TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
MALAM BERBINTANG


__ADS_3

Area 21++


Bocill please skip ya..


***


Satu persatu tamu mulai meninggalkan acara resepsi pernikahan Tristan dan Jessica.


Ghea dan Fadhil serta Fariz dan Stevi memilih menginap dihotel yang sama karna sudah disediakan kamar.


"Zayn tidurnya lelap sekali By.." Ucap Ghea sambil mengusap pipi bulat Zayn.


Semakin hari Zayn semakin menggemaskan, mulai berceloteh dengan gaya bicara khas bayinya.


"Zayn lelah sekali, biar aku yang menggantikan pakaiannya." Fadhil dengan telaten mengganti pakaian anak tersayangnya itu, sementara Ghea membersihkan wajahnya dari make up dan membersihkan diri.


Fadhil slalu menjadi suami pengertian, dia tidak pernah membebani Ghea dengan urusan rumah tangga dan slalu membantu untuk mengurus anak mereka bersama.


Sifat Fadhil yang seperti itu membuat Ghea semakin hari semakin mencintainya.


Ghea keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar dan hanya memakai bathtrub, rambutnya tergerai dan ia keringkan dengan handuk kecil ditangannya.


"Kamu keramas malam-malam Ghe?" Tanya Fadhil.


"Rambutku lengket By, keringetan, kan ketutup hijab, jadi lembab."


Fadhil mengangguk, kemudian mendekat pada Ghea, "Capek tidak? Jangan tidur dulu."


"Untuk kamu gak ada kata capeknya By." Ghea tertawa.


Fadhil mencubit hidung Ghea, "Pinter.. kita buat adik untuk Zayn ya" Lalu setelahnya bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Ghea tersenyum sambil memperhatikan Fadhil yang sudah masuk kedalam toilet, Fadhil memang tidak pernah ada puasnya menyentuh Ghea, hampir setiap hari Fadhil slalu menyentuh Ghea, seolah tidak ada bosannya.


***


Sementara dikamar Fariz dan Stevi.


Stevi tengah berendam didalam bathtub, tubuhnya terasa pegal dan ingin memanjakan diri berendam sebentar dengan tetesan aromateraphy.


Fariz yang tidak sabar ingin membersihkan dirinyapun mencoba masuk kedalam kamar mandi yang tidak terkunci itu. Fariz melihat sang istri yang tengah berendam sambil memejamkan matanya, tanpa pikir panjang, Fariz ikut menyusul masuk kedalam bath tub setelah melepas pakaiannya.


Gerakan air yang tadinya tenang membuyarkan lamunan Stevi.


"Riz, ngapain?" Tanya Stevi bingung.


"Kamu kelamaan, badan aku udah lengket banget."


"Ini udah mau selesai." Stevi mencoba beranjak dari dalam bath tub namun tangannya ditahan oleh Fariz, sehingga posisi Stevi kini menghadap Fariz dan berada diatas kedua pahanya.


"Riz.."


"Kita belum pernah coba dikamar mandi." Ucap Fariz sambil membelai pipi mulus Stevi.


"Ini malam Riz, nanti masuk angin."


"Sebentar aja Sayang, cari sensasi berbeda."


"Nanti kamu kalah lagi." Ledek Stevi.


"Kalah tanda aku menikmati permainan kamu." Goda Fariz.


Tangan Stevi menyentuh pusaka Fariz, "Udah tegang lagi aja." Ledek Stevi


"Gak tahan, Sayang.."


Stevi tertawa, "Kamu ini gak tahanan, tapi gak kuat cepet kalahnya juga."


Tangan Fariz meremas gunung kembar Stevi. "Ishh ngeledek aja sama suami."


"Unchhh...Suami ya sekarang.." Stevi balik meledek Fariz dan tangannya mulai bermain dipusaka Fariz yang sedari tadi ia pegang membuat Fariz mendes*ah nikmat.


"Mau aku yang mimpin apa Kamu?" Tanya Stevi menggoda.


"Kamu dulu, tapi kalo aku bilang stop, kamu harus stop, jangan malah makin disengajain."


Stevi tertawa, "Ya mana bisa, masa lagi enak-enaknya disuruh stop sih."


"Kamu ini paling bisa puasin suami." Ucap Fariz.


"Harus dong, biar kamu gak selingkuh, cari yang enak-enak diluaran sana."


"Hmm mana bisa, sayang.. Service kamu udah memuaskan aku sekali."


Fariz menarik tutup pembuangan air, dan stevi memposisikan diri mengarahkan pusaka Fariz untuk masuk kedalam bagian sensitif Stevi.

__ADS_1


"Akh.." sempit Yank.


Fariz membenamkan wajahnya diantara lembah dua gunung Stevi, mencecap dan memberikan tanda merah disana.


(Ahh mereka ini, siapa yang menikah, siapa yang menikmati malam panjang, kompak sekali) 😅😅😅


Pemilik malam panjang aja belum tampil ini 🤭🤭🤭


***


Dikamar Tristan dan Jessi.


Jessi kesulitan saat ingin membuka kancing kebaya yang berada dipunggungnya.


Tristan yang sedang membuka tuxedonya pun melihat kesulitan yang dialami oleh wanita yang kini menjadi istrinya itu.


Setelah Tristan melepas Tuxedo dan kemejanya yang kini hanya menyisakan kaos oblong berwarna putihnya saja, ia mendekatkan diri pada Jessi.


"Aku bantu." Ucapnya lembut pada Jessi dan tangannya dengan lancar membuka satu persatu kancing itu sehingga membuat punggung putih nan mulus Jessi terpampang dengan nyata. Tristan mencium tengkuk leher Jessi.


"Bang, aku belum mandi."


"Mandi bersama aja, kan udah janji ada mandi plus-plusnya."


"Udah malam Bang, nanti mandinya kelamaan."


"Kalau begitu gak usah mandi, kita langsung aja." Bibir Tristan masih betah berada di ceruk leher Jessi.


"Bau Bang.."


"Kamu slalu wangi Bee, mandi juga nanti keringetan lagi." Perlahan Tristan memutar tubuh Jessi untuk menghadapnya dan mulai mencium bibir manis Jessi.


Kebaya Jessi yang masih melekat kini turun begitu saja dan memperlihatkan tubuh indah sang istri.


Tristan menggiring Jessi kesisi tempat tidur dan mendudukannya diatas pangkauannya.


"Bang mandi dulu ya sebentar, minimal bilas aja." Bujuk Jessi.


"Gak mau Bee, abang udah gak tahan, Abang udah lama puasa Bee."


"Mandi berdua deh Bang."


Tristan menghela nafas. "Baiklah." Jawabnya mengalah.


Jessi membuka sisa pakaiannya, begitu juga dengan Tristan. Terlihat pusaka yang sudah menegang dan berdiri kokoh siap masuk kedalam rumahnya.


"Fix, Jessi slalu sexy dimata Tristan."


Tristan ikut masuk ke bilik kaca dan tangannya terulur mengusap tubuh Jessi yang berbalurkan sabun.


"Bang.." Lirih Jessi.


"Abang gak tahan Bee."


"Ini udah mau selesai."


Jessi pun membantu membalurkan sabun ketubuh Tristan, karna sedari tadi Tristan hanya sibuk memainkan tubuh Jessi.


"Bilas dulu Bang." Ucap Jessi.


Setelah ritual mandinya selesai, Tristan menutup tubuh Jessi dengan handuk dan menggendongnya ke atas tempat tidur.


"Gak sabar banget Bang." Cibir Jessi.


"Ini udah sabar banget Bee, Milikku udah lama gak pulang kerumahnya."


Jessi tersenyum, tangannya terulur mengusap pipi Tristan dan rambutnya yang masih lembab.


"Aku milikmu Bang, dari malam ini hingga malam-malam selanjutnya aku adalah milikmu." Lirih Jessi.


Tristan mencium kedua mata Jessi silih berganti, "Aku suka matamu, mata yang slalu melihatku dengan penuh cinta."


Ciuman Tristan turun kehidung mancung Jessi, "Akupun suka hidungmu, nafas mu membuatku slalu ingin berada dalam pelukanmu.


Kini ciuman Tristan beralih pada bibir manis Jessi. "Dan bibirmu, aku sangat menyukainya, bibir yang membuat aku candu dari pertama aku mulai merasakannya."


"Bang.. " Lirih Jessi.


"Aku suka semua yang ada pada dirimu Bee, terutama hatimu yang mau bersabar menungguku dan memahamiku." Ucap Tristan.


Jessi meraup bibir Tristan, menciumnya dengan lembut, dan dibalas oleh Tristan. Mereka saling memberi dan menerima kenikmatan dengan sebuah ciuman. Ciuman yang kini semakin menuntut.


Ciuman Tristan beralih ke leher jenjang Jessi, menyecapnya dan memberi tanda kepemilikan dibelakang telinga Jessi.


"Bang... Akh..." suara des*han Jessi saat jari jemari Tristan bermain dibagian inti Jessi.

__ADS_1


"Kamu mudah sekali basah, Sayang.."


"Hemm.." Jessi menggelinjang merasakan kenikmatan permainan jari jemari Tristan.


Kini bibir Tristan bermain disalah satu gunung Jessi, menghisap bagai bayi yang kehausan, bergilir antara satu gunung ke gunung lainnya, sementara satu tangannya masih betah berada dibagian inti Jessi.


Sementara Jessi, tangannya merangkul kepala Tristan, merasakan kenikmatan dari sentuhan yang diberikan oleh pria yang kini berstatus suaminya tersebut.


Ciuman Tristan semakin turun kebagian perut Jessi, cukup lama Tristan mencium bagian perut Jessi, ia sedikit teringat benih yang pernah ia tanam disana namun harus gugur diusia yang masih sangat muda.


"Aku merindukanmu Nak." Lirih Tristan yang bahkan tidak terdengar oleh Jessi.


Kini wajah Tristan berada percis didepan bagian inti Jessi. Membuka kedua paha Jessi sehingga terpampang jelas bagian favoritnya itu. Tristan mulai memainkan lidahnya disana, mengobrak ngabrik bagian didalamnya.


"Bang.. A..ku.. ma.. u... pipis.. Ahhh."


Tristan mendongakan kepalanya, "Lepaskan, sayang." Ucapnya lembut.


Kedua paha Jessi mencapit kepala Tristan, tanda Jessi mendapatkan pelepasan pertamanya.


Tristan tersenyum penuh dengan kepuasan, Jessi menyukai permainannya itu.


Kini Tristan kembali memanjat tubuh Jessi layaknya seperti sedang panjat pinang, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jessi.


"Kamu sexy sekali Bee." Tristan mengecup kening Jessi.


"Jangan siksa aku begini Bang, mulailah.." Ucapnya dengan nafas terengah-engah.


"Kamu sudah tidak tahan? hem? tidak ingin memainkan milikku dulu?" Tanya Tristan menggoda dan penuh harap.


"Kamu ingin aku memainkannya Bang?" Tanya Jessi.


"Iya.." Jawabnya dengan mata berbinar.


Jessi mengangguk, Tristan mulai memposisikan dirinya.


"Besar sekali Bang." Lirih Jessi ragu.


Tristan tersenyum mendengar pengakuan Jessi.


Jessi menyentuhnya dan mulai menaik turunkan tangannya, "Akhh Bee.. Sentuhanmu.."


Jessi memberanikan diri memasukkan kemulutnya, ******* nya dan memainkan dengan bibirnya, sehingga membuat jessi sedikit tersedak.


"Sudah Bee, jangan dipaksakan." Tristan kembali mengambil alih, membaringkan Jessi disisinya dan mulai mengungkungnya kembali.


"Aku mulai ya Bee.."


Jessi mengangguk.


"Rasanya masih sama Bee, tetap menggigit." Ucap Tristan saat pusakanya sudah berada didalam milik Jessi.


"Kamu menyukainya Bang?" Tanya Jessi.


"Slalu.. Milikmu membuatku slalu rindu ingin slalu menyentuh dan memasukinya."


Tristan memulai permainanya, menghentakkan miliknya berkali-kali. mengatur tempo lambat, sedang dan cepat, Tristan sangat menyukai suara sexy Jessi.


"Ahh milikmu enak sekali Bee, sempit Bee, menggigit." Racau Tristan disela-sela permainannya.


"Abaaang.... aku..."


Racau Jessi yang sepertinya sudah merasakan pelepasan berkali-kali.


"Sebentar lagi aku sampai sayang.."


Sesuatu menarik dan semakin menyempit dibagian inti Jessi, tanda Jessi melepaskan untuk kesekian kalinya, kali ini tarikan itu membuat Tristanpun menumpahkan semua benihnya didalam milik Jessi. Hingga Tristan ambruk dan nafas mereka saling tidak beraturan.


"Bee.. Aku mencintaimu." Ucap Tistan.


"Aku juga sangat mencintaimu Bang.. Lebih dari apapun." Jawab Jessi sambil mengusap punggung Tristan yang basah karna peluh.


.


.


.


Author atur nafas dulu yak..


Abang Titan super super deh ahh..


Fariz harus banyak belajar dari Abang Titan nih, biar gak kaku kayak kanebo kering (Oupss Maaf ya Om Aizz..)


😁😁

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2