
"Hei siapa disana?" tanya pria berwajah timur tengah.
"Keluar sekarang atau aku bunuh saat ini juga. KELUAR!!!“ teriak lelaki itu kembali.
Maharani secepat kilat melangkahkan kaki dari tempat ini dan berhasil melarikan diri. Tetapi naas, ada satu laki-laki yang mengetahui wajahnya tetapi tak sempat menangkapnya. Mulai saat itu dia selalu di intai dan di ikuti.
"Begitu lah mas ceritanya. Terakhir kemarin dua orang lelaki dengan pakaian serba hitam mengikuti saya sewaktu saya berdagang. Saya mencoba untuk berfikir positif tetapi naluri saya mengatakan bahwa saya sedang di awasi. Tolong saya mas, saya takut" ucap Maharani dengan bulir bening menetes dari pelupuk matanya.
"Saya akan menolong anda nona. Tapi ada syarat yang harus di penuhi" ucap Pelix.
"Apa itu?" ucapnya.
"Pergi dari sini. Pergi yang jauh dan kita akan pura-pura berekting sedikit. Apakah anda bisa nona?" tanya Pelix.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba datang lah satu sosok pemuda yang berpakaian SMA.
"Pergi? Pergi kemana kak? Dan dia siapa?" tanya pemuda itu.
"Andri? Sini duduk dek, kakak mau jelasin satu hal padamu" ucap Maharani pada lelaki yang di ketahui bernama Andri, adiknya.
Di ceritakan lah semua dengan detail peristiwa demi peristiwa yang di alamai Maharani belakangan ini. Dan kedatangan Pelix yang ingin membantu.
"Kenapa kak Rani baru cerita sekarang?" tanya Andri.
"Maafkan kakak dek!" ucap Maharani kelu.
"Oke sekarang kamu sudah paham kan apa yang saya minta, kamu bantu saya untuk jalanin rencana ini? Dan apa kamu siap untuk pergi dari daerah ini malam ini juga? Waktunya tidak banyak" ucap Pelix pada Andri.
"Baik bang, aku akan bantu. Aku takut berurusan dengan orang-orang seperti itu" ucap Andri.
Maharani dan Andri mendadak termangu dan merasa gelisah.
"Saya tahu apa yang menjadi beban fikiran kalian! Soal uang kan dan biaya kepindahan kalian?“ tanya Pelix.
" Ya itu yang menjadi pikiran kami!" ucap Maharani.
Kemudian Pelix mengeluarkan uang sejumlah seratus juta dan langsung di berikan pada Maharani.
"Ini apa?" tanyanya bingung.
"Untuk kalian. Pergi yang jauh dari sini. Nanti sesudah tugas kita selesai aku akan antarkan kalian pulang ke kampung. Jangan membawa barang yang banyak karena dengan uang itu kalian bisa membelinya" ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah mas! Apa yang harus kami lakukan?" tanya Maharani.
"untuk anda nona, saya akan mendandani anda seperti seorang korban pembunuhan, dan untuk mu Andri, kau bisa bantu aku buat menyiapkan proferti nya" ucap Pelix.
"Panggil saya Rani saja mas. Kebetulan saya dulu pernah kursus make-up jadi bisa mendandani sendiri" ucap Maharani.
"Ide bagus. Apa kalian punya tambang?" ucap Pelix.
"Ada bang di belakang. Aku ambil sekarang" ucapnya.
Skenario pun mulai di jalankan.
Dari mulai suara rekaman ketika Maharani sedang merintih minta tolong, kemudian mendandani dirinya sendiri seolah sedang mengalami penyiksaan dengan wajah babak belur dan seutas tambang mengikat tubuhnya pada ruangan termaram di tambah kucuran darah yang banyak pada pelipisnya kemudian Pelix memotretnya.
"Andri.kau bisa bantu aku gali tanah lantai ini?" ucap Pelix pada Andri.
"Siap bang" ucap Andri yang mulai menatah lantai.
Ketika lubang yang cukup dalam sudah jadi, Marini masuk lobang itu seolah dia sudah meninggal dan Pelix aoan mengubur nya.
"Buat adegan se-dramatis mungkin nona!" ucap Pelix.
Maharani pun terlentang dengan bibir terbuka dan mata melotot di dalam lubang itu dan Pelix segera memotretnya.
"Kau tenang saja, aku sudah pasang alat peredam suara jadi kita aman" jawab Pelix.
Sesudah adegan dramatis dalam lubang tanah, Maharani oun segera keluar lalu membantu Andri dan Pelix merapihkan kembali bekas galian sampai benar-benar rapih seperti awal.
"Sudah aman dan kalian bisa pergi!" ucap Pelix.
"Baiklah kami segera menyiapkan apa saja yang kami bawa" ucap Maharani.
"Jangan ada dokumen kalian yang tertinggal. Dan untukmu Andri, aku akan mengurusi soal kepindahan sekolahmu" ucap Pelix.
"Terimakasih bang. Aku berhutang nyawa padamu" ucapnya.
"Tidak masalah karena itu sudah jadi tugasku! Kalian pulang kemana?" tany Pelix.
"Kami akan pulang ke Indramayu kampung halaman saya" jawab Maharani.
"Baiklah ayo sekarang kita pergi" ucap Pelix.
__ADS_1
Mereka pun pergi malam itu juga. Tak ada yang tahu dan tak meninggalkan jejak apa-apa, hanya barang-barang nya yang masih utuh tak di bawa.
Sepanjang jalan Pelix mengendarai mobilnya menuju Kota Indramayu dan sekitar subuh barulah sampai di daerah itu.
Maharani menyuruh memberhentikan mobil yang Pelix kemudikan di sebuah rumah panggung yang sudah lama tak terwawat.
"Ini rumah saya. Saya disini sudah tak punya siap-siapa" ucapnya.
"Kalau begitu saya tidak bisa berlama-lama, saya harus pergi sekarang. Saya minta no telpon anda" ucap Pelix.
Sesudah selesai mengantar Maharani pulang, Dia segera pergi lagi menuju ibukota dan akan segera melaporkannya kepada sang kakek.
"Cape banget hari ini. Gara-gara si kakek tua aku jadi begini. Semoga saja Maharani mendapat kehidupan yang lebih baik setelah dia tinggal di kampungnya" ucap Pelix.
Hari ini dirasa sangat lelah, dia pun tak kuat lagi untuk melajukan mobilnya dan memilih menginap di hotel yang di lewatinya.
Hotel orange's menjadi tempatnya bermalam. Hotel di daerah yang tidak terlalu besar tetapi lumayan lengkap fasilitasnya. Kamar yang tak begitu besar tetapi sangat nyaman apalagi di tambah pemandangan luar jendela yang mengarah ke gunung dan pesawahan.
"Nyaman sekali tinggal di sini jauh dari segala tuntutan" ucap Pelix sembari merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara dalam-dalam.
¥
Marini hari ini tidak bersemangat bekerja, pasalnya Pelix sudah dua hari tak ada kabar dan ponselnya pun tak aktif.
"Argghhhhh~~ Pel kemana sih kamu? Aku cemas" ucap Amora sembari meninjukan tangannya pada ranjang pasien.
Pelix yang sengaja tak memberinya kabar dan mematikan telp nya karena dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun ketika menjalankan dramanya bersama Maharani.
Sama dengan Marini yang terus saja uring-uringan, Amora pun sama halnya. Semenjak dia pulang dari hotel bersama Martin, Amora terus saja menelpon Pelix tanpa henti. Dia melihat mobil yang biasa di pakai Pelix terparkir indah di garasi rumahnya dan Pelix tak memberitahu apapun sebelum kepergiannya.
"Pel dimana sih kamu? Aku khawatir tau gak sih. Setidaknya berikan aku kabar!" ucap Amora gelisah.
¥
Pagi pun tiba, Pelix yang sudah tiga hari tak mengaktifkan ponselnya akhirnya mengaktifkannya. Dia di kagetkan dengan notifikasi panggilan.
Amora 50 panggilan tak terjawab beserta 30 pesan singkat.
Marini 139 panggilan tak terjawab beserta 98 pesan singkat.
Kakak tua 10 panggilan tak terjawab beserta 5 pesan singkat.
__ADS_1
"Apa-apa an ini? Mau ngapain mereka menghubungiku sebanyak ini! Pasti mereka sangat merindukanku" ucap Pelix sembari terkekeh.
Pelix yang sedang berjemur sembari menikmati pemandangan alam hotel itu, memotret dirinya dengan memakai kacamata hitam dan segelas jus di tangannya. Dia pun mengupload potonya ke whatsap dengan caption: Menikmati sinar mentari dengan segala keindahannya.