TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
MULAI MEMIKIRKAN


__ADS_3

Dirumah sakit, Fadhil mendorong Ghea memakai kursi rodanya, hari ini mereka akan memeriksa kehamilan Ghea sebelum Ghea keluar dari rumah sakit.


"Janinnya bagus, sehat, dan kondisi ibunya juga bagus." Ucap seorang dokter kandungan yang memeriksa kehamilan Ghea.


"Berapa minggu dok usia kehamilannya?" Tanya Fadhil antusias.


"Masuk kesebelas minggu, sudah mau tiga bulan." Jawabnya.


Fadhil dan Ghea merasa takjub saat melihat layar monitor yang menunjukan isi rahim Ghea, sebuah janin yang sedang berkembang disana.


"Apa bisa pulang dok? tidak ada yang berbahayakan dengan kondisi istri saya?"


"Tidak Pak, ini Janin dan Ibunya sangat sehat sekali. Dukung dengan meminum vitamin dan istirahat yang cukup ya, hindari stres dan dehidrasi." Nasihat dari sang dokter.


"Dok, saya masih kuliah, bolehkah saya tetap menjalankan aktivitas saya?" Tanya Ghea.


"Boleh, selama ibu tau batasan aktivitas, jika lelah langsung beristirahat, saya rasa akan aman untuk kandungan anda."


Selesai memeriksakan kandungan, Ghea dan Fadhil kembali kekamar perawatan dan menunggu dokter visit untuk mengijinkannya kembali pulang.


***


Ceklek..


Pintu kamar Tristan terbuka, Tristan melihat kearah pintu kemudian memasang muka malas saat melihat Fariz memasuki kamarnya.


"Lo bikin masalah apa lagi sampai bawa-bawa nama gue?" Tanya Fariz menghakimi pada Tristan.


"Mati gue Riz. Tamat riwayat gue." Keluh Tristan.


"Lo semalam dari mana? gak pulang terus nginep dimana?"


"Gue belum bisa cerita Riz, pokonya gue kacau banget." Tristan menyugar rambutnya kebelakang.


"Kampus sepi, Ghea masih sakit, Stevi lagi ada kakaknya datang nengok ke kost an nya, si Jessi juga tadi gue ajak dia bilang lagi ada kerjaan bareng temen-temen komunitasnya." Ucap Fariz.


"Lo ketemu Jessi?" Tristan terkejut mendengar nama Jessi.


"Iya ketemu didepan fakultas, semalam dia telpon gue tapi ponsel gue mati, gue tanya ada apa taunya nanya soal game online, terus tadi pas balik gue ketemu dia lagi, gue ajak kerumah lo, tapi dia nolak, dia bilang mau ambil motornya kebengkel dan ketemu sama temen-temen komunitasnya ada kerjaan katanya sih."


Tristan menghela nafas.


"Eh Tan, tadi gue lihat muka Jessi pucat banget, kaya lagi sakit."


"Hah Jessi sakit?" Tristan tambah terkejut.


"Biasa aja keles Tan, reaksi lo tuh lebay, kayak ama pacar aja, percis kayak waktu lo khawatirin Ghea pas SMA."


"Apa sih lo Riz, gue aneh aja cewek tomboy sok kuat kayak Jessi bisa sakit, gue kira penyakit bisa takut ama dia." Tristan memaksakan tawanya agar Fariz tidak curiga.


"Iya juga sih." sahut Fariz dan ikut tertawa juga.


Namun pikiran Tristan kembali pada Jessi, bagaimana semalam ia merayu Jessi hingga Jessi menyerahkan kehormatannya, bagaimana semalam Jessi berteriak saat pusaka Tristan berhasil menerobos bagian inti Jessi, bagaimana ia menikmati bibir manis Jessi, bagaimana ia saat menenggelamkan wajahnya dikedua bukit kembar Jessi yang indah, dan bagaimana saat ia mendengar suara des*han indah dari bibir Jessi yang membuat hasratnya semakin naik, mata Jessi yang terlihat sayu saat ditengah permainan, membuat Tristan semakin gemas. Fix Jessi Sexy dimata Tristan!!


"Lo kenapa bengong Tan?" Tanya Fariz.

__ADS_1


"Gapapa, gue cuma ngantuk aja."


Ditempat lain, Jessica pulang ke apartemennya, ia melihat kamarnya yang acak-acakan, Ia juga melihat bekas noda darah disprei putihnya, Jessi duduk di tepi tempat tidur dan mengusap noda yang sudah mengering itu, perlahan ia menangis kembali, menangisi kembali kebodohannya yang dengan begitu saja menyerahkan semuanya.


"Tristan lo jahat, lo bisa lindungi Ghea dari cowok bejat itu, tapi lo bisa berbuat bejat sama gue." Lirih Jessi.


Ponsel Jessi berdering, Terlihat nama Bos besar alias Ayahnya yang memanggilnya.


Biasanya Jessi enggan mengangkat telpon itu, pasti Ayahnya hanya akan menyuruhnya pulang untuk dijodohkan dengan anak dari teman seperjuangan sang Ayah saat meniti karirnya dulu.


^^^"Iya Pa.."^^^


^^^Dengan suara malas.^^^


"Akhirnya kau mengangkat telpon Papa Nak, pulanglah. Mamamu Sakit."


^^^"Jangan modus Pa, kuliahku disini sedang padat."^^^


"Bukankah minggu depan itu minggu tenang? Pulanglah sebentar Nak sebelum kau ujian, Papa akan menyuruh Abangmu untuk menjemputmu, okay?"


Jessica tampak berfikir, benar sekali ia harus pergi untuk sementara meninggalkan tempat ini, setidaknya ia tidak akan bertemu dan melihat wajah Tristan dan bisa menenangkan pikirannya.


^^^"Baiklah Pa, suruh Abang menjemputku minggu depan, aku akan pulang untuk menengok Mama."^^^


"Ini baru anak kebanggaan Papa, baiklah nanti Papa akan menyuruh Abangmu menjemput minggu depan."


Jessi mematikan ponselnya. Ia pasrah jika pada akhirnya memang harus dijodohkan dengan anak dari teman seperjuangannya itu.


***


"Mama.." Panggil Ghea.


Monica memeluk putri angkatnya itu.


"Bagaimana kabar anak dan calon cucu Mama?" Tanya Monica.


"Sehat Ma, ini tinggal nunggu dokter visit untuk ijin pulang."


"Syukurlah Ghe, Mama lega dengernya."


Kondisi Ghea kini semakin membaik, dokterpun mengijinkannya untuk pulang.


Monica setia mengantar Ghea hingga pulang kerumah keluarga Latif, dan hal itu disambut hangat oleh Miranti.


Semenjak bertemu dan saling mengenal, Monica dan Miranti menjadi akrab, merekapun bertukar nomer ponsel, tentunya tujuan utamanya untuk lebih mudah berkomunikasi terutama membahas soal Ghea dan kehamilannya.


"Mama pulang biar diantar Mas Fadhil." Ucap Ghea.


"Tidak usah Ghe, suamimu juga butuh istirahat, Tristan dan Fariz sedang jalan kesini untuk menjemput Mama." Ucap Monica.


Monica menghubungi Tristan dan memintanya untuk menjemput dikediaman keluarga Latif sebenarnya Tristan malas, entah kenapa dia jadi tidak begitu semangat padahal dia akan bertemu dengan Gheanya itu.


Pikiran Tristan terus tertuju pada Jessi, perasaan bersalahnya terus menghantuinya.


Namun Tristan tetap menjemput sang Mama, tentunya Fariz yang menemaninya.

__ADS_1


***


"Bagaimana kuliahmu Tan?" Tanya Daniel saat makan malam bersama.


"Baik Pak.." Jawab Daniel.


"Jangan terlalu sering banyak bolos, biar kamu cepat lulus. Tadi saja kamu tidak kuliah."


"Hanya hari ini Pa, tadi Tristan pusing sekali. Tristan butuh istirahat."


"Lo bukan butuh istirahat, tapi butuh kekasih." Celetuk Krisna yang kini sudah mempunyai kekasih.


"Selesai ujian, Papa akan mengenalkanmu pada seorang gadis, dia anak teman Papa, dulu juga kami bekerjasama dalam meniti kerier, Papa harap kamu tidak menolaknya."


Tristan terkesiap, "Papa mau jodohin Tristan?" Tanyanya.


"Jodoh atau tidak itu gimana kamu yang menjalaninya, Papa hanya ingin mengenalkanmu pada teman Papa dan dia memiliki anak gadis yang seumur denganmu."


"Pa..." Seru Tristan.


"Tristan, berbicaralah baik dengan Papamu." bujuk Monica.


"Mama tidak membela Tristan? apa Mama juga tau ini?" Tanya Tristan.


"Tristan, siapa tau dengan mengenal wanita lain, kamu bisa melupakan Ghea. Mama dan Papa hanya memberikan jalan, selebihnya itu kembali padamu."


"Tristan udah lupain perasaan Tristan ke Ghea Ma, sekarang ini Tristan pure sahabatan sama Ghea."


"Papa tidak yakin, tatapan matamu ke Ghea masih sama seperti dulu. Papa tau itu."


Tristan hanya menghela nafas dan menyendarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Ia tidak bisa menolak keputusan Daniel, tapi Tristan juga memikirkan perasaan Jessi. Ia sangat ingin menemui Jessi dan meminta maaf atas perbuatannya.


Tristan berjalan gontai menuju kamarnya, ia melihat isi ponselnya, ada beberapa pesan dan tunggu.... satu pesan itu dari Ghea, Tristan membuka dan membacanya.


"Titann.. besok bawain roti bakar dengan selai kacang buatan Mama ya, Ghea lagi mau roti bakar buatan Mama nih." ~Ghea~


"Iya bumil, entar Titan bilangin ke Mama, emang besok udah masuk kuliah?" ~Tristan~


"Udah dapat lampu ijo dari suami, besok boleh kuliah." ~Ghea~


"Oke deh kalo gitu, salam buat suami." ~Tristan~


Tristan menatap layar ponselnya, membaca kembali isi pesan yang Ghea kirim, dia tidak meraskaan ada perasaan, Tidak ada rasa sedih dan tidak ada juga rasa senang saat mendapat pesan dari Ghea, apa Tristan sudah melupakan perasaannya terhadap Ghea?


.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2