
Ricky dan Elizabeth langsung bergegas ke lokasi berita itu. Di sepanjang jalan, Elizabeth menangis meratapi tindakan sang putri yang ingin mengakhiri hidupnya.
"Tanteu tenang! Semua akan baik-baik saja. Saya pastikan akan tepat waktu sampai kesana" ucap Ricky.
"Saya tidak bisa tenang nak Ricky, bagaimana jika Marini sampai loncat? Dia sungguh tidak memperdulikan saya sebagai wanita yang sudah mengandung dan merawatnya sampai dia menjadi seperti sekarang ini~~Huhuhu" tangis Elizabeth.
Mobil Ricky telah sampai di lapangan tempat yang akan di jadikan Marini bunuh diri. Terihat Marini dengan tatapan kosong mengendurkan pengangannya bersiap untuk melompat.
"Pak polisi, kami keluarganya dia" ucap Ricky.
"Baiklah silahkan pakai speaker ini dan bujuk agar nona itu segera turun" ucap Polisi.
Elizabeth langsung merebut speaker itu dan berbicara dengan Amora.
"Rin, turun nak! Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang kurang dari hidup kamu?" ucap Elizabeth.
Sesaat Marini diam dan memandang teduh sang mama. Tapi hatinya sudah terlanjur.
Ricky dengan beraninya berlari menuju arah menara itu tampa bisa di cegah oleh siapapun. Dirinya terus merangkak dan mendekati Marini.
"Mau sampai kapan kau begini? Hanya gara-gara pria kau mau mengakhiri hidup dengan cara sehina itu, hem?" tanya Ricky.
"Diam kau brengsek! Tinggalkan aku disini aku akan loncat. Buat apa ku hidup jika tidak bersama Pelix" teriak nya.
"Ya, ya, ya kau sangat cinta dia aku tahu kok! Tapi apa dengan kau mati konyol dia akan bersedih? Ku rasa tidak malah dia akan semakin dekat dengan Amora" ejek Ricky.
"Diam kau jangan sebutkan wanita gila itu di hadapanku" ucap Marini.
"Lama berdiri di sini pasti kau haus kan? Sebelum kau mati, minum dulu" ucap Ricky yang tangannya memberi isyarat agar polisi segera naik dan membawa tali.
Marini pun dengan enggan menerima botol air mineral itu dan meneguknya hingga tandas.
"Mau sekalian sama snack nya? Sebelum mati dan bergentayangan kau harus makan dulu snack ini agar arwahmu tidak semakin penasaran" kelakar Ricky yang memberikan snack pada Marini.
Dengan polosnya Marini pun menerima snack yang Ricky berikan dan segera memakannya.
Di bawah, orang yang menonton menjadi tertawa, pasalnya Marini yang ingin bunuh diri terlihat seperti sedang bercengkrama karena memakan snack dan minuman.
"Turun"
"Turun"
"Turun"
Suara riuh orang yang berkumpul menyaksikan aksi nekad dari Marini.
Marini pun semakin tertantang dan sulit di kendalikan. Pandangannya sudah mulai menghunus ke bawah dan siap untuk melompat, tapi tangan kekar Ricky menahannya.
"Diam dulu jangan lompat sekarang“ ucap Ricky sengaja mengulur waktu.
" Kau lihat wanita yang pakai kursi roda di bawah sana, melihat mu sangat terpukul, kau jangan egois hanya memikirkan egomu semata, pikirkan mama mu dan aku yang selalu mencintaimu. Pelix sudah tidak menginginkan mu, masih ada aku yang bisa menerima wanita tua ini. Dan bagaimana jika kau mati di tempat ini, dan arwahmu akan jadi kuntilanak merah yang menuntut dendam, apa kau tidak akan menyesal nantinya?" ucap Ricky merayu.
Polisi sudah berdiri terpat di belakang Marini. Dengan sigap dia langsung mengikatkan tali ke pinggang langsing itu dan segera di tariknya. Marini memberontak.
"Lepaskan aku bodoh! Aku ingin mati saja" teriaknya.
Sesampainya di permukaan tanah, Marini langsung pingsan dan Ambulance sudah siap siaga lalu membawanya ke rumasakit untuk di rawat.
Sesampainya di rumasakit, Ricky dan Elizabeth hanya diam termangu dengan pikiran masing-masing.
Seorang dokter keluar dari ruang rawat Marini, dan Mereka berdua pun segera menemuinya.
"Bagaimana dokter dengan anak saya?" tanya Elizabeth.
"Syukurlah anak anda tidak apa-apa hanya syok saja dan kelelahan" jawab dokter.
__ADS_1
"Apakah saya sudah bisa menemuinya" tanya Elizabeth.
"Silahkan nyonya" jawab dokter itu.
Mereka pun memasuki ruang rawat Marini. Terlihat selang infus pada lengan Marini yang masih tergolek lemah.
"Satu pertanyaan ku, kenapa kau bisa bertindak bodoh seperti ini Marini? Huhuhuhu" tangis Elizabeth pecah di samping ranjang rawat sang putri.
Tak lama, Marini pun sadar dan mendapati Elizabeth tengah menangis sesegukan di sampingnya.
"Mama!"seru Marini lirih.
Elizabeth kemudian menatap sang putri yang baru saja bangun dari pingsannya. Dengan wajah datar dan ekspresi kecewa.
"Kenapa kamu bisa melakukan hal rendahan seperti itu hah? Kau sudah mempermalukan dirimu sendiri dan aku. Oh Marini kau ini seorang manusia terdidik, aku menyekolahkan mu supaya pintar bukan menjadi konyol. Your really are an idiot woman!" kekesalan Elizabeth membuncah.
"Maafkan aku ma! Aku benar-benar kalut saat itu. Pelix memutuskan hubungan kami gara-gara wanita depresi itu. Aku sungguh tidak terima ma, aku tidak terima!" Marini terisak memberi alasannya pada sang mama.
"Apa yang kau cari dari pria itu? Dia sudah tidak mencintaimu lantas kau mau bunuh diri? Media sudah meliput mu dan itu sudah Viral. Apa kah kau berpikir dunia mu hanya laki-laki itu hah? Lantas kau anggap aku ini apa?" ucap Elizabeth yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
"Tolong ma mengertilah aku sangat mencintainya dan dia harus menikahiku apapun yang terjadi. Dan maafkan aku sudah membuatmu malu dengan hal ini!" lirih Marini.
"Kenapa dia harus menikahimu hah? Apa karena kau sudah di renggut kesucianmu olehnya sehingga dia harus bertanggung jawab hah?" sentak Elizabeth.
"Ma? Mama tahu?" tanya Marini.
"Ya aku tahu! Pantas saja selama ini kau tidak pernah membuka hatimu untuk siapapun, ternyata kau sudah tidak suci lagi " ucap Elizabeth sembari menangis.
"Nak Ricky, sepertinya kamu harus menjauhi anak tanteu! Karena kamu juga tahu dia tidak mencintaimu bukan? Kamu carilah wanita yang seumuran dengan mu, Pergi yang jauh jangan ada di hadapan Marini lagi" ucap Elizabeth.
Mendengar ucapan dari wanita paruhbaya itu, sontak membuat Ricky tersentak. Pasalnya Elizabeth meminta sesuatu yang sangat menyakitkan darinya.
"Tapi tanteu, aku sangat mencintai Marini, aku janji akan lebih keras berusaha memenangkan hatinya. Tolong tanteu jangan seperti ini kasihani lah pria malang ini tolong berikan kesempatan untuk saya!" ucap Ricky memohon.
"Sudahlah nak Ricky, Kamu jangan cape-cape mengejar hal yang semu, Marini jelas-jelas masih bertahan dengan kebodohannya mencintai Pelix yang sudah tak mencintainya" ucap Elizabeth.
"Pergi sekarang! Cepat pergi dari sini, pergi yang jauh dan jangan temui lagi kami" sentak Elizabeth.
Ricky dengan berat hati melangkahkan kaki nya dengan lunglai keluar dari ruangan ini. Tapi sebelum keluar dia berbicara dulu kepada Marini.
"Maafkan aku yang sudah mengganggu hidupmu. Aku pergi dan, ya benar yang di katakan mama mu, aku tidak usah mengharapkan mu lagi. Ini terakhir kalinya aku menemuimu. Silahkan perjuangkan cintamu semoga bahagia dengan Pelix. Aku pergi dan takan menemui mu lagi. Maafkan pengganggu ini. Tapi walaupun aku mencintaimu dan merasa hancur tapi aku takan bunuh diri seperti mu" ucapnya dan langsung keluar dari ruangan itu.
Ada rasa nyeri di hati Marini mendengar hal itu dari Ricky. Walau bagaimanapun Ricky lah yang selalu ada untuknya di saat apapun dan selalu sabar menghadapi sikapnya yang kadang tidak jelas. Tapi rasa cinta nya pada Pelix membuat dia tidak mampu menerima siapapun di hatinya.
"Maafkan aku Ric" lirih Marini.
"Sudah puas sekarang? Bahkan aku mengusir seorang pahlawan" geram Elizabeth.
"Kejar lah sana cinta pria itu, kejar sampai kau menjadi wanita bodoh. Aku takan melarang mu karena kau sudah dewasa atau akan berakhir di menara sinyal lagi jika Pelix tak mau dengan mu?" kesal Elizabeth yang kemudian berlalu meninggalkan Marini sendirian di ruang rawat.
Marini saat itu hanya bisa menangis.
Di luar tampak Ricky yang masih syok dengan ucapan Elizabeth. Dia termenung dan tangis kejantanannya luruh di pipi tegasnya.
"Nak Ricky!" seru Elizabeth.
"Tanteu!" ucap Ricky yang langsung menyeka air matanya.
"Maafkan ucapan tanteu ya nak! Sumpah demi apapun tidak ada maksud tanteu ingin menyuruhmu menjauhi Marini! Tanteu hanya sedang memainkan peran saja agar dia bisa berfikir jernih" ucap Elizabeth.
"Maksud tanteu apa ya?" tanya Ricky yang belum paham maksud wanita paruhbaya itu.
"Kamu tahu kan jika kamu pergi maka Marini tak ada teman lagi. Dia lambat laun akan merasakan kesepian dan tanteu yakin dia akan mencarimu dan merindukanmu. Jujur saja tanteu sudah kurang yakin pada Pelix bisa membahagiakan Marini! Tanteu harap kamu berjodoh dengan anak tanteu ya! Tanteu merestuimu nak Ricky untuk menjadi menentu tanteu. Semoga kamu bahagia ya sayang“ ucap Elizabeth sembari mengusap kepala Ricky dengan sayang.
Pemuda tampan itu seketika menangis dalam pelukan Elizabeth karena dia pikir Elizabeth akan memisahkan nya dengan Marini.
__ADS_1
"Terimaksih tanteu" ucap Ricky.
"Sama-sama sayang. Sekarang jangan panggil tanteu, panggil mama saja kan calon menantu. Sekarang kamu boleh pergi yang jauh dulu dan ingat jangan sekali-kali menghubungi Marini ya biar dia merasa rindu padamu" ucap Elizabeth sembari tertawa renyah.
"Baiklah mama" jawab Ricky.
Ricky pun pulang dengan bahagia.
Ricky pulang, kini giliran Pelix yang datang ke rumasakit. Dia tahu berita itu dari Billy.
Dia langsung menemui Elizabeth.
Ada raut wajah kecewa dari Elizabeth kala melihat Pelix.
"Selamat malam tanteu elli! Bagaimana keadaan Marini sekarang? Saya benar-benar mencemaskannya!" ucap Pelix.
"Kamu boleh langsung saja melihat keadaan nya" ucap Elizabeth yang langsung memasuki ruang rawat Marini.
Terlihat Marini dengan menangis dan seketika bahagia kala Pelix datang menghampirnya.
"Bagaimana keadaan kamu Rin? Aku tidak menyangka seorang Marini Daniela Romero bisa melakukan hal nekad seperti ini" tegas Pelix.
"Karena aku tidak mau kehilangan mu Pel. Aku sangat mencintaimu kau pun tahu itu" ucap Marini sembari menangis.
Pelix memeluk tubuh mungil itu dan meresapi dalam-dalam hatinya. Jujur saja masih ada rasa cinta dalam hatinya untuk wanita yang sedang dia peluk ini, tetapi hatinya pun telah hampir sepenuhnya di berikan pada Amora.
"Hei, apakah dengan itu bisa menyelesaikan masalah, hem?" tanya Pelix sembari menangkup wajah Marini dengan kedua tangannya.
"Jangan tinggalkan aku pel"lirih Marini.
" Rin!" lirih Pelix.
"Please! Aku tidak bisa hidup tanpamu sayang, please" Marini memohon sembari menatap pasrah manik Pelix.
"Baiklah aku akan menjagamu tapi ingat jangan pernah lakukan hal bodoh lagi ya?" ucap Pelix mengelus pucuk kepala Marini.
"Ya sayang aku janji" ucap Marini.
Marini seorang wanita yang pintar dengan gelar dokternya, tapi bucin sekali dengan Pelix, Kadang cinta itu ada dua versi ya teman-teman. Pertama cinta yang benar-benar saling menyangi dan akan berkorbam demi orang yang di sayang untuk hidup bahagia. Dan kedua ada cinta obsesi yang mencintai secara berlebihan, dan merasa raga pasangan itu miliknya seorang..
Di luar ruangan, Elizabeth telah menunggu Pelix untuk bicara.
"Apa yang ingin tanteu Elli bicarakan dengan saya?" tanya Pelix.
"Jujur saja saya kecewa dengan mu nak Pelix. Marini begini gara-gara kamu" ucap Elizabeth.
"Maaf kan saya tan, ini di luar kendali saya" ucap Pelix.
"Apa kamu mencintai anak saya?" tanya Elizabeth.
"Ya saya mencintai anak tanteu, cinta itu saya pendam selama hampir tujuh tahun sebelum saya menemukan seorang wanita setahun belakangan ini. Dia yang membuat hati saya teralihkan dari Marini. Saat itu saya menunggunya walau tanteu bilang bahwa Marini akan menikah dan saya beranggapan bahwa saya akan terus mengejar cinta Marini walau dia sudah menjadi istri orang, saya akan menunggunya walaupun dia janda sekaligus" tutur Pelix.
"Andaikan saja dulu tanteu tidak bicara bahwa saya orang miskin dan dengan apa saya bisa membahagiakan anak tanteu dan satu lagi tanteu berbohong kepada saya jika Marini sudah di jodohkan dan akan menikah mungkin sekarang Marini sudah menjadi istri saya dan kami sudah mempunyai anak" tegas Pelix.
Elizabeth pun seketika menangis, dia sungguh menyesal dengam tindakan bodohnya di masalalu.
"Maafkan tanteu" lirihnya.
"It's oke tanteu, no problem sudah lewat ini dan tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Andai tanteu tahu, waktu itu saya bahkan sudah berencana untuk memberikan kuasa rumasakit yayasan yang saya miliki untuk di kelola Marini, tapi saya di hinakan oleh ucapan tanteu karena saya datang hanya mengunakan motor saja" ucap Pelix sedikit kesal.
Sesal tiada guna, nasi sudah menjadi bubur tinggal pakai toping dan sambal. Hati Pelix pun sudah berubah. Elizabeth tertunduk Malu di hadapan Pelix.
"Jangan menunduk di hadapan saya tan! Itu sangat tidak pantas. Tapi melihat keadaan Marini saya akan menjaganya sampai dia kembali sembuh" ucap Pelix.
"Terimakasih nak Pelix sudah mau mengerti keadaan Marini.
__ADS_1
Pelix hanya tersenyum samar.