SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Pelix Sakit


__ADS_3

Martin yang baru tiba di rumah ternyata membawa Vivid karena dia langsung menjemputnya ke rumah Diana. Dia tak tega melihat Amora yang kelelahan beres-beres rumah sendirian.


"Amor lihat siapa yang aku bawa" ucap Martin.


Amora pun menghampiri Martin dan bahagia kala melihat Vivid sudah ada di rumahnya lagi.


"Mbak apa kabar?" tanya Amora?


"Saya baik nyonya. Bagaimana dengan nyonya?" tanya Vivid.


"Saya baik juga" jawab Amora.


"Yasudah sekarang kamu bisa mulai bekerja" ucap Amora lagi.


Vivid yang melihat seisi dapur langsung celingukan mencari seseorang. Amora yang paham siapa sosok yang di cari Vivid langsung mengatakan jika Pelix ada di peternakan. Tanpa menunggu lama akhirnya Vivid langsung menemui Pelix. Pelix yang sedang rebahan di gudang tak mengetahui kedatangan Vivid.


"Mas Pel ganteng ku" panggil Vivid sembari mencari-cari keberadaan Pelix.


Tanpa menunggu lama akhirnya Vivid menemukan Pelix dan segera menghampirinya.


"Mas Pel gantengnya aquhhh. Vivid kangen karo koe mas Pel" ucap Vivid antusias sembari memeluk tubuh kekar Pelix.


"Kangen sih kangen mbak, tapi jangan peluk-peluk begini dong arggghhh bukan muhrim" ucap Pelix.


"Kapan kamu balik Mbak?" tanya Pelix lagi.


"Sebenarnya udah tiga hari yang lalu. Cuma nyonya belum balik dari Singapore jadi aku tinggal sementara di rumah ibu Diana" jawab Vivid.


"Mbak kan sudah ketemu nikh sama aku sekarang cepat masuk lagi. Aku kerja lagi" ucap Pelix.


"Iya deh mas ganteng ku" ucap Vivid sembari berlalu dan masuk kedalam rumah.


Di dalam kamar Martin memberikan sepucuk Amplop cokelat pemberian Sinta kepada Amora.


"Ini apa mas?" tanya Amora.


"Aku pun tak tahu. Itu pemberian client ku. Bukalah Amor" perintah Martin.


Amora pun dengan senang hati membuka Amplop cokelat itu dan melihat isinya ternyata dua tiket kapal pesiar.


"Mas ini dua tiket kapal pesiar. Ya ampun ini kan mahal banget" ucap Amora.


"Bu Sinta itu memang wanita konglomerat hanya saja dapat suami yang kejam suka KDRT" jawab Martin.


"Ya sama kaya kamu mas" lirih Amora tetapi masih bisa di dengar oleh Martin.


"Maafkan aku Amor. Tapi aku janji tak akan melakukan itu lagi" ucap Martin.


"Iya mas. Tapi ini tiket bagaimana?" tanya Amora.


"Aku untuk pergi berlibur dalam waktu dekat kayanya tidak bisa jadwal ku sangat padat. Bagaimana kalau tiket ini aku berikan pada dokter Marini?" tanya Martin.


Amora terlihat tidak senang kala Martin ingin memberikan tiket itu pada Marini. Bukan rasa cemburu pada Martin tetapi rasa tak rela karena dia mengetahui Pelix kembali menjalin asmara dengan Marini.


"Apa sih mas kok mau ngasih ke dokter marini segala?" ucap Amora.


"Kita kan gak mungkin pergi berlibur lagi dari pada mubadzir aku kasih aja ke dokter Marini. Itung-itung rasa terimakasih aku" jawabnya.


"Yasudah deh terserah mas aja" ucap Amora sembari berlalu ke kamar nya.


Martin merasa aneh dengan tingkah Amora yang mendadak jadi pemarah.


Pagi-pagi Amora sudah membantu Vivid memasak untuk sarapan dan terlihat Martin yang sudah siap-siap berangkat bekerja.


"Mas ayo sarapan" ajak Amora.


"Aku sarapan di kantor saja kerjaan aku banyak banget. Aku pergi dulu ya" ucap Martin sembari mengecup kening Amora.


Amora hanya tertegun dan sedikit malu ketika Vivid melihat keromantisan Martin pagi ini.

__ADS_1


Pelix yang baru keluar dari kamar terlihat pucat dan tidak bersemangat.


"Mas Pel sakit?" tanya Vivid.


"Agak lemas saja mbak. Tolong buatkan aku teh hangat ya dan bawa ke kamar ku" ucap Pelix seraya kembali.ke dalam kamarnya.


Rasa pening dan meriang di rasakan dan dia tak bisa bekerja hari ini.


Ketika Vivid hendak mengantarkan teh hangat ke kamar Pelix, Amora menjegalnya dan meminta teh hangat itu dan dia yang akan memberikan minuman itu pada Pelix.


Amora langsung masuk dan melihat keadaan Pelix yang sudah bergelung dengan selimut tebalnya dan melihat bibir Pelix yang gemretak.


"Yaampun Pel kamu pucat banget. Ayo minum teh ini" ucap Amora sembari merengkuh tubuh Pelix.


"Aku tak apa Amor" ucap Pelix lemah.


"Badanmu panas sekali Pel. Ayo kita ke dokter!" ajak Amora.


Obrolan mereka terhenti kala ponsel Pelix berdering dan terlihat nama Marini yang tertera.


"Hallo Rin!" ucap Pelix.


"Hallo Pel! Lagi apa sekarang?" tanya Marini.


Tiba-tiba Amora merebut ponsel Pelix dan mengubahnya jadi loudspeakers sehingga suara Marimi terdengar jelas.


"Rin aku lagi gak enak badan" ucap Pelix.


Mendengar ucapan Pelix membuat Marini terkaget.


"Kamu sakit Pel?"


"Sakit apa sayang?"


"Aku ke rumah kamu ya?"


"Kirim alamatnya sekarang!"


"Tak usah Rin, aku mau istriahat aja" balas Pelix.


"Big no sayang. Aku akan ke rumahmu sekarang. Aku akan jemput kamu jangan ada penolakan. Kirim alamat nya sekarang juga" ucap Marini tegas.


Amora yang melihat begitu posesif nya Marini menjadi caos sendiri.


"Dia sangat mencintaimu Pel!"lirih Amora.


" Ya aku tahu padahal aku sudah menyakitinya" ucap Pelix lemas.


"Kamu mau pergi?โ€œ tanya Amora.


" Ya" jawabnya singkat.


Tak lama ponselnya berdering lagi dan Marini lah yang menghbungi.


"Pel keluar sekarang. Aku sudah ada depan rumah alamat yang kamu berikan. Cepat!" ucap Marini lalu panggilannya di akhiri.


Pelix pun segera beranjak menuju halaman rumah itu dan sudah terlihat Marini menunggu.


"Rin" ucap Pelix.


Marini terlonjak melihat keadaan Pelix yang sangat pucat dan lunglai.


"Pel yaampun kamu kok bisa gini.. Ini rumah siapa Pel? Apa yang sakit sayang ?โ€œ tanya Marini.


Amora yang melihat kedatangan Marini hanya mengintip di balik jendela rumahnya.


" Aku gak apa-apa Rin hanya lemas dan demam saja. Ini rumah teman ku jangan kemari lagi ya langsung saja ke apartemen aku saja pulangnya" ucap Pelix.


Marini pun menggandeng Pelix yang sedang lemas untuk memasuki mobilnya.

__ADS_1


"Bertahan ya Pel kita kerumasakit sekarang" ucap Marini dengan panik.


"Jangan berlebihan aku hanya demam saja. Aku masih bisa nyetir mobil kok. Sini aku yang nyetir" ucap Pelix.


"Big no baby. Kamu lagi sakit biar aku saja yang nyetir. Aku khawatir banget sampe izin tugas hari ini" ucap Marini.


"Makasih ya Rin sudah peduli" ucap Pelix.


"Jangan bilang makasih ya, itu sudah jadi tugasku" kekeh Marini.


Sementara di rumah Amora masih mematung di depan jendela dan Vivid melihatnya dengan bingung.


"Nyonya sedang apa disana?" tanya Vivid.


"Hmmmm~~ Saya hanya sedang memandang jalanan saja" ucap Amora absurd.


"Oya nyonya, perempuan yang menjemput Mas Pel itu siapa ya kok cantik banget dan anggun" tanya Vivid.


Amora yang sedikit tidak senang dengan pertanyaan Vivid seketika berlalu sambil berkata:


"Itu pacarnya kali" lirih Amora


Vivid yang merasa heran atas sikap majikannya langsung berlalu menuju dapur.


Setelah pulang dari rumasakit, Marini mengantarkan Pelix ke apartemennya dan langsung membaringkan tubuh kekar pelix di ranjangnya.


"Rin kamu mau langsung pulang?" tanya Pelix.


"Aku disini dulu untuk memberikanmu obat. Cepat sehat ya Pel" ucap Marini sembari mengecup kening Pelix dengan lembut.


"Iya bawel banget sih kamu" kekeh Pelix sembari mencubit hidung Marini dengan gemas.


"Aku ini cemas lihat kamu kaya gini" ucap Marini.


"Yasudah sih kan aku juga tidak apa-apa. Sini berbaring di sampingku" ucap Pelix sembari menepuk-nepuk sisi tempat tidurnya.


Marini pun langsung berbaring di samping Pelix mereka pun saling berpelukan dan tertidur sampai sore.


Sore pun tiba, mereka pun terbangun.


"Yaampun sudah sore. Pel aku balik dulu ya" ucap Marini.


"Tunggu Rin kamu jangan dulu pulang. Mandi dulu sana" perintah Pelix.


"Nanti saja di rumah" ucap Marini.


Pelix tak mengindahkan ucapan Marini. Dia spontan mengangkat tubuh Marini seperti memanggul karung beras dan berjalan menuju kamar mandi. Marini pun hanya bisa mengoceh dan memukul-mukul punggung Pelix hingga Pelix mendudukan Marini di bathub.


"Berendam sebentar yuk aku pengen relax" ucap Pelix sembari melangkahkan kaki dan duduk di belakang Marini. Mereka pun berendam tanpa sehelai benang apa-apa. Pelix begitu memanjakan Marini dari mulai mengosok punghung nya membelai rambutnya terkadang di selingi dengan hisapan-hisapan sensual di area pundak dan punggung Marini membuat dia kegelian bercamour sesuatu. Satu jam sudah mereka berendam dan akhirnya mereka menyudah nya dengan membilas tubuh masing-masing. Dibawah guyuran shower tubuh mereka sangat rapat hingga tak ada celah yang tersisa.


"Rin aku menyayangimu" ucap Pelix sembari menangkup kedua pipi Marini.


"Kau tidak sendiri Pel, aku pun sama menyayangimu" balas Marini sembari mengecup bibir Pelix sekejap.


Pelix merentangkan tubuhnya dan Marini memeluknya sangat dalam mereka pun menghayati itu. Sadar pelukan itu telah membangkitkan hasrat keduanya tetapi Pelix sadar jika dia takan mengulangi hal yang sama dahulu kepada Marini.


"Rin sudah yuk mandinya! Kamu harus pulang dan aku pun harus kembali ke rumah teman ku sekarang" ucap Pelix dengan nafas memburu.


"Baiklah ayo" jawab Marini.


Mereka berdua pun meninggalkan apartemen milik Pelix dan segera pulang. Kali ini Pelix lah yang mengendarai mobil milik Marini.


Setelah membelah jalanan ibu kota, akhirnya mobil itu berhenti di depan rumah Amora. Amora yang mengetahui kedatangan Pelix segera berlalu menuju jendela dan melihat Pelix turun dari mobil itu. Pandangan Amora seketika menjadi marah, tak kala melihat Pelix dan Marini berciuman mesra dengan tangan Pelix merangkul pinggang Marini.


"Pel aku pulang ya. Kabarin aku jika kamu butuh apapun" ucap Marini sembari menjalankam mobilnya.


.


.

__ADS_1


. Hai Hai Hai... semoga kalian suka dengan karyaku ya. Dan tetap selalu dukung Author untuk menuliskan cerita-cerita seru lainnya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2