
Pelix bersiap untuk berangkat ke vila milik sang bunda. Amora masih tidak menyangka Camilla dan anak angkat mertuanya terlibat hubungan asmara yang sudah terjalin sepuluh tahun lamanya tanpa ada satu orang pun yang tahu.
Sementara di kediaman Kaisyah, Camilla sedang makan di suapi oleh Henry. Hal itu tak luput dari perhatian kedua orang tuanya.
"Mau dong di suapi" ucap Jhonson sembari berlalu membawa cangkul.
Keduanya kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Duh bunda kok gak di suapi" Giliran Kaisyah yang mengganggu mereka berdua.
"Bunda sudah aku malu" Camilla berkata sembari menutupi wajahnya.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Pelix dan Amora sampainl di vila milik orang tuanya.
Kaisyah dan Jhonson menyambut mereka dengan pelukan hangat.
"Selamat datang anak-anak bunda" ucap Kaisyah.
"Bunda bagaimana kabarnya?" tanya Amora.
"Bunda sangat sehat!" jawabnya dengan senyum ramah.
"Ayah kenapa muram?" tanya Amora.
"Ayah sedih!" Jhonson sengaja memasang wajah muram.
"Sedih kenapa? Apa tidak senang dengan kedatangan kami?" tanya Amora.
"Bukan seperti itu, ayah sedih karena ingin segera punya cucu" ucapnya dengan senyum di paksakan.
"Tenang sebentar lagi. Ini lagi berusaha" timpal Pelix.
"Usaha terus hasil kagak" ucap Jhonson yang di sambut gelak tawa Kaisyah dan Amora.
"Mana adik?" Pelix melihat-lihat kesekitar tetapi Camilla tidak di temukan.
"Ada tuh sedang mamam di cuapi" timpal Jhonson.
"Hahaha!!" Pelix menertawakan ucapan Jhonson
"Aku tidak menyangka ternyata mereka bisa terlibat pacaran dalam satu rumah. Apa bunda tidak berpikir mereka kan tinggal dalam satu rumah selama bertahun-tahun, aku yakin mereka pasti melakulan hal yang aneh-aneh" Pelix menduga-duga.
"Ya ampun bunda kok baru berpikir sekarang! Ya bunda harus tanyakan pada mereka berdua" Kaisyah lalu mengajak semuanya masuk kedalam vila.
Camilla sudah menunggu di dalam rumah bersama Henry. Pelix langsung menjewer kuping Henry hingga dirinya mengaduh.
"Bagus ya kau membohongi bunda" ucap Pelix gemas.
"Kak maafkan aku, bukan begitu maksudnya" Henry mencoba membela diri.
"Hei sudah-sudah!"Kaisyah mencoba melerai kejahilan Pelix.
Tiba-tiba mata Henry tertuju pada Amora. Dia langsung berjalan memeluk Amora.
" Kau Amora kan?" Henry semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau Henry si cibi-cibi kan?" Amora balas memeluknya dengan erat.
Hal itu membuat Pelix cemburu.
"Ya ini aku. Kau kemana saja amor? delapan tahun aku mencarimu. Selepas kita lulus kuliah kau menghilang bak di telan bumi" Henry semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku pindah rumah Hen! Semenjak ayah meninggal, ibu kan stres berat jadi kami menjual rumah itu agar bunda tak selalu ingat kenangan bersama ayah" Balas Amora.
"Yaampun Amor, syukurlah aku bisa lagi melihatmu" ucap Henry sembari melepaskan pelukannya karena dia melihat wajah Pelix yang sudah melotot ke arahnya.
"Tunggu deh, bunda ingin tahu cerita kenapa kalian bisa saling mengenal!" sela Kaisyah.
"Bunda, ini itu bestie aku bun yang sering aku ceritain ke bunda dulu" ucap Henry.
__ADS_1
"Jadi Mora yang selalu di ceritakanmu itu adalah Amora istri kakakmu?" Kaisyah semakin heran.
"Iya dia Amora! Dan apa? Istri kakak? Kok bisa ketemu kakak bagaimana ceritanya Amor?" Tanya Henry heran.
"Ceritanya panjang Hen!" jawab Amora sembari terkekeh.
"Bunda ingat tidak aku pernah kecelakaan saat membawa truk itu, asal bunda tahu pelakunya adalah Amora" Henry tertawa sembari menoyor kepala Amora.
Amora tertawa lepas.
"Hah kok bisa?" Kaisyah semakin penasaran dengan cerita kedua anak-anaknya.
"Jadi begini ceritanya, dia nikh kan ingin belajar nyetir, dia so-soan ingin langsung belajar membawa truk. Belajarlah punya ku, ekh dia malah bikin truk aku terbalik, mana truk baru hadiah dari ayah waktu itu. Dan bunda ingat tidak, ada bapak-bapak paruh baya ke rumah kita, itu adalah ayahnya Amora. Beliau ingin ganti rugi tapi ayah menolak dan malah di ajak ngopi bersama" tutur Henry semangat bercerita.
"Ya ampun jadi itu ayahmu nak? Dunia ini ternyata sempit" ucap Kaisyah terharu.
"Hen, kan kamu dulu sering bilang kalau kamu punya bunda serasa malaikat, apa bunda yang di maksud itu bunda Kai?" tanya Amora.
"Iya Amor! Dia bunda rasa malaikat" jawab Henry.
Amora pun langsung memeluk sang bunda mertua.
"Pantas ayah selama ini tidak bisa move on dari mu bunda! Ternyata kau benar-benar wanita berhati malaikat"gumam Pelix.
" Ayo kita makan saja, bunda sudah masak untuk kalian" Mereka pun berjalan menuju meja makan.
Skip
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Pelix pada Henry dan Camilla.
"Secepatnya kak! Kalau boleh besok" jawab Henry yakin.
"Gila kalian" Pelix berkata dengan muka masam.
"Jangan seperti itu kak! Kamu juga kan nikahnya mendadak" sela Kaisyah.
Semua orang disana seketika menjadi tertawa termasuk Henry yang tak tahu apa-apa juga ikut merasa lucu dengan cerita sang ayah.
"Benarkan sampai begitu ayah?" Henry ingin tahu ceritanya.
"Benar! Dan yang lebih parahnya kain yang akan di pakai kakakmu itu selimut kesayangan bunda" jawab Jhonson sampai terpingkal-pingkal.
Pelix dan Amora hanya senyum sembari menahan malu akibat ulahnya waktu itu.
"Aishhhh, kaya kucing aja sih kak di alam terbuka" Henry meledek Pelix.
"Biasa bang, dia ingin suasana luar ruangan" ucap Camilla.
"Awas kau berdua ya, tunggu pembalasanku" Pelix mengancam.
Semua orang pun kembali tertawa.
Di kamar, Kaisyah dan Jhonson sedang terlibat perbincangan serius tentang pernikahan Camilla.
"Ayah apakah pernikahan anak gadis kita juga sama sederhananya? Bunda hanya ingin melihat Camilla menikah dengan sedikit pesta" keluh Kaisyah.
"Ayah pun begitu! Bagaimana kalau pernikahan Camilla kita adakan pesta sekalian dengan Pelix. Dia kan waktu nikah tak ada pesta apapun" ide Jhonson yang sangat cemerlang.
"Itu ide bagus yah! Bunda senang dan akan segera membicarakan itu pada mereka" ucap Kaisyah.
"Bunda sudah ya ngobrolnya?" ucap Jhonson dengan kelipan mata genitnya.
"Ayah mau apa?" Kaisyah pura-pura tak tahu maksud sang suami.
"Mau bunda! Ayo" ucapnya sembari mendusel manja pada sang istri.
"Ayah sudah tua masih saja genit" Kaisyah mencubit pinggang sang suami.
"Tua-tua begini tapi masih sanggup membuat istriku kejang-kejang" jawabnya.
__ADS_1
"Ikh apa sih ayah ini" Kaisyah semakin malu.
"Ayo bun sudah tak tahan ini" Jhonson semakin merajuk seperti bocah ingin di belikan balon.
"Iya suamiku" jawab Kaisyah dengan lembut sembari mematikan lampu kamarnya.
Di kamar lainnya, Henry tak bisa memejamkan matanya, Pikirannya terus tertuju pada sang kekasih. Dia kemudian beranjak dari kamarnya menuju kamar sang kekasih. Dia membuka kamar itu dan melihat sang kekasih sedang bergelung selimut Sampai kepalanya tak terlihat.
Henry mengendap-endap mendekati Camilla. Dia meraba tubuh sang kekasih dan mengelus-elusnya.
"Sayang udah bobo? Abang kangen kamu, sumpah demi apapun abang tak bisa tidur" ucap Henry dengan suara yang pelan tapi merdu.
"Aaacchhhh" ucap Seseorang di balik selimut.
"Sayang jangan mend*s*h dulu dong. Tunggu abang halalin kamu dulu. Boleh ya bang Henry tidur di samping mu cinta?" Henry terus mengelus-elus kaki sang kekasih.
"Sayang, kakimu kok jadi besar? Apa mungkin karena selimutmu tebal ya? Tak apa sayang, bang Henry suka yang tebal-tebal kok" ucap Henry lagi.
"Aachhhhh" Seseorang di balik selimut kembali mend*s*h manjalita.
"Sayang jangan begitu, nanti abang terkam beneran ya kamu" Henry tak tahan.
"Bang cini bobo di sampingku" Seseorang di balik selimut itu berkata dengan suara yang seakan di buat-buat.
"Sayang kok suara kamu jadi aneh begitu?" Henry mulai curiga.
"Ini khodam aku bang" jawabnya.
"Sejak kapan kamu punya khodam?" Henry semakin merasa aneh.
"Sejak tadi bang" jawabnya.
"Sayang, abang masuk selimut ya? Buka celana kamu sedikit saja. Kita kan sebentar lagi menikah, bisa mereun cicil dulu secui aja" Henry semakin genit.
"Boleh bang buka aja selimutnya" jawab seseorang itu.
"Sayang suara kamu kok kaya kejepit pintu?" Henry semakin merasa aneh.
Kemudian dia langsung menyingkapkan selimut itu dan alangkah terkejutnya melihat seseorang yang sejak tadi dia ajak mengobrol dengan genitnya.
"Ciluk Ba!" ternyata itu Pelix.
"Hahahahahahaha!! Kena kau" Pelix tertawa karena sudah berhasil mengerjai Henry.
Henry dengan marah sekaligus malu langsung membungkam Pelix dengan selimut.
"Jahil sekali kakak ini" Henry masih membungkan sang kakak dengan selimut.
"Ampun bang, ampun" Pelix menirukan ucapan Henry.
Amora dan Camilla kemudian keluar dari bawah ranjang. Mereka tertawa terpingkal-pingkal dengan ulah Pelix.
"Kalian menjebaku?" Henry cemberut.
"Kakak yang minta. Maaf ya sayang" Camilla menghampiri sang kekasih yang sedang ngambek.
"Sayang, lihat Henry ngambek"ucap Amora dengan tawa.
" Bang jangan marah!" Camilla menenangkan Henry.
"Abang gak akan marah, tapi ada syaratnya!" ucap Henry.
"Apa?" tanya Camilla.
"Cium dulu" jawabnya.
Pelix langsung menjewer telinga Henry.
"Cuam cium, ingat belum halal" Jawabnya sembari membawa Henry kekuar dari kamar Camilla.
__ADS_1