
"Bee.. Jawab aku.." Lirih Tristan.
"Jujur aku masih bingung sama perasaanku Bang, aku..."
Tristan mebungkam bibir Jessi dengan mengecupnya sekilas. "Kita sama-sama belajar Bee.."
"Tapi aku gak suka kamu ngekang aku ataupun membatasi pergaulan aku dengan teman-teman aku Bang, sebelum denganmu aku slalu bersama mereka, dan mereka pure teman-teman aku."
Tristan mengangguk, "Tapi akui aku sebagai pacarmu didepan teman-temanmu, dan besok kita berangkat Ibadah bersama, aku akan mengantar dan menemanimu kemanapun kamu pergi slama aku bisa. Deal?"
Jessica pun mengangguk lalu Tristan memeluk Jessica dengan erat. "Terimakasih sudah mempercayai aku, aku akan menjaga kepercayaanmu."
Jessica merasakan kenyamanan didalam pelukan Tristan, tanpa disadari ia kini ia tengah tersenyum didalam dekapan Tristan dan perlahan membalas pelukan Tristan.
Malam harinya Tristan mengirim chat kepada Ghea.
^^^"Ghe, Titan resmi jadian sama Jessi."^^^
"Emang udah seharusnya kan?? malah harusnya Jessi lo nikahin Tan."
^^^"Iya Ghe, bertahap dulu, Jessi masih kelihatan ragu ama gue."^^^
"Ya lo yakinin lah Tan, by the way gue ikut seneng ya Tan, jangan lupa lusa dikampus traktir makan."
^^^"Iya bu bos, siappp 45, makasih udah banyak bantu yaaa."^^^
Ghea tersenyum melihat isi chatnya bersama Tristan, dia merasa lega karna akhirnya Tristan memiliki tujuannya sendiri.
"Ekhemm Chat sama siapa sih sampe senyum-senyum gitu?" Tanya Fadhil sesaat keluar dari dalam kamar mandi didalam kamar Ghea.
"Titan By, dia udah jadian sama Jessi."
"Hemm bagus dong." kemudian Fadhil meraih ponsel Ghea dan membacanya.
Ghea sudah terbiasa dengan sikap posessif sang suami yang sering memeriksa isi ponsel Ghea.
"By besok pagi jalan jalan ke taman kota yuk, aku mau makan bubur ayam langganan kamu." Pinta Ghea.
"Kamu yang mau atau anak kita yang mau? hem?" Tanya Fadhil lembut.
"Dua-duanya By, Anak kita dan Mamanya."
Fadhil tersenyum, tangannya mengusap lembut keperut Ghea. "Iya sayang, besok kita makan bubur ayam di taman kota."
***
Minggu pagi, Ghea sudah bersiap untuk berolahraga pagi ke taman kota,
dari atas balkon rumah Tristan, Tristan memperhatikannya sambil memegang cangkir berisikan kopi nya, Tristan tersenyum melihat kemesraan Ghea bersama Fadhil, pasalnya Fadhil tengah mencubit hidung Ghea sambil membukakan pintu mobil untuk Ghea.
Monica melihat Tristan kemudian melihat arah mata Tristan yang tertuju pada Ghea dan Fadhil.
"Masih belum bisa move on Tan? kan udah ada Jessi." Sapa Monica yang membuyarkan lamunan Tristan.
__ADS_1
"Ihh apa sih Ma.. Tristan udah Move on Ma, sekarang lagi fokus mendalami hati untuk Jessi seorang." Tristan tertawa kemudian merangkul sang Mama.
"Terus kenapa masih merhatiin Ghea dan suaminya? masih belum rela?" Ledek Monica.
"Bukan Ma.. cuma Tristan inget aja dulu semasa SMP dan SMA, tiap minggu Ghea slalu meminta Tristan nemenin Ghea olah raga pagi ke taman kota, tapi Tristan gak pernah bisa nemenin Ghea karna harus siap-siap berangkat untuk Ibadah. Sekarang Tristan seneng, lihat Ghea bisa olah raga pagi ketaman kota, ada Pak Fadhil yang menemaninya." Tristan tersenyum tulus.
"Tidak ada penyesalan lagi?" Tanya Monica.
Tristan menggelengkan kepalanya, "Gak ada Ma, malah jika kemarin terus dipaksakan, Tristan akan terus-terusan mengecewakan Ghea jika saat itu Tristan mengajak Ghea menikah diluar negri karna perbedaan agama kami, mungkin setiap minggu Ghea ingin olah raga pagi tapi Tristan tidak akan pernah bisa mengantarnya karna harus bersiap untuk ibadah."
Monica mengusap punggung Tristan. "Mama percaya kamu sudah tulus melepas Ghea, dan Mama yakin Kalo Jessi jodoh terbaik dari tuhan untuk kamu, yang seiman, satu keyakinan, dan akan menemani masa tua kamu nantinya."
Tristan mengangguk kemudian menyesap kopi yang sedari tadi cangkirnya ia pegang.
***
Tristan menjemput Jessi untuk pergi Ibadah bersama, ini pertama kalinya Tristan dan Jessi pergi bersama setelah peresmian hubungan mereka.
"Pagii Bee.." Sapa Tristan saat Jessi masuk kedalam mobilnya.
Jessi hanya tersenyum menanggapinya, memberikan senyum termanisnya untuk Tristan.
Selesai Ibadah, Tristan mengantar Jessi untuk melihat projectnya, diperjalanan, Tristan mengajaknya berbicara.
"Kalo kita nikah nanti digereja tempat kita ibadah tadi ya Bee.."
"Hem." Jawab Jessi datar.
Jessi masih enggan membicarakan pernikahan, bukan karna dirinya tidak menyukai Tristan, namun terlebih karna dirinya belum siap jika harus menikah muda, ia ingin menikmati masa mudanya tanpa memikirkan kewajibannya menjadi seorang istri diusia yang tergolong masih sangat muda.
"Bang, mau ikut turun apa nunggu disini?"
"Terserah kamu Bee, kamu maunya aku gimana? kalo kamu masih belum mau memperkenalkan aku ke teman-teman kamu ya biar aku disini, aku gak mau buat kamu gak nyaman."
Jawaban Tristan cukup membuat Jessi berfikir, kekasih mana yang tidak kecewa jika belum diakui sebagai pacarnya.
"Ya udah ayo turun, aku kenalin kamu ke teman-teman aku."
Tristan tersenyum, "Kamu turun aja duluan, nanti aja kalo udah selesai, baru aku turun."
Jessi yang cuek pun hanya mengangguk, padahal Tristan ingin sekali dibujuk untuk ikut turun dan dikenalkan pada teman-temannya. Namun Jessi memang seperti tidak niat dan membuat Tristan hanya menghela nafas kasarnya.
Tiga jam berlalu, Tristan setia menunggu Jessi di sebuah kios warung kopi sambil memainkan ponselnya, sesekali ia bertukar pesan dengan Fariz.
Tristan melihat Jessi yang keluar dari sebuah ruko bersama empat orang temannya, dan empat orang temannya adalah pria semua, terlihat mereka adalah teman satu kampus dengan Jessi karna tidak asing menurut pandangan Tristan.
Jessi melambaikan tangannya pada Tristan dan Tristan membalasnya sambil tersenyum, setelah membayar kopi yang tadi ia pesan, Tristan segera menghampiri Jessi bersama empat orang temannya.
"Lah Jess, ini kan temennya si Fariz ya, anak hukum." Ucap Dimas teman Jessi yang mengenal Fariz juga.
Jessi mengangguk. "Kenalin nih, cowok gue, Tristan." Ucap Jessi pada keempat temannya.
Mereka saling berjabat tangan dan berkenalan.
__ADS_1
"Beruntung lo Bang, dapatin Jessi, dia cewek baik. Dijaga ya." Ucap Rafi salah satu teman Jessi juga.
"Pasti dong." Jawab Tristan mantap sambil merangkul pundak Jessi.
"Gue kira lo gak doyan cowok Jess, taunya tau-tau udah bersanding sama anak hukum aja." Ledek Ari yang masih temannya Jessi juga.
"Si*alan lo Ri." Jessi meninju bahu Ari sambil tertawa.
Setelah cukup lama, mereka akhirnya berpisah dan Jessi pulang bersama Tristan.
"Bee mau kerumah aku?" Tanya Tristan.
"Hah, mau ngapain Bang? kan kemarin baru dari rumah kamu."
"Kerumah Ghea Bee, Fariz dan Stevi juga mau kesana, nengok Om Erick."
Jessi mengangguk, "Ya udah ayo deh, tapi aku laper Bang, makan dulu yuk. Tadi pagi gak sempet sarapan."
"Lho kamu belum makan dari pagi?"
"Gak sempet Bang, bangun kesiangan." Jessi nyengir seolah tak berdosa.
"Ya udah mau makan apa?"
"Restoran cepat saji aja Bang yang cepet, kan bisa drive thrue dan makan dimobil." Jawab Jessi santai.
"Ya udah, kebetulan juga Fariz minta dibawain makanan, sekalian pesen aja burger dan kentang goreng juga cola nya."
"Siapp Abang sayang.." Ucap Jessi tersenyum.
Tristan tersenyum sambil mengemudikan mobilnya, dia sangat senang karna hari ini begitu banyak perubahan pada dirinya. Sikap Jessi membuat mood Tristan menjadi baik dan seperti lebih berwarna.
Perlakuan manis Tristan yang penuh perhatian juga membuat Jessi senang, pasalnya Jessi yang cuek dan terbiasa hidup mandiri sangat jarang memperhatikan dirinya sendiri.
Tristan membayar semua pesanan yang tlah ia pesan di restoran cepat saji itu, walaupun pada sebelumnya mereka sempat berdebat karna Jessi ingin membayarnya sendiri, pada akhirnya Jessi mengalah dan membiarkan Tristan yang membayar semuanya.
"Jangan cemberut Bee, aku ga nahan lihatnya." Ucap Tristan saat melajukan kembali mobilnya
"Gak nahan kenapa?" Tanya Jessi datar.
"Gak nahan makan kamu, aku udah pernah sentuh kamu satu kali, dan hingga kini malah membuatku semakin penasaran dan ingin lagi." Tristan mencoba menggoda Jessi.
"Ishh Abang, udah deh gak usah mesum, kita belum nikah Bang, jangan lagi ngelakuin hal itu."
Tristan tertawa, "Iya iya, makanya jangan cemberut, kamu lucu dan menggemaskan bikin aku jadi gak sabar."
Jessi hanya menggelengkan kepalanya, namun tidak dipungkiri, ia pun terbawa hanyut dalam belaian Tristan dan Jessi menyukai itu, hanya saja Jessi tidak ingin melakukan dosa besar lagi dan ingin semua terulang saat mereka sudah resmi menikah nanti walau entah kapan.
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....