SUPIR KU SEORANG MAFIA

SUPIR KU SEORANG MAFIA
Maharani


__ADS_3

Lagi Pelix mengelurkan selembar poto itu yang tadi dia simpan di tas slempangnyaaa. Di pandangi poto wanita itu yang tengah menjinjing dagangan dengan senyum manisnya.


"Kenapa kakek ku bisa setega itu padamu nona!" ucap Pelix.


Kemudian dia menjalankan mobilnya ke arah rumah Amora untuk pulang.


Rumah yang tampak sepi hanya ada suara dengkuran Vivid yang ketiduran di depan tv. Pelix pun tak mengindahkan keberadaan Vivid dan langsung masuk kedalam kamarnya.


Pagi pun hadir, Pelix segera mandi. Setelah selesai kemudian menyambar tas slempangnya dan langsung memakai jaket kulit, dia buru-buru melangkahkan kaki untuk mulai pengintaian wanita yang ada di poto itu.


"Ku harus temukan wanita ini, sebelum anak buah kakek tua itu menemukannya dan membuat dia menderita" ucap nya.


Dia langsung menaiki mobil dan berangkat menyusuri jalan.


Dilihat kanan kiri tetapi belum juga menemukan sosok yang di maksud. Hingga setengah hari dia hanya berputar-putar sepanjang jalan.


"Dimana dia“ gumam Pelix.


Seharian menyusuri jalanan membuat tenggorokan Pelix terasa kesat, sejurus kemudian dia melihat warung yang menjual minuman dingin,kemudian Pelix menepikan mobilnya dan turun menuju warung itu.


Dia membeli minuman dingin dan sejenak dia istirahat duduk di bangku kayu depan warung itu. Semua yang di dalam warung itu ssketika terdiam melongo melihat ke arah Pelix. Semua ibu-ibu seketika menggumam kan Pelix sembari berbisik ria.


" Gilaa ganteng banget ya ampun" ucap salah seorang ibu-ibu yang bertubuh kurus dan berambut keriting.


"Gue baru loh lihat lelaki seganteng itu apalagi liat tuh otot nya bikin jantung gue syer-syer an" ucap Ibu-ibu berkerudung merah.


"Mas orang baru ya?" tanya ibu pemilik warung.


"Betul bu! Saya tidak pernah kemari. Saya sedang mencari seseorang" jawabnya.


"Mencari siapa sih mas ganteng ini?" tanya ibu-ibu berambut pendek memakai bando gambar Doraemon.


Pelix mengeluarkan poto wanita yang di cari, hal itu sontak membuat semua ibu-ibu bersungut julid.


"Wah ini sih si Maharani, janda gatel yang suka godain suami-suami kita. Mas ada apa gerangan mencari si Maharani?" tanya Seorang ibu-ibu julid.


"Saya hanya ada perlu saja dengan beliau" jawab Pelix.


Tak lama terdengar suara seorang wanita menjajakan dagangannya di sebrang jalan warung itu.


"Gorengan-gorengan, kue basah, nasi uduk.


Gorengan-gorengan, kue basah, nasi uduk. Masih hangat" ucap seorang wanita.


"Noh si Maharani datang. Hati-hati bu Wanda, dia lewat sini pasti mau ngebon lagi di warung" ucap Salah satu ibu kepada pemilik warung.


" Ibu ayo di pilih ada gorengamnya masih hanyat" ucap wanita itu.


"kita udah masak" ucap semua ibu-ibu itu.


Wanita itu menghampiri pemilik warung dan si pemilik warung sudah hapal gelagatnya.


"Bu boleh saya ngutang dulu? Anak saya sakit mau ngambil dulu kompresan buat anak" lirih wanita itu yang diketahui bernama Maharani.


"Yaelah neng, yang kemaren saja masih banyak yang belum di bayar. Kenapa mau hutang lagi?" ucap penjaga warung sedikit judes.


"Tolong saya bu dagangan saya belum laku banyak" ucapnya.


Melihat adegan melow itu membuat Pelix tak tega dan segera menghampiri Maharani.

__ADS_1


"Kasih saja kompresan itu buat anak nona ini! Berikan semua yang ada, saya akan membayarnya. Dan untuk semua dagangannya saya akan beli dan berikan kepada inu-ibu yabg ada disini semua".ucap Pelix.


Bulir bening mengalir di netra Maharani melihat kebaikan yang Pelix lakulan.


"Mas akan borong dagangan saya?" tanya Maharani.


"Benar nona. Silahkan berhitung" ucap Pelix.


Maharani Pun menghitung jumlah nominal harga dagangannya.


"Semuanya jadi 250 ribu mas" ucap Maharani.


Pelix segera membayar uangnya, dan membayar belanjaan Maharani pada pemilik warung itu.


Dirasa dagangannya semua sudah tak bersisa dia pun bergegas pulang.


"Mas terimakasih sudah membeli dagangan saya, dan memberikan obat untuk anak saya. Semoga tuhan membalas kebaikanmu" ucap Maharani sembari berlalu.


Melihat Maharani sudah berlalu lumayan jauh, Pelix segera mengikutinya di belakang. Hingga sampailah di depan sebuah rumah yang sederhana.


"Emak, emak sudah pulang? Mak, si dede demamnya makin tinggi dan nangis terus sepertinya minta susu" ucap seorang anak yang kira-kira berumur lima tahun.


"Maafin emak ya Caca, emak pulangnya agak lama tadi keliling dulu" ucap Maharani oada anaknya.


Kemudian Dia terlihat memangku seorang bayi perempuan dan langsung menempelkan kompresan yang di belinya dari warung pada dahi sang bayi. kemudian dia langsung memberikan ASI nya para bayi itu.


Pelix yang melihat dari balik kaca mobil merasa sesak pada dadanya. Rasanya tak tega melihat wanita itu dengan kedua anaknya. jangan kan membunuh, mengusiknya saja rasanya dia tak tega.


"Apa yang ada di pikiran si kakek tua itu. Tega sekali dia menyuruhku untuk membunuh wanita itu" gumamnya.


Ketika Pelix sedang mengawasi Maharani, tiba-tiba seorang pria berbadan cungkring menghampiri Maharani.


"Rani, sudah dua bulan kau belum membayar kontrakan. Bayar sekarang atau kau pergi dari kontrakan ku sekarang" sentak lelaki itu.


"Apa kau bilang terpakai? Pergi sekarang dari sini. Atau bisa saja kau tinggal disini selamanya asalkan~~" ucap lelaki yang di ketahui bernama Dayat itu.


"Atau apa?" tanya Maharani curiga.


"Asal kau bayar dengan tubuhmu. Kau layani aku kapan saja, maka aku akan membebaskanmu dari biaya kontrakan ini. Bagaimana?" ucap Dayat dengan tatapan nafsu yang menggebu.


"Cuihhhh" Maharani membuang ludahnya tepat di hadapan Dayat dan menatapnya dengan tatapan menghinakan.


"Aku memang seorang janda kau tahu, tapi aku tak akan melakukan hal yang hina apalagi dengan laki-laki sepertimu. Perkara uang kontrakan akan ku bayar kau tak usah khawatir" bentak Maharani.


"Dasar janda sialan tak tahu di untung" ucap Dayat nyalang sembari mengayunkan tangannya untuk menampar Maharani.


Saat tangan itu terulur, Pelix tiba-tiba datang dan menghempaskan tangan itu dengan kasar.


"Jangan kau kasari wanita lelaki bodoh" sentak Pelix.


"Siapa kau jangan ikut campur" balas Dayat sengit.


"Berapa hutang wanita ini padamu?" tanya Pelix.


"Kenapa kau tanya-tanya hah? Memangnya kau punya uang untuk membayarnya? Manamungkin!" balasnya merendahkan.


"Berapa hutangnya bodoh?" tanya Pelix.


"Dia belum membayar kontrakan selama dua bulan, itu artinya dia hutang sebesar tujuh ratus ribu" balas dayat.

__ADS_1


Pelix pun membuka tas slempangnya dan mengeluarkan uang sebesar yang di maksud Dayat, dan melemparkan tepat pada mukanya.


"Ambil uang mu sekarang dan pergi atau aku buat kau masuk kuburan atau rumasakit. Cepat pergi~~Brughhhh" ucap Pelix sembari meninju perut dayat hingga dia meringis kesakitan.


"sialan kau. Aku akan buat perhitungan denganmu" ucap Dayat yang langsung pergi


Maharani kemudian menghampiri Pelix dan merasa heran dengan kedatangnya.


"Mas kan yang tadi menolong saya? Ada apa mas kemari?" tanya Maharani.


"Maaf nona, bolehkah bicaranya didalam?" ucap Pelix.


"Ayo silahkan masuk mas, maaf rumahnya berantakan"ucapnya.


" To the poin saja nona, apa kau benar wanita ini?" tanya Pelix sembari memperlihatkan poto dirinya.


"Benar itu saya. Ada apa sebenarnya mas?" tanya Maharani.


"Benarkah minggu kemarin anda mempergoki seseorang sedang bertransaksi narkoba di sebuah gedung kosong?" tanya Pelix.


"Hmmmmmmm~" jawabnya ragu.


"Katakan saja nona, saya hanya butuh penjelasan. Kau tahu bukan jika hal yang berkaitan dengan barang itu maka akan di kelilingi orang-orang jahat dan berbahaya?" ucap Pelix.


"Sejujurnya iya mas, waktu itu ~" ucapnya sembari menerawang jauh ke kejadian seminggu yang lalu.


Flashback satu minggu yang lalu.


"Caca, emak pergi berjualan dulu ya. Jaga Nayla baik-baik" ucap Maharani pada sang anak sulung.


"Baik mak" jawabnya singkat.


Hari itu cuaca mendung, tetapi Maharani tak patah arang untuk menjajaki dagangannya dari rumah kerumah. Peluh yang bercucuran dan terkadang bebrapa cibiran dari ibu-ibu mewarnai hari-harinya.


" Heh janda gatal, awas ya loe goda bang jafar , gue sikut loe"


"Maaf ya bu, saya tak ada niatan ganggu suami-suami kalian. Suaminya aja yang kegatelan" balasnya sembari berlalu.


Setitik air mata jatuh begitu saja mengingat perihnya segala hinaan yang di rasa. Dia wanita tangguh yang sudah di tinggalkan suaminya satu tahun yang lalu akibat wabah virus corona. Dia harus menghidupi kedua anaknya yang masih kecil dan adik laki-lakinya yang masih sekolah SMA.


"Bang Damar kenapa kamu pergi secepat itu mas. Aku disini banting tulang dan aku jadi hinaan banyak orang karena statusku" lirihnya.


Ketika dia sedang berjalan menyusuri jalan, tiba-tiba hujan datang dengan derasnya dia melihat bangunan tua yang lama terbengkalai dan berniat berteduh disana. Sejurus langkahnya pun terhenti mengingat reputasi gedung itu terbilang seram dan bekas pembunuhan tapi dia segera menepis keraguan dan berdiri di depan bangunan itu. Samar-samar terdengar suara banyak orang di dalam.


"Ternyata di dalam banyak orang. Atau hantu ya? Tapi aku tak takut mereka, aku hanya takut anaku tak bisa makan hari ini. Apa aku masuk dan tawari orang di dalam sana dagangan ku ya. Coba dulu deh" ucapnya sembari memasuki bangunan itu.


Dia mendekat ke arah ruangan belakang dan mendengar suara seseorang.


"Nilai barang ini tidaklah murah, triliunan kau tahu. Jangan sampai informasi ini bocor kepada siapaun. Narkoba ini akan menjadi jalan untuk mu bisa kaya" ucap lelaki paruhbaya itu.


"Baiklah mister, aku akan menjaga barang berharga ini dan aku pastikan akan sampai kepada pelanggan kita dengan aman. Senang bekerja sama dengan anda" ucap pria dengan tubuh kekar.


Maharani yang mendengar pembicaraan mereka tampak syok.


"Narkoba? Itu kan barang haram. Aku takut aku harus segera pergi dari sini" ucapnya sembari melangkah kan kaki.


Tapi dia tak hati-hati, ketika dia ingin keluar rak sengaja dia menyenggol botol minuman keras yang teronggok di lantai dengan kakinya hingga berbunyi.


Pranggggggggggg!!! Bunya botol itu sontak membuat semua pria yang ada di sana terkejut.

__ADS_1


"Hei siapa disana?" tanya pria berwajah timur tengah.


"Keluar sekarang atau aku bunuh saat ini juga. KELUAR!!!“ teriak lelaki itu kembali.


__ADS_2