SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Sang Gentle Man.


__ADS_3

Pagi itu Ricky datang ke rumasakit dengan berpura-pura menjadi pasien untuk bertemu Marini. Tetapi kenyataannya yang bertugas adalah seorang dokter pria dengan janggut tebal dan sedikit jutek.


"Loh ko bukan dokter Marini ya" gumamnya tetapi masih bisa terdengar.


"Ini pasien ke sepuluh yang menanyakan keberadaan dokter Marini" ucap dokter yang bernama Ibnu.


"Jadi apa keluhan anda?" tanya Ibnu.


"Gak jadi dok. Penyakit saya mendadak sembuh lihat dokter. Terimakasih" ucap Ricky sembari keluar dari ruang pemeriksaan.


Ibnu hanya geleng-geleng kepala saja melihat keanehan pemuda itu.


Ricky lalu menelepon Marini dan langsung di angkatnya.


"Dengan dokter marini disini! Ada yang bisa saya bantu?"ucap Marini.


" Dok penyakit saya kambuh bagaimana ini?" ucap Ricky berbohong.


"Maaf dengan siapa saya bicara? Saya Harris bu pasien ibu. Tolong kemari saya akan berikan alamatnya. Tolong bu dokter" ucap Ricky.


"Maaf pak Harris tapi saya sedang cuti hari ini. Masih ada dokter Ibnu yang menggantikan silahkan konsultasi saja kepada beliau"ucap Marini.


" Dokter Ibnu sedang banyak pasien. Tolong dok sebelum nyawa saya melayang tolong dok" ucap Ricky sembari menutup pangilannya.


"Aneh banget" ucap Marini.


Dia kemudian menelepon dokter Ibnu guna memastikan kebenarannya.


"Hallo dok ada apa menghubungi saya?" tanya dokter ibnu.


"Maaf dok, saya hanya ingin menanyakan apa dokter sibuk sekali menangani pasien?" tanya Marini.


"Hari ini saya tak sibuk sama sekali karena pasien banyak yang tak jadi periksa. Mereka banyak yang pulang lagi ketika tahu saya yang akanmemeriksa mereka. Mereka menanyakan kenapa dokternya berubah jadi berkumis" ucap Ibnu sembari tertawa.


"Masa sih dok mereka bilang seperti itu?" tanya Marini.


"Bentulan. Apalagi tadi ada satu orang pasien pemuda yang cukup tampan, dia punya tahi lalat di dagu kanannya ingin konsultasi tetapi dia langsung pergi ketika mengetahui bukan anda dokternya. Saya curiga dokter pakai black magic ya untuk menarik pasien?" tanya Ibnu sembari tertawa keras.


"Sialan anda ya dokter ibnu. Saya pakai blue magic" balas Marini sembari tertawa.


Kemudian panggilan itu di tutup dan Marini segera pergi meninggalkan Pelix untuk melihat kondisi pria yang meneleponnya tadi.


¥


Sementara di rumah Marini, sang ibu kedatangan tamu seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Ricky.


Ricky mengetuk pintu dan seorang ART rumah itu membukanya.


"Cari siapa mas?" tanya ART yang bernama Jumiati.


"Apa ini benar rumah nya dokter Marini?" tanya Ricky.


"Betul! Anda siapa ya?" tanya Jumiati heran.


"Boleh saya masuk Bi? Saya temannya dokter Marini" balas Ricky.


"Owh silahkan tetapi nona Rini tidak ada di rumah, hanya ada nyonya saja" ucap Jumiati.


"Tak apa saya juga akan ngobrol dengan mamanya" jawabnya.


Ricky pun masuk kedalam rumah Ricky di antar oleh Jumiati.


"Maaf nyonya, ini ada temannya nona Rini ingin bertemu tetapi beliau sedang tidak ada jadi mas ini minta untuk bertemu nyonya saja" ucap Jumiati.


Tampak seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah beruban duduk di atas kursi roda. Elizabeth mamanya Marini memang sejak dua tahun mengalami stroke yang mengakibatkan kakinya lumpuh.

__ADS_1


Ricky dengan sopan segera menghampiri dan menyalami tangan Elizabeth.


"Selamat pagi tanteu. Perkenalkan nama saya Ricky" sapa Ricky.


"Pagi! Kamu temannya Rini?" tanya Elizabeth.


"Betul tanteu" ucap Ricky


"Ayo silahkan duduk nak" ucap Elizabeth.


"Ada apa kamu kemari?" tanyanya lagi.


"Saya ingin bertemu dokter Marini tetapi sepertinya beliau tidak ada di rumasakit jadi saya mencari tahu rumahnya dan ketemu. Maaf tanteu jika kedatangan saya mengganggu istirahat anda" ucap Ricky ramah.


"owh tidak sama sekali kok. Kenal dimana kamu dengan anak saya?" tanya Elizabeth.


"Saya dulu pasien nya tan. Dulu sebelum saya bertemu dokter Marini hidup saya ancur banget. Saat itu jujur saja saya seorang gay dan terkena penyakit di bagian organ saya dan itu sangat menjijikan. Saya berobat ke rumasakit dan di tangani oleh dia. Dia dokter yang judes dan galak tetapi berkat semua itu saya bisa berubah menjadi pria sejati, pria seutuhnya yang sudah bisa mencintai wanita. Dia menasihati saya supaya saya menghentika kebiasaan buruk itu, saya tertegun dengan ucapannya hingga lambat laun saya berubah walau itu tidak mudah bagi saya" ucap Ricky panjang x lebar.


Elizabeth yang mendengar cerita Ricky sangat terharu dan menitikan air mata. Pasanya seorang anak yang dia didik dan asuh sendirian kini sudah menjadi wanita hebat yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik.


"Sukurlah kamu bisa sembuh dari penyimpangan itu. Semoga selamanya kamu bisa mencintai wanita" ucap Elizabeth sembari menyeka air matanya.


"Saya salut kepada anda yang telah mempunyai seorang putri yang sangat hebat" ucap Ricky.


Elizabeth begitu tersanjung dengan pujian yang Ricky berikan kepada sang putri.


Di tengah perbincangan itu tiba-tiba Marini datang.


"Kamu kan yang bilang di telepon tadi hah?" ucap Marini sembari memukul punggung Ricky dengan kesal.


"Siapa? Aku gak tuh!" ucap Ricky.


"Jangan bohong kamu ya. Terus mau apa kamu kerumah saya dan ngobrol dengan mama saya?" tanya Marini.


"Hei Rin yang sopan kalau ada tamu jangan kaya orang tidak terpelajar. Kasih dulu minum atau mama yang bikinin minum untuk nak Ricky" ucap Elizabeth.


Wanita yang sudah berumur tigapuluh dua tahun itu mencebik kesal sambil melangkah dan menghentakan kaki.


"Dokter Marini lucu ya tante kalau sedang marah" ucap Ricky terkekeh.


"Begitulah dia seperti itu. Dia itu sebenarnya anak yang sangat baik tetapi nasib percintaanya tidak begitu baik. Selama bertahun-tahun dia selalu menunggu kekasihnya yang tidak jelas yang bernama Pelix. Sampai suatu waktu saya bilang kepada lelaki itu jika Marini ingin menikah tetapi saat ini dia mengetahui jika saya yang berbohong dan mengatakan demikian sampai Marini marah besar kepada saya dan sekarang mengacuhkan saya" lirihnya.


"Dia memang sangat mencintai lelaki itu" gumam Ricky dalam hati.


Marini keluar dari dapur dengan membawa tiga gelas es teh manis dsn segera meletakan di meja lalu duduk bersebelahan dengan Ricky.


Elizabeth yang paham dan tak ingin menggangu tiba-tiba menguap dan memanggil ART nya.


"Bibi tolong kemari" ucap Elizabeth.


"Ada apa nyonya memanggil saya?" balas Jumiati.


"Bi saya mengantuk. Bawa saya ke kamar" ucapnya.


"Lokh mama kok gitu sih tiba-tiba mengantuk. Mama disini aja temani kita ngobrol" ucap Marini.


"Rin mama kok jadi ngantuk begini ya. Akh ini mungkin efek obat yang tadi mama minum mungkin" ucap Elizabeth sembari berlalu di dorong oleh Jumiati.


Kini tinggalah Marini berdua bersama Ricky.


Krikkkk Krikkkkk Krikkkkkkk.


Hanya suara hembusan nafas keduanya terdengar berat.


"Kok haus sih" ucap Ricky memecah keheningan.

__ADS_1


"Minum lah bukannya curhat!" balas Marini keki.


"Dok ko anda judez banget sih saya kan jauh-jauh datang kemari" ucap Ricky.


"Ekh anak muda, tidak ada yang menyuruhmu datang kerumahku. Aku sedang sibuk!" ucap Marini.


"Sibuk dengan pacar yang selingkuh ya?" ucap Ricky tanpa filter.


"Jangan menjelek-jelekan pacar saya ya. Pergi kamu sekarang" usir Marini.


Marini mendorong tubuh Ricky sampai di depan pintu, tetapi langkahnya di hentikan saat terdengar bunyi kerucukkkk perut Ricky.


"Dok tega mengusir saya yang sedang kelaparan?" tanya Ricky.


"Masabodoh saya gak peduli" bentak Marini yang terus merangsek agar Ricky pergi dari rumahnya.


Ketika tangan Marini sibuk mendorong Ricky, tak sengaja tangannya memukul benda pusaka bilik Ricky hingga dia mengaduh kesakitan.


"Arggghhhhh sakit dokter sakit" ucap pemuda itu sembari memegangi selah antara kedua pahanya.


Marini pun jadi terkejut dan merasa bersalah hingga memapah Ricky untuk duduk kembali di kursi ruang tamunya.


"Kamu sakit?" tanya Marini.


"Pake nanya lagi sakit lah" balas Ricky sembari meringis.


Sekejap kemudian, Ricky merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Marini sebagai bantalnya. Hal itu membuat Marini merasa terkejut dan berusaha menepis kepala Ricky.


"Ekh apaan ini? Lancang banget kamu ya. Awas jangan tidur di pahaku minggir sialan" ucap Marini sembari menyingkir-nyingkirkan kepala Ricky tetapi usahanya tak membuahkan hasil. Ricky yang sudah berbaring di pangkuan Marini langsung tertidur dan mendengkur secara halus.


"Duh kenapa sih ni bocah malah tidur di pahaku. Gak nyaman banget mana tidurnya nyenyak gini jadi gak tega untuk banguninnya" gumamnya.


Marini pun untuk sesaat membiarkan Ricky tidur dipangkuannya dan dia mengambil ponselnya untuk bermain game hingga kantuk menyerangnya dan Marini pun tertidur.


Dua jam berlalu Ricky menggeliat dari tidurnya dan mendapati Amora juga sedang tertidur di atas nya.


"Ini alasan aku jatuh cinta kepadamu bu dokter. Kau sangat cantik" ucap Ricky sembari merebahkan tubuh Marini dan gantian pahanya jadi bantal untuk Marini.


Ricky yang gemas kemudian mencuri ciuman dari bibir Marini lalu mencium kening nya dengan sayang.


"Aku akan memperjuangkan mu dan akan mengambilmu dari tangan om perkasa itu ( Yang di maksud om perkasa yaitu Pelix ).


Setengah jam berlalu Marini pun bangun dari tidurnya dan menggeliat-geliat di paha Ricky membuat dia sedikit tak nyaman karena Cacing besar Alaska nya tiba-tiba hidup.


Marimi yang terkejut karena kepalanya seakan menindih benda keras seperti batu langsung terbangun.


"Yaampun itu apa?" ucap Marini setengah sadar.


"Itu Cacing besar Alaska"kekeh Ricky.


"Ikh jorok banget sih mesum. Dasar bocah mesum" ketus Marini sembari mencubit perut Ricky.


"Hei bu dokter, anda lah yang buat Cacing ini hidup dengan gesekan kepala mu tahu!" sungut Ricky sedikit kesal bercampur malu.


"Bu dokter saya lapar" ucap Ricky.


"Pulang sana makan di rumahmu saja" ucap Marini.


"Aku jika lapar tak konsen menyetir bu dokter" ucap Ricky.


"Ba bu ba bu saja panggil aja Marini atau Rini" ucap Marini.


"Yasudah panggil aja Rini. Kita masak yuk?" ucap Ricky.


"Males" jawab Marini ketus.

__ADS_1


"Aku yang masak. Kamu hanya tunjukan saja dapurnya dan duduk dengan manis seperti seorang queen" ucap Ricky.


Mereka kemudian berjalan menuju dapur. Ricky mulai memakai celemek dan dia masak dengan tenang. Marini hanya melihat dengan intens pemuda itu.


__ADS_2