengajak Amora ke taman yang ada di tengah kota untuk sekedar mencari udara segar di sore hari.


"Aku ingin mengajak mu ke taman! maukan?" tanya Pelix sembari menggenggam tangan Amora.


"Aku mau sayang!" ucap Amora.


"Eummzzz maaf ya Pel aku jadi memanggilmu sayang! Aku takut jika suamiku tahu aku memanggil sayang padamu pasti dia marah" lirih nya.


"Tenang saja, suamimu takan marah kok karena dia sudah mengizinkanmu untuk memanggil sayang padaku. Malah dia yang menyuruhku untuk memanggil kamu sayang juga. Bahkan suamimu sudah mengizinkan ku untuk selalu menemanimu tidur di ranjang yang sama" ucap Pelix dengan berdusta.


"Suamiku sangat pengertian sekali" kekeh Amora.


Pelix ini memang cerdik memanfaatkan situasi. Dia takan melepaskan Amora, Pelix akan urus semua keperluan dan pengobatan Amora agar bisa sembuh dari depresi nya.


Di jalan yang sama, Marini tampak merengut sembari mengemudikan mobilnya. Pikirannya kalut karena memikirkan Pelix yang sudah tidak peduli lagi dengannya.


"Argggghhhhhhhhhhhh!!!! Kenapa kau jadi seperti ini Pel? Apa aku belum cukup bagimu hah? Bertahun-tahun aku selalu menunggu mu dan sekarang kau pergi begitu saja" kesal Marini.


Dia pun membelokan mobilnya kearah taman kota itu untuk sekedar mencari penghiburan diri yang sedang galau itu.


Samar-samar dari kejauham, dia melihat pria yang sedang di pikirkannya itu menggandeng wanita yang amat dia benci. Ya wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Amora.


"Ngapain Pelix dengan wanita depresi itu?" tanya nya.


Marini pun seger turun dari mobilnya dan berjalan tergesa menuju dua sejoli itu.


"Kalian"

__ADS_1


__ADS_2