
"Dok, Pasien selanjutnya" ucap suster Marry, memecah lamunan Marini.
Ada setitik air mata, jika dia ingat akan kisah cintanya bersama Pelix.
"Ya" jawabnya.
Masuklah pasieun selanjutnya yang ternyata Martin.
Visual Martin Antinio Candelaz.
"Apa keluhan anda tuan?" tanya Marini.
"Masih seputar topik biasa. Sekarang anu saya sudah ada peningkatan aktifitas, berkat saran anda!" seru Martin.
"Wah selamat ya tuan. Tapi bagaimana, sudah di coba pada istri anda?" tanya Marini.
"Itu yang jadi masalahnya dokter" keluh Martin
"Lalu?" tanya Marini.
"Ketika itu, anu saya tiba-tiba lemas" jawabnya kelu.
"Mungkin anda kurang relax dalam pemanasan tuan. Saran dari saya, ajak istri anda berlibur untuk menikmati waktu yang benar-benar intens. Jangan lupa juga untuk selalu terapi. Kasus anda ini cukup fatal" ucap Marini.
"Ya dokter! terimakasih atas waktunya. Jika berkenan, boleh saya meminta kontak anda? untuk menanyakan jadwal pemeriksaan untuk saya" pinta Martin.
"Boleh tentu. Senang sekali saya mempunyai pasien seorang pengacara hebat" ucap Marini sembari memberikan kartu namanya kepada Martin.
"Anda tahu?" tanya Martin.
"Saya tahu. Saya bukan orang yang gagap teknologi! Di media sosial banyak terpampang nama anda sebagai panutan kaum milenial. Dan anda juga mengaku pada publik belum menikah bukan? Lelaki memang seperti itu" ucap Marini sambil terkekeh.
Di rumah, Amora sedang makan sendiri! Karena ibu dan mama mertuanya sudah pulang. Walau berat hati akhirnya Yuni dan Diana mau di ajak pulang.
"Sepi juga rumah ini. Mbak Vivid gak tau kapan dia akan kemari" gumamnya.
Di luar tampak Pelix sedang memandikan kuda-kuda. Amora menghampiri nya dan mengajak nya untuk makan bersama di dalam.
" Pel, makan yok. Kamu juga kan belum makan" ajak Amora.
"Saya bisa makan nanti saja nyonya" jawabnya singkat.
"Pel ayolah, lagi pula saya loh yang ngajak" ucap Amora.
Karena terus di desak, akhirnya Pelix menurut saja.
"Makan yang banyak anak manis" kekeh Amora sembari mengambilkan nasi beserta teman-temanya ke piring Pelix.
"Yang majikan kan anda, nyonya. Kok anda yang layanin saya" tanya Pelix.
"Tak apalah. Kamu panggil saya dengan sebutan nyonya bikin saya sedikit risih. Saya berasa bangsawan dan kamu rakyat jelata" kekeh Amora.
Mendengar itu, Pelix mengernyikan dahi.
"Lalu?" tanya Pelix.
"Panggil saja nama. No anda, no saya, dan no nyonya ok" jawab Amora.
v
Visualisasi Amora Alexandra Marry.
"Baiklah Amor" ucap Pelix.
"Pel, Sesudah kita makan, maukan ajari aku untuk berkuda? mau ya, pliss" rengek Amora.
__ADS_1
"Oke" jawabnya singkat.
Sesudah mereka makan, Pelix memuntun Amora menuju peternakan Kuda. Dia pun memilihkan Kuda yang akan di tunggangi oleh Amora.
"Ini kuda jantan terbesar disini! dia punya nama" ucap Pelix sembari menuntun kuda itu kedepan Amora.
"Gagah banget. Siapa namanya?" tanya Amora.
"Namanya Martin" ucap Pelix sembari berbisik di telinga Amora.
Mendengar nama suaminya di sematkan dengan nama kudanya, membuat Amora tertawa sekaligus agak kesal.
"Sialan kamu ya Pel, nama suamiku itu" cetus Amora sembari memukul lengan sang supir.
Melihat reaksi yang di tunjukan Amora, membuat Pelix tersenyum kecil.
Mereka pun berkeliling dengan mengunakan Kuda masing-masing.
"Suka?" tanya Pelix.
"Sangat!! aku tak pernah menikmati suasana seperti ini. Ingin rasanya mas Martin bisa memperlakukan ku layaknya seorang istri sungguhan. Bisa mengajaku dan pengertian" lirih Amora.
"Apa kamu mencintai suamimu Amor?" tanya Pelix.
"Entahlah Pel. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya! aku bertemu dengan dia, pas sesudah kita akad nikah" kelu Amora.
"Kalau aku boleh jujur, suamimu mungkin sudah jadi lelaki yang sangat bodoh, sudah memperlakukan wanita istimewa sepertimu dengan sangat buruk" tegas Pelix.
"Bukan dia yang bodoh. Aku yang bodoh saat itu" lirih Amora.
Pelix yang tidak mau membuat Amora tambah berlarut akan kesedihan, dia berinisiatif mengajak Amora balapan Kuda.
"Sudah jangan bermuram durja seperti itu Amor. Mending kita balapan saja" ucap Pelix
Tak menunggu jawaban dari Amora, Pelix langsung menarik tali yang ada di leher kuda ya g di tunggangi Amora dengan keras, hingga Kuda itu memekik dan membawa lari Amora. Dia sangat takut dan terus berteriak memaki Pelix.
"Pelix! sialan kamu. Aku masih ingin hidup. Pelix arghhhhhhh. Tolong aku" teriak Amora.
"Gila kamu" jawab Amora.
Ketika Kuda yang di tunggangi Amora semakin tidak terkendali membuat seketika Pelix melompat ke badan Kuda itu.
"Aku takut, aku takut" rintih Amora.
Setelah kuda itu berhasil di jinakan oleh Pelix, mereka berputar-putar di area peternakan. Badan Amora ada di pelukan Pelix.
" Tenang saja , semua akan baik-baik saja" ucap Pelix.
Amora yang masih di liputi ketakutan kemudian meminta turun dan ingin beristirahat.
"Turunkan aku Pel" ucap Amora dengan badan gemetar.
"Baiklah. Maafkan aku" ucap Pelix sedikit menyesal.
Di bawalah dia ketempat gudang penyimpanan pakan ternak. Di gudang yang penuh dengan jerami itu, Amora di baringkan.
"Relax saja. Istirahat saja" perintah Pelix.
Amora yang melihat gudang itu merasa sangat nyaman. Di gudang itu ada kamar dengan ranjang kayu yang luas, Wifi, lemari es, kamar mandi dengam bathub, dan lemari yang di penuhi pakaian ala koboy dan topi nya beserta dapur mini yang sangat rapi.
"Pantesan kamu nyaman disini, Tempatnya nyaman begini" ucap Amora.
"Ini tempat rahasia kita" ucap Pelix.
"Kenapa?" tanya Amora.
"Karena cuma kita yang tahu tempat ini" jawab Pelix sembari mengangkat tubuh Amora ke pangkuannya.
Dia tak menolak setiap apa yang di lakukan Pelix terhadapnya, sebaliknya dia menikmatinya saja. Walau dia sadar ini salah, tetapi dari Pelix lah dia mendapatkan kenyamanan.
__ADS_1
"Kenapa? bau ya tubuh ku" Tanya Pelix yang melihat Amora diam dalam dekapannya.
"Sedikit" jawab nya.
"hmmm" gumam Pelix.
"Pel, kamu tahu! Pelukanmu sangat nyaman" lirih Amora.
"Pelukan suamimu lebih dari nyaman" jawab Pelix dengan cepat.
"Aku tahu ini salah, tetapi bagaimana lagi" ucap Amora dengan wajah yang masih tenggelam dalam dekapan Pelix.
"Aku tahu ini salah. Aku begitu dekat dengan istri orang" jawab Pelix.
"Aku melihatmu bukan sebagai orang yang datang dari perkampungan! kamu begitu luwes, dan tak ada kecanggungan untuk berkata-kata seperti orang terpelajar. Kamu siapa sebenarnya?" tanya Amora sembari menatap lekat wajah Pelix.
Deg!!! Pelix merasa bingung harus menjawab apa. Jika dia jujur maka akan terbongkar siapa dia sebenarnya.
"Perasaan mu saja" jawabnya singkat.
Di tengah percakapan, Martin menelpon sang istri.
"Amora, dimana kamu?" tanya Martin di sebrang telpon
"hmmmmmm~~ aku ada di rumah kok mas" jawab Amora.
"Aku sudah mengetuk pintu dari setengah jam yang lalu. Jangan macam-macam kamu, Cepat buka sekarang" bentak sang suami.
Melihat wajah Amora yang ketakutan, segera Pelix menenangkan nya.
"Jangan takut. Cepat temui suamimu, dia sudah menunggu" titah Pelix.
Amora pun segera berlari menghampiri suaminya.
Dibukanya pintu itu, dan terlihat Martin dengan wajah yang sudah benar-benar marah. Di tariknya rahang sang istri, membuat Amora kesakitan.
"Darimana saja kamu? aku menunggu sudah lama disini. Apa kamu sedang asik dengan Pelix? apa yang kalian sudah lakukan breng*ek? apa kalian sedang bercinta dan aku mengganggu hah?" bentak Martin.
"Ampun mas! aku tertidur. Badanku cukup cape. Aku beres-beres seharian mas. Tolong jangan menuduhku sehina itu" lirih Amora.
"Ku sudah memberikanmu segalanya, tapi kau melakukan hal yang kotor. Dasar wanita lucnut" bentak Martin sembari memegangi rambut sang istri dengan keras.
Tak tahan selalu menjadi alat makian sang suami, Amora pun balik melawan dengan hebatnya. Harga dirinya sebagai seorang wanita di injak habis oleh sang suami.
Di tepisnya tangan Martin dengan keras sampai terlepas dari kepalanya.
"Arggghh!! Dasar suami breng*ek. Tau apa kau tentang diriku hah? selama ini ku sabar menghadapi sikap mu yang semena-mena. Kau menyiksaku, aku diam tanpa melawan. Sampai aku hampir mati waktu itu. Aku selalu menuruti apa mau mu!!" pekik Amora dengan Amarah menggebu.
"Sudah berani menantang ku kau rupanya?" geram Martin dengan wajah yang sudah memerah.
"Aku bukan budakmu faham! berhenti bersikap seolah kau yang mengendalikan hidupku. Aku tak pernah memaksa adanya pernikahan ini. Pernikahan sialan, hanya buatku menderita" bentak Amora.
"Lancang sekali mulutmu Amora" bentak Martin.
"Kenapa hah, kenapa dengan mulutku? kau bukan Dewa yang harus ku takuti. Sebagai seorang pengacara yang tau akan hukum, seharusnya kau paham dengan tindakan mu yang menyiksa seorang istri. Ckkk, sayang nya ku tak punya bukti untuk menyeretmu ke penjara Martin Antonio Candelaz" ucap Amora dengan badan bergetar.
Sekali lagi Martin mencengkram rahang Amora dengan kuat! tetapi tidak ada sedikitpun rasa terintimidasi dari wajah Amora.
"Lepaskan tangan kotormu brengs*k" pekik Amora sembari berusaha melepaskan cengkraman suaminya.
Bukannya menuruti permintaan istrinya, Martin malah semakin keras mencengkram rahang Amora, sehingga dia mulai terbatuk-batuk dan seolah kehabisan nafas.
Pelix yang melihat adegan itu segera menghapiri dan melepaskan cengkraman tangan Martin pada rahang sang istri.
"Apa anda ingin membunuh istri anda sendiri hah?" tanya Pelix.
"Sialan. Jangan ikut campur urusan rumahtangga kami, dasar supir bajin*an" ucap Martin.
"Saya hanya tidak suka tindakan lelaki menyiksa wanita. Apalagi istrinya sendiri. Lepas atau saya lapor polisi sekarang" Gertak Pelix.
__ADS_1
Takut akan masalahnya semakin panjang dan melihat Amora sudah pucat, akhirnya Martin melepaskan cengkraman dari rahang sang istri, sampai Amora jatuh terhuyung lemas.
Dia pun segera berlalu dengan membanting pintu sangat keras.