
"Lo kenapa?" Tanya Fariz.
"Menurut lo?" Tanya Jessi balik.
Fariz menghela nafas. "Jess, lo bisa percaya sama Tristan."
"Lo gak lihat Riz, sebegitunya Tristan mengkhawatirkan Ghea. Koq rasanya sakit ya Riz." Lirih Jessi.
"Jess.. Dulu Ghea begitu spesial dihati Tristan, tapi itu dulu. Sekarang udah jelas kalo Tristan milik lo Jess, hati nya juga cuma ada lo. Mungkin sikapnya ke Ghea tadi hanya karna sebatas khawatir aja, gak lebih."
"Entahlah Riz. Gue ngerasa ragu."
Mereka saling diam, kemudian Jessi berdiri. "Gue balik ya Riz."
"Bentar Jess, lo gak bilang dulu sama Tristan?" Ucap Fariz.
"Dari tadi gue sama dia Riz, tapi gue udah kayak manusia transparant, gak terlihat sama dia." Jessi tersenyum kemudian pergi meninggalkan Fariz.
"Lho, Jessi kemana Riz?" Tanya Stevi yang baru saja kembali dari toilet.
"Pulang." Jawab Fariz.
Stevi ingin bertanya lebih, namun mulutnya tertahan saat melihat seorang suster mendorong box bayi kekamar Ghea.
"Itu pasti anaknya Ghea Riz masuk yuk." Ajak Stevi.
Fariz mengangguk kemudian mengikuti langkah Stevi yang masuk kedalam ruang perawatan Ghea.
"Tampan sekali, hidungnya mancung kayak Fadhil." Ucap Monica sambil menimang bayi laki-laki itu.
"Siapa namanya Ghe?" Tanya Erick.
"Zayn Fadhillah Salman." Jawab Fadhil.
"Baby Zayn, tampan sekali." Stevi menatap wajah mungil bayi dalam gendongan Monica.
Menjelang malam, keluarga Tristan dan keluarga Ghea kembali pulang, sementara keluarga Fadhil belum ada yang datang karna sedang berada diluar kota.
"Tan tunggu." panggil Fariz.
"Kenapa Riz?" Tanya Tristan.
"Lo gak ngerasa ada yang kurang?" Tanya Fariz sinis.
Tristan mengernyitkan dahinya, "Apa Riz?"
"Tunangan lo kemana? Jessi kemana?" Tanya Fariz.
Tristan menepuk dahinya. "Oh my God."
"Baru inget lo?" Sindir Fariz.
"Ya ampun Riz.."
"Tan, lo boleh perduli sama Ghea, tapi lo harus mikirin perasaan Jessi, dia bukan mahluk transparant yang gak lo lihat, dia punya hati yang harus lo jaga. Lo gak bisa minta Jessi buat mengerti lo sementara lo gak bisa ngertiin Jessi, hati dia bukan terbuat dari batu yang tahan banting Tan, batu pun bisa pecah jika kena hantaman terus."
"Riz, lo ngomong apa sih? gue cuma bantu Ghea, iya gue akui kalo gue panik, lo bayangin ada cewek depan lo sedang kesakitan bertaruh nyawa. Gue yakin klo lo jadi gue juga lo gak akan bisa abaikan Ghea, terlebih saat itu pak Fadhil lagi gak ditempat."
__ADS_1
"Iya, kalo gue jadi lo, gue gak akan bisa abaikan Ghea, tapi setidaknya gue juga gak akan abaikan Jessi sampai lo sendiri gak sadar Jessi udah ga ada disana tadi."
Tristan mengusap kasar wajahnya, "Gue salah lagi Riz?"
"Iya lo salah." Fariz memgucapkan kata itu dengan tegas.
Tristan terdiam.
"Kita semua sayang Ghea Tan. Sebagai sahabat, gue juga sayang sama Ghea, tapi menurut gue lo masih berlebihan jika lo masih mengabaikan Jessi karna Ghea. Jangan buat orang jadi membenci Ghea karna perhatian lebay lo Tan. Jangan buat orang berfikir kalo Ghea adalah duri dalam daging dihubungan kalian, Ghea gak salah apa-apa dan semua kendali ada di diri lo. Sekarang keadaanya udah berbeda, Ghea udah ada pak Fadhil, dan lo udah ada Jessi."
Fariz menghela nafas lalu menepuk pundak kiri Tristan.
"Gue bawa Stevi jalan-jalan dulu, lo pergilah ke apartemen Jessi, minta maaf sama Jessi atas kesalahan lo hari ini. Gue antar Stevi sebelum jam sembilan malam, masih ada waktu dua jam buat lo bicara sama Jessi. Tapi hati-hati lo kebablasan, inget jangan ngelakuin kesalahan untuk kedua kalinya." Fariz meninggalkan Tristan.
Tristan segera mengeluarkan ponselnya untuk mencari ojeg online, sementara Monica pulang bersama Daniel. Karna tadi Tristan pergi memakai mobil milik keluarga Ghea.
Tiba diapartemen, Tristan menekan tombol bel, namun tidak kunjung ada yang membuka, akhirnya Tristan menekan kode akses dihandle pintu itu dan masuk kedalam Apartemen.
"Bee..." Panggil Tristan.
namun tidak ada sahutan.
Tristan masuk kedalam kamar Jessi, dan ternyata kosong, tapi ia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, menandakan ada seseorang disana.
Tristan duduk di tepi tempat tidur Jessi. Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
"Abang.." Jessi sedikit terkesiap melihat Tristan yang berada di kamar Jessi.
Tristan mendongak menatap Jessi lalu tersenyum, kemudian berdiri menghampiri Jessi.
"Bang, tunggu diluar dulu, aku mau memakai pakaian dulu." Ucap Jessi, pasalnya Jessi masih memakai handuk kimononya.
Tristan membawa Jessi kesisi tempat tidur tanpa melepas pagutannya, dan mendudukan Jessi dipangkuannya. Tangan Tristan mulai bergerilya masuk kedalam handuk kimono Jessi meraih dua buah gunung yang belum terbungkus itu, memainkan salah satunya dengan meremas lembut.
"Bang..." Lirih Jessi saat ciuman Tristan turun kejenjang leher Jessi.
Jessi dibuat melenguh dan terlena karna sentuhan Tristan.
Lama Tristan bermain dileher jenjang Jessi, akhirnya Tristan melepaskannya.
"Bee, kenapa tidak menungguku." Tanyanya.
Jessi menatap mata sayu Tristan, "Aku pikir, kamu lupa sama aku."
Tristan menyambar kembali bibir manis Jessi, memainkannya sekilas kemudian melepaskannya lagi. "Jangan bilang begitu Bee, aku hanya mengkhawatirkan Ghea, tidak lebih."
Jessi terdiam, sementara Tristan, tangannya masih asik bermain diarea gunung kembar Jessi silih berganti, dan wajah Tristan masih asik mengendus ceruk leher Jessi.
"Maafkan aku Bee.." Lirih Tristan.
"Aku hanya sebatas perduli dan sayang pada Ghea sebagai adik dan sahabat, tidak lebih. Cinta aku semua udah untuk kamu Bee, hati aku cuma ada kamu, dan diri aku hanya menginginkan kamu."
Jessi mengusap rambut Tristan, sedikit menggusarnya karna kini Tristan membenamkan wajahnya diantara dua buah gunung Jessi.
"Bang.." Lirih Jessi..
"Bee aku ingin.." suara parau Tristan.
__ADS_1
Jessi memejamkan matanya, menikmati segala sentuhan Tristan.
"Bee kamu basah, apa kamu juga menginginkannya?" Tanya Tristan yang entah sejak kapan tangannya menjelajah kebagian inti Jessi yang belum terpasang segi tiga pengaman itu sambil menatap wajah Jessi yang sepeertinya tengah menikmati sentuhan Tristan.
Jessi mengangguk, dirinya ingin menolak, namun tubuhnya menginginkan kembali sentuhan itu.
Tristan tersenyum, perlahan menidurkan Jessi diatas tempat tidur, membuka tali handuk kimono tanpa terlepas dari tubuh Jessi.
Tristan menelusuri tubuh Jessi dengan bibirnya, hingga tiba di bagian inti Jessi, ia memainkan lidahnya disana dan membuat Jessi melenguh.
"Bang..." Lirih Jessi.
Jessi semakin menekan kepala Tristan dan menjepitnya dengan kedua pahanya.
"Lepaskan sayang, jangan ditahan." bisik Tristan.
Sesuatu meledak didalam sana, Jessi mendapatkan pelepasan pertamanya.
Tristan kembali mengecupi wajah Jessi kemudian berkata, "Aku mencintaimu Bee, sangat mencintaimu." Tristan tersenyum, kemudian membenahi handuk kimono Jessi, dan dia melangkah kekamar mandi untuk menyelesaikan hasratnya sendiri dengan bermain solo.
"Akhh si*l.. hampir aja gue kebablasan lagi."
Jessi duduk dan menatap heran kearah kamar pintu kamar mandi.
Jessi segera berpakaian dan menunggu Tristan selesai dari kamar mandi.
Tidak lama akhirnya Tristan keluar dari kamar mandi.
Tristan tersenyum kearah Jessi dan mengajaknya keluar kamar lalu duduk disofa.
"Kenapa tidak diteruskan Bang?" Tanya Jessi ragu.
Tristan meraih dagu Jessi dan mengecup bibirnya sekilas.
"Aku tidak ingin merusakmu untuk kedua kalinya, aku ingin melakukannya nanti setelah kita menikah."
"Kapan kita akan menikah?"
Tristan menatap mata Jessi. "Kamu udah siap aku ajak menikah Bee?"
Jessi mengangguk, "Aku kira setelah kamu melamarku, akan ada pembicaraan pernikahan, tapi taunya engga Bang."
Tristan tersenyum, "Aku takut kamu menolak lagi Bee."
Jessi menggelengkan kepalanya, "Tidak Bang, aku udah mantap menata masa depan sama kamu."
"Udah percaya sama aku?"
Jessi mengangguk.
"Aku akan segera bicarakan hal ini ke Mama. Terimakasih Bee, dan maaf jika aku masih belum peka kepada mu."
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....