TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
SIKAP MANIS TRISTAN


__ADS_3

Diapartemen, Jessi tidak bisa memejamkan matanya. Dirinya terus memikirkan semua perkataan Tristan, dan Jessi juga takut jika sampai Tristan menceritakan semuanya pada Ghea, ia takut Ghea beranggapan lain dan menganggap Jessi adalah wanita gampangan.


"Ah kenapa gue jadi susah sendiri sih, Tristan smoga saja dia gak cerita macem-macem sama Ghea." Umpat Jessi.


Ting tong..


Suara bel apartemen Jessi.


Jessi melihat jam di dinding dan terlihat jam satu dini hari.


"Siapa yang dateng tengah malam begini?" Tanya Jessi pada dirinya sendiri.


"Apa Bang Freddy ya? tapi kan diantau kode akses, ngapain pake tekan bel segala." Gumamnya lagi.


Jessi yang masih nonton televisi diruang tamu itu langsung beranjak membukakan pintu.


Jessi terkesiap saat melihat Tristan sudah berada didepan pintu.


"Lo ngapain?"


Tristan bukannya menjawab malah langsung nyelonong masuk tanpa dipersilahkan.


Jessi dengan kesal menutup pintu lalu duduk di sofa, dan Tristan dengan cuek nya merebahkan dirinya disofa dengan posisi kepala dipangkuan Jessi.


"Tan.. Apaan sih." Ucap Jessi sambil mencoba menyingkirkan kepala Tristan dari paha mulusnya, karna saat ini Jessi hanya memakai tanktop dan hotpantsnya.


"Diem Jess, gue ngantuk."


"Ya lo balik kerumah lo, ngapain kesini." Ketus Jessi.


"Disini ada calon istri gue, gue mau tidur disini." Jawab Tristan masih dengan mata tertutup.


"Lo gak lagi mabuk kan Tan?"


"Engga, gue sadar, tapi gue ngantuk."


"Ya udah lo tidur aja disini, gue mau kekamar."


Jessi hendak beranjak namun Tristan masih enggan melepasnya.


"Diem Jess, usap kepala gue."


Jessica hanya diam. Hatinya berdegup kencang bingung dengan apa yang dirasakannya.


"Jess, usap kepala gue."


"Nih anak nyusahin juga, manja banget." Batin Jessi tapi tangannya terulur untuk mengusap kepala Tristan.


"Gue nyaman sama lo Jess." Gumam Tristan yang terdengar oleh Jessi.


Ucapan Tristan membuat hati Jessi semakin berdesir, ya Jessi merasakan senang dan seakan terbang terbawa oleh kata-kata Tristan.


Setelah cukup lama, akhirnya terdengar dengkuran halus, Tristan sudah tertidur dengan lelapnya.


Jessi memperhatikan wajah tidur Tristan, wajah Tampan itu, dengan hidung mancung, rahang yang tegas, halis yang tebal, Jessi akui sungguh Tristan sangat tampan.


Perlahan Jessi memindahkan kepala Tristan dari pangkuannya ke bantal sofa, lalu ia bangkit dan masuk menuju kamarnya, menutup dirinya dengan selimut.


"Tristan, dia disini, dan kenapa gue merasa senang?" Batin Jessi, tak lama kemudian Jessi pun terlelap.


Tristan tak sepenuhnya tertidur, ia bangun saat Jessi beranjak dan memindahkan kepala Tristan kebantal sofa. Saat Jessi masuk kedalam kamar, Tristan kembali duduk dan menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Fix, Jessinya gue memang sexy."


Setelah satu jam, Tristan memutuskan untuk Pindah kekamar Jessi, dia yakin Jessi sudah tertidur. Tristan tidak ingin berbuat macam-macam, ia hanya ingin dekat dengan Jessi dan memantapkan perasaanya.


Ceklekk..


Pintu kamar Jessi terbuka, terlihat Jessi yang tengah tertidur lelap.


Tristan masuk kedalam selimut yang tengah Jessi pakai, ia menaikan rambut Jessi keatas bantal, mendaratkan wajahnya diceruk leher Jessi dan menghirup aromanya dalam-dalam. Tristan pun melingkarkan tangannya diperut Jessi, sekilas ia mengusap perut rata Jessi seolah benihnya yang pernah ia sebar tengah tumbuh disana.


Jessi yang sudah dialam mimpipun tidak merasakan apapun, dia tidak menyadari bahwa Tristan kini tengah tidur bersamanya.


Pagi menjelang, sinar matahari masuk menembus gordeyn kamar Jessi.


Jessi merasakan berat ditubuhnya, sebuah tangan yang kekar tengah melingkar diperutnya, deruan nafas halus begitu terasa diceruk leher Jessi.


"Tristan pindah kesini? sejak kapan?" Batin Jessi.


Lalu Jessi melihat pakaiannya dan ternyata masih lengkap, ia bersyukur tidak melakukan hal bodohnya itu untuk kedua kalinya lagi.


Jessi membalikan tubuhnya menghadap kearah Tristan, Wajah bantal itu membuat Jessi seperti semakin menyukainya. Jarak wajanya Tristan dengan wajah Jessi hanya berjarak duapuluh senti.


Tristan yang sedikit sadar karna pergerakan Jessi semakin mengeratkan pelukannya pada Jessi. "Gue masih ngantuk Jess, temenin gue sebentar lagi."


Tangan Jessi terulur mengusap pipi Tristan, entah apa yang ada dalam pikiran Jessi.


Dua jam kemudian Jessi kembali terbangun, "Tan bangun, ini udah jam sepuluh." Jessi mencoba menyingkirkan tangan Tristan.


"Hemm.. Morning kiss dulu Jess." Pinta Tristan dengan manja.


"Kita bukan pasangan kekasih Tan." ucap Jessi.


Jessica hanya diam sambil menatap mata Tristan.


"Gue udah yakinin perasaan gue ke Ghea, rasa perduli itu kini hanya sebatas sahabat, gue yakin perasaan gue ke lo Jess, dan gue yakin suatu saat gue pasti bisa merubah rasa suka ini menjadi rasa cinta."


Jessica menggigit bibir bawahnya, Tristan mengusap bibir Jessica dan mengecupnya sekilas.


"Kalau kamu belum mau menikah denganku, jadilah kekasihku dulu Jess, kita jalani ini, sungguh aku ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku perbuat, dan karna aku nyaman bersamamu Jess."


"Tapi kamu harus janji gak akan mengulangi perbuatanmu seperti malam itu Tan?"


Tristan tersenyum, "Aku akan mengulanginya saat kita sudah menikah nanti. Tapi kamu jangan melarangku jika aku ingin menginap disini seperti semalam."


"Tapi nanti lama-lama kamu kebablasan."


"Kalau begitu ayo kita menikah Jess."


"Kita masih kuliah Tan, kamu bisa hidupin aku? sementara kamupun masih bergantung pada orangtua mu."


Tristan terdiam, Ucapan Jessi cukup membuatnya berfikir.


Dirinya bukanlah orang kaya yang mempunyai perusahaan, Papanya mempunyai kantor firma hukum sendiri tapi tidak mungkin Tristan bisa bekerja disana karna dia belum lulus kuliah.


"Bagaimana jika kamu hamil Jess, kita tetap harus menikah, dan aku tetap harus menghidupi kamu dan anak kita."


Jessicapun ikut terdiam. Tristan membawa Jessi kedalam pelukannya. "Ikutlah denganku kerumahku hari ini, aku akan memperkenalkanmu dengan Mama dan Papaku."


"Tan, bukankah kamu sudah dijodohkan? dan akupun begitu Tan."


"Aku tidak perduli Jess, aku tidak akan melepaskanmu."

__ADS_1


***


Ghea menemani Erick duduk dihalaman belakang rumahnya, untuk pertama kalinya Ghea menginap dirumah ini lagi.


"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Erick.


"Nyenyak Yah.. apa sekarang Ayah merasa baikan?" Tanya Ghea.


"Ayah tidak ingin bilang bahwa Ayah baik-bak saja. Karna Ayah takut kamu akan pulang kerumah mertuamu."


"Ayahh.." Ghea memeluk Erick.


"Beribu maafpun tidak akan bisa termaafkan Ghe, Ayah udah banyak salah terhadapmu. Melewatkan masa kecil dan masa remajamu."


"Jangan diingat lagi Yah, yang penting sekarang keluarga kita baik-baik aja dan Ayah sehat."


"Bisakah kau dan Fadhil tinggal disini Ghe? Ayah kesepian.


Ghea tersenyum, "Ayah menikah lagi saja, biar ada yang menemani."


"Betul itu Ghe." Sahut Bryan yang tiba-tiba datang sambil membawa mug berisikan teh hangat.


"Jangan macam-macam kalian. Apa kalian masih dendam sama Ayah karna Ayah paksa kalian menikah dengan pilihan Ayah dan sekarang gantian kalian yang akan memaksa Ayah untuk menikah?"


Ghea dan Bryan tertawa. Kehangatan yang pertama kali terjadi dirumah ini. Sungguh Erick merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Selama ini ia melakukan kesalahan dan bersyukur dirinya masih diberikan kesempatan memperbaiki kesalahannya.


"Yah, minggu depan kita kemakam ibu yuk, aku mau ajak mas Fadhil kesana." Ucap Ghea.


"Good Ghe, Kakak juga akan ikut dan bawa Maura kesana." Sahut Bryan.


"Baiklah, Minggu depan kita akan kesana, dan setelahnya kita akan berlibur di salah satu resort yang minggu depan akan diresmikan."


"Benarkah Yah? dimana itu?" Tanya Ghea.


"Anyer, kita akan berlibur disana, kuliah sudah mulai libur kan?"


"Sudah Yah, minggu ini terakhir masuk. Hmm Yah, bolehkan aku mengajak teman-temanku?"


"Tristan?" Tanya Erick.


"Termasuk Tristan Yah, ada Fariz Jessi dan juga Stevi."


"Mereka sahabat-sahabatmu?"


Ghea mengangguk, "Bolehkah Yah?"


"Baiklah, ajak teman-temanmu


Ayah juga akan mengundang keluarga Tristan dan keluarga Fadhil saat peresmian resort itu."


Ghea tersenyum senang, ini akan jadi liburan yang menyengkan untuknya, berlibur bersama suami, keluarga dan juga sahabatnya.


.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2