
Sebulan berlalu, Monica tengah disibukkan dengan urusan pernikahan Tristan dan Jessi.
Diana dengan senang hati ikut membantu Monica untuk urusan resepsi pernikahannya, bahkan Monica dan Diana terlihat semakin akrab.
"Di, jangan lupa nanti fitting baju untuk resepsi, bareng sama Ghea dan Stevi." Ucap Monica.
"Iya Mbak, Ghea dan Stevi masih sibuk sama skripsiannya. Nanti mungkin kalo senggang." jawab Diana.
"Wajah mu sedikit pucat Di, apa kau sedang sakit?"
"Ah tidak koq Mba, mungkin hanya kurang tidur aja."
"Hmm, sepertinya dikerjain terus sama Pak Erick ya Di?" Goda Monica.
Pertanyaan itu membuat wajah Diana memerah, tak bisa ia pungkiri, Erick memang slalu membuatnya lelah setiap malam, namun Diana pun menyukainya.
"Ah Mbak bisa aja." Jawab Diana malu.
"Di.. lelaki itu semakin tua semakin jadi, kita harus pinter-pinter layanin suami biar gak lari kepelukan wanita lain." Ucap Monica.
"Pak Daniel juga seperti itu Mbak?"
"Iya, walaupun aku lelah, tapi aku buat santai aja Di, dari pada layanan kita gak memuaskan, nanti malah cari wanita lain."
"Ishh jangan sampai Mbak, amit-amit deh." Jawab Diana polos.
"Kamu ini polos sekali Di, sepertinya Pak Erick senang mengerjaimu." Monica tertawa.
Erick disibukan dengan urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya, terlebih kini Bryan sering keluar pulau untuk meninjau resort yang sedang dikembangkannya, seperti saat ini, Bryan tengah berada di labuan bajo untuk meninjau pembangunan resort yang sudah delapan puluh persen berjalan itu.
"Pekerjaan ini, kapan aku bisa pensiun dan menghabiskan waktu dengan Diana jika terus tertahan dengan pekerjaan." Umpat Erick sambil memijat pelipisnya.
Erick meraih ponsel, melihat foto Diana dari ponselnya, "Kamu menggemaskan sekali Diana, aku jatuh cinta padamu." Gumamnya sambil tersenyum.
Saat ini Erick seperti remaja yang sedang jatuh cinta, sungguh ia terlihat bucin sekali.
***
Stevi merasakan mual yang luar biasa, ia melihat kalender periodenya, dan terkejut karna bulan ini ia belum mendapatkan periodenya.
Stevi membali dua buah tespek yang berbeda, Saat pagi hari ia mencobanya satu, dan terlihat dua garis merah terpampang nyata, kemudian untuk memastikannya lagi, Stevi mencobanya kembali dan hasilnya tetap sama, dua garis merah.
"Positif." Ucap Stevi sambil memegang dan memandangi dua buah tespek itu.
Stevi segera menyimpannya dan berencana akan memberitahu Fariz nanti saat malam menjelang tidur, karna kini Fariz sudah berangkat duluan kekampus karna berbeda jadwal masuk dengan Stevi. Stevi menaruh tespek tersebut di selipan buku yang akan ia bawa kekampus.
"Stev.." Panggil Ghea.
"Iya Ghe, yuk jalan." Ajak Stevi.
"Bentar, gue pamit dulu sama Zayn." Jawab Ghea.
Stevi menaruh buku yang sedari tadi dia tenteng dan menaruhnya diatas meja makan, kemudian ia kedapur untuk mengisi air mineral di botolnya yang biasa ia bawa kekampus.
Bibi yang sedang membereskan meja makanpun tidak sengaja menjatuhkan buku Stevi hingga tespeknya terjatuh dan tergeletak dikolong meja.
Bibi yang tidak menyadari ada benda pipih keluar dari selipan buku itupun hanya mengambil buku dan menaruhnya ditempat semula.
Stevi kembali meraih bukunya dan bersamaan dengan Ghea segera berangkat menuju kampus.
Saat makan malam.
Diana menyiapkan berbagai menu diatas meja, Bryan yang sudah kambali dari labuan bajo pun duduk bersama Damian dan Maura.
Tidak lama kemudian, Ghea, Fadhil, Fariz dan Stevipun ikut bergabung.
Klentang..
Damian menjatuhkan sendok kekolong meja makan.
__ADS_1
"Maaf Pa.. Sendok Dami jatuh." ucap Dami pada Bryan.
"Tidak apa-apa, biar Papa ambilkan, Dami ganti pakai sendok lain yang bersih ya." Bryan berucap lembut pada Damian sambil mengusap kepalanya.
Bryan menunduk kebawah hendak mengambil sendok Damian yang terjatuh, namun tangannya meraih satu benda pipih dan ia segera mengambilnya.
"Tespek.. Positif" Gumam Bryan.
"Ada apa Bry?" Tanya Fadhil.
Bryan mengangkat tangannya, "Ini tespek siapa?" Tanyanya.
Semua mata tertuju pada tangan Bryan.
Erick menatap Diana, "Apa kamu hamil Sayang?" Tanya Erick.
"Mama hamil?" Sahut Fariz.
"Jadi Mama Diana Hamil?" Ghea ikut bertanya.
"Tespek ini punya Mama?" Tanya Bryan.
"Mama hamil juga?" Batin Stevi.
Diana mendadak kikuk, semua orang seperti sedang mengintrogasinya.
"Itu..." Ucap Diana terbata-bata.
Erick menggenggam tangan Diana. "Benar tespek itu milikmu? kamu hamil?"
"Eng.. Engga Mas.. aku tidak tau itu punya siapa, aku belum pernah mencoba alat itu." Jawab Diana.
"Lalu tespek ini punya siapa?" Tanya Bryan.
"Maaf.. Mungkin tespek itu punya aku Kak." Sahut Stevi.
Semua mata kini tertuju pada Stevi.
"Tadi pagi sebelum kekampus aku tespek dulu Riz, hasilnya positif, terus aku taro tespeknya diselipan buku yang mau aku bawa kekampus, mungkin tespeknya jatuh saat aku tadi ambil minum sebelum berangkat kekampus.
"Ya ampun Stev, kamu beneran hamil?" Tanya Fariz masih tidak percaya.
Stevi mengangguk, sementara telihat wajah lega dan tenang di wajah Erick, entah mengapa ia sedikit takut jika Diana harus mengandung kembali diusianya yang tidak lagi muda.
Acara makan malam selesai dengan berita bahagia dari Stevi dan Fariz.
Diana sangat senang mendengar menantunya itu kini tengah hamil, bahkan Diana terlihat antusias untuk menyambut kelahiran calon cucunya tersebut. Jangankan Stevi yang hamil, Maura yang kini sudah hamil besarpun sangat diperhatikan oleh Diana, membuat Maura merasa disayang sekali oleh Mama mertuanya itu.
Fariz membawa Stevi kedalam kamarnya, ia mendudukan Stevi disisi tempat tidur, sementara dirinya berjongkok didepan Stevi sambil mengusap dan sesekali mengecup perut Stevi.
"Kita akan punya anak Stev." Lirih Fariz.
"Kamu suka Riz?"
"Aku sangat bahagia Stev, berapa kira-kira usianya?"
"Aku hanya telat tiga minggu Riz, mungkin sekitar segitu."
"Besok pulang kuliah kita periksa ya." Ajak Fariz.
Stevi mengangguk. Fariz beranjak duduk disebelah Stevi.
"Aku ingin menjenguk anak kita Stev, boleh?" Tanya Fariz.
Stevi tersenyum nakal, sejurus kemudian berpindah posisi duduk diatas pangkuan Fariz dan melingkarkan tangannya dileher Fariz.
"Aku yang mimpin ya." Bisik Stevi.
Fariz mengangguk, dirinya cukup terkesiap atas sikap Stevi yang perlahan mulai agresif, jika ditanya bagaimana perasaan Fariz? dia sangat senang namun tetap cool.
__ADS_1
Stevi mulai mencium bibir Fariz, menjilat bagian pipi yang dekat dengan telinganya hingga membuat Fariz kegelian.
"Kamu seperti ini bisa buat aku cepet keluar Stev." Suara parau Fariz.
"Tahan dong Riz, kan baru mulai."
"Kamunya Nakal."
Stevi tertawa. "Ya udah kamu yang mimpin, aku pasif aja deh ya."
"Gak mau, aku mau kamu yang mimpin. Tapi pelan-pelan, kasian baby nanti banyak guncangan."
Stevi tersenyum, Fariz selalu bersikap lembut padanya.
***
Sementara dikamar Erick. Diana tengah melamun.
"Kamu kenapa?" Tanya Erick sambil mengendus ceruk leher Diana.
"Kalau misal aku yang hamil, bagaimana Mas?" Tanya Diana.
"Ya gak gimana-gimana Di. kalau kamu hamil, dia buah cinta kita."
Diana terdiam.
"Apa kamu ingin hamil?" Tanya Erick mencoba mencari tau isi hati Diana.
"Tidak Mas, aku malu dengan usiaku sekarang." Jawabnya.
"Tapi kamu masih mendapatkan periode Di, kamu masih subur."
"Kita ke dokter yuk Mas, aku mau pasang alat kontr*sepsi."
"Kamu serius?" Tanya Erick mendalam.
"Aku takut kalau sampai hamil Mas, kamu tidak pernah memberiku jeda dan slalu terjun bebas tanpa pengaman."
Erick tertawa. "Tapi aku tidak ingin kamu memakai alat itu Di, bagaimana jika kita konsultasikan dulu?"
Diana mengangguk. "Bisa juga suntik atau pil Mas."
"Iya dua itu boleh kamu pilih, tapi tidak dengan apa yang akan ditanam disini." Erick meremas lembut bagian inti Diana, menelusupkan tangannya dan jari-jarinya memainkan bagian sensitif itu yang masih terbungkus segitiga pengaman
"Akhh Mas..." Des*h Diana.
"Kamu pasti akan mengerjaiku lagi malam ini." Diana sedikit merengut padahal hatinya sangat senang dan tubuhnya pun slalu merespon.
Erick meraih tangan Diana yang sedang megusap dada Erick lalu mengarahkannya pada pusakanya, "Dia yang mau, sayang."
"Ishh... gak pernah puas."
"Mana bisa puas, sayang. Dia slalu on didekat mu."
Diana dengan jahil meremas bagian pusaka Erick.
"Awsshhhh" Kini gantian Erick mendes*h nikmat.
"Nakal kamu ya.." Tangan Erick meraih tengkuk Diana dan menciumnya secara buas.
Diana pun kini bisa mengimbangi permainan Erick, Erick banyak mengajarkan Diana diatas ranjang, membuat Diana semakin lihai dan sering mengalahkan Erick diatas ranjang.
Tentunya hal itu sangat disukai oleh Erick, Diana yang pemalu tlah ia rubah menjadi Diana yang agresif.
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....