
Aku tidak tau, harus dari mana aku memulai melupakanmu, karna segala sesuatu darimu, tidak ada yang tidak berkesan.
~Tristan~
......~~~~......
Ghea mengirim chat kepada suaminya untuk meminta ijin.
^^^"By, Aku pergi sama Stevi, Fariz dan Tristan ya. Nongkrong di Cafe dekat kampus."^^^
"Iya Sayang, selamat bersenang-senang ya, kalo keburu nanti pulang bareng aku."
^^^"Siap pak bos.. I love U."^^^
"Love U Too My Sunshine."
Ghea tersenyum membaca chat balasan dari Fadhil, kemudian menaruh ponselnya didalam tasnya.
Mereka berempat duduk dicafe, memesan cemilan dan minuman favorit masing-masing.
"Juice mangga satu deh mba." Ucap Ghea pada waiters.
"Tumben Ghe, biasanya Milkshake strawberry kalo gak ice coffee latte." Sahut Fariz.
"Lagi pengen yang seger-seger Riz, mulut rasanya pahit banget." Jawab Ghea.
"Jangan-jangan Ghe.." Ucap Stevi seolah tampak berfikir.
"Jangan-jangan apa?" Tanya Ghea tak mengerti.
"Ada es batu junior diperut lo." Stevi tertawa.
"Es batu?" Tanya Tristan heran.
Stevi mengangguk. "Iya es batu atau balok es atau beruang kutub, julukannya dossen killer, dingin, cuek alias Pak Fadhil, suaminya Ghea."
"Lo gitu amat sih Stev,, baper nih gue sebagai istrinya." Ghea memasang wajah sendu.
"Ah elo Ghe, napa jadi baperan sih, sensitif banget. Jangan-jangan bener ada Fadhil junior nih." Ucap Stevi lagi.
Ghea hanya menanggapinya dengan senyum, dia tidak memikirkan jauh kesana karna akhir-akhir ini memang siklus menstruasinya slalu berantakan, dan terlalu malu membahas hal seperti ini didepan dua orang pria yaitu Fariz dan Tristan.
Sementara Tristan, hatinya masih terasa perih, hanya saja ia slalu mencoba mengendalikan perasaannya agar terlihat baik-baik saja. Baginya bisa akrab kembali dengan Ghea itu sudah lebih dari cukup. Karna meskipun Ghea belum menikah, mereka tetap tidak bisa bersama karna perbedaan keyakinan.
"Ghe, besok pergi sama Ayah kemana? kerumah?" Tanya Tristan yang memang mengenal baik keluarga Ghea.
"Gak tau Tan, kata Ayah sih cuma bilang mau ngajak pergi."
"Kak Yasmin sekarang jarang pulang Ghe, gue sering lihat Bunda sekarang banyak dirumah."
__ADS_1
"Hmm.. mungkin jam terbangnya tinggi Tan, sibuk kali."
"Tapi biasanya Bunda kan slalu ngikutin Kak Yasmin Ghe."
"Ya udahlah Tan, gue udah gak perduli sama kehidupan Kak Yasmin, dia mau bagaimana juga gue gak perduli."
"Lo marah ya sama kakak lo itu Ghe?" Kali ini Stevi yang bertanya.
"Bukan cuma marah Stev, sebenarnya gue udah dititik gak mau perduli lagi. Gue udah masa bodo sama Kak Yasmin ataupun Bunda yang ngelakuin gue seenaknya. Gue cuma fokus sama orang-orang yang baik sama gue." jawab Ghea panjang lebar.
"Keluarga pak Fadhil baik Ghe?" Tanya Fariz penasaran dan pertanyaan ini juga yang ingin sekali ditanyakan oleh Tristan.
"Baik banget Riz, mamanya Mas Fadhil itu bahkan lebih baik dari Bunda gue sendiri. Dan Kakak nya Mas Fadhil juga, suami istri itu memperlakukan gue layaknya adik mereka, belum adik-adiknya Mas Fadhil, mereka itu menghargai gue banget."
"Lo bahagia dong dikeluarga Pak Fadhil?" Stevi kembali yang bertanya.
"Ya gue bahagia, slama ini keluarga yang bikin gue nyaman itu keluarganya Titan, sekarang bertambah ada keluarganya Mas Fadhil, dan sekarang Ayah juga bisa baik sama gue, gue ngerasa sedikit-sedikit hidup gue berubah menjadi baik."
Tristan tersenyum, Ghea tidak melupakan keluarganya, dan Ghea tetap menyayangi keluarganya.
"Tak apa seperti ini Tan, yang penting Ghea tetap bahagia dan ada bersama lo terus." Batin Tristan.
Mereka asik dan larut dalam obrolan, sesekali membahas masa-masa SMA nya dulu, dimana Tristan dan Fariz merupakan satu tim basket dan Fariz yang memang belum pernah berpacaran.
"Nunggu Stevi kayanya ini sih." Ledek Tristan.
"Yaahh gimana dong, gue sukanya sama cowok mateng." Jawab Stevi enteng.
"Bukan Ghee.. maksud gue, gue tuh seneng sama cowok yang lebih tua atau jauh diatas gue."
"Om-Om atau bapak-bapak, sejenis gitu Stev?" Tanya Tristan iseng.
"Gak gitu juga Tan, ya elah." Stevi mulai membayangkan seseorang, "Yaa.. gue seneng type-type kaya pak Beryl temennya pak Fadhil gitu, atau Pak Tomy asisten dosen Pak Agus."
"Hah, Pak Beryl? lo suka sama Pak Beryl Stev?" Tanya Ghea.
"Ya model-model begitu lah Ghe.." Jawab Stevi enteng.
"Model pak Fadhil juga dong?" Tanya Fariz.
"Jujur ya, dulu iya, gue sempet kagum sama Pak Fadhil, gayanya yang cool, irit bicara, bikin penasaran. Tapi cuma sebatas kagum ya."
"Duhh jangan sampai laki gue denger ini Stev, bisa melting nanti dia." Sahut Ghea dengan ekspresi cemburu.
"Mana ada Melting." Suara bariton seseorang dari belakang Ghea.
Fadhil sedikit mendengar obrolan keempat sahabat itu, kemudian duduk disebuah Ghea dan mengusap puncak kepalanya.
"Loh udah selesai Mas?" Tanya Ghea.
__ADS_1
"Udah, tadi cuma bimbingan mahasiswa aja sebentar."
Fadhil berusaha mengakrabkan diri dengan sahabat-sahabat Ghea, dia tidak ingin terlalu canggung dengan mahasiswanya yang bersahabat baik dengan istrinya itu.
"Jadi Stevi naksir sama Beryl?" Tanya Fadhil.
"Ehh engga Pak.. cuma bercanda." Jawab Stevi dengan wajah memerah seperti tomat.
"Jangan dijodohin Mas, Fariz lagi mengejar hati Stevi." Bisik Ghea yang masih terdengar oleh ketiga sahabatnya.
"Jodoh mana tau, jodoh itu penuh misteri." Jawab Fadhil kemudian tersenyum mengingat masa lalunya, berpacaran dengan Yasmin sepuluh tahun namun menikah dengan wanita lain yang jauh lebih muda darinya.
"Pengalaman ya Pak?" Tanya Tristan mencoba mengakrabkan diri.
Fadhil menoleh kearah Tristan, "Pengalaman kamu juga kan Tan?" Tanya Fadhil balik sambil mengangkat satu halisnya dengan wajah tersenyum.
Karna hari semakin sore, akhirnya mereka bubar. Ghea pulang bersama Fadhil.
"Kamu gak cemburu sama Tristan kan By?" Tanya Ghea.
"Hem.. sedikit.. Tapi aku lebih memakai logika." Jawabnya sambil fokus menyetir.
"Kamu percaya aku By?"
"Sangat percaya, karna itu aku tidak melarang kamu masih berteman dengan Tristan. Aku yakin suatu saat akan ada jodoh yang baik untuk Tristan."
"Aku gak bisa jauhin Tristan By, dia dan keluarganya begitu berarti buat aku, aku gak mau jadi kacang yang lupa kulitnya, dan terlebih, aku sayang sama keluarga Tristan, aku menganggap Tante Monica dan Om Daniel seperti orang tuaku sendiri, aku menganggap Bang Krisna seperti Kakakku sendiri, dan Tristan sebagai saudaraku sendiri By.."
Fadhil tersenyum, "Aku percaya kamu, rumah tangga kita bukan hal yang main-main. Aku selalu menyerahkan diri sama Allah, untuk menjaga hati dan perasaan kamu."
Ghea menyandarkan kepalanya di pundak kiri Fadhil, "Aku mencintaimu By, separuh hidup aku sudah terisi oleh kamu. Terimakasih untuk kepercayaanmu. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi aku slalu berusaha menjaga hati dan perasaan aku untuk kamu."
Disisi lain, disebuah Apartemen pribadi Yasmin, Yasmin tengah berfikir. Apa ia harus mengikuti kemauan Arnold atau mengabaikannya.
Tapi ia tengah mengingat kariernya yang berada diujung tanduk dan segala fasilitas mewahnya sudah dibekukan oleh Erick sang Ayah karna membuat malu keluarga dengan meninggalkan pernikahan sehingga membuat Ghea yang harus menggantikannya.
"****... Umurku memang sudah tidak muda lagi, sudah kepala tiga dan pesonaku semakin memudar terkalahkan oleh pendatang baru yang masih belia. Susah sekali mendapat kontrak dari agensi ternama di situasiku sekarang." Umpatnya.
"Harusnya dulu aku tidak meninggalkan Fadhil, setidaknya aku bisa bertahan hidup. Tapi tidak, Fadhil tidak sekaya yang aku pikirkan, bagaimana aku bisa hidup mewah cuma dari gaji seorang dosen dan bukan CEO?" Gumamnya lagi.
"Arnold memang br*ngsek, dia mempermainkanku, aku hanya dijadikan bonekanya sementara." Yasmin mulai histeris dan melempar benda yang berada disekitarnya kesembarang tempat.
"Ghea.. Bagaimana bisa aku membawa dia kehadapan Arnold??"
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....