
Chelsea berjalan seorang diri, ia tengah mencari buku di toko buku ternama di sebuah mall. Chelsea membeli beberapa buku untuk memperdalam keyakinannya saat ini.
"Ishhh jangan isengin aku, Zayn.."
(Suara seorang pria tertawa) "Makanya jangan cemberut, nanti aku bawa ke KUA lho."
"Apaan sih Zayn, Gak jelas deh kamu."
Terdengar suara dua orang yang sedang berbicara dibalik rak buku, Chelsea sangat mengenali suara kedua orang itu.
"Kak Zayn udah mau serius ngajakin Kak Nadira ke KUA." Batin Chelsea lalu menghela nafas beratnya.
"Chelsea..." Sapa seseorang yang ternyata adalah Damian.
Chelsea menoleh, "Kak Dami."
Damian tersenyum dengan sangat manis lalu menghampiri Chelsea. "Lagi disini juga ternyata?"
Chelsea mengangguk kikuk. "Maaf Kak Dami, aku duluan ya." Ucap Chelsea sopan.
"Lho jangan pergi dulu Chel, aku disini sama Zayn dan Nadira, kita makan dulu yuk." Tanpa menunggu persetujuan, Damian menarik tangan Chelsea hingga berada dilorong sebelah, tempat Zayn dan Nadira yang sedang memilih buku.
"Zayn, lihat siapa yang aku bawa." Ucap Damian.
Zayn dan Nadira kompak melihat pada tangan yang sedang Damian gandeng, wanita berjilbab navy itu sedang tertunduk menyembunyikan wajahnya.
"Sea.." Panggil Zayn meyakinkan.
Sea sedikit mendongakan wajahnya, lalu tersenyum tipis, sangat jelas bahwa Sea memaksakan senyumnya.
"Kamu disini?" Tanya Zayn meyakinkan.
"Iya Kak." Jawab Chelsea kikuk.
Zayn melihat dua buah buku yang Chelsea bawa, buku berjudul Ilmu Iklhas dan buku satunya lagi berjudul Mencintai yang menciptakan Cinta. Zayn tersenyum.
"Kita makan bersama, ikut kan Chel?" Tanya Nadira dengan ramah.
"Gak usah Kak, aku mau pulang duluan aja." Ucap Chelsea.
"Koq pulang Sea, kamu ikut makan sama kita ya, nanti pulang sama aku." Kata Zayn sambil menarik Chelsea, melepaskan tangan Damian dari tangan Chelsea.
"Kak aku mau bayar buku nya dulu." Kata Chelsea menahan langkahnya.
Zayn berbelok kearah kasir, mangambil buku dari tangan Sea, menyerahkannya pada kasir dan membayarnya dengan mengeluarkan kartu debitnya.
"Kak, aku mau bayar sendiri." Ucap Chelsea lagi.
"Gak usah, aku mau traktir kamu, anggap aja buku ini hadiah dari aku."
"Jangan Kak." Kata Chelsea tidak enak.
Zayn menatap wajah Chelsea, "Mau nolak? tandanya kita gak akan kenal lagi." Ucap Zayn serius.
Dengan seketika Chelsea merapatkan bibirnya. Setelah menekan pin dan transaksi selesai, Zayn menggandeng tangan Chelsea kembali menyusul Damian dan Nadira yang sudah menunggunya disebuah restoran steak.
Chelsea duduk disebelah Zayn, sementara Nadira dan Damian duduk berdampingan.
"Kita udah pesan, Zayn. Tinggal kamu sama Chelsea." Ucap Nadira.
Damian memanggil waiters lalu Zayn membuka menu dan memesan makanan untuknya dan juga untuk Chelsea.
"Tenderloin medium satu, lemon tea hangat satu, air mineral dua, salad sayur satu, salmon steak satu." Ucap Zayn pada pelayan, lalu Zayn menoleh kearah Chelsea, "Ada yang mau dirubah?" Tanya Zayn lembut pada Chelsea.
Chelsea tersenyum, Zayn sangat tau jika Chelsea tidak mengkonsumsi daging dengan cara olahan yang menurutnya tidak sehat, lalu diganti dengan salmon steak, "Tidak Kak, itu cukup, terimakasih." Jawabnya.
__ADS_1
"Pantas saja tubuhmu begitu ideal, Chel. Rupanya kamu tidak memakan daging ya?" Tanya Nadira penuh keakraban.
"Iya Kak." Jawab Chelsea.
"Sebenarnya Chelsea juga memakan daging, Ra. Hanya saja cara pengolahannya harus benar benar diperhatikan, Chelsea tidak terlalu suka daging yang berlemak, karna itu sedari kecil Chelsea menyukai olahan ikan dan sayur." Sahut Zayn.
"Jadi dari kecil ya, Chel?" Tanya Nadira lagi.
"Iya kak, dan kebiasaan itu jadi bikin aku untuk menjalani pola hidup sehat, bukan karna diet. Prinsipku hidup sehat dan kurus adalah bonusnya." Jawab Chelsea dan tanpa disadari, Zayn tersenyum.
Chelsea melihat sikap Nadira yang begitu manja pada Damian, kemudian ia melirik kearah Zayn yang tampak cuek. "Apa Kak Zayn tidak merasa cemburu? Bahkan Kak Dami begitu romantis memotong daging steak Kak Nadira di hot plate nya." Batin Chelsea.
Selesai makan bersama, Damian mengajak Chelsea untuk ikut nonton bersama, awalnya Chelsea menolak kembali, namun ketika Zayn yang memintanya untuk ikut, Chelsea pun menurut begitu saja.
Lagi-lagi Chelsea melihat sikap Damian terhadap Nadira yang menurutnya tidak biasa, Bahkan terlihat jelas, saat menontonpun Nadira melingkarkan tangannya dilengan Damian dan menyandarkan kepalanya dibahu Damian. "Apa mereka main dibelakang Kak Zayn? Tapi ini terang-terangan di depan Kak Zayn." Batin Chelsea lagi.
Sepanjang menonton film, Chelsea hanya diam, pikirannya tengah berkecamuk, Chelsea sama sekali tidak memperhatikan apa yang ditonton nya. Sesekali ia melirik Zayn, hanya fokus dengan menatap layar lebar itu sambil memakan popcornnya. "Apa Kak Zayn cinta buta ke Kak Nadira, hingga Kak Zayn tak melihat gelagat mencurigakan pacarnya itu."
"Aku anter Nadira, Chelsea sama kamu ya Zayn." Ucap Damian pada Zayn.
Zayn mengangguk, saat ini Damian memang sudah tinggal di apartemen sendiri, Bryan memberi hadiah sebuah apartemen pada Damian karna berhasil menyelesaikan S2 nya dengan waktu lebih cepat meskipun Zayn yang lebih cepat.
Zayn dan Chelsea berada dalam satu mobil, Chelsea merasakan jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
"Pergi sendiri, kenapa gak ajak Davanka atau Aldrich?" Tanya Zayn memecah keheningan.
"Mereka sibuk bimbingan dan revisian Kak." Jawab Chelsea.
"Skripsimu bagaimana, kalau ada kesulitan bilang padaku, aku akan membantumu."
"Udah selesai Kak, tinggal nunggu jadwal sidang."
Zayn terkejut. "Benarkah"
Chelsea mengangguk, "Iya."
Chelsea menggelengkan kepalanya, "Engga Kak, aku gak ada rencana nerusin ke S2, karna saat nanti aku menikah, aku akan resign dari pekerjaanku dan lebih memilih mendidik anak-anakku sendiri."
Zayn tersenyum sembari mengangguk anggukan kepalanya, tidak ia sangaka, ABG labil yang dulu ia kenal berubah menjadi wanita dengan pikiran Realistis.
"Ada rencana nikah muda?" Tanya Zayn penuh selidik. Mencari tahu apa yang ada dipikiran wanita disampingnya ini.
"Aku lebih memilih menyerahkan jodohku sama Allah, jika dikasih cepat ya aku akan menerimanya, jika belum berarti aku harus lebih bersabar lagi." Jawab Chelsea.
"Jika ada yang tiba-tiba melamarmu, kamu akan menerimanya?" Zayn masih terus bertanya.
Chelsea mengerdikan bahunya, "Entahlah, jika pria itu memang pria baik, mungkin tidak akan ada alasan untuk menolaknya."
Zayn terdiam, matanya fokus memandang kejalanan, entah apa yang ada dalam pikirannya.
***
Bulan silih berganti, hubungan Chelsea dengan Zayn masih stuck alias berjalan ditempat. Tidak ada kemajuan, Zayn tetap bersikap baik terhadap Chelsea dan Chelsea tetap menghormati Zayn.
Zayn pun sudah mulai aktif mengajar dikampus, sementara Chelsea hanya tinggal menunggu jadwal sidangnya.
Chelsea jarang melihat Nadira bersama Zayn kecuali itu jika ada Damian. Bahkan Nadira sering datang kerumah Ghea tetapi bersama Damian dan saat akan pulang, Damian juga yang mengantarkan Nadira.
Seperti saat ini, Chelsea tengah bersama Ghea. Tristan dan Jessi menitipkan Chelsea dan Yoda dirumah Ghea karna mereka tengah menemani Monica dan Daniel untuk memghadiri pesta pernikahan kerabat jauh mereka di luar kota. Yoda dan Chelsea sangat kompak tidak ingin ikut bersama dan memilih untuk tinggal dirumah Ghea meskipun rumah mereka hanya bersebrangan.
Chelsea asik berbincang bersama Ghea dan Stevi, mereka berencana akan pergi kesalon bersama, namun Chelsea tidak ikut karna sedang mendapatkan periodenya dihari pertama, membuat Chelsea tidak ingin kemana mana dan hanya ingin menghabiskan waktu dikamar saja.
"Mama Stevi kapan berjilbab?" Tanya Chelsea.
"Tuhh Stev, ditanyain Chelsea, lo udah tua cepetan dong mulai menutup aurat." Ucap Ghea.
__ADS_1
Stevi hanya nyengir, "Mama belum dapat hidayah, Chel." Jawab Stevi.
"Stev, hidayah itu dijemput, bukan ditunggu." Nasihat Ghea.
"Iya Ma.. Mama pasti makin cantik kalau berhijab." Rayu Chelsea.
"Uhhh so sweet banget nih calon mantu Mama." Kata Stevi sambil tersenyum.
Zayn yang kebetulan lewatpun mendengar ucapan Stevi yang sudah menganggap Chelsea sebagai menantunya.
Ghea dan Stevi pergi kesalon bersama, sementara Chelsea dengan malas menaiki anak tangga menuju kamar tamu dirumah Ghea.
"Harusnya Mami gak usah nitipin aku dirumah Mama Ghea, rumah cuma nyebrang aja pake nitipin segala." Gumam Chelsea bermonolog sambil memegang perutnya yang terasa keram.
Tanpa Chelsea sadari, Zayn mendengar gumaman Chelsea.
"Kamu kenapa?" Tanya Zayn yang membuat Chelsea menghentikan langkahnya.
Zayn berjalan cepat hingga kini berada didepan Chelsea. Zayn menatap wajah Chelsea yang sedikit memucat. "Kamu sakit?" Tanya Zayn.
Chelsea menggelengkan kepalanya, lalu Zayn meraih tangan Chelsea dan menuntunnya untuk duduk di rooftop.
"Kak, maaf aku mau istirahat." Ucap Chelsea pelan.
"Kamu sakit, mau aku antar ke dokter?" Tanya Zayn.
Chelsea tetap menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Zayn.
"Nanti sakitnya hilang sendiri." Jawab Chelsea malu-malu.
"Memang kamu sakit apa?" Zayn terus bertanya.
Chelsea mengigit bibir bawahnya.
"Jawab aku, Sea." Zayn terus menatap Chelsea.
"Tamu bulanan, Kak." Jawab Chelsea dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Zayn mulai mengerti, "Perutmu sakit?"
Chelsea mengangguk.
Zayn berdiri, di rooftop itu dilengkapi dengan mini bar dan ada juga dispenser. Zayn membuat teh manis hangat untuk Chelsea.
"Minum ini, mungkin bisa buat sakitmu berkurang." Ucap Zayn.
Chelsea meraih mug itu, namun ia tidak meminumnya.
"Tenang aja, itu pake gula diet punya Mama Ghea." Kata Zayn seolah memahami keraguan Chelsea.
Zayn sangat tau Chelsea yang menjalani program hidup sehat, tidak mengkonsumsi gula. Makan dengan sedikit nasi namun lebih banyak sayurannya.
Chelsea meminum perlahan teh hangat yang dibuat oleh Zayn, dan Zayn sendiri terus memperhatikan Chelsea, entah apa, ada perasaan lain dihati Zayn yang Zayn sendiri belum menyadarinya.
.
.
Masih lanjut, jangan???
Yuk ramein koment nya,
Sejauh ini alurnya bagaimana?
__ADS_1
Othor ngintipin Vote dari kemarin gak nambah-nambah, ada yg punya jatah vote kah? bagi othor dong ðŸ¤