
"Sayang.. kamu sudah sadar??" Tanya Fadhil saat melihat kelopak mata Ghea terbuka sempurna.
Ghea melihat kearah Fadhil, dia teringat akan omongan Yasmin yang akan membuat Fadhil ilfeel akan dirinya.
Seketika membuat Ghea gugup kembali dan memegang jilbab yang masih ia kenakan sejak kemarin dan enggan membukanya.
"Sayang..." panggil Fadhil dengan lembut.
"Di.. Dimana tante Monica?" Tanya Ghea dengan terbata-bata.
"Sedang dikamar mandi. Tunggu sebentar ya."
Monica keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Miranti yang juga masuk kedalam kamar perawatan sambil membawa beberapa makanan.
"Ghea, sudah sadar." Ucap Monica.
"Tante.. Hiks..." Ghea kembali menangis dipelukan Monica.
"Sudah sayang, semua sudah berlalu, sekarang kamu aman. Lihatlah, suamimu sudah kembali, Mama mertuamu juga ada disini, dan Tante juga tidak akan meninggalkanmu." Ucap Monica sambil mengusap punggung Ghea.
"Suruh Mas Fadhil keluar Tante.. Aku gak mau dia lihat aku." Ghea terus menangis dalam pelukan Monica.
"Sayang, kenapa bicara seperti itu? bukankah seharian kemarin kamu terus menanyakan Fadhil."
Fadhil merasa heran, dia mencoba menyentuh Pundak Ghea. "Sayang ada apa? My Sunshine?". Panggilnya lembut.
"Keluar Mas, aku gak mau kamu lihat aku." Ghea berbicara masih dengan posisi menyembunyikan wajahnya dipelukan Monica.
Monica saling pandang dengan Fadhil dan juga Miranti.
"Ada apa Ghe? kenapa kamu tidak mau Fadhil berada disini?" Kali ini Miranti yang bertanya.
"Aku gak mau Mas Fadhil lihat aku Ma.. tolong suruh Mas Fadhil keluar Ma.. Tolong.." Ghea semakin menangis histeris didalam pelukan Monica.
"Sayang, apa kamu marah sama aku karna aku tidak bisa melindungimu? Maafkan aku sayang, sungguh maafkan aku, jangan suruh aku keluar, aku ingin menjaga dan menemanimu disini." Bujuk Fadhil.
"Pergi Mas.. pergiii..." Seketika tangis Ghea semakin pelan dan suaranya menghilang, Ghea mulai melemas dan kembali pingsan.
"Cepat panggil dokter Fad." Seru Miranti.
Fadhil menekan tombol pemanggil suster dan memintanya untuk memanggil dokter.
Tidak lama kemudian dokter datang bersama dua orang suster.
"Apa Passien tadi dalam kondisi emosional?" Tanya Dokter Utari.
"Iya dok, setelah bangun anak saya menangis dan histeris."
"Tolong hindari hal-hal yang membuatnya emosi, lakukan apa yang passien minta, passien tidak bisa dipaksa dan harus perlahan untuk membujuknya. Kami harus mengembalikan rasa percaya dirinya dulu. Mohon bekerjasamalah." Ucap dokter Utari.
Setelah itu dokter memberikan suntikan kepada Ghea agar Ghea bisa tenang kembali.
__ADS_1
"Fad keluarlah dulu. Biar Mama dan Tante Monica yang menjaga Ghea disini." Bujuk Miranti.
"Ada apa dengan Ghea Ma? apa Ghea marah karna Fadhil tidak bisa menjaga dan melindunginya?" Lirih Fadhil.
"Sepertinya ada sesuatu Fad, jelas kemarin Ghea terus menanyakan keberadaanmu. Keluarlah dulu, biar Tante dan Mama mu yang menjaga Ghea sambil mencari tau jika kondisi Ghea sudah stabil." bujuk Monica.
Fadhil dengan terpaksa mengikutinya, sebelum keluar dari kamar perawatan Ghea, Fadhil mendekati brankar Ghea, menggenggam tangannya dan menciuminya.
"Kamu kenapa sayang, berbagilah bebanmu denganku, jangan menyuruhku untuk menjauh darimu." Kemudian Fadhil mengecup kening Ghea, mencurahkan kasih sayangnya yang teramat dalam. Kecupan Fadhil beralih ke perut Ghea, dimana darah dagingnya sedang tumbuh dirahim sang istri. "Baik-baik diperut Mama ya Nak, kuatlah bersama Mama, Papa akan akan menjaga kalian."
Fadhil duduk didepan kamar perawatan dan menopang kepalanya dengan kedua tangannya, ia merasa sedih dengan keadaan Ghea.
Tristan, Fariz, Stevi dan Jessi tiba dirumah sakit, kemudian menghampiri Fadhil yang sedang duduk didepan kamar perawatan.
"Pak.." Sapa Tristan.
Fadhil mendongakkan kepalanya.
"Kalian datang menjenguk Ghea?" Tanya Fadhil putus asa.
"Ada apa Pak?" Tanya Fariz.
Fadhil menatap Tristan. "Tristan, apa ada hal lain yang menimpa Ghea, sejauh mana B*jingan itu memperlakukan Ghea, kenapa Ghea tidak ingin saya melihatnya?" Terlihat mata Fadhil yang memerah, selain lelah dan kurang tidur, Fadhil pun meredam emosi dan airmatanya.
"Maaf pak, yang saya lihat lelaki itu sedang berusaha mencumbui Ghea, saya langsung menariknya dan menghajarnya habis-habisan, saya tidak fokus melihat keadaan Ghea. Karna dalam pikiran saya hanya ingin menghabisi lelaki itu." Jelas Tristan.
Fadhil memejamkan matanya kuat-kuat.
Fadhil menatap Jessi, wanita itu tampak asing dimata Fadhil.
"Kamu..?"
"Saya Jessica Pak, mahasiswa Fakultas Teknik di Universitas XX, kemarin saya datang bersama Tristan untuk menyelamatkan Ghea." Jelas Jessi.
"Bisa jelaskan kepada saya, saat kamu membantu Ghea apa yang terjadi padanya?"
Jessica mulai bercerita, hal ini juga baru Tristan ketahui.
"Jilbab Ghea sudah terbuka, dengan rambut yang acak-acakan, terlihat beberapa tanda merah dileher Ghea Pak." Jessi bercerita dengan hati-hati.
"Sh*it..." Fadhil mengepalkan tangannya.
"Terus Jess?" Tanya Stevi.
"Saya mengambil kerudung Ghea dan membantu memakaikannya kembali pada Ghea meski tidak sempurna. Ghea terlihat ketakutan sekali Pak. Hanya itu."
"Ghea sangat menjaga auratnya Pak, mungkin dia masih shock." Sahut Stevi.
"Apa Ghea tidak ingin Bapak melihat tanda-tanda merah itu Pak? mungkin Ghea merasa bapak akan jijik terhadapnya." kali ini Fariz yang berbicara.
Fadhil duduk dan menunduk, terlihat tetesan air mata diwajah Fadhil, air mata penyesalan tidak bisa melindungi Ghea dan air mata penuh amarah kepada Yasmin dan lelaki itu.
__ADS_1
Tristan terus memperhatikan Fadhil, "Cinta pak Fadhil begitu besar pada Ghea." Gumam Tristan dalam hatinya.
Mereka ikut duduk bersama Fadhil didepan ruang perawatan Ghea, tidak ada yang berani masuk takut membuat Ghea semakin shock.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpamit pulang dan akan kembali esok hari.
Fariz mengantar Stevi karna mobil Fariz sengaja ia titipkan di area kost Stevi, Ia sedikit sengaja agar ada alasan untuk pulang bersama Stevi dan mempunyai waktu berduaan dengan Stevi, berharap Stevi mau menerima pendekatan Fariz.
"Ya udah gue ke halte ya." pamit Jessi saat berada dilobby rumah sakit.
"Lo naik apa Jess?" Tanya Stevi.
"Ojeg online aja." Jawabnya santai.
"Sama Tristan aja, kalian searah kan?" Sahut Fariz.
"Lo mau bareng gue?" Tanya Tristan datar.
"Lo repot gak?" Tanya Jessi balik.
"Santai aja, sekalian lewat." Jawab Tristan.
Tristan dan Jessi menuju parkiran mobil, sementara Fariz dan Stevi naik taxi online yang sebelumnya sudah Fariz pesan.
"Jangan bilang lo mau deketin Jessi sama Tristan ya Riz?" Tanya Stevi curiga saat mereka.betada didalam taxi online.
"Gue gak bilang deketin Jessi sama Tristan, malah gue mau bilang kalau gue slalu deketin lo biar lo tau seriusnya gue."
"Dih apa sih Riz, gue lagi bahas Tristan dan Jessi nih."
"Gue juga lagi bahas gue sama lo Stev, lo kapan sih ngerti perasaan gue." Ucap Fariz santai.
"Dih, lo tuh ditanya apa jawabnya apa." Kesal Stevi.
"Lo juga sama, gue yang lagi deketin lo, malah lo nanya Jessi deket sama Tristan."
Stevi melirik sinis pada Fariz, "Lo nyama-nyamain gue aja sih kalo ngomong."
"Nah tandanya jodoh itu Stev, kita banyak kesamaan." Kode keras dari Fariz.
Stevi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, namun hatinya sangat senang, ia menahan senyum ke GR an nya itu.
Tidak Stevi pungkiri, Stevi pun menyukai Fariz hanya saja ia ingin melihat keseriusan Fariz ia tak ingin gagal menjalin hubungan, karna tidak ada kamus dalam hidupnya untuk berpacaran, ia ingin seperti Ghea, langsung menikah jika sudah ada jodohnya dan cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Namun kenyataanya lain, sudah ada sedikit cinta dihati Stevi untuk Fariz yang masih ia tahan.
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....