TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
MERAJUK


__ADS_3

"Aku pulang Mas.. Habiskan makan siangmu, maaf aku tak bisa menemani." Ujar Diana sambil berdiri dan meninggalkan ruangan Erick.


"Di.. Tunggu." Erick benar-benar tidak menyangka Diana akan semarah ini.


Erick segera menyambar ponsel dan membawa lunch bag yang tadi dibawa oleh Diana, ia segera menyusul Diana.


"Sil, cancel semua jadwal saya hari ini dan besok."


"Tapi pak, satu jam lagi kita ada meeting dengan Mr. Sam dari belanda untuk pembuatan resort kita."


Erick mengusap wajahnya kasar, dilihatnya Diana masih menunggu lift terbuka.


"Ada apa Yah?" Sahut Bryan.


"Bry, tolong wakilkan Ayah Meeting dengan Mr. Sam, berkasnya kamu pelajari dulu, ada dimeja kerja Ayah."


Bryan hanya terheran-heran, pasalnya sang Ayah sangat menantikan proyek besar ini bersama Mr. Sam.


"Sil beritahu supirku untuk menyiapkan mobil didepan loby, aku akan bawa mobil sendiri. Dan tolong telpon resortku yang di Anyer, siapkan kamar untukku berlibur disana." Titah Erick.


Erick menepuk pundak Bryan "Dua atau tiga hari ini Ayah titipkan perusahaan padamu Bry." kemudian Erick menyusul Diana. Mata Bryan mengikuti arah kemana Erick melangkah dan dilihatnya Diana yang terlihat sedang kesal.


"Ada apa Sil?" Tanya Bryan pada Silvi.


Silvi yang memang mendengar percakapan antara Diana dan Rania pun menceritakan semuanya kepada Bryan, karna tadi saat Diana masuk, pintu ruangan Erick tidak tertutup sempurna sehingga terdengar jelas ke meja Silvi.


Bryan hanya mengerdikan bahunya dan masuk keruangan Erick.


"Ayah.. kau benar-benar berubah, Mama Diana benar-benar bisa membuat hatimu jungkir balik." Bryan tersenyum seraya mengingat kebucinan sang Ayah pada ibu sambungnya itu.


Erick meraih tangan Diana dan menuntunnya erat.


"Lepas Mas." Kesal Diana.


"Diam Di, jangan bantah aku." Jawab Erick.


Diana mengikuti langkah sang suami, mobil Erick sudah siap didepan loby kantornya.


"Kita mau kemana Mas, ini bukan arah pulang."


"Kita akan berlibur kesalah satu resortku."


"Aku tidak mau Mas, aku tidak membawa pakaian."


"Kita disana tidak butuh pakaian Di, kita akan menghabiskan hari-hari kita didalam kamar." Jawab erick dengan senyum smirk.


"Mas..!!" Pekik Diana.


"Diam Di, aku tidak suka dibantah."


Diana menekuk wajahnya kesal, dalam pikirannya, mana bisa ia berlibur tanpa membawa pakaian dan skin carenya.


Setelah satu setengah jam perjalanan, Erick menepikan mobilnya disebuah resort dipinggir pantai.


Manager Resort menyambut kedatangan Erick namun Erick sedang enggan berbasa basi. Ia memilih langsung masuk kedalam kamar yang super eksklusif yang memang dikhususkan untuk pemilik resort.


"Mas aku mau pulang." Ucap Diana.


Erick memeluk Diana dari belakang. "Tiga hari ini kamu akan disini bersamaku." erick menggigit pelan telinga Diana.


"Aku tidak membawa pakaian, aku juga tidak membawa skin careku Mas."

__ADS_1


"Kita tidak butuh itu, pakaian yang kini kita pakai bisa kita laundry untuk dipakai saat pulang nanti." Bisik Erick.


"Kamu menyebalkan!!" Kesal Diana.


"Biarin, tapi cinta kan??" Goda Erick sambil mengeratkan pelukannya.


"Ini namanya bukan liburan, tapi penyekapan."


"Penyekapan yang udah halal, Sayang.."


"Mas!!".


"Di.."


Erick memutar tubuh Diana hingga kini menghadap padanya, tangan Erick berada dikedua pundak Diana.


"Aku tidak berkhianat padamu Di, sumpah. Dan tak ada niatan untuk mengkhianatimu. Aku sudah bahagia dengan mu dan anak-anak kita. Percayalah Di."


Diana menunduk, ia merasa bingung kenapa ia bisa semarah ini. Perlahan Erick menarik Dagu Diana hingga wajah Diana sedikit terangkat.


"Di..." Lirih Erick.


Diana menatap mata Erick, mata teduh yang membuat ia jatuh cinta.


Diana menangkup wajah Erick dan mencium bibirnya dengan lembut.


"Maaf Mas.."


Tangan Erick terulur untuk mengusap rambut Diana. "Aku yang salah Di, tidak seharusnya aku menerima tamu wanita."


Diana mengangguk.


"Apa kamu ingin menghukumku?" Tanya Erick menggoda.


"Mandikan aku." Ucap Diana malu-malu.


Erick tersenyum, mau dia yang dihukum atau menghukum, tetap menguntungkan untuk Erick. Erick menggendong Diana ala bridal dan membawanya segera kekamar mandi.


***


"By.."Teriak Ghea dari dalam kamar mandi.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Fadhil yang membuka pintu kamar mandi.


Ghea tersenyum sambil melangkah keluar kamar mandi, "Zayn akan punya adik." Sambil memberikan sebuah tespek bergariskan dua garis.


Fadhil menerimanya. "Alhamdulillah, kita masih dipercaya sama Allah. Terimakasih Sayangku." Fadhil menghujani wajah Ghea dengan kecupan berulang-ulang.


Kini kandungan Stevi menginjak usia enam bulan, sedangkan usia kandungan Jessi menginjak tiga bulan dan segera disusul oleh Ghea yang kandungannya menginjak lima minggu.


"Janjian banget kayaknya nih." Ucap Monica pada ketiga wanita yang sudah dianggapnya jadi anaknya sendiri.


"Tahun depan semakin rame rumah Mama." Ucap Ghea sambil memeluk Monica.


"Baru kemarin Mama nyuapin kamu saat kamu main disini dan lari-larian sama Tristan, sekarang kalian udah pada punya anak masing-masing. Mama makin tua." Ucap Monica sedih.


"Mama masih muda koq, jangan stres biar mama awet muda seperti Mama Diana." Ucap Jessi kepada mertuanya itu.


"Mama Diana memang masih muda, usianya beda tiga belas tahun sama Mama." Jawab Monica.


Ngomong-ngomong Mama Diana kemana Ghe? koq gak kelihatan?" Tanya Monica.

__ADS_1


"Oh Mama lagi diajak liburan sama Ayah ke resortnya di Anyer." Jawab Ghea.


"Ayahmu itu beruntung sekali Ghe, Diana sudah cantik, masih muda, dan yang terpenting baik juga sayang sama anak-anak Ayahmu."


Ghea tersenyum, "Iya Ma.. Mama Diana baik sekali."


***


"Mas.. Sudah, aku lelah." Ucap Diana pada Erick saat Erick ingin menggerayangi kembali tubuhnya.


Entah sudah berapa kali Erick menggempurnya, stamina Erick masih sangat baik karna Erick rajin Ber olahraga.


Diana benar-benar tidak diberi pakaian oleh Erick selama dua hari ini, mereka juga tidak keluar kamar sama sekali. Sekedar makanpun hanya didalam kamar.


"Aku bosan dikamar terus. Ini sih bukan aku yang menghukummu tapi kamu yang mengerjaiku. Lagi pula, apa kau tidak sakit pinggang Mas terus-terusan memompaku?" Cibir Diana.


"Mumpung berdua, sayang. Kamu tau sendiri dirumah kita begitu ramai. Dan jangan pernah ragukan staminaku, sekarang lima ronde pun aku masih kuat."


"Gila kamu Mas." Pekik Diana.


"Aku gila karna mu, Sayang." Goda Erick.


Lama Diana terdiam lalu dia berkata,


"Aku suka rumahmu yang ramai Mas." Lirih Diana sambil memainkan jarinya didada bidang milik Erick.


"Rumah kita, Sayang. Jika nanti aku tutup usia duluan, kamu harus tetap tinggal dirumah itu hingga nanti menyusulku."


"Tidak Mas, Rumah itu sudah ada sebelum kita menikah, dan itu adalah rumah anak-anakmu."


"Anak-anak Kita, Di.."


"Mereka tidak akan mempersalahkan rumah itu Di, karna merekapun begitu menyayangi dan menerimamu."


Diana terdiam, memang selama ini Anak-anak Erick begitu baik dan akrab dengannya. Bahkan Ghea terkadang bermanja-manja dengan Diana.


"Apa kamu tau Di? Saat Bryan dewasa, ia berkata padaku, silahkan Ayah kasih apapun pada Bunda Vika dan Yasmin, tapi tidak dengan rumah ini. Aku tau Dirumah itu begitu banyak kenangan Sofia untuk Bryan. Tapi setelah aku menikahimu, Bryan berkata padaku, ajaklah Mama Diana untuk tinggal bersama kita, Rumah ini perlu sentuhan seorang Ibu."


Diana mentesekan air matanya, ia begitu tak menyangka, anak-anak dari Erick begitu mencintainya.


"Mas, aku mencintaimu dan anak-anak kita."


"Karna itu Di, aku tidak mungkin menggantimu dengan wanita lain, aku tak akan melakukan kebodohan untuk kedua kalinya. Mungkin dengan cara itu, Sofia juga akan memaafkanku."


Diana mengangguk.


Akhirnya menjelang sore hari, Erick memberikan pakaian pada Diana, ia mengajak Diana untuk berkeliling resortnya, mengenalkan Diana pada staf tinggi disana.


"Bulan depan kita ke Bali, kita ajak anak-anak kita. Karna Resort ku yang diBali akan diresmikan, dan itu adalah proyek besar Bryan yang pertama."


"Stevi sedang hamil Mas, apa akan bisa pergi?"


"Konsultasikan dulu pada dokternya." Jawab Erick.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2