
Keesokan harinya Ghea mulai berkuliah kembali, Stevi menyambut dengan gembira kehadiran sahabatnya itu.
"Ahh senengnya ketemu bumil lagi." Ucap Stevi.
"Seneng juga ketemu sama pacarnya Fariz." Goda Ghea sambil tertawa.
"Ishh apa sih Ghe, hamil-hamil ga berenti godain gue." Gerutu Stevi..
"Unchhhh pacarnya Fariz ngambek, udah yuk masuk kelas." Ajak Ghea.
Hari ini dikelas Ghea hanya ada satu mata kuliah dan bukan Fadhil yang mengajarnya, Fadhil tengah sibuk bimbingan untuk mahasiswa yang berada disemester akhir.
Selesai kelas, Ghea dan Stevi duduk dikantin fakultas ekonomi dan bisnis. Stevi mulai mengirim pesan pada Fariz juga Jessi untuk segera berkumpul bersama kembali setelah sekian lama mereka tidak berkumpul.
"Lama banget mereka Stev?" Tanya Ghea.
"Jessi bilang baru keluar kelas, Fariz bilang mau ke ruang dosen dulu nyerahin tugas." Jawab Stevi.
Ghea mengangguk.
Jessi berjalan dari fakultas Teknik menuju Fakultas Ekonomi bisnis, dia memikirkan harus bersikap bagaimana jika nanti bertemu Tristan.
Tanpa Jessi sadari, Tristan tengah berjalan dibelakang Jessi, Tristan terus memperhatikan Jessi dari belakang.
"Tubuh itu, kenapa begitu ingin gue menyentuhnya lagi." Batin Tristan.
Tristan menggeleng-geleng kan kepalanya, mencoba mengusir pikiran kotornya itu.
"Jess.." Panggil Tristan.
Jessi menoleh kebelakang kemudian ia kembali berjalan dengan langkah cepat berusaha untuk menghindari Tristan.
Tristan mengejar Jessi dan menarik pergelangan tangannya.
"Jess tunggu." Ucap Tristan.
"Lo mau apa lagi Tan?" Tanya Jessi kesal.
Deg,,
"Apa?? dia manggil gue Tristan? semarah itukah dia?" Batin Tristan.
"Gue butuh bicara sama lo." Ucap Tristan.
"Gue kan udah bilang, lo anggep aja gak kenal gue."
"Gak bisa gitu Jess, kejadian waktu itu..." Tristan belum sempat menyelesaikan omongannya,
"Stop Tan!! Gue gak mau bahas."
Jessi segera berlari untuk menghindari Tristan.
"Tuh Jessi.." seru Stevi.
"Hai sory lama." Sapa Jessi yang kemudian duduk didepan Stevi.
"Santai Jess." Jawab Ghea dengan tersenyum manis.
"Lo udah enakan Ghe?"
"Seperti yang lo lihat Jess, gue dah jauh lebih baik."
Tidak lama kemudian Tristan juga datang.
"Koq sendirian Tan?" Tanya Stevi.
"Gak usah basa basi Stev, bilang aja lo mau nanyain Fariz." Jawab Tristan menggoda Stevi.
"Ishh apa sih Tan, lo rese ah, gak asik." Gerutu Stevi.
__ADS_1
"Cinta jangan gengsi Stev, nanti diambil orang." celetuk Ghea.
"Ihh Gheaa, lo samanya kaya Tristan, seneng banget godain gue."
Ghea tertawa.
Tristan membuka tas nya dan mengambil satu buah kotak makan lalu menyodorkannya pada Ghea.
"Nih pesenan lo, kata Mama habiskan."
Ghea menerimanya dengan mata berbinar.
"Makasih Titann.." Ucapnya riang.
"Apa sih yang engga buat bumil, dari pada nanti bayinya ileran kayak mamanya kalo lagi tidur." Ledek Tristan.
"Titannn, jangan ngomong sembarangan dong, kalo bener gimana? lagian gue gak pernah ileran juga Tan.." Ghea mulai cemberut.
Tristan mencubit kedua pipi Ghea, "Bumil sensitif banget sih, ga bisa diajak bercanda." Tristan tertawa.
Jessi yang melihat kejadian itu semakin yakin, bahwa dirinya hanyalah barang satu kali pakai untuk Tristan, hatinya tetaplah milik Ghea, bahkan Tristan bisa tertawa lepas saat bersama Ghea.
Fariz datang dan menyapa keempat sahabatnya itu.
"PJ sibuk banget." Ledek Ghea.
"Ahaha iya dong Ghe, cari kesibukan." Jawabnya enteng kemudian dengan santainya mengambil minuman milik Stevi dan menyesapnya.
"Ish apaan sih Riz, bukannya pesen minum malah ngambil punya gue."
"Ya gapapa sih Stev, kan kalo bekas lo beda, ada manis-manisnya gitu. sekarang dari sedotannya dulu, besok gue langsung rasain dari bibir lo langsung."
"Parah nih Fariz pikirannya udah traveling." celetuk Tristan.
Jessi menatap sinis Tristan. "Bisa-bisanya dia bilang pikiran orang traveling, sementara dia langsung coba traveling tanpa berfikir dulu." Batin Jessi.
Jessi berdiri dari duduknya. "Sory gue duluan ya, gue ada kerjaan lain." Pamit Jessi.
Jessi tersenyum, "Bumil sehat-sehat ya, next gue nongkrong lebih lama bareng kalian."
"Hati-hati Jess." Ucap Fariz.
"Thanks Riz."
Seorang pria mendekati Jessica dengan membawa motor milik Jessi. Tristan terus memperhatikan interaksi Jessi dengan pria itu.
Jessi dan temannya tampak sangat akrab, hingga pada akhirnya temannya itu menyerahkan kunci motor Jessi dan meninggalkan Jessi bersama motornya.
Jessi menaiki motornya dan segera meninggalkan kampus.
Ghea, Stevi, Tristan dan Fariz masih berada dikantin, hingga Fadhil datang menghampirinya dan membawa Ghea pulang karna masih harus beristirahat.
Fariz mengantar Stevi pulang karna kebetulan ia memakai motor, bisa mengantarnya hingga kearea kost an Stevi. Namun bukannya diantar pulang, melainkan Stevi diajaknya jalan-jalan dulu (Fariz modus banget nih ðŸ¤)
Sementara Tristan masuk kedalam mobilnya dan ia memutuskan untuk mendatangi apartemen Jessi.
Ting tong..
Suara bel apartemen Jessi.
Lama Tristan menekannya tapi tidak ada orang yang kunjung keluar membukakannya pintu.
"Apa Jessi benar-benar pergi dan tidak ada diapartemennya ya?" Tanya Tristan pada dirinya sendiri.
Setelah dua puluh menit menunggu dan terus mencoba menekan bel, Pada akhirnya Tristan menyerah dan kembali pulang kerumahnya.
***
Fadhil mulai melaporkan Yasmin kepihak berwajib, Daniel Papanya Tristan yang kini jadi Papa angkat Ghea yang menjadi pengacara untuk Fadhil. Keputusan Fadhil pun didukung penuh oleh Erick dan Bryan.
__ADS_1
Tidak memakan waktu lama, polisi berhasil meringkus Yasmin dan menjadikan Arnold sebagai buronan yang tengah dicari oleh polisi dan masuk sebagai daftar pencarian orang atau DPO.
Vika merasa stres saat mengetahui Yasmin dijebloskan kepenjara oleh Fadhil, dia merasa geram terlebih tetangganya sendiri yang menjadi pengacara Fadhil dan Ghea.
"Mas kamu gak bisa ngelakuin ini sama Yasmin, dia anakmu juga Mas, kamu harus membelanya juga." Ucap Vika pada Erick.
"Aku tidak akan pernah membelanya lagi, dia hampir mencelakai Ghea putriku." Balas Erick.
"Tapi Yasmin juga anakmu Mas!!"
"Tidak, Dia bukan anakku lagi. Sama sepertimu yang bukan lagi istriku."
"Tega kamu Mas, aku sudah menghabiskan banyak waktu untukmu tapi ini balasanmu."
"Iya, apa kau menyesal? pergilah dari sini. Aku tau sedari dulu kamu itu licik, kamu hanya mengincar hartaku dan terus menghasutku untuk membenci anak-anakku sendiri. Sayangnya aku terlalu bodoh untuk segera menyadarinya."
"Jangan harap aku meninggalkan rumah ini."
Erick tertawa, "Kau begitu tamak Vika, rumah ini bukan rumahmu, rumah ini aku beli untuk Almarhum istriku saat ia melahirkan Bryan, dan kini rumah ini milik Bryan dan juga Ghea, kamu gak ada hak untuk tinggal disini."
"Aku akan menggugatnya, aku akan meminta harga gono gini." Geram Vika.
"Silahkan saja, jelas kamu akan kalah karna aku tidak pernah mendaftarkan pernikahan kita di negara, kamu tidak akan kuat melawanku."
***
Hari-hari berikutnya, Tristan semakin sulit untuk berbicara serius dengan Jessi, Jessi selalu menghindar dan terus menjauhi Tristan.
Hal itu membuat Tristan semakin merasa bersalah dan putus asa.
Hingga suatu hari Tristan melihat Jessi dijemput oleh seorang pria yang cukup tampan dan Tristan seperti mengenali siapa pria itu, bahkan pria itu mengecup kening Jessi dan merangkul pundak Jessi hingga masuk kedalam mobil mewah pria itu. Jessi tampak akrab dengan pria itu, terlihat dari tawa lepas Jessi.
"Itukan Bang Freddy, pria itu siapanya Jessi? apa kekasih Jessi? Akhh sh*it" Umpat Tristan sambil memukul stir mobilnya sendiri
Hari ini adalah hari terakhir kegiatan dikampus sebelum akhirnya minggu tenang untuk menjalani ujian.
Fariz masuk kedalam mobil Tristan, dia akan menginap beberapa hari dirumah Tristan slama minggu tenang. Fariz melihat wajah Tristan yang tidak bersahabat.
"Lo kenapa?" Tanya Fariz.
"Menurut lo?" Tanya Tristan balik.
"Lo lagi kesel? kesel sama siapa?" Tanya Fariz lagi.
"Gue mau cerita Riz, tapi gue harap lo bisa jaga rahasia."
"Gue tau seminggu ini ada yang lo sembunyiin dari gue, ada apa lagi sih? soal Ghea?"
Tristan menggelengkan kepalanya, "Bahkan gue lupa sejak kapan gue berhenti memikirkan Ghea."
"Bentar-bentar Tan, gue gak salah denger kan? lo berenti mikirin Ghea?"
Please Riz, masalah kali ini bukan masalah Ghea, nanti gue cerita dirumah." Tristan melajukan kembali mobilnya.
.
.
.
Kira-kira apa ya reaksi dan tanggapan Fariz?
yuk tebak-tebakan dikolom komentar, jangan lupa like dan Votenya ya.
Happy reading dears 😘
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....