TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
WILL YOU MARRY ME, JESS?


__ADS_3

"Jessi.. gue mau minta tolong sama lo bisa?" Tanya Stevi.


"Minta tolong apa Stev..?"


"Besok ada acara reunian sekolah gue dulu dicafe X. Fariz gak bisa nemenin gue, Ghea juga gak mungkin boleh keluar malam sama Pak Fadhil. Please lo temenin gue ya, undangannya berlaku untuk dua orang koq." Pinta Stevi.


"Boleh.. lumayan deh ngilangin suntuk." Jawab Jessi.


"Lo ada Dress kan Jess?" Tanya Stevi.


"Hah, dress?"


Stevi mengangguk.


"Ribet ya acaranya, ogah deh gue kalo pake dress Stev.."


"Terus lo tega gue jalan sendiri Jess?" Stevi memasang muka putus asa.


Jessi menghela nafas. "Iya.. iya.. bininya Fariz bawel amat sih." Ledek Jessi.


Stevi tersenyum penuh kemenangan. Rencannya berhasil mengajak Jessi untuk keacara yang tlah dipersiapkan oleh Tristan.


***


"By.. masih lama ya kerjanya?" Tanya Ghea disebelah Fadhil.


Entah karna hormon kehamilan atau apa, Membuat Ghea malam ini begitu merindukan sentuhan dari suaminya. Sebetulnya Ghea malu, tapi sikap Ghea seperti ini membuat Fadhil merasa senang.


"Sebentar lagi sayang, aku lagi evaluasi laporan dikantor Papa."


Meskipun Fadhil memutuskan bekerja sebagai dosen, namun dia tetap memantau dan membantu pekerjaan Fathan dikantor Papanya dengan mengerjakannya dari rumah.


"By..." Rengek Ghea sedikit manja.


"Kamu tidur duluan aja ya Sayang, aku masih nanggung sama kerjaan dikit lagi aja." Ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.


Hening...


Namun Ghea masih duduk satu sofa dengan Fadhil, akhirnya Fadhil menoleh kearah Ghea yang wajahnya mulai di tekuk.


Fadhil tersenyum melihat wajah Ghea, Fadhil juga sedikit terkejut melihat Ghea berpakaian sedikit terbuka, dress tipis untuk tidur yang hanya bertalikan satu disetiap sisi kanan dan kirinya, bahkan p*ha nya pun terekspos, belum lagi dibagian dada Ghea yang semakin membesar karna efek kehamilannya, semakin terlihat jelas.


Fadhil menaruh laptop yang tadinya berada dipangkuannya ke meja dihadapannya, kemudian merapatkan diri duduk menghadap Ghea dan membelai rambut sebahunya.


"Sayang..." Panggil Fadhil lembut sambil merapihkan anak rambut ke belakang telinga Ghea.


"Aku gak suka dicuekin." Ucap Ghea masih dengan mrengut kesal.


Fadhil menarik dagu Ghea untuk menatapnya. "Maaf ya. Jangan marah lagi." Kemudian Fadhil menarik Ghea untuk duduk diatas pangkuannya.


"Kamu wangi sekali sayang." Lirih Fadhil sambil mulai menelusuri leher jenjang Ghea.


Ghea menengadahkan kepalanya, memberikan akses lebih untuk Fadhil mengecupinya.


"Ini gak pake?" Tanya Fadhil saat tangannya menelusup kebagian inti Ghea.


Ghea menggelengkan kepalanya.


"Nakal.." Bisik Fadhil.

__ADS_1


"Kan biar dihukum kamu By." Ghea menempelkan keningnya dikening Fadhil sedikit menggoda suaminya itu.


"Kalo gitu aku hukum kamu ya, jangan menyesal, aku hukum malam ini kamu yang jadi kaptennya dan harus mengalahkan aku."


"Siapa takut." Jawab Ghea.


Fadhil mulai mencium bibir Ghea, turun ke leher jenjang Ghea, memberikan gigitan kecil sehingga membuat Ghea sedikit melenguh.


"Kamu semakin pintar mengimbangi aku Sayang." Lirih Fadhil saat Ghea mulai mengecupi leher dan bagian dada Fadhil.


"By kita main di sofa ya."


"Dengan posisi seperti ini?" Tanya Fadhil nakal,


pasalnya saat ini posisi Fadhil memangku Ghea, dengan posisi Ghea menghadap Fadhil dan membuka kakinya lebar-lebar mencapit kedua p*ha Fadhil.


Ghea mengangguk.


Fadhil mengusap perut Ghea yang kini semakin membuncit. "Boy, Papa jenguk kamu ya." Bisiknya diperut Ghea.


Ghea berhasil meloloskan kaos oblong Fadhil dari tubuhnya. Mereka memulai malam panjang yang akan dilewatinya bersama.


"Milikmu masih slalu sama Sayang, slalu sempit dan menggigit." Racau Fadhil.


"Akhh By.. Aku tidak bisa berhenti." Ghea terus menari-nari diatas tubuh Fadhil.


"Jangan berhenti sayang, ini nikmat sekali." Fadhil dengan puas memainkan dua buah gunung Ghea, sesekali tangannya meremas nakal dibok*ng Ghea.


Sungguh malam ini Ghea begitu berbeda, dia memimpin permainan,


"Sayang Stop, aku hampir tiba. Tahan dulu." Ucap Fadhil.


"Aku akan mengalahkanmu By."


"Aku mencintaimu By." Lirih Ghea dengan nafas tersenggal senggal.


"Aku juga mencintaimu istriku sayang, dan aku makin suka dengan permainan kamu."


Wajah Ghea merona merah, sungguh dia merasa malu akan sikapnya malam ini, namun hal itu justru membuat Fadhil menyukainya.


***


Stevi dengan telaten memberikan sentuhan Makeup natural diwajah Jessi.


"Emang perlu ya Stev?"


"Perlu lah Jess, ini acara Resmi. Tenang aja, gue kasih lo make up Natural koq, gak terlalu mencolok."


Jessi hanya bisa pasrah, sebetulnya hari ini ia merasa kesal dengan Tristan maupun teman-temannya termasuk Stevi dan juga keluarganya. Pasalnya tidak ada yang mengingat bahkan memberikan ucapan ulang tahun pada Jessi.


"Pilihan gue udah tepat, ikut Stevi keacara reuniannya, dari pada diapartemen, bahkan abang aja lupa sama gue." Batin Jessi.


"Kita naik Taxi online aja Jess, gue udah pesan taxinya."


Jessi hanya pasrah saja, mengikuti kemana Stevi pergi.


"Lo cantik Jess, kalo Tristan lihat bisa makin cinta dia." Ucap Stevi didalam Taxi.


"Gak mungkin lihat, inget gue aja dia kagak." Kesal Jessi.

__ADS_1


Hati Stevi tertawa, merasa berhasil akan rencananya membuat Jessi kesal sepanjang hari.


Mereka tiba dicafe X, menuju rooftopnya. Tampak semua meja masih kosong. "Stev, koq masih kosong? Bener gak disini acaranya." Jessi seolah kebingungan.


"Gue gak salah koq. Ini bener disini Jess.."


"Tapi masa acara reuni sepi sih Stev."


"Sabar Jess, bentar ya gue ke toilet dulu, kebelet nih." stevi pergi meninggalkan Jessi seorang diri.


Jessi yang merasa bosan, berdiri kemudian menghampiri pagar dan melihat pemandangan kota dari atas Cafe, dirinya menikmati angin sore dengan memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin diwajahnya.


Jessi terkesiap kala seseorang memeluknya dari belakang, "Happy birthday my lovely Bee." bisiknya tepat dibelakang telinga Jessi.


"Abang.." Ucap Jessi kemudian dia membeku.


Tristan meraih tangan Jessi dan menuntunnya membawanya keatas panggung kecil.


Steleh Jessi berada diatas panggung, terlihat beberapa orang memenuhi meja, diantaranya adalah keluarga Jessi dan juga keluarga Trstan, Ghea dan Fadhil pun tampak mengisi meja yang kosong bersama Fariz dan Stevi.


Tristan mengambil Sebuket bunga mawar putih yang sudah disediakan disisi panggung.


"Happy birthday." Ucapnya dengan tatapan yang tak lepas dari mata Jessi sembari memberikan buket mawar putih itu.


Tristan kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak bludru berwarna biru tua, ia membukanya kemudian berlutut dengan satu kaki menopang tubuhnya didepan Jessi.


"Bang ini apa?" Lirih Jessi.


"Maaf membuat kamu kesal hari ini, tapi dihari ini, tepat dihari ulang tahunmu, didepan dua keluarga kita, didepan sahabat-sahabat kita, aku ingin melamarmu. Will you marry Me, Jess?"


"Abang...." Lirih Jessi.


"Aku ingin kamu menjadi yang terakhir dihidup aku Bee."


Terlihat wajah penuh keseriusan diwajah Tristan, Tristan pun sangat takut ditolak oleh Jessi.


Jessi menatap kearah Ghea, Fariz dan Stevi. Mereka mengangguk tanda memberikan restu untuk Jessi. Lalu Jessi melihat kepada orang tuanya dan juga orang tua Tristan, lagi-lagi mereka juga mengangguk seolah memberikan restu.


Jessi menatap mata Tristan yang masih berlutut dihadapannya menunggu jawaban dari Jessi.


"Yes, I will Bang." Jawabnya mantap.


Tristan menunduk tampak menitikan air mata, si sad boy ini kini sudah beralih menjadi pria paling bahagia karna lamarannya diterima.


Tristan berdiri kemudian memakaikan cincin dijari manis Jessi. Lalu mengecup cincin yang kini terpasang dijari manis Jessi.


Jessi memeluk Tristan dan sedikit menangis bahagia disana. "Aku mencintaimu Bang."


Tristan pun tersenyum, "Abang juga mencintaimu Bee, terimakasih udah mau percaya sama Abang."


Tristan mengendurkan pelukannya pada Jessi, perlahan mencium lembut bibir Jessi didepan semua orang.


Orang tua Jessi maupun Tristan saling berpelukan, rencana perjodohan yang sempat diragukan akan berhasil ternyata bisa berjalan semulus ini. Terlebih Monica dan Daniel, akhirnya mempercayai bahwa Tristan sudah jauh lebih move on dari perasaannya kepada Ghea.


.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2