TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
GHEA YANG RAPUH


__ADS_3

Erick mengantar Ghea pulang, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam sibuk dalam pemikirannya masing-masing.


Trauma psikologis yang sudah lama tidak terjadi kini seperti tiba-tiba datang kembali menyerang Ghea, terlihat dari gerakan Ghea yang hanya bisa meremas kedua tangannya seperti ada rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan, sayangnya Erick tidak pernah mengetahui hal itu.


"Sampai disini aja Yah." Ucap Ghea saat tiba didepan rumah keluarga Latief.


"Ayah masuk juga ya Ghe, setidaknya Ayah bertemu dengan besan Ayah juga." Bujuk Erick.


"Boleh lain kali gak Yah, aku lelah, ingin segera istirahat." Pinta Ghea.


Erick menatap mata Ghea yang terlihat sembab karna tangisan mereka tadi. "Maafkan Ayah Ghe."


Ghea mengangguk dan balik menatap mata Erick, "Beri Ghea waktu untuk menerima takdir Ghea Yah, tapi Ghea sudah memaafkan Ayah, hanya saja Ghea sekarang butuh waktu."


Erick mengangguk, "Kabari Ayah segera ya, Ayah menunggumu untuk slalu mengabari Ayah. Jika ada waktu, mainlah kekantor Ayah."


Ghea tersenyum, "Ghea turun ya Yah, Ayah jaga kesehatan. Assalamualaikum." Ucapnya sambil mencium punggung tangan Erick.


"Waalaikumsalam." Jawab Erick kemudian menatap nanar kepergian putri bungsunya itu.


"Maafkan Ayah Ghe, andai waktu bisa Ayah putar kembali, Ayah pasti tidak akan pernah mengabaikanmu." Lirih Erick dari dalam mobilnya.


Ghea masuk kedalam rumah keluarga Latief dengan perasaan tidak menentu, dia terus berjalan dengan cepat sambil tertunduk, seolah ingin segera sampai didalam kamarnya.


"Ghea, sudah pulang?" Tanya Miranti saat Ghea hendak melangkah menaiki anak tangga.


Ghea menoleh kearah sumber suara, "Eh iya Ma, maaf Ghea tidak lihat Mama." Jawabnya.


Miranti menangkap raut wajah Ghea yang tidak seperti biasanya, dia juga melihat Ghea meremas kedua tangannya sendiri. Miranti yang seorang psikiaterpun mengerti bahwa saat ini kondisi Ghea sedang tidak baik-baik saja.


"Istirahatlah Ghe, nanti Mama antarkan teh hangat untukmu ya." Ucap Miranti lembut.


"Te.. terimakasih Ma, Ghea naik dulu." Pamitnya.


Miranti langsung membuatkan teh hangat untuk Ghea, dan segera mengantarnya kekamar Ghea.


Tok.. Tokk.. Tokkk..


Miranti mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Ghea.


Akhirnya Miranti memberanikan diri membuka pintu kamar Ghea dan terlihat Ghea duduk dibawah tepi ranjang dengan memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya diatas lutut.


Miranti menaruh cangkir berisikan teh hangat itu diatas meja dan segera menghampiri Ghea.


"Sayang..." Panggil Miranti dengan lembut sambil mengusap kepala Ghea yang sudah terbuka hijabnya.


Ghea mengangkat kepalanya menatap Miranti, terlihat wajahnya basah akibat air matanya, "Ma.. dimana Mas Fadhil?" Tanya Ghea lirih.


"Mama akan telpon Suamimu ya, tunggu sebentar."


Miranti meraih ponsel dari sakunya, mendial nomer ponsel Fadhil. Sedikit hatinya merasa lega ketika hal pertama yang Ghea tanyakan adalah Fadhil, penderita gangguan psikologis memang hanya akan nyaman dengan orang tertentu.


^^^"Halo Fad.. kamu dimana?"^^^

__ADS_1


"Fadhil dijalan Ma, arah pulang."


^^^"Syukurlah, segera pulang ya Fad, Ghea membutuhkanmu."^^^


"Ghea sudah pulang Ma? Ghea baik-baik aja kan?"


^^^"Segeralah pulang Fad, bicara dirumah saja nanti."^^^


Miranti mengakhiri panggilannya.


Miranti memberikan teh hangat untuk Ghea, perlahan Ghea sudah mulai tenang meskipun masih terlihat guratan ketidaknyamanannya.


Ghea tetap diam dengan pandangan kosong, entah apa yang ada dalam pikirannya. Sesekali matanya masih mengeluarkan buliran air mata, dan mata indah Ghea itu terlihat sembab karna menangis.


Miranti dan Alya bingung dengan apa yang tlah terjadi pada Ghea, mereka mencoba bertanya namun Ghea tetap diam, sesekali yang ia tanyakan hanya keberadaan Fadhil. Hingga Ghea merasa lelah dan tertidur.


"Kasian Ghea Ma.." Ucap Alya sambil memijat kaki Ghea yang tertutup selimut.


"Entah apa yang terjadi pada Ghea Al, tapi Mama yakin ini ada kaitannya dengan keluarganya Ghea. Ghea mengalami trauma psikologis karna keluarganya, sudah hampir satu tahun disini Ghea terlihat baik-baik saja, kenapa sekarang bisa kambuh lagi."


Setelah dua puluh menit, Fadhil tiba dirumah dan langsung menuju kamarnya, ia sedikit heran karna sang Mama dan kakak iparnya berada dikamarnya.


"Ma ada apa ini?" Tanya Fadhil setelah mencium punggung tangan Miranti kemudian melihat kearah Ghea yang terbaring.


"Harusnya Mama yang tanya sama kamu, ada apa dengan Ghea Fad? Ghea pulang dalam keadaan kacau. Saat mama tanya, Ghea hanya terdiam dan balik menanyakan kamu."


Fadhil sedikit bingung, kemudian mendekat kearah Ghea, terlihat mata Ghea yang sembab, pipinyapun berasa lengket karna bekas lelehan air mata Ghea.


"Fad, kamu tau sesuatu?" Tanya Miranti.


"Mungkin ada kaitannya dengan Erick Fad, coba kamu telpon Ayah mertuamu itu."


"Lebih baik tunggu Ghea bercerita aja Ma, tidak baik jika kita langsung menuduh Pak Erick." Sahut Alya.


"Mama greget, udah hampir satu tahun ini Ghea baik-baik saja. Kenapa sekarang semenjak dekat kembali dengan keluarganya jadi begini lagi." Ucap Miranti geram.


Akhirnya Alya membawa Miranti keluar kamar agar Miranti sedikit tenang dan memberikan ruang kepada Fadhil dan Ghea.


Fadhil mengusap wajah Ghea dengan lembut, "Ada apa Ghe? Apa yang aku tidak tau?" Lirih Fadhil.


Perlahan Ghea mengerjapkan matanya, ia melihat wajah Fadhil yang slalu membuatnya tenang.


"By.. Sudah pulang?" Tanya Ghea dengan nada lemah.


Fadhil tersenyum, "Aku sudah pulang dari tadi, tidurmu nyenyak sekali? lelah?" Fadhil bertanya dengan sangat lembut.


Ghea duduk dan memeluk Fadhil, tubuhnya mulai bergetar menandakan dirinya menangis kembali.


Fadhil dengan setia memberikan pelukan ternyamannya sebagai seorang suami, satu tangannya membelai lembut rambut Ghea.


"Dia bukan Ibuku By." Perlahan Ghea mengeluarkan uneg-unegnya.


Fadhil masih diam, menunggu setia apa yang akan disampaikan kembali oleh istrinya itu lagi.

__ADS_1


"Pantas saja ia slalu jahat sama aku By, slalu memaki aku, dan tidak segan memukul aku. Ternyata karna aku memang bukan anaknya dia By." Ghea semakin menangis dan masih didalam pelukan Fadhil.


Setelah agak tenang, Fadhil mencoba mengendurkan pelukannya, merapihkan anak rambut Ghea yang menutup sebagian wajah cantik Ghea.


"Ada apa? hem?" Tanyanya dengan lembut.


Perlahan Ghea menceritakan apa yang tadi Erick ceritakan padanya. Fadhil sungguh terkejut mendengar cerita Ghea, dia tidak menyangka ternyata Ghea menanggung ketidak adilan dari Vika sedari kecil, tidak ada yang menjaganya, membelanya, bahkan melindunginya kecuali keluarganya Tristan.


"Harusnya Ibu tidak mengorbankan nyawanya untuk aku By, harusnya Ibu tetap hidup dan biar aku aja yang saat dilahirkan tidak selamat, jangan Ibu."


Fadhil kembali memeluk Ghea,


"Kamu sudah sholat ashar Ghe?" Tanya Fadhil dengan pelan.


Ghea menggelengkan kepalanya.


"Kita sholat berjamaah ya." Ajaknya.


Ghea mengangguk, kemudian Ghea beranjak kekamar mandi didalam kamarnya, membersihkan diri dan mengambil wudhu. Sesudahnya Ghea keluar dari kamar dengan keadaan yang lebih baik lagi.


"Tunggu aku sebentar ya." Pinta Fadhil yang diangguki oleh Ghea.


Ghea sudah siap dengan balutan mukena dan duduk diatas sajadahnya, dia juga sudah menyiapkan pakaian bersih juga menggelar sajadah untuk suaminya itu.


Mereka sholat dalam kadaan yang khusyu didalam kamar.


Selesai sholat, Fadhil membalikan tubuhnya duduk berhadapan dengan Ghea, kedua tangannya terulur menggenggam kedua tangan Ghea.


"Kamu dilahirkan karna kamu berjodoh denganku Ghe, jangan pernah menyesali kenapa kamu dilahirkan. Hidup mati seseorang sudah ditentukan jauh sebelum orang itu lahir, dan itu adalah rahasia ilahi. Sama seperti jodoh, aku tidak pernah menyangka bisa berjodoh denganmu."


Ghea terus menunduk dan matanya masih mengeluarkan buliran bening.


"Apa yang dilakukan Bunda Vika dan Yasmin terhadapmu, biarlah Allah yang membalasnya, Ikhlas lah Ghe, lihatlah kini apa yang dulu Jauh darimu perlahan kembali padamu, seperti Ayah, Kak Bryan, dan sekarang ada aku yang begitu mencintaimu, juga keluargaku yang begitu perduli dan juga menyayangimu. Tidakkah kamu menilai semua ini adalah hadiah dari Allah atas kesabaranmu."


"Aku takut By." Lirih Ghea.


"Aku akan slalu pasang badan untuk menjagamu dari mereka yang akan menyakitimu. Jangan takut lagi ya, kamu aman bersamaku."


Ghea menganggukan kepalanya.


Setelah agak tenang, Fadhil membawa Ghea duduk disofa, tangannya masih mendekap istri kecilnya itu, memberikan kenyamanan pada Ghea sehingga sedikit beban Ghea terangkat dari bahunya.


.


.


Mumpung senin, bagi Votenya dong Readers, jangan lupa tetep di Like, koment dan jadikan Favorit ya biar gak ketinggalan Up nya ❤


Love U All My Readers 😘


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2