TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
ORANG LUAR BIASA


__ADS_3

Stevi merasa sangat bersyukur mempunyai sahabat baik seperti Ghea, Jessi, Tristan, dan tentu saja Fariz. Ia merasa ke empat sahabatnya itu ibarat dewa penolong yang akan menyelamatkan hidupnya. Terlebih Fariz, Stevi merasa Fariz seperti ksatria berkuda yang menyelamatkan seorang putri, tapi stevi bukanlah seorang putri, dia tetap merasa minder dan tidak percaya diri jika harus bersanding dengan Fariz.


"Udah malam, kalian gak pulang?" Tanya Jessi.


Fariz menghela nafas. "Jess, malam ini gue sama Tristan nginep sini ya. Besok ada yang jemput gue sama Tristan. Kakek bilang gue jangan keluar dari apartemen lo dulu, takutnya si tua bangka itu nyuruh orang buat bales dendam dia."


Jessi mengangguk. "Bener juga sih kata Kakek lo, ya udah lo sama Tristan bisa tidur diruang tamu, gue sama Stevi dikamar. Apartemen gue cuma ada satu kamar." Jawab Jessi.


"Thanks Jess.." Ucap Fariz.


"Lo kaya bukan anak sembarang orang Riz, besok pake ada yang jemput segala." Sahut Tristan.


Fariz tertawa menyembunyikan kegugupannya. "Kalo bukan orang biasa, gue orang luar biasa dong?" Ucapnya sembari bercanda.


Malam itu Fariz dan Tristan menginap diapartemen Jessi. Sesuai kesepakatan, Jessi dan Stevi tidur didalam kamar sementara Fariz dan Tristan di ruang tamu dengan beralaskan karpet tebal.


Fariz melihat kembali keakraban antara Tristan dan Jessi, Ia yakin bahwa Tristan dan Jessi kini sudah berbaikan.


"Lo sama Jessi udah baikan?" Tanya Fariz iseng.


Tristan mengangguk, "Gue gak bisa bohongin perasaan gue, gue cinta sama Jessi Riz."


"Gue ikut seneng Tan, semoga lo sama Jessi bisa happy ending kayak Ghea sm Pak Fadhil ya." Doa tulus dari Fariz.


"Amin.. Gue juga berharap lo sama Stevi berlanjut Riz. Lo dah mentok ke Stevi kan? siap nerima dia apa adanya?" Tanya Tristan yang sedari kemarin ingin tau bagaimana perasaan Fariz setelah tau soal Stevi.


Fariz mengangguk, "Gue gak pernah raguin hati gue buat Stevi, bagaimanapun dia, gue tetep mencintainya Tan.. Belum pernah gue punya perasaan seperti ini ke cewek manapun. Tapi yang gue takutin kalo Stevi gak bisa terima gue." Lirih Fariz.


Tristan mengernyitkan dahinya. "Gue tau ada yang lo sembunyiin dari gue sama Ghea."


"Besok, gue mau ajak lo sama Ghea ke satu tempat Tan. Semoga Ghea dapat ijin dari Pak Fadhil."


"Kemana? Jessi dan Stevi?" Tanya Tristan.


"Lo dulu sama Ghea, lo sama Ghea kan sahabat gue dari SMA. Soal Stevi nanti gue bawa dia langsung, klo Jessi nanti lo bisa cerita kan sama dia."


Tristan mengangguk. "Jangan ada yang lo sembunyiin dari gue sama Ghea Riz, kita udah sama-sama dari SMA."


***


Selesai sholat subuh berjamaah dikeluarga Fadhil, Ghea segera kembali kekamarnya, Rasanya ia masih mengantuk karna Fadhil kembali mengerjainya semalaman membuat malam panjang. Kandungan Ghea yang kini mulai masuk trimester kedua membuat Fadhil merasa semakin gemas dan semakin senang menyentuhnya. Tubuh Ghea sudah seperti candu untuk Fadhil.


"Sayang, gak baik tidur sehabis subuh." Ucap Fadhil.


"Aku ngantuk banget By, kamu ngerjain aku semalaman, bangunin aku jam delapan ya, hari ini aku ada kelas jam sepuluh."


"Uluhh.. kasian banget, istri siapa sih ini.." Fadhil terus saja menggoda Ghea sambil mentoel-toel hidung Ghea.


"By.. biarin aku istirahat dong." Kesal Ghea manja.


Fadhil tertawa, sepertinya memang hoby nya menggoda istri kecilnya itu. "Iya iya sayang, sini aku usap-usap tidurnya."


"Gak mau, nanti ada senjata kamu yang bangun, aku bisa repot lagi, bisa-bisa gak masuk kuliah."

__ADS_1


Fadhil semakin tertawa, "Apa sih sayang, suami punya niat baik malah dicurigain."


"By, aku mau tidur lagi, jangan diajak ngobrol terus."


"Iya sayang, ya udah aku kebawah deh ya, olah raga dibawah."


"Hem." Ghea sudah memejamkan kedua matanya.


Fadhil mengecup kening Ghea dengan penuh kasih sayang, lalu meninggalkan Ghea yang tertidur kembali.


"Ma.. kopi dong." Pinta Fadhil pada Miranti yang sedang berada didapur.


"Lho Ghea mana? biasanya mau kopi buatan Ghea aja." Ledek sang Mama.


"Ghea tidur lagi, ngantuk katanya Ma." Jawab Fadhil cengengesan.


"Huh, pasti kamu kerjain semalaman ya. Kamu itu percis sekali dengan Papa dan Kakakmu, seneng banget ngerjain istri semalaman." Ucap Miranti sambil meracik kopi untuk Fadhil.


Fadhil tertawa, "Abisnya Ghea menggemaskan Ma."


Miranti tersenyum, "Mama jadi semakin merasa bersalah sama Ghea nikahin dia sama kamu."


"Koq Mama bilang begitu sih?"


"Ghea masih terlalu muda, umurnya aja hanya beda satu tahun dengan adik-adikmu. Tapi lihat adik-adikmu, masih menikmati masa mudanya, belajar dan bermain dengan teman-teman seumurnya. Tapi Ghea, ya harus kuliah, ya harus juga ngurusin kamu diranjang." Miranti tertawa.


"Tapi kan Fadhil gak ngekang Ghea Ma.. Fadhil bebasin Ghea kalo mau berkumpul sama teman-temannya. Fadhil juga gak bebanin Ghea sama urusan rumah tangga."


"Benar-benar jodoh itu rahasia ilahi ya Ma." Fadhil tersenyum.


"Fad, apa Ghea masih berhubungan dengan anaknya Ibu Monica?" Tanya Miranti.


"Tristan maksud Mama?"


"Iya.. Mama sempat dengar cerita dari Ibu Monica, Tristan dan Ghea itu sangat dekat, bahkan Monica dulu menginginkan Ghea untuk jadi menantunya dan bersanding dengan Tristan. Tapi karna mereka beda agama jadi mereka tidak bisa bersama. Betulkah itu Fad?"


"Mama kepo.. Untuk apa sih tau Ma.."


"Ya mau tau aja Fad."


"Iya itu bener Ma, tapi kan yang penting sekarang Ghea sama Fadhil, ada anak Fadhil dirahim Ghea Ma. itu udah sebagai tanda kalo Ghea udah milik Fadhil baik dari hatinya maupun raganya."


"Kamu gak cemburu?"


"Untuk apa cemburu, mereka beda agama, lagian Tristan juga udah punya pacar Ma, dan Ghea sama sekali gak pernah gimana-gimana."


Miranti mengangguk, "Syukurlah kalo begitu, Mama lega dengarnya. Mama gak mau kehilangan menantu-menantu Mama, baik itu Ghea maupun Alya, jadi kamu harus terus berbuat baik sama istri kamu ya Fad, Mama juga sering bilang begini sama Fathan. Kalian harus perlakukan istri kalian dengan sebaik mungkin, tidak boleh ada perceraian apa lagi poligami dikeluarga ini."


"Iya Mama sayang, Mama tenang aja ya.. Kita kan mencontoh Papa yang menjadikan Mama satu-satunya wanita yang dicintai Papa."


Miranti tersenyum.


***

__ADS_1


"Ghea masih saja tertidur didalam mobil saat perjalanan menuju kampus. Fadhil hanya tersenyum melihat istri kecilnya itu.


"By, aku nanti mau pergi sama Fariz dan Tristan ya." Ijinnya pada sang suami.


"Oh ya? Kemana? cuma bertiga aja?"


"Fariz mau ngajak kesatu tempat, katanya mau ada yang diceritain, iya bertiga, Jessi dan Stevi gak ikut. Boleh By?"


"Berat sih kalo kamu pergi gak sama muhrimnya, tapi aku percaya sama Fariz dan Tristan, mereka pernah menjaga dan menyelamatkan kamu. Tapi kamu tetap harus jaga diri ya."


"Iya By, nanti aku juga sering-sering hubungi kamu."


***


Pulang kuliah, Ghea pergi bersama Fariz dan Tristan.


"Kita mau kemana Riz?" Tanya Ghea ditengah-tengah perjalanan.


"Ikut aja Ghe, yang jelas gue bukan lagi nyulik lo." jawab Fariz santai.


"Ya udah, bangunin gue kalo udah nyampe, gue ngantuk banget." Ucap Ghea.


"Ya elah bumil mager banget sih." Ledek Tristan.


"Mumpung gue jadi bumil Tan, bisa dimanja semua orang." jawab Ghea sambil tertawa.


"Apa rasanya Ghe mau jadi orang tua?" Tanya Fariz.


"Hemm.. Apa ya.. Yang jelas gue seneng lah bisa mengandung anak dari suami gue sendiri. Cuma gue kadang melow sendiri, ga tau kenapa, ya mungkin karna orang hamil itu bawaanya sensitif."


Sekian lama mereka mengobrol sehingga membuat Ghea tidak jadi tertidur, akhirnya mereka tiba dipelataran rumah sakit.


"Rumah sakit jiwa? kita ngapain kesini Riz?" Tanya Tristan.


.


.


.


Senin senin.. Bagi vote nya lagi dong readersku..


Like dan comment kencengin lagi ya..


*Ya**ng mau kasih hadiah kopi apa bunga juga dengan senang hati Author terima, biar makin semangat Up nya*.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2