
"Amora" ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu membuat Amora terperanjat.
"Martin!" gumam Amora.
Ternyata siang itu Martin datang bersama Susan dan Nayla sang anak kerumah yang dulu dia wariskan selepas bercerai darinya.
"Maaf aku langsung masuk saja! Sudah satu jam mengetuk pintu tapi tak ada yang membukanya" ucap Martin.
Amora dan Pelix menghampirinya. Nayla si kecil tiba-tiba merentangkan tangannya pada Amora meminta untuk dipangku.
"Endong ateu mola endong (Gendong tante Amora gendong)" ucap anak itu.
"Oh Nayla pengen di gendong tante?" tanya Amora.
Nayla hanya menganggukan kepala saja. Entah dari sejak pertemuan mereka yang tidak di sengaja, bocah gembul itu selalu menyebutkan kata Amora sampai Susan sang ibu heran.
Amora menggendong bocah itu di ikuti Susan di sisi Amora.
"Momy uda momy ( momy kuda momy)" ucap Nayla senang melihat banyaknya kuda berjajar di peternakan.
"Itu punya tante Amora sayang" ucap Susan.
"Nayla pengen kuda?" tanya Amora.
Bocah itu mengangguk senang.
"Pilih, Nayla pengen kuda yang mana?" tanya Amora.
"Amor jangan bercanda, nanti dia ingin beneran loh repot" kekeh Susan.
"Aku serius Sus! Lagi pula ini juga warisan yang dadynya berikan padaku, kalau anaknya mau pasti akan ku berikan" ucap Amora.
"Aku, pengen uda yang walna item" ucap Nayla antusias sembari menunjuk kuda besar yang warna hitam.
Amora dan Susan terkekeh.
"Sayang, kuda itu sudah tua. Dia satu-satunya pejantan di peternakan ini. Bagaimana kalau yang itu saja, masih bayi sama sepertimu?" tunjuk Amora pada anak kuda yang kemarin di lahirkan.
"Ya, ya mau uda tu ( ya, ya mau kuda itu)" Bocah itu tertawa memandang kuda itu.
"Sekarang itu sudah jadi milikmu. Tapi saat ini kamu tidak bisa membawa pulang ya soalnya kudanya masih menyusu" tutur Amora.
"Yey, aku punya uda (yey aku punya kuda)" Nayla bersorak-sorak.
"Amor, terimaksih" ucap Susan.
Amora hanya tersenyum.
Mereka lalu berjalan menemui Martin dan Pelix didalam yang sedang duduk didepan peternakan.
"Mas, Amora memberi Nayla anak kuda" ucap Susan.
"Ya ampun Amora, mau di taruh dimana kuda itu. Aku tinggal di apartemen mana ada halaman" ucap Martin.
"Biarkan disini dulu! Lagi pula masih menyusui sama induknya" timpal Amora.
"Kalian ada apa kemari?" tanya Pelix pada dua sejoli itu.
"Aku ingin mengambil map pekerjaanku! Kasus yang ada di Kalimantan dibuka kembali oleh perusahaan itu. Aku ingat menyimpannnya di rumah ini. Aku kira kasusnya dihentikan, makannya aku tak pernah mencari map itu. Amora, tolong ambilkan map di kamarmu persisnya dilemari yang warna merah!" ucap Martin.
"Baiklah Mas, aku ambilkan" Amora segera berlalu kekamarnya.
"Ck, masih hapal saja letaknya" ucap Pelix.
__ADS_1
"Ya dong! Dulu kan aku tuan rumahnya! Semenjak ada hama bubar deh" balas Martin sembari mendelik ke arah Pelix.
Pelix pun meninju perut Martin.
"Sialan kau dasar duta poligami" ucap Pelix.
Mereka pun tertawa berdua.
Amora membawa berkas itu dan langsung menyerahkan kepada sang pemilik.
"Terimakasih" ucap Martin.
Pintu depan ada yang mengetuk. ART dengan sigap segera membukanya.
"Selamat siang! Kak Amoranya ada?" tanya Ricky.
"Ada! Maaf dengan siapa ya?" tanya sang ART.
"Saya adiknya" jawab Ricky.
"Oh ya silahkan masuk" ucap ART itu dengan ramah.
Ricky datang dengan Marini beserta bayi anaknya.
"Kak Amor" Ricky langsung menyapa dan duduk di antara Martin dan Pelix.
"Yah si bocah" sapa Pelix.
"Hei om-om sekalian, bagaimana nih kabarnya?" sapa Ricky.
"Baik"
"Baik" ucap keduanya.
"Kami ingin main saja! Bolehkan Pel?" tanya Marini.
"Boleh lah" jawab Amora.
"Nayla, anaku diberikan kuda oleh Amora" Martin bangga.
"Hei Amor, kau tak adil. Anak Martin di berikan kuda, masa anaku tidak" ucap Marini mencebik.
"Kamu mau kuda bocah gembul? Sini tante gendong ya" Amora menggending anak Marini.
Selayaknya sudah seperti saudara sendiri, antara Marini dan Susan untuk Amora! Yang dahulunya penuh dengan ketegangan, sekarang menjadi menghangat berkat sudah ikhlas dengan jalan hidup yang Tuhan takdirkan.
Ketiga pria itu asik bermain kartu, sementara ketiga wanita dan dua bocah itu berkeliling di sekitaran peternakan.
"Rin, kamu tak bekerja?" tanya Amora.
"Aku mengambil jam siang, Amor! Besok baru dinas pagi. Ricky sudah melarangku bekerja, tetapi menjadi dokter adalah impian aku sejak kecil. Untung mertua mau mengasuh anaku ini" tutur Marini.
"Terus bagaimana bisnis sambal onlinenya?" tanya Amora pada Susan.
"Puji syukur produknya selalu sold out. Sekarang tempat produksinya di perluas, dan lumayan bisa membula lapangan pekerjaan" Susan bercerita antusias sekali.
Hobinya memang masak, dan dia menjadikan hobi itu sebagai sarana untuk mencari penghasilan.
"Aku ikut senang mendengarnya! Oh ya mana bawa tidak sambelnya?" tanya Amora.
"Iya nikh, tester dong" timpal Marini.
"Tenang, aku bawa dimobil untuk kalian berdua" ucap Susan.
__ADS_1
"Terus bagaimana denganmu Amor?" tanya Marini.
"Rencananya aku mau meneruskan usaha Florist peninggalan ibuku, tapi semenjak hamil, aku jadi mual mencium bau bunga, ya jadi nanti saja sesudah melahirkan aku mulai merintis" ucap Amora.
"Kamu hamil?" tanya Marini.
"Ya, aku sedang hamil" jawab Amora.
Seketika wajah Susan menjadi sendu.
"Sus kenapa denganmu?" tanya Amora heran.
"Aku ingat soal dulu Amor! Maafkan aku-- Hikhikhik" Susan menangis.
Dipeluknya Susan oleh Amora.
"Sudah lah Sus! Yang dulu sudah berlalu. Aku juga sudah melupakan semuanya. Aku ingin hidup tenang tak ada dendam lagi" ucap Amora.
"Maafkan aku" Susan mengeratkan pelukannya.
"Sudah ku maafkan" ucap Amora.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di vila Kaisyah, Camilla tiba-tiba merasakan mual yang begitu hebat. Perutnya seakan di aduk-aduh dan kepalanya sangat pening.
"Sayang, kamu dari kemarin seperti ini terus" Henry memenui sang istri namun Camilla tiba-tiba muntah kembali.
"Bang Henry kok bau banget sih! Sana jangan dekat aku mual rasanya bang" ucap Camilla.
"Bau apaan sih? Abang udah mandi sayang" ucap Henry sembari mencium kedua keteknya.
"Bang Henry bau sampah" ucap Camilla.
"Enak aja wangi begini" timpal Henry kesal.
Mendengar ribut-ribut, Kaisyah dan Jhonson pun menghampiri mereka.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanys Jhonson.
"Ini ayah, masa aku dikatain bau sampah sama Camilla" Henry mencebik kesal.
"Gak kok" ucap Jhonson sembari mencondongoan tubuhnya pada sang memantu.
"Kamu mual ya dari kemarin?" tanya Kaisyah.
"Iya nih bunda! Gak tahu kenapa" jawab Camilla.
"Apa jangan-jangan kamu hamil nak?" tanya Kaisyah.
"Henry sekarang kamu beli tespek untuk istrimu, cepat!" ucap Jhonson.
Henry pun bergegas membelinya.
Camilla dengan gemetar memegangi tespeknya, dan alangkah terkejutnya ternyata garis dua terpampang nyata.
Camilla keluar kamar mandi dan langsung menyerahkan hasil itu pada Henry.
"Aku hamil bang" ucap Camilla senang.
Henry diam sejenak, mencoba mencerna ucapan sang istri.
"Kamu hamil? Jadi sebentar lagi aku akan menjadi ayah--- Argggggggghhh, puji syukur Tuhan. Terimakasih" Henry sangat bahagia.
__ADS_1
"maka dari itu, keluarga ini akan ramai suara tangisan bayi" ucap Jhonson senang.