TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
MERASA TIDAK DIINGINKAN


__ADS_3

Dirumah Kakek Tara


Sudah satu minggu berlalu, Fariz segera kembali kerumah setelah mengantar Stevi pulang ke apartemen Jessi.


Perlahan ia memasuki rumah, jantungnya slalu berdebar saat memasuki rumah, meski sudah satu minggu Diana sadar, ini pertama kalinya ia akan bertemu dengan Diana, pasalnya Diana selama satu minggu ini menjalani test syaraf dan kejiwaannya kembali di rumah sakit sebelum dinyatakan benar-benar pulih, dan kini Diana sudah berada kembali dirumahnya.


Fariz melihat Diana yang sedang duduk bersama Kakek Tara diruang televisi.


"Sudah pulang Riz?" Tanya sang Kakek saat melihat Fariz memasuki area ruang televisi.


Diana ikut menoleh kearah Fariz sambil meyipitkan matanya.


"Iya Kek." Jawab Fariz ragu dan matanya melirik kearah Diana.


"Dia siapa Dad?" Tanya Diana lirih.


Kakek Tara menghela nafasnya, Diana tidak mengingat saat-saat ia mengalami gangguan mental, yang ia ingat adalah kejadian dulu sebelum kesadaran dan akal sehat nya mengalami gangguan.


"Fariz kemarilah." Panggil Kakek Tara.


Fariz berjalan ragu dan duduk sofa single disebrang Diana yang sedang duduk percis disebelah Kakek Tara.


Diana tetap menatap heran pada Fariz.


"Di.. Fariz adalah anakmu." Ucap Kakek Tara hati-hati.


Diana terkesiap sementara Fariz menunduk, percaya dirinya hilang begitu saja, ia menunggu reaksi dari sang ibu.


"Anak?" Maksud Daddy?" Tanya Diana dengan menatap tak percaya pada wajah tua ayahnya.


Kakek Tara terdiam, bingung menjelaskannya, ia ingin menjelaskan bahwa Fariz adalah anak yang Diana kandung dulu dari hasil pemerk*saan dulu, yang membuat Diana shock hinga gangguan mental.


"Kek, sudah jangan paksa Mama mengingat semua, pelan-pelan aja." Sahut Fariz.


"Tidak Fariz, Mama mu harus tau sekarang juga."


"Dadd.. apa maksud Daddy?"


"Di.. Apa kamu ingat saat Daddy mengejar pria tidak bertanggung jawab itu, itu dikarnakan kamu sedang hamil." Kakek Tara mencoba menjelaskan dengan hati-hati.


Diana mencoba mengingat, dan seketika ingatannya terbang kemasa lalu, saat pria tidak bertanggung jawab itu melarikan diri dihari pernikahannya, dan keluarganya menolak anak yang Diana kandung.


"Jadi Diana melahirkan anak pria itu Dadd? kenapa Daddy tidak membuangnya? kenapa Daddy malah mengurusnya?" Diana mulai histeris.


Sementara Fariz yang mendengarnya merasa hatinya tercabik-cabik mendengar reakasi Diana.

__ADS_1


Dua puluh satu tahun Fariz menahan rindu pada sang ibu, menunggunya sadar, menanti kasih sayangnya, belaian tulus dari sang ibu, mengurusnya, mengajaknya berbicara, tapi kini saat sang ibu kembali kesadarannya, ia ditolak mentah-mentah oleh sang ibu.


"Diana..!!" Fariz adalah anakmu, dua puluh satu tahun Fariz menunggumu sadar, merindukan kasih sayangmu."


"Tidak Dadd!! Aku membenci anak itu, aku tidak menginginkan anak itu Dadd. Harusnya Daddy memberikan anak itu kepanti asuhan atau membuangnya ketempat yang jauh dengan Diana."


Fariz yang tidak kuat mendengar semua ucapan Diana memutuskan pergi. Ia segera mengendari mobilnya menuju rumah Tristan, hanya rumah Tristan tujuannya kini.


"Kamu keterlaluan Di, dia anakmu, dia tumbuh dirahimmu, Daddy membersarkannya dengan kasih sayang, berharap dia akan melindungi mu saat nanti Daddy tidak ada. Tapi apa nyatanya Di? kamu membuat anak itu ketakutan dan pergi dari rumah. Tidakkah kau memikirkan perasaan anak itu Di? Dia hanya korban, sama sepertimu Di, bahkan dia sudah banyak menderita." Kakek Tara menarik nafas beratnya, ia sungguh kecewa dengan respon Diana.


Diana menutup wajahnya, "Diana gak mau anak itu Dadd, Anak itu hanya mengingatkan Diana pada pria brengs*k itu." Diana menangis dan Kakek Tara memeluknya.


"Sudahlah Di, sudah, tenangkan pikiranmu, Daddy berharap kamu akan bisa menerimanya, Anak itu hanya punya kita Di, bahkan kamu tau sendiri, keluarga ayahnya pun menolak dia."


Fariz tiba dirumah Tristan. Sayangnya Tristan tidak sedang dirumah saat itu, Tristan sedang mengantar Jessi pulang.


Monica menyuruh Fariz untuk menunggu Tristan dirumahnya.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu Riz?" Tanya Monica, Monica sangat peka terhadap perasaan orang lain, ia melihat mata Fariz yang memerah.


Fariz hanya diam tidak menjawab, dia terus menunduk dengan mata memerah menahan tangisnya. Fariz tengah rapuh, ia merasa menjadi anak yang tidak diinginkan oleh ibunya sendiri.


Monica mengirim chat pada Tristan untuk segera pulang, Monica juga mengirim Chat pada Ghea menceritakan soal Fariz yang kini berada dirumahnya.


"Kamu mau kemana Ghe?" Erick meraih Zayn dari gendongan Ghea.


"Kerumah tante Monica, ada Fariz disana, Tante Monica bilang Fariz terlihat sedang kacau, boleh kan Yah Ghea lihat Fariz sebentar?"


"Fariz? kacau? maksud kamu?"


Ghea terlihat bingung. "Ghea lihat Fariz dulu ya Yah."


Erick mengangguk, "Iya Ghe."


Erick mengantar Ghea hingga teras rumahnya, Ghea menyebrang jalan karna rumah Monica percis disebrang rumahnya.


"Ada apa dengan Fariz? Kacau? apa ia bermasalah dengan tunangannya? atau ada hal lain?" Erick terus bermonolog sambil melihat Ghea menyebrang dan memasuki rumah Monica.


"Riz.." Panggil Ghea saat melihat Fariz duduk seorang diri diruang tamu.


Fariz tersenyum tipis, Ghea menghampirinya. "Ada apa Riz? lo sama Stevi baik-baik aja kan?"


Fariz mengangguk. "Bukan soal Stevi Ghe.. Tapi..." Ucapan Fariz terhenti saat Terdengar suara mobil Tristan memasuki perkarangan rumahnya.


Tristan masuk dan segera menghampiri Fariz yang kini sedang bersama Ghea. Monica membawakan minum untuk mereka lalu meninggalkan nya untuk memberikan ruang agar Fariz bisa leluasa bercerita.

__ADS_1


"Lo kenapa Riz?" Tanya Tristan.


Fariz menghela nafas, "Nyokap gue sadar." Lirih Fariz.


Ghea dan Tristan saling pandang dengan wajah bingung.


"Bagus dong Riz, terus kenapa lo sedih?" Tanya Ghea.


"Gue.. guee.. gue anak yang tidak diinginkan nyokap Ghe, nyokap berharap dulu Kakek Ngebuang gue atau kasihin gue ke panti asuhan." Tubuh Fariz mulai bergetar, menandakam dirinya sedang menangis.


Ghea menutup mulutnya tanda tidak percaya, sementara Tristan terus memperhatikan Fariz.


"Mungkin nyokap butuh waktu Riz." Ucap Tristan meyakinkan.


Fariz menggelengkan kepalanya. "Engga Tan, nyokap memang gak mau gue, selain keluarga bokap gue yang udah gak ngakuin gue, sekarang nyokap gue sendiri juga gak mau gue. Gue anak yang gak diharapkan semua orang."


"Riz, lo gak boleh ngomong begitu, masih ada kita, masih ada Kakek Tara, masih ada Stevi. Lo harus tetep semangat, gak boleh putus asa begini. Istigfar Riz." Ucap Ghea.


"Sakit Ghe.. Sakit banget hati gue, sekian lama gue nunggu nyokap sembuh dan ngakuin gue, ternyata nyokap gak mau gue."


Ghea dan Tristan hanya terdiam, mereka juga bingung harus berbuat apa, yang jelas sekarang mereka harus ada untuk Fariz, menguatkan Fariz dan memberinya dukungan.


Ghea kembali kerumahnya karna sudah mendekati waktu maghrib, sementara Fariz tinggal bersama Tristan, tentu Monica menerima Fariz dengan tangan terbuka, Monica sudah menganggap sahabatnya Tristan itu sebagai anaknya sendiri.


Ghea memasuki rumahnya, terlihat mobil Fadhil sudah terparkir dihalaman rumahnya. "Sudah pulang By?" Tanya Ghea yang melihat Fadhil mengajak Zayn bermain diruang tamu.


"Sudah dari tadi, Sayang.. Kata Ayah kamu kerumah Tristan karna ada Fariz? ada apa?" Tanya Fadhil.


Diam-diam Erick memasang telinga ingin mengetahui soal Fariz, hanya saja dirinya masih belum bisa berterus terang pada Ghea soal perasaanya.


"Kata Fariz, Mamanya sudah sadar, tapi dia menolak Fariz." kemudian Ghea menceritakan detailnya pada Fadhil, tentunya terdengar oleh Erick.


"Pasti berat untuk Fariz." Ucap Fadhil.


Sementara Erick, dia berlalu kedalam ruang kerjanya, "Diana sadar?" Gumamnya seraya memegang gelang yang tlah ia beli sewaktu diSingapura untuk Diana.


.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2