
"By.. Geli.." Ghea mencoba menyingkirkan tangan Fadhil dari perutnya itu.
"Tadi ngobrol apa aja sama Tristan?" Fadhil masih dengan posisi merebahkan kepalanya diatas pangkuan Ghea dan sesekali menciumi perut Ghea.
"Tristan galau By, dia mau dijodohin, tapi Tristan maunya sama cewek lain."
"Hemm, tapi bukan kamu kan yang Tristan mau."
"Ishh apa sih By, katanya udah gak cemburu." Ghea terkikik.
"Cemburu sih udah engga, tapi masih waspada aja."
"Bukan aku By, tapi Tristan ada hati sama Jessica."
"Jessi? Jessi anak Teknik itu? yang tomboy itu?" Tanya Fadhil.
Ghea mengangguk, tangannya masih setia mengusap kepala Fadhil dan Fadhil sangat menyukai hal itu.
"Mereka ada sesuatu yang mengharuskan mereka terikat By." Ucap Ghea tanpa menceritakan detailnya.
"Bilang sama Tristan, perjuangkan kalo memang dia cinta."
"Udah aku bilang By, aku juga bilang dia harus berjuang, karna mereka seiman, seagama, keyakinan mereka satu, tidak ada alasan untuk tidak diperjuangkan."
"Yah smoga mereka ada jodohnya, terus perjodohannya gimana?"
"Ya aku harus bantu ngomong dulu sama Jessi, soalnya Jessi terus menghindar dari Tristan, dan aku juga harus ngomong sama Mama Monica."
"Jadi kedepannya makin sering dong berhubungan sama Tristan." Ucap Fadhil sedikit tak rela.
"Kalo gak diijinin kamu, aku gak akan bantuin Tristan By. Aku gak mau bikin hati kamu gak tenang."
"Bercanda sayang, aku ijinin kamu koq, bantulah Tristan sebisamu. Aku percaya dia, dia pernah menjagamu disaat aku gak ada."
"Makasih Hubby sayang, makin cinta deh aku tuh, kamu pengertian banget."
Fadhil melingkarkan tangannya diperut Ghea, "Sayang, sekarang giliran kamu ngertiin aku."
"Ngertiin apa By?" Tanya Ghea pura-pura tidak mengerti.
"Aku sedang ingin, sayang."
"Ingin apa?" Tanya Ghea iseng.
"Ingin makan kamu." ketus Fadhil percis seperti seorang anak kecil yang sedang ngambek.
"Ingin tinggal ingin By, kapan pernah kamu ijin dulu, biasanya langsung nerkam."
"Aku takut, dia terganggu." Ucap Fadhil seraya menciumi perut Ghea.
"Uhhh so sweet banget sih Papa bayi ini." Ghea menghadiahi kecupan diwajah Fadhil.
"Stop sayang, jangan semakin memancing aku." Fadhil kemudian duduk disebelah Ghea,
"Aku gak mancing sayang, cuma lagi kasih hadiah kecil sama Papa bayi."
Fadhil meraih tangan Ghea dan mengarahkannya pada pusakanya, "Dia sudah turn on sayang."
Seketika membuat Ghea terkejut dan menarik kembali tangannya, "apa sih By." Wajah Ghea mulai memerah.
"Sudah tiga minggu aku libur sayang, dia rindu pulang ke rumahnya."
Ghea terdiam, setelah kejadian penculikan Ghea, memang Fadhil menjaga emosi Ghea, Fadhil takut Ghea mengingat kembali kejadian kelam yang hampir saja dirusak oleh Arnold dan Yasmin.
"By, kenapa slama tiga minggu kamu tidak menyentuhku? apa kamu merasa jijik sama aku?" Tanya Ghea polos.
"Ssst... Kamu ngomong apa sih sayang, aku cuma takut kamu masih trauma."
Ghea menggelengkan kepalanya, "Aku menunggumu By, dia juga ingin ditengok oleh Papanya."
__ADS_1
Perkataan Ghea mampu membuat Fadhil tersenyum, kemudian Fadhil kembali menciumi perut Ghea, dan berbicara disana, "Dek,, Papa nengokin ya, adek gak ngerasa keganggu kan? Papa janji pelan-pelan."
Kemudian Fadhil duduk dan menatap wajah istri kecilnya itu, perlahan menciumi wajahnya lalu ke bibir manis Ghea.
"Sayang, aku janji hanya satu kali dan pelan-pelan." Bisik Fadhil.
"Aku gak yakin By kalo cuma satu kali." Ledek Ghea, pasalnya Fadhil melakukannya bisa lebih dari satu kali, dan benar-benar mengajak Ghea melewati malam panjang.
Fadhil menarik tubuh Ghea, "kalau begitu aku tidak janji."
***
"Toloooonggg." Lirih Yasmin dari dalam sel penjara.
Darah segar sudah mengalir dipangkal paha dan kaki Yasmin.
Penjaga sel segera membawa Yasmin ke klinik khusus napi dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Siang tadi, Vika mengunjungi Yasmin dipenjara, Vika berhasil mengelabui petugas dan membawa obat penggugur kandungan.
"Kondisinya sangat lemah, dan passien kehabisan banyak darah." Ucap Seorang dokter.
"Kita harus menghubungi keluarganya untuk mendapatkan tranfusi darah." dokter lainnya ikut berbicara.
Erick menerima telpon dari petugas, dan segera menghubungi Bryan untuk datang kerumah sakit bersama.
Dokter meminta Erick atau Bryan untuk mendonorkan darahnya.
"Golongan darahnya A." Ucap suster.
"Tidak, tidak mungkin golongan darahnya A, golongan darah saya O dan ibunya juga O, mana mungkin anaknya A?" Tanya Erick.
Erick menatap sengit pada Vika, dirinya sungguh ingin mencabik-cabik Vika dan segera mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Urusan Yasmin sudah diurus oleh Bryan dengan mencarikan donor ditempat lain, dan Erick segera membawa pulang Vika dengan menyeretnya.
"Yasmin anak siapa?" Tanya Erick dengan murka.
"Jangan bohong kamu Vik, Yasmin anak siapa?" Bentak Erick semakin menjadi.
Vika tetap diam seribu bahasa.
"Yah, udah.." Bujuk Bryan.
"Tiga puluh tiga tahun kamu membohongiku Vik. Demi anak jal*ng mu itu aku mengabaikan Ghea yang jelas putri kandungku sendiri."
Plakkk,
Erick menampar Vika.
"Pergi kau keluar dari rumah ini!!" Bentak Erick.
"Aku tidak akan meninggalkan rumah ini. Ini rumahku." Jawab Vika.
"Dasar kau wanita tak tau malu!!"
Erick memanggil Asisten rumah tangga dan memerintahkannya untuk membereskan barang-barang milik Vika, lalu Erick menyeret Vika keluar dari rumahnya.
"Jangan pernah menginjakan kakimu kembali dirumah ini." Erick melempar dua koper berisikan pakaian dan barang-barang Vika keluar gerbang rumahnya.
Vika tidak terima sehingga ia berteriak dan terus memaki Erick.
Dari sebrang, Monica dan Daniel mendengar juga melihat kejadian itu.
"Ada apa lagi ini?" Tanya Monica.
"Papa juga tidak tau Ma, kenapa pak Erick bisa semarah itu dan mengusir bu Vika dari rumahnya."
"Apa ada hubungannya dengan Ghea Ma?" Sahut Tristan.
__ADS_1
"Tidak mungkin, dan jangan beritahu Ghea Tan." Jawab Monica.
Tidak lama kemudian, mobil polisi pun datang, betapa terkejutnya Erick ketika polisi bilang akan melakuan penahanan pada Vika karna terbukti memberikan obat penggugur kandungan pada Yasmin anaknya sendiri.
Pada akhirnya, polisi membawa Vika untuk pemeriksaan lebih lanjut, Erick tidak mau membantunya apalagi menyewakannya pengacara.
Erick terlihat sangat shock, hingga tekanan darahnya naik, Bryan pun menelopon Maura sang istri juga Ghea untuk segera datang kerumah utama.
Drrtt.. Drttt..
Suara ponsel Ghea bergetar diatas nakas.
"By, stop dulu, Ponselku berdering."
"Nanti dulu sayang, tanggung." Fadhil masih belum mau menuntaskan puncaknya, padahal ini sudah ke tiga kalinya, Janji yang hanya satu kali itu hanya tinggalah janji.
Ponsel Ghea sudah bergetar untuk keempat kalinya.
"By aku angkat dulu telpon sebentar."
"Paling itu teman-teman kamu iseng, gangu kita aja." Fadhil masih enggan melepas penyatuannya.
"Temenku gak ada yang iseng By, sebentar aku lihat dulu, Akhhh."
"Ini sudah mau sampai sayang, sebentar ya."
"Hmmm.." Erangan Fadhil saat tiba dipuncaknya.
Fadhil menarik diri dan segera meraih ponsel Ghea.
"Bryan Ghe.." Ucap Fadhil.
"Kak Bry, ada apa ya malam-malam gini."
Ghea segara menghubungi kembali ponsel Bryan.
"Ghe, akhirnya kau menguhubungi Kakak."
^^^"Ada apa Kak? apakah ada hal penting?"^^^
"Ghe, kakak tau ini sudah malam, tapi bisakah kamu kerumah Ayah, Ayah sakit Ghe. Dia terus memanggil namamu."
^^^"Ayah sakit? sakit apa Kak? Aku bukannya tidak mau kesana Kak, tapi aku malas bertemu dengan Bunda Vika."^^^
"Bunda Vika ditahan polisi atas tuduhan ab*rsi pada janin Yasmin, dia kasih obat penggugur kandungan pada Yasmin, sekarang Yasmin dirumah sakit karna pendarahan hebat. Dan Ayah baru mengetahui bahwa Yasmin bukanlah anak Ayah Ghe, Tekanan darah Ayah naik."
^^^"Baiklah Kak, aku akan bicara dulu sama mas Fadhil."^^^
Ghea menutup ponselnya dan terlihat bersedih. Tubuhnya masih polos dan hanya ditutupi oleh selimut tebal.
"Ada apa sayang? Tanya Fadhil lembut.
"Ayah sakit, Bunda ditangkap polisi atas tuduhan tindakan ab*rsi." lalu Ghea menceritakan detailnya yang tadi Bryan ceritakan.
"Mandilah air hangat sayang, biar aku siapkan, kita kerumah Ayah malam ini juga, kemasilah barangmu seperlunya, mungkin kita akan menginap disana beberapa hari."
"Apa kamu mengijinkan By?"
"Tentu saja, dan aku akan menemanimu disana. bawakan juga pakaianku, seperlunya aja, kalau kurang biar nanti aku ambil kesini. Ayah membutuhkanmu."
Ghea mengangguk, betapa beruntungnya dia mendapatkan suami seperti Fadhil, umur yang terpaut cukup jauh membuat Ghea slalu merasa dilindungi dan disayangi. Belum lagi Fadhil yang slalu memanjakan Ghea, dan membuat Ghea sangat nyaman bersamanya.
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....