TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
PERNIKAHAN FARIZ DAN STEVI


__ADS_3

Stevi sempat terkejut saat Ghea memberitahunya soal permintaan Kakek Tara.


"Lo siap Stev?" Tanya Ghea sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Gue sayang sama Fariz, tadinya gue mau menyelesaikan kuliah gue dulu Ghe, tapi klo kondisinya seperti ini, gue ikhlas nikah sama Fariz."


Ghea tersenyum, kemudian memeluk Stevi, Jessi pun ikut berpelukan, mereka menguatkan hati Stevi.


"Gue langkahin lo Jess.." Lirih Stevi.


"Jangan khawatir Stev, lo jangan merasa ga enakan mulu sama orang." Jessi mengusap punggung Stevi.


"Okey, gue tinggal kerumah sakit ya kalo gitu." Ucap Tristan.


"Gue juga langsung balik sama Mas Fadhil, takut Zayn nyariin." Ucap Ghea.


Tristan tiba dirumah sakit, langsung masuk kedalam ruang perawatan kakek Tara.


"Makan Riz." Ucap Tristan sambil memberikan satu bungkus nasi padang pada Fariz.


"Wah enak nih, Thanks Tan." Ucap Fariz.


"Gimana Kakek?" Tanya Tristan.


"Udah stabil, tinggal nunggu hasil."


"Tadi Ghea udah ngomong sama Stevi Riz."


"Terus?"


"Stevi bilang iya dia mau nikah sama lo besok kalo memang ini yang terbaik."


Fariz tersenyum, "Gue nikah Tan."


Tristan tertawa pelan, "Gue yang baru mau nentuin tanggal nikah malah lo yang duluan."


"Jalannya Tan." Ledek Fariz.


"Stelah menikah gimana Riz?"


Fariz menghela nafas. "Gue gak tau Tan, gue kan masih disini jaga Kakek."


"Ya udah biar sementara Stevi masih diapartemen Jessi aja."


Fariz menatap tajam Tristan, "Bagus juga, biar lo gak nginep diapartemen Jessi."


"Ahaha lo tau aja Riz." Ucap Tristan.


Fariz menghubungi Asisten Kakek Tara, dia meminta sang Asisten mengurus semua keperluannya termasuk menyediakan mahar untuk Stevi.


Keesokan harinya, semua sudah berkumpul dirumah sakit, penghulu pun sudah bersiap, Fadhil menjadi saksi dari Stevi, sementara Erick menjadi saksi dari Fariz.


"Dari semalam gue belum hubungin Stevi." Lirih Fariz pada Tristan.


"Kenapa lo? gak pede?"


"Aneh aja Tan, bentar lagi dia jadi istri gue, udah halal dong mau gue apain juga."


"Itulah enaknya halal Riz." Sahut Fadhil.


"Eh ada Bapak, jadi malu saya." Ucap Fariz.


"Santai Riz." Fadhil menepuk pundak Fariz.


Sementara diruangan lain.


"Lo kenapa Stev?" Tanya Jessi.


"Koq aneh ya dari semalam Fariz gak ada hubungin gue."


"Jangan mikir macem-macem Stev, mungkin Fariz mau bikin lo kangen sama dia."


"Gue takut Fariz nyesel, ragu dan mundur." Lirih Stevi.


"Gue kenal Fariz dari SMA Stev, dia bukan tipikal orang yang plin plan." Sahut Ghea.


Stevi menghela nafas. "Gue deg-deg an."

__ADS_1


Setelah dokter memeriksa kondisi Kakek Tara, pernikahan pun segara dimulai.


Stevi duduk disamping Fariz.


"Saya terima nikah dan kawinnya Stevi Alisha putri binti Alm. Hussein dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Sah.."


"Saahh.."


Fariz kini resmi menikahi Stevi. Tak henti-hentinya Fariz mengucap syukur dalam hatinya.


Kakek Tara tersenyum melihat cucu tersayangnya kini sudah menikah, ia merasa lega karna tidak mempunyai beban lagi.


Setelah acara selesai, dokter menyarankan untuk Kakek Tara kembali beristirahat.


"Kamu pulang dulu ke apartemen Jessi lagi ya. Aku masih disini jaga Kakek." Ucap Fariz lembut pada wanita yang kini menjadi istrinya.


"Aku disini aja Riz nemenin kamu, kuliah udah mulai santai, aku gak ada remed juga. Ngerjain tugas bisa disini."


"Nanti kamu sakit."


"Engga Riz, biar aku disini ya."


Fariz tersenyum dan mengangguk, "Ya udah."


Fariz membujuk Diana untuk pulang bersama Erick, meski Diana merasa berat meninggalkan Kakek Tara, namun akhirnya Diana menuruti kemauan Fariz dan Erick.


Fariz terlihat lelah sekali, ia tertidur dengan posisi duduk bersandar pada sofa, Stevi yang baru saja selesai membersihkan diri segera menghampiri Fariz.


"Riz.." Panggil Stevi pelan.


Fariz mengerjapkan matanya perlahan, ia melihat wajah cantik yang kini menjadi istrinya.


"Mandi dulu, udah masuk Maghrib, belum sholat kan?"


Fariz tersenyum, "Tunggu sebentar ya, kita sholat berjamaah."


Stevi mengangguk.


"Kakek juga mau ikut sholat, diimamin kamu Riz." Sahut Kakek dengan nada lemah.


Fariz memapah Kakek Tara, membantunya berwudhu, kemudian kembali membaringkan Kakek dibrankarnya, sementara Fariz segera membersihkan diri dan memposisikan diri sebagai Imam.


Selesai sholat dan doa bersama, Fariz menghampiri Kakek.


"Apa ada yang dirasa Kek?" tanya Fariz penuh perhatian.


"Ga ada Riz, Kakek cuma ingin bilang sesuatu sama kalian. Apapun yang terjadi kalian harus slalu bersama, saling mengalah dan melengkapi. Ingatlah, Setia itu mahal dan tidak ternilai, kalian jangan pernah terjerumus kelubang perselingkuhan, baik Fariz dengan wanita ataupun Stevi dengan pria lain."


"Kakek, sekarang yang penting Kakek sembuh dulu." sahut Stevi.


"Stevi, tolong urusin Fariz ya, dia agak tertutup, tapi Kakek tau dia sangat mencintaimu."


"Dan kamu Fariz, jaga dan lindungi Stevi, dia adalah tulang rusukmu, perlakukan dia dengan baik."


Fariz mengangguk, "Fariz akan ingat semua pesan Kakek."


***


Malam semakin larut, Kakek Tara sudah tertidur karna efek dari obat yang ia minum.


"Stev, tidurlah disana." Ucap Fariz pada Stevi yang menunjuk ranjang khusus untuk penunggu passien.


"Harusnya aku pulang ya Riz, kamu nanti tidur dimana?" Tanya Stevi ragu.


"Ya dimana lagi, ya pasti sama kamu, cukup berdua kan?" Fariz tersenyum.


Stevi melihat kearah ranjang, "Iya."


"Tidur duluan ya, aku masih harus cek laporan kantor Kakek."


Stevi mengangguk, dan segara naik keatas ranjang.


Fariz menutup laptopnya setelah pekerjaannya selesai, ia melihat jam sudah menunjukan pukul satu dini hari. Fariz melihat Kakek dengan kondisi yang tenang, kemudian Fariz melihat kearah Stevi yang sudah tertidur pulas dan segera menghampirinya.


Fariz merebahkan tubuhnya disebelah Stevi, memeluk Stevi den mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Riz, baru selesai?" Tanya Stevi.


"Iya, maaf kamu jadi kebangun."


"Tidur Riz, udah malam, kamu pasti lelah." Ucap Stevi.


"Aku ijin peluk kamu ya Stev." Lirih Fariz yang kemudian beralih mendekap Stevi.


Stevi mengangguk, kemudian sedikit bangkit dan menyandarkan kepalanya didada bidang Fariz.


"Nyaman.." Gumam Fariz kemudian memejamkan matanya dan tertidur.


***


"Zayn.." Panggil Tristan saat Monica membawa Zayn kerumahnya.


"Om Titan." Sahut Zayn.


Trsitan menggendong Zayn. "Ghea nya kemana Ma?" Tanya Tristan.


"Kerumah sakit, anter Mama Diana kesana, Zayn sengaja Mama bawa kesini."


"Oma, Mimik." Ucap Zayn pada Monica.


"Zayn mau minum susu? Auntie ambilkan ya." ucap Jessi.


Zayn mengangguk.


"Jessi dah siap banget kayaknya kalo punya anak." Goda Monica.


"Iya dong Ma, jadikan kita ke Semarang buat nentuin tanggal nikahan Tristan sama Jessi?"


"Jadi Tan, kamu gapapa Fariz dan Ghea gak ikut ke Semarang karna kondisi kakeknya Fariz?"


"Gapapa Ma, yang penting pas nikahan nanti Fariz dan Ghea ada." Jawab Tristan.


Jessi memberikan susu dibotol dot Zayn yang memang khusus berada juga dirumah Monica.


Zayn merentangkan tangannya tanda ingin digendong Jessi.


"Zayn ganteng banget sih, Auntie gemesshh." Ucap Jessi sambil memeluk Zayn.


"Nanti abis nikah, jangan nunda punya anak ya Jess, kalo kamu mau kerja juga gapapa, biar anak kamu Mama yang urus."


"Nanti ngerepotin Mama." Ucap Jessi.


"Engga lah, malah Mama seneng ada kegiatan baru."


"Terus Zayn gimana Ma?" Tanya Tristan.


"Ya Zayn dan anak kalian nanti disini, bila perlu anak Fariz dan Stevi nanti juga disini."


"Mama mau usaha jasa penitipan anak?" Ledek Tristan.


"Husst ngaco kamu Tan." Monica mendengus kesal lalu meninggalkan Tristan bersama Jessi dan Zayn.


Tristan tertawa, lalu pandangannya beralih pada Zayn.


"Kalo anak kita masih ada mungkin dia udah lahir ya Bee? kira-kira cewek apa cowok ya?" Lirih Tristan.


"Maafin aku ya Bang."


"Bukan salah kamu Bee, aku juga yang salah."


"Kamu mau baby girl apa baby boy Bang?" Tanya Jessi.


"Apa aja Bee, aku tidak mempermasalahkannya, yang penting kamu dan anak kita nanti sehat."


Jessi mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya dibahu Tristan, sementara Zayn masih asik berada dipangkuan Jessi sambil memegang dot nya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2