
"Belum terlihat janinnya karna masih muda sekali sekitar tiga minggu, tapi ini sudah ada kantung janinnya." Ucap dokter kandungan yang memeriksa kandungan Stevi.
"Apa itu tandanya hamil Dok?"
"Iya, tapi untuk jelasnya satu bulan lagi kita lihat lagi ya."
"Baik dok, adakah pantangan atau apa gitu dok?" Tanya Fariz antusias.
"Kalau dilihat dari ibu Stevi sendiri sih sepertinya tidak ada yang terlalu dikhawatirkan, sedikit mual dipagi hari itu masih batas yang wajar. Nanti saya resep kan vitamin penguat kandungan ya, jangan lupa diminum dan bulan depan kontrol lagi, smoga janinnya bagus, sehat dan berkembang."
***
Tristan tengah berdiri didepan jendela kamarnya, besok adalah hari pemberkatan pernikahannya dengan Jessi.
Monica masuk kedalam kamar Tristan.
"Tristann.."
Tristan menoleh kesumber suara. "Mama.."
"Mikirin apa?" Tanya Monica lembut.
"Besok Tristan menikah Ma.." Ucapnya.
"Menikah dengan pilihanmu sendiri."
Tristan mengangguk. "Jessi yang Tristan pilih juga Tristan cinta Ma.. Meski Ghea dulu yang terindah buat Tristan."
"Masih ada rasa rupanya." Ledek Monica.
"Rasa yang sekarang hanya sebatas perduli sebagai sahabat Ma.."
"Mama percaya Tan.. Tidurlah, besok pemberkatanmu."
***
Ghea menatap wajah Zayn yang tertidur pulas, tangannya membelai pipi bulat anak lelakinya itu.
"Kamu sungguh tampan, kelak besar harus sayang sama Mama ya Nak.." Lirih Ghea.
"Sayang...." Panggil Fadhil lembut.
"Iya By.." Ghea beranjak dan menghampiri Fadhil yang masih asik menonton televisi dari sofa didalam kamarnya.
Fadhil menarik Ghea untuk duduk dipangkuannya, tangan Ghea melingkar sempurna dileher Fadhil, sementara tangan Fadhil membelai rambut Ghea yang terurai.
"Kamu kenapa? Tanya Fadhil.
"Gak tau By, tiba-tiba aku mellow aja melihat Zayn, takut jadi ibu yang kurang sempurna untuk Zayn, seumur Zayn aku slalu meninggalkan Zayn dan sibuk dengan kuliahku. Aku takut nanti besar, Zayn tidak mengingatku."
"Ssstt... kamu gak boleh bilang begitu, Kamu itu Mama yang hebat untuk Zayn, kamu mengurus Zayn disela-sela kesibukanmu, bahkan kamu tetap memberikan Asi untuk Zayn meskipun harus dengan memompa dan mengawetkannya di freezer. Aku akan jadi saksi betapa kamu sangat mencintai, menyayangi dan bahkan mengasihi Zayn."
"Kamu slalu mengerti aku By.. maafkan aku jika aku belum maksimal menjadi istrimu."
Fadhil menempelkan keningnya dengan kening Ghea, "Kamu sempurna sekali untukku, Sayang. Aku bersyukur kamu menjadi jodohku."
"Dan aku bersyukur, kamu yang menjadi imamku, By.."
Ghea mengecup bibir Fadhil sekilas. Membuat Fadhil meraup bibir Ghea dengan gerakan cepat.
"By..." Ghea melepaskan pagutannya.
__ADS_1
"Hem..?"
"Aku ingin memberi adik untuk Zayn. Aku tidak meneruskan KB suntikku By."
"Sudah siap? tidak ingin merasakan masa mudamu yang tlah terlewat?"
Ghea menggelengkan kepalanya, "Aku ingin memberimu anak lagi By, dua anak lagi mungkin. Kuliahku sudah mau selesai, tinggal menunggu persetujuan skripsi dan sidang."
"Iya Sayang, apapun keputusanmu aku akan menghargai juga menerimanya. Tapi kita tidak mungkin terus tinggal disini. Apa kau ingin tinggal diapartemen yang Ayah berikan?"
"Tabungan kita cukup untuk membeli rumah By, tapi aku ingin didekat sini. Boleh? aku tidak ingin tinggal diapartemen, aku ingin tinggal dirumah yang mempunyai halaman."
Fadhil mengangguk. "Baiklah sayang, pelan-pelan kita cari rumah ya. Kamu terlalu irit hingga tabungan kita bisa sampai membeli rumah."
***
Keluarga Tristan tengah bersiap berangkat ke gereja, Ghea, Fariz dan stevi tidak ikut karna sesuai dengan keyakinannya, dan hal itu dimaklumi oleh keluarga Tristan. Namun Ghea, Fariz dan Stevi akan hadir saat acara Resepsi yang akan digelar nanti malam.
Fariz memeluk Tristan, "Akhirnya Tan.."
Tristan menepuk punggung Fariz, "Gue bisa happy ending." Ucapnya.
Pandangan Tristan beralih pada Ghea. Stelah fariz melepas pelukan persahabatan itu, Tristan menghampiri Ghea.
"Ghe.. gue married."
Ghea tersenyum, "Lo bahagiakan Tan?" Tanya Ghea dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Gue bahagia Ghe, sama kayak lo yang udah bahagia sama Pak Fadhil dan Zayn."
Air mata Ghea meluncur bebas dipipinya. "Lo harus bahagiain Jessi."
Tangan Tristan terulur mengusap air mata dipipi Ghea. "Lo yang terindah buat gue Ghe." Lirihnya.
Tristan mengangguk. "Gue tetep akan jadi Abang lo yang siap jagain lo Ghe."
"Gue percaya Tan, tapi lo juga harus ingat, sekarang prioritas lo itu Jessi, lo gak usah khawatirin gue, Mas Fadhil slalu jaga gue."
Tristan mengusap puncak kepala Ghea yang tertutup dengan hijabnya. "Gue gak mau lihat lo nangis lagi ya Ghe, lo harus bahagia."
Monica yang menyaksikan itu merasakan kesedihan mendalam, dia tau apa yang dirasakan kedua hati yang berbeda itu. "Ini jalan terbaik dari tuhan." Gumamnya.
Ghea melepas Tristan dengan Ikhlas, dengan senyum tulusnya.
***
Tristan berdiri didepan Altar, menanti Jessi yang berjalan didampingi oleh Jody.
Perlahan namun pasti, Jessi berjalan semakin mendekati Tristan, hingga Jody menyerakan tangan Jessi kepada Tristan.
Tristan bergitu terpesona saat melihat Jessi dengan gaun pengantin putihnya, Jessi terlihat seperti bidadari. Satu tetes air mata keluar dari sepasang mata Tristan.
"Kamu cantik sekali Bee.." Lirih Tristan.
Mereka mengucap janji suci didepan tuhan, setelahnya mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.
Tristan menyematkan cincin dijari manis Jessi, dan begitupun sebaliknya Jessi menyematkan cincin dijari Tristan.
Rangkaian acara digereja pun tlah selesai. Kini mereka tengah bersiap meuju hotel tempat untuk resepsi pernikahan.
Tristan dan Jessi beristirahat disalah satu kamar hotel sebelum akhirnya mereka akan dirias kembali. Masi ada waktu tiga jam untuk acara resepsinya.
__ADS_1
Tristan menatap gedung tinggi dari balik jendela kamarnya, satu tangannya ia masukan kedalam saku celana, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Jessi menghampiri Tristan dan memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung kekar Tristan.
"Bang.." Panggil Jessi.
Tristan membalikan tubuhnya dan balik memeluk Jessi. "Iya Bee.."
"Kamu gak mandi Bang?" Tanya Jessi ragu.
"Mau, tapi sama kamu." Lirihnya sambil menggigit kecil telinga Jessi.
"Kita masih ada acara Bang."
"Masih tiga jam lagi Bee.. Sebentar aja yuk." Ajak Tristan.
"Nanti aku lelah."
Tristan mengendurkan pelukannya, "Kalau begitu nanti malam boleh double? lembur ya Bee?"
"Sampai pagi juga boleh Bang." jawab Jessi.
"Ada mandi plus-plus nya juga ya."
"Boleh Bang, apapun boleh kamu lakukan."
"Ahh Jessiku... Aku sangat mencintai kamu."
***
Acara resepsipun dimulai, keluarga Erick dan keluarga latif pun turut hadir memenuhi undangan dari keluarga Daniel.
Ghea dan Stevi memakai kebaya modern berwarna peach, sementara Fadhil dan Fariz memakai Jas, tak lupa sikecil Zayn pun memakai Jas yang senada dengan Papa nya.
"Stev, aku akan membuat resepsi pernikahan juga, maafkan aku yang melupakannya."
"Tidak perlu Riz, menikah denganmu saja aku sudah bahagia, lagipula aku tidak ingin kelelahan, aku takut terjadi apa-apa sama bayi kita."
"Tapi Stev.."
"Udah Riz jangan dibahas. Aku gak perlu resepsi mewah, aku cuma mau kamu setia terus sama aku."
Fariz tersenyum "Tentu, aku akan setia sama kamu."
Ghea, Fadhil, Fariz dan stevi naik keatas pelaminan dan mengabadikan kebersamaan mereka dengan foto, cinta yang kini menjadi persahabatan dan pershabatan dengan beda agama itu terjalin dengan sangat baik. Toleransi beda agama begitu nyata pada persahabatan mereka.
.
.
.
Next.. Malam berbintang milik Abang Titan dan Jessi ya.
Kencengin dulu Like nya, hadiahnya, Votenya, dan Komentarnya.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....