TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
ADA HATI YANG HARUS DIJAGA


__ADS_3

"Mas.. Eummmhh" Diana melenguh saat Erick terus berusaha menggempurnya. Entah sudah pelepasan keberapa kalinya yang dialami oleh Diana. Erick masih saja belum puas padahal sudah satu jam mereka bergumul diatas ranjang.


Erick semakin lihai memainkan perannya diatas ranjang, usia yang tidak muda lagi tidak menjadi halangan untuk Erick. Staminanya masih sangat oke dan bahkan, Erick tidak terlihat seperti usia lima puluh enam tahun. Ia terlihat sepuluh tahun lebih muda.


Suara des*h*n bersautan dan hampir tak terdengar karna beriringan dengan suara deburan ombak.


Ya saat ini mereka tengan berlibur di pulau Bali untuk meninjau resort nya yang mengalami penundaan untuk peresmiannya dan akhirnya saat ini resort ini sudah diresmikan oleh Erick.


Tentu hanya Erick dan Diana yang mengunjungi tempat ini, mengingat berapa kali rencana mereka mengunjungi resort ini slalu terpending karna kesibukan anak-anak mereka. Pada akhirmya Erick memutuskan hanya dirinya dan Diana yang akan pergi. Sementara Bryan, kini ia slalu disibukan dengan pembangunan resort ditempat lain.


Erick pun tiba dipelepasannya, ia memandangi wajah istrinya yang sexy.


"Sudah Mas, aku lelah.." Suara Diana terdengar terengah-engah.


Erick mengelap keringat yang berada diwajah Diana dengan jari jemarinya, lalu berpindah posisi kesebelah Diana dan memiringkan tubuhnya memghadap Diana.


"Kamu sexy sekali sayang, bikin aku tidak bisa berhenti." Ucapnya menggoda.


"Benarkah? Tidak akan tergoda dengan wanita lain yang jauh lebih muda dariku?" Tanya Diana penuh selidik.


"Tidak, kau juga masih muda, tubuhmu masih kencang semua." Erick meremas salah satu gunung kembar Diana. "Dan ini, dia slalu menggigit." Erick memasukan Jarinya dan memainkannya diarea sensitif Diana.


"Mass.. Akhhhh.." Diana meremas sprei yang sudah tidak beraturan.


Erick tertawa, "Kamu meskipun lelah tapi menikmatinya.. Mau lagi? hem?" Tanya Erick.


"Kamu masih sanggup?" Tanya Diana.


"Masih.." Erick mengarahkan tangan Diana untuk memegang pusakanya.


"Kenapa dia bisa on lagi? kapan dia lelahnya Mas?" Tanya Diana.


"Dia tidak pernah lelah, Sayang.. kamu mau lagi?"


Diana tersenyum menggoda lalu memainkan pusaka Erick dengan memaju mundurkan tangannya. "Boleh..." Ucapnya.


"Tapi tidak disini, aku ingin bermain dikamar mandi." Erick bangkit dan segera menggendong Diana ala bridal.


***


"Sepi ya Stev.." Ucap Ghea pada Stevi yang sedang menyusui Aldrich di ruang televisi.


"Iya Ghe.. Biasanya jam segini kita asik ngobrol sama Mama Diana ya." Jawabnya.


"Hmm.." Ghea tersenyum.


"Ghe..." Panggil Stevi pelan.


"Ya..?"


"Lo kenapa? kayak ada unek-unek gitu." Ucap Stevi.


"Akhh sok tau lo.. Gue gapapa Stev.. Mungkin hormon bawaan hamil jadi ngaruh ke mood."


"Yakin Ghe?" Tanya Stevi.


Saat ini mereka hanya tinggal berdua dirumah, Fadhil dan Fariz sama-sama bekerja, sementara Bryan dan Maura hanya saat week end berada dirumah Erick.


"Gue agak bingung sama sifat Tristan sekarang, dia kayak jaga jarak sama gue. Apa cuma perasaan gue aja ya?" Tanya Ghea.


Stevi menghela nafasnya. "Sebenarnya gue juga merhatiin begitu Ghe.."

__ADS_1


"Dari bulan lalu, saat Aldrich Aqiqah dan ada Pak Anas kesini yang bahas masa lalu gue sama Tristan di SMA, dia jadi beda sama gue."


"Tapi Jessi masih biasa aja Ghe."


"Iya, gue gak tau Tristan kenapa begitu sama gue. Tadinya gue gak mau ambil pusing, tapi makin kesini makin kelihatan. Apa ada sikap gue yang salah dan gak ngenakin ya Stev?"


"Coba nanti gue tanya Fariz ya Ghe.. Mungkin Tristan ada curhat apa sama Fariz."


"Gak usah Stev.. Mungkin Tristan mau jaga perasaan Jessi. Atau dia gak mau orang ngelihat dia masih deket-deket sama gue."


"Tapi Jessinya aja biasa-biasa aja Ghe.."


Ghea menghela nafas. "Coba lo posisiin diri lo diposisi Jessi Stev, gue pernah begitu spesial dihati Tristan, punya masa lalu yang bisa dikatakan indah dan semua orang tau itu. Entah kenapa gue takut masa lalu gue sama Tristan bikin Jessi sakit hati. Makanya gue juga mikir yaudah lah gapapa Tristan kaya bgitu sama gue." Ghea tersenyum.


***


Fariz mengusap lembut pipi Aldrich yang kini usianya hampir menginjak dua bulan.


"Pap.." Panggi Stevi sambil memijat lembut pundak Fariz.


"Hem? ada apa Yank?"


"Aku mau tanya sesuatu."


Fariz menoleh kearah Stevi dan membawanya duduk disofa kamar.


"Ada apa? sepertinya serius."


"Soal Tristan..."


"Tristan? kenapa dia?" Tanya Fariz.


Stevi mendadak ragu saat ingin bertanya.


"Apa Tristan ada cerita apa gitu sama kamu soal Ghea?"


Fariz menghela nafas. "Ghea udah mulai menyadari kalo Tristan berubah ya?"


Stevi mengangguk.


"Jessi masih aja cemburu sama Ghea, karna itu Tristan ingin menjaga perasaanya Jessi, apa lagi sekarang Jessi tengah hamil besar, karna itu Tristan menjaga jarak dan tidak terlalu akrab sama Ghea, itu yang Tristan bilang sama aku."


"Tapi Jessi sendiri biasa-biasa aja."


"Iya.. aku juga bilang begitu.. Tapi entahlah, mungkin Tristan masih bingung. Semoga Tristan nanti menyadari kekeliruannya kalo sekarang kita semua ini murni sahabatan."


Stevi mengangguk paham.


Disebrang rumah Erick, tepatnya rumah Tristan.


Tristan tengah berdiri dibalik pintu kaca balkon kamarnya. Menatap kamar Ghea yang berada percis disebrangnya.


"Maaf Ghe, gue gak ada maksud, smoga lo gak akan pernah menyadari perubahan gue. Ada hati yang harus gue jaga." Gumam Tristan dalam hatinya.


Ceklekk


Pintu kamar mandi didalam kamar Tristan terbuka, Jessi baru saja membasuh wajahnya sebelum tidur. Spontan Tristan menutup tirai tebal dipintu kaca tersebut.


"Bang.." Panggil Jessi.


"Iya Bee.."

__ADS_1


"Jadwal operasi secar ku beberapa hari lagi. Aku koq deg-deg an ya." Ucap Jessi.


Jessi memang akan melahirkan secara Secar, karna setelah melakukan pemeriksaan, beberapa kali bayi yang tengah Jessi kandung terlihat sungsang.


"Jangan dipikirin Bee, kan Abang nanti nemenin kamu diruangan operasi." Jawab tristan meyakinkan lalu membawa Jessi duduk sambil mengusap perutnya yang sudah membesar itu.


"Hai anak Papi.. bekerja sama dengan Mami ya Nak, Papi dan Mami menunggu kamu datang didunia ini." Tristan mengajak perut Jessi berbicara seolah sedang berbicara dengan bayinya.


Tangan Jessi terulur membelai rambut Tristan. "Apa kamu bahagia Bang?" Tanya Jessi.


Tristan memsejajarkan wajahnya dengan wajah Jessi. "Kamu dan bayi kita adalah kebahagiaanku Bee." Jawab Tristan.


Jessi tersenyum.


Erick dan Diana tiba dirumah. Keesokan harinya saat pagi hari, setelah Erick, Fadhil dan Fariz berangkat kerja, Diana meminta Ghea untuk mengantarkan oleh-oleh untuk keluarga Tristan.


Awalnya Ghea enggan menerima permintaan Diana, mengingat Tristan slalu berangkat siang saat kekantor. Karna kini Ghea pun berusaha untuk menjaga jarak dengan Tristan.


Ghea membawa paperbag berisikan oleh-oleh yang dibeli Diana untuk keluarga Tristan, ia menyebrang kearah rumah Tristan dan memasuki gerbang rumahnya.


Terlihat Tristan sedang bersiap keluar rumah didampingi oleh Monica yang belum terlihat oleh Ghea.


"Tristan.." Panggil Ghea.


Tristan menoleh kearah sumber suara.


Degg..


"Apa gue salah denger? Ghea manggil gue Tristan dan bukan Titan?" Gumam Tristan dalam hatinya.


Panggilan Ghea pun membuat Monica sedikit curiga. Pasalnya dari kecil hingga terakhir mereka bertemu, Ghea slalu memanggil Tristan dengan sebutan Titan.


"Ghe.." Lirih Tristan.


"Udah mau jalan ya? Gue titip ini buat Mama Monica, bilang aja dari Mama Diana." Ucapnya setenang mungkin.


"Gheaa.. wah bawa apa?" Tanya Monica yang baru saja terlihat oleh Ghea karna tertutup pilar yang besar.


"Eh Mama, kirain lagi didalam, ini oleh-oleh dari Mama Diana." Ucap Ghea.


Monica menerima paperbag dari Ghea, namun matanya melihat kecanggungan antara Tristan dan Ghea.


"Ya udah ya Ma, Ghea mau langsung pulang, lagi bantuin Mama beres-beres kopernya." Ucap Ghea berpamitan.


"Tristan, gue balik dulu." Ghea tersenyum, namun entah kenapa Tristan merasakan senyum Ghea yang berbeda.


Ghea segera kembali menyebrang dan masuk kedalam rumahnya. Monica memperhatikan arah mata Tristan yang tak terputus menatap kepergian Ghea.


"Tan.." Panggil Monica.


"Eh iya Ma.. Tristan berangkat dulu ya.. Titip Jessi, dia masih tidur karna semalam kakinya pegal-pegal gak bisa tidur."


"Iya, kamu gak usah khawatirin Jessi. Sering-sering telpon Jessi kalo lagi dikantor."


Tristan mengangguk kemudian mencium pipi Monica untuk berpamitan.


.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2