SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Kedatangan Ken


__ADS_3

Setelah lama pingsan, Camilla akhir ya siuman juga. Henry sangat panik melihat sang istri yang pingsan dari tadi.


"Bunda hamil?" tanya Camilla lemas.


"iya nak! Maaf ya buat kamu terkejut" Kaisyah merasa bersalah.


Camill menangis seperti anak kecil.


"Aku tidak lagi jadi anak bungsu... Hikhikhik.. Kasih sayang bunda akan terbagi! Ayah jahat ayah jahat, gara-gara ayah, bunda jadi hamil" Camilla menangis sembari memukul-mukulkan tangannya ke bahu Jhonson.


"Dek, sudahlah jangan berlebihan begitu. Harusnya kamu senang akan ada keluarga baru, dua bayi akan hadir di rumah ini di tambah bayi Kak Vivid jadi tiga" ucap Pelix.


"Bunda sudah tua Kak, tidak pantas hamil" Camilla masih tidak terima bahwa tahtanya sebagai anak bungsu akan lengser.


"Bunda kan punya suami. Nikh si aki-aki kan masih aktif dek, jadi wajar kalau bunda bisa hamil lagi. Sudah ya kasian bunda jangan di julidin nanti bunda sedih" Pelix mencoba membujuk sang adik agar bisa menerima kehamilan bundanya.


"Yasudah deh" ucap Camilla.


"Sayang antar aku ke kamar! Buat Kak Amor dan Kak Vivid, selamat ya atas kehamilannya" ucap Camilla, lalu pergi ke kamarnya di bantu oleh sang suami.


Kaisyah tampak sedih melihat Camilla yang cuek padanya. Dia juga mengerti dengan sikap itu. Tapi dia yakin Camilla pelan-pelan akan menerima kehamilannya.


Paginya, salah satu anak buah Pelix menghubungi kalau Ken ingin bertemu dan datang ke Vila. Pelix tidak mengizinkan tetapi Ken memaksa.


"Mana paman? Berikan ponsel itu padanya!" ucap Pelix.


"Hallo, paman bagaimana kabarmu?" tanya Pelix.


"Aku kurang sehat! Pelix, berikan ponselmu pada Jhonson!" ucap Ken.


"Ya tunggu sebentar" ucap Pelix lalu berjalan ke arah Jhonson.


"Yah, ini paman Ken ingin bicara denganmu!" Pelix segera memberikan ponsel itu pada sang ayah.


"Hallo Ken, bagaimana kabarmu?" tanya Jhonson khawatir.


"Hikhikhik!! Kak aku sakit!" Ken menangis seperti anak kecil pada sang kakak.


"Kau sekarang ada di mana?" Jhonson semakin khawatir.


"Aku sedang di jalan menuju vila Kai bersama anak buah Pelix" ucapnya.


"Apa? Kenapa kau kemari bodoh? Kau pasti ingin mengacaukan kedamaian keluargaku kan?" Jhonson marah.


"Kau menolaku Kak? Aku tetap akan kesana" Ken segera mematikan sambungan telepon itu.


Jhonson sangat khawatir pada semua kekuarganya. Lalu dia memerintahkan Pelix dan Billy melindungi wanita yang ada disana.


"Pelix, Billy! Ken mau kemari, Aku khawatir dia akan merusuh disini. Amankan semua wanita dan bawa ke kamar suruh berkumpul dan jangan pernah ada yang keluar sampai Ken pulang!" Jhonson mengintruksi keduanya.


Akhir kata, Ken pun tiba di vila melik Kaisyah. Dengan di bopong oleh anak buah Pelix, Ken menghampiri sang kakak.


"Kakak!! Aku rindu padamu. Hidup berbulan-bulan di dalam bungker membuatku seperti manusia purba" Ken memeluk Jhonson.

__ADS_1


Sebuah pelukan yang pertama kali dia rasakan dari sang adik. Biasanya mereka berkelahi saling baku tembak ataupun saling menjahili.


"Sukur kau selamat dan sehat Ken!" ucap Jhonson.


Tiba-tiba Ken meraba jantungnya dan mengaduh.


"Kak sepertinya waktuku takan lama lagi. Aku ingin bertemu dengan Kak Kai" Suara Ken semakin melemah.


Jhonson pun langsung memerintahkan Pelix untuk membawa Kaisyah ke hadapan Ken.


Sekarang Kaisyah sudah berdiri di hadapan Ken.


Ken menatap wanita itu dengan lamat.


"Kai, maafkan aku" ucap Ken.


Ken sebenarnya sangat mencintai Kaisyah, tetapi Kaisyah lebih memilih Jhonson saat itu, membuat pertengkaran pun pecah antara kakak dan adik itu sampai tak pernah akur.


"Ken, kau harus sembuh" ucap Kaisyah.


"Waktuku takan lama. Jika aku mati aku ingin di kremasi seperti ayah. Dan untuk mu Pelix, lanjutkan bisnis kakekmu. Kau pemimpinnya sekarang" ucap Ken semakin terbata.


"Ken kau harus kuat, bertahan Ken kita ke rumasakit sekarang. Bisnis ayah kita untuk mu saja" Jhonson menangis di depan sang adik yang semakin melemah.


"Aku sudah tidak kuat lagi..Selamat tinggal" Ken pun akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Jhonson dan Pelix langsung merengkuh tubuh ringkih Ken dan memeluknya.


Jhonson, Billy dan Pelix langsung memeluk tubuh Ken yang sudah tak bernyawa.


"Paman.. Hikhikhik" Pelix meraung-raung menangisi Ken.


"Adiku bangun! Kau kenapa meninggalkanku secepat ini?" Jhonson tak ingin melepaskan jasad sang adik.


"Bos besar, semoga anda tenang!" ucap Billy.


Ken pun langsung di bawa ke krematorium untuk di lakukan kremasi.


Sesudah tubuh Ken melebur menjadi abu, Jhonson, Pelix dan Billy melarung abunya di lautan lepas.


"Ken, semoga kau selalu bahagia" ucap Jhonson sembari menabur bunga di lautan.


Skip


Setelah lelah mengurus kematian sang adik, Jhonson memerintahkan Pelix dan Billy untuk rapat rahasia di belakang Vila milil Kaisyah.


"Sekarang kekuasaan ayahku telah sepenuhnya milikmu Pelix, Kau lah pemegang tahta ketua mafia Bikini Bottom" ucap Jhonson.


"Aku akan menerima kedudukanku ayah" ucap Pelix bangga.


"Bos, Leonardo memberitahuku bahwa permintaan pasar akan senjata api di


Amerika Latin sangat tinggi. Mereka mempercayakan kita untuk memproduksi itu! Bagaimana apakah kau setuju? Nilai nya sangat tinggi!" ucap Billy.

__ADS_1


"Tempat mana yang akan kau jadikan tempat produksi itu Billy?" tanya Pelix sembari mengetuk-ngetukan jarinya ke atas meja.


"Kita pilih negara yang serang krisis karena penduduknya sangat butuh lapangan pekerjaan, anggota kita akan melatih mereka terlebih dahulu" ucap Billy.


"Negara apa yang kau pilih untuk menjadi tempat produksi?" tanya Pelix kembali.


"Hon**ras! Negara itu sedang krisis dan masyarakatnya sedang membutuhkan pekerjaan. Kita bayar mereka dengan upah yang tidak terlalu kecil agar mereka tak membocorkan rahasia kepada aparat setempat. Dan jika ada aparat yang mengetahui segera kita suap agar tutup mulut" ucap Billy tegas.


"Kau pintar sekali bujang" ucap Jhonson sembari menepuk-nepuk pundak Billy.


"Bagaimana dengan penjualan narkoba kita di benua Afrika, apa berjalan dengan baik?" tanya Pelix.


"Sejauh ini, Moabi memberitahu jika pasar Afrika mengalami ketidak pastian karena pemimpin di negara-negara itu sedang giat memerangi kasus HIV dan tentu saja Narkoba menjadi fokus utamanya. Tapi untuk sebagian negara masih aman bos" ucap Billy


"Tapi bagaimana jika istri-istri kita tahu pekerjaan kita yang sebenarnya?" ucap Jhonson tiba-tiba merasa ragu.


"Aku sudah dengar" suara Kaisyah tiba-tiba terdengar menyentak.


"Stop hentikan itu Jhoni! Kau sudah tua seharusnya kau meninggalkan pekerjaan itu" Kaisyah membentak.


Amora dan Vivid seketika menghampiri Kaisyah yang sedang marah.


"Hentikan pekerjaan ayahmu itu Jhoni. Ku ingin tenang di usiaku apalagi ku sedang hamil anakmu. Dan kalian Billy dan Pelix, apa tidak kasihan dengan istri-istri kalian yang akan memakan uang hasil narkoba?" tanya Kaisyah lantang.


Billy, Pelix dan Jhonson hanya diam.


"Apa Narkoba? Maksud bunda apa?" tanya Amora terkejut.


"Apa kau sudah tahu pekerjaan suamimu?" tanya Kaisyah.


Amora menggeleng.


"Ayah, Pelix, Billy dan Ken sebenarnya seorang mafia!" jawab Kaisyah.


Hal itu membuat Vivid dan Amora terkejut.


"Apa, mafia? Pelix jadi selama ini pekerjaanmu mafia, benar?" kata Amora.


Pelix hanya menganggukan kepalanya.


Amora kemudian mundur seperti seorang yang ketakutan. Karena di dalam otaknya mafia adalah orang yang sangat kejam tanpa belas kasih.


"Pantas saja kau kaya, dan bodohnya aku tak menanyakan pekerjaanmu apa?" Amora langsung terisak.


"Mas Billy juga mafia?" tanya Vivid.


Billy pun mengangguk.


Vivid sontak ketakutan karena yang dia tahu mafia itu suka bunuh orang.


"Mas tolong jangan bunuh aku mas! Kasianlah pada anak kita".


Seketika Amora, Vivid dan Kaisyah pingsan berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2