
Setelah tiga hari berlibur, keesokan harinya mereka bersiap untuk pulang.
Ghea satu mobil bersama Fadhil, sementara Tristan, Fariz, Jessi dan Stevi berada di satu mobil lainnya.
"Posisinya udah enak?" Tanya Fadhil saat membantu Ghea duduk didalam mobil dan mengatur posisi sandaran jok nya.
"Udah By, makasih." Ucap Ghea sambil mengusap pipi Fadhil sambil tersenyum.
Perlakuan so sweet Fadhil terlihat oleh Jessi dan Stevi.
"So sweet banget." Ucap Stevi dengan nada pelan yang terdengar oleh Jessi.
"Fariz juga bisa se so sweet itu Stev." Sahut Jessi.
"Lha kenapa jadi Fariz Stev, gue lagi ngomongin Pak Fadhil, dosen killer yang cool itu bisa juga berlaku so sweet sama pasangannya."
"Iya gue tau, tapi gue juga pengen bahas Fariz, dia setia lho nungguin lo."
Stevi tersenyum, "Masih banyak cewek yang lebih baik dan lebih pantas buat Fariz dibanding gue Jess."
"Susah lho Stev dapatin yang setia dan baik kayak Fariz, lo yakin mau lepasin Fariz?"
"Gue gak pantes buat dia, intinya sih gitu. Udah ah Jess, yuk ke mobil." Ajak Stevi.
Fariz mengemudikan mobil, Tristan duduk disebelahnya sementara Jessi dan Stevi berada di kursi belakang.
Saat ditengah perjalanan, Jessi merasakan mual.
"Riz.. Rizz.. bisa nepi dulu gak? gue mual banget."
Fariz menepikan mobilnya, Dan Jessi segera turun dari mobil dan memuntahkan apa yang ia makan tadi sebelum jalan pulang.
Tristan juga ikut turun lalu memijit tengkuk leher Jessi, dan hal itu membuat Jessi risih.
"Bang, gak usah kesini, gue lagi muntah."
"Ya udah sih Bee, emang kenapa?" Tanya nya sambil terus memijit tengkuknya Jessi.
"Nanti lo jijik Bang."
"Jangan mikir kesitu Bee." Tegas Tristan.
Stevi turun lalu memberikan air mineral pada Jessi. "Minum dulu Jess."
"Thanks Stev." Jessi menerimanya lalu meminumnya.
Steleh agak mendingan, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini Tristan meminta Stevi untuk duduk didepan bersama Fariz, sementara Tristan duduk dikursi belakang bersama Jessi.
Tristan memposisikan Jessi dengan posisi tidur dan beralaskan paha Tristan, Tangannya terulur mengusap kepala dan terkadang memijit kening Jessi, membuat Jessi merasa nyaman.
Tiba diJakarta, Tristan mengantar Stevi terlebih dahulu, dan Fariz juga turun di kost an Stevi karna dia menitipkan mobilnya diarea kost Stevi. Tristan mengantar Jessi hingga ke apparetemennya.
"Masih pusing?" Tanya Tristan lembut saat mendudukan Jessi disofa.
"Udah engga Bang, udah enakan. Makasih ya."
"Aku kira kamu hamil Bee, aku udah seneng aja. Taunya kamu bilang ke Stevi lagi datang bulan." Tristan memasang wajah kecewa.
"Kenapa kamu ingin sekali aku hamil Bang?" Tanya Jessi.
"Karna dengan jalan itu membuat kamu menikah denganku Bee. dan karna hal itu satu-satunya yang membuat aku semangat, ada miniatur diri aku di rahimmu."
Perasaan Jessi dibuat meleleh oleh Tristan, ingin sekali ia mengatakan bahwa dirinya hamil, tapi Jessi tidak mau gegabah, Tristan pasti akan langsung memberitahukan kepada orang tuanya sementara orang tua Tristan sedang sibuk mempersiapkan pernikahan Krisna.
"Bee, kenapa diam?"
"Gapapa Bang, aku cape dan ngantuk Bang."
Tristan tersenyum, "Ya udah kamu istirahat ya, aku pulang dulu." Tristan mencium kening Jessi lalu berdiri namun Jessi mencegahnya dengan menarik tangan Tristan.
Tristan dan Jessi saling menatap. "Temenin aku istirahat Bang." lirih Jessi.
Jangan ditanya perasaan Tristan, ia sangat senang sekali.
Jessi merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, dan Tristan berada disampingnya, membawa Jessi terlelap didalam dekapan Tristan.
__ADS_1
Tak hentinya Tristan mengecupi puncak kepala Jessi, seolah menyalurkan rasa sayangnya kepada Jessi seorang.
***
Keesokan harinya Jessi sudah bersiap akan memeriksakan kehamilannya bersama Ghea. Jessi mengendarai motor kesayangannya.
"Lah naik motor Jess?" Tanya Ghea heran.
"Iya Ghe, udah lama gak motoran." Jawabnya cengengesan.
"Ya ampun bumil, strong banget sih." Goda Ghea.
Jessi hanya tersenyum.
"Usia kandungannya masuk empat minggu." ucap dokter kandungan yang memeriksa Jessi.
"Janinnya sehat dok?" Tanya Ghea antusias.
"Sehat, saya sarankan ibunya tidak boleh terlalu capek karna ini masih awal kehamilan. Hindari angkat beban berat, dan banyak makanan bergizi juga vitaminnya tidak boleh terlewat ya."
Dokter menuliskan resep obat untuk Jessi.
"Saya slalu merasakan mual dan lemas dipagi hari dok, apa itu wajar? tapi siangnya saya merasa baikan." Tanya Jessi.
"Itu hal yang wajar, slama tidak berlebihan dan banyak minum air putih agar tidak dehidrasi ya. obat anti mual juga harus diminum ya."
Selesai dari rumah sakit, Ghea dan Jessi berencana untuk mampir ke kost Stevi.
"Naik motor aja Ghe, gue janji pelan-pelan." Bujuk Jessi.
"Gue bukan masalahin diri gue Jess, gue mikirin lo masih aja bawa motor." Ghea menerima helm dari tangan Jessi dan mereka menuju kost Stevi.
Area kost Stevi sedang sepi, pasalnya banyak mahasiswa yang memilih libur semester dikampung halamannya.
"Stevi gak takut apa ya kost sepi begini." Gumam Ghea.
"Anak kost biasanya strong-strong Ghe."
"Iya sih beda banget sama gue yang cengeng." Ghea tertawa.
"Masa sih? koq gue gak ngerasa begitu."
Tanpa terasa mereka tiba didepan kost Stevi, namun langkah mereka terhenti saat mendengar dua orang berbicara dari dalam kamar Stevi. Satu barisan kamar Stevi kosong karna penghuninya tengah pulang kampung.
"Daddy tidak suka kamu terlalu dekat dengan pemuda itu."
"Ma.. Maaf Dad, dia cuma teman Stevi."
"Teman? tapi kau sering pergi bersamanya." (Dengan suara membentak)
Terdengar Stevi terisak.
"Ingat Sayang, jika kau macam-macam. Daddy akan menghentikan biaya pengobatan ibumu dan biaya kuliahmu juga."
Stevi masih terdengar terisak.
"Sayang, kamu harus ingat kalo kamu milik Daddy seorang."
"Dadd, tapi aku anak ibu." Lirih Stevi.
"Kau anak Ibumu tapi bukan anakku, setelah kuliahmu selesai, Daddy akan menikahimu."
Stevi semakin terisak.
"Ingat, kau harus menjaga kesucianmu untuk Daddy, jika Daddy tau kau memberikan kesucianmu pada orang lain, Daddy akan menarik semua pengobatan Ibumu."
"Akhh.. Sakit Dad.."
(Pria itu meremas bagian inti Stevi)
"Jangan pernah macam-macam sama Daddy dan jangan bermain dibelakang Daddy."
"I.. iya Dadd.."
"Gadis pintar.. sekarang puaskan Daddy, ini hukuman karna kau berani pergi dan tidak ijin dengan Daddy."
__ADS_1
"Dadd, aku sedang mual, tidak bisa melakukan hal itu."
Pria itu mencapit dagu Stevi. "Lakukan atau Daddy akan mengambil kesucianmu saat ini juga."
Pria itu perlahan membuka resleting celananya dan menurunkannya. Stevi mengulurkan tangannya dan mulai menyentuh pusaka orang yang ia panggil Daddy itu, lalu memainkannya dengan memaju mundurkannya.
"Akhh.. lebih cepat sayang." Racau pria itu.
Ghea dan Jessi hanya saling terdiam dan terus menguping dari luar kamar Stevi.
"Gunakan mulutmu sayang, Daddy hampir sampai." Racau pria itu lagi.
Stevi memejamkan matanya lalu mulai memasukan pusakan pria itu kedalam mulutnya.
Pria itu tidak perduli saat Stevi mengeluarkan airmata karna menangis.
"Enggghhh.." suara erangan pria itu saat tiba dipelepasan. Stevi segera berlari kedalam kamar mandi dan memuntahkan apa yang ada didalam mulutnya, ia menangis menyesali kelemahannya.
"Gilaaa Ghe..." Ucap Jessi berbisik
"Stevi slama ini dibawah tekanan Jess." Balas Ghea.
"Kita harus selamatkan Stevi, pria itu melecehkan Stevi."
"Tapi kita gak tau siapa pria itu."
Stevi keluar dari dalam kamar mandi.
Pria itu sudah tampak rapih, "Daddy pulang dulu. Ingat jangan terlalu dekat dengan pemuda manapun."
"Dadd, aku ingin bertemu ibu." Lirih Stevi.
"Tidak bisa, kondisi ibumu masih sama."
"Tapi sudah satu tahun lebih aku tidak melihat ibu."
"Nanti saja, lebih baik kau tetap disini, minggu depan Daddy akan kembali lagi."
Ghea dan Jessi segera menjauh dari kamar kost Stevi, mereka melihat seorang pria paruh baya yang berumur diatas orang tuanya keluar dari kamar Stevi, tak lama dari itu Stevi menutup kembali kamarnya.
"Kita harus gimana Jess?" Tanya Ghea.
"Gak bisa begini terus Ghe, kita harus langsung bicara sama Stevi."
"Tapi Stevi tertutup Jess.. Ya ampun dibalik sikap cerianya, dia menyimpan beban Jess."
"Tapi kita harus secepatnya nolongin Stevi Ghe.."
"Jadi ini alasan Stevi nolak Fariz, dia gak percaya diri Jess."
"Iya Ghe, kita sahabatnya Stevi, harus tolong dia secepat mungkin."
.
.
.
Sedih ya kisah Stevi,
Pelan-pelan akan kita buka ya kisahnya bersama Fariz.
Ghea-Fadhil dan Tristan-Jessi juga masih berlanjut kisahnya.
Bagaimana kelanjutan Takdir Cinta Antara Tristan-Jessi dan Fariz-Stevi?
Akankah mereka berjodoh dan happy ending seperti Ghea-Fadhil?
Dukung terus Author ya dengan Like, koment, dan Bantu Vote nya juga.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1